Negeri surganya bumbu dengan makanan yang terkenal dengan santan dan rempah-rempah.siapa yang tidak kenal dengan daerah ini yang sudah pernah melambungkan nama Indonesia ke penjuru dunia sebagai negara penghasil makanan terlezat nomor satu. ya benar sekali, Rendang. daerah penghasil Rendang ini sudah lama ingin kujejak dan ingin mengetahui seperti apa sebenarnya kehidupan di sana.
Akhir tahun akhirnya terwujud. di pertengahan bulan Desember, saya melakukan perjalanan kantor ke kota ini. diiringi dengan drama penerbangan yang mendebarkan ketika Batik Air akan lepas landas, hujan deras dan angin kencang mengiringi perjalanan kami. jarak panjang tidak lebih dari 1 km menurut pandangan saya. hanya kabut putih dan deru mesin Pesawat bercampur dengan teriakan hujan yang terdengar. Pesawat seperti tertimpa pasir karena gemericik air hujan yang terlalu deras.
setelah melewati beberapa menit yang menegangkan, Pesawat akhirnya terbang di atas awas dengan cuaca yang terang. saya kemudian menikmati perjalanan udara meskipun tidak terlalu lama. perjalanan dari Jakarta ke kota Minang memang hanya ditempuh dalam durasi 1 jam 45 menit. menjelang landing, Pesawat ternyata harus memutar ke tengah laut kemudian mengambil aba-aba mendarat. saya menduga bahwa Pesawat harus menghindari angin yang terlalu kencang atau mungkin juga karena rutenya seperti itu.
Akhirnya saya menginjakkan kaki di kota ini. analisa awal saya bahwa kota ini tidak terlalu besar melihat bandaranya yang jauh lebih kecil dari bandara Hasanuddin, saya selalu membandingkan bandara Hasanuddin setiap landing di Bandara lain di Indonesia.
Butuh waktu sekitar 45 menit dari Bandara ke pusat kota. sepanjang perjalanan, pemandangan pohon kelapa memenuhi ruang pinggir jalan. angkot berwarna orange mendominasi angkutan umum di sepanjang jalan dan kesadaran lalu lintas masyarakatnya yang tidak jauh berbeda dengan warga negera Indonesia pada umumnya. selalu merasa paling terburu-buru, melanggar lalu lintas yang akhirnya mengambil hak pengguna jalan.
Sepanjang perjalanan, Saya membayangkan bagaimana dulu kota ini melahirkan banyak cendikia, Buya Hamka misalnya. saya juga membayangkan kota ini didominasi masyarakat yang cantik dan tampan khas suku Minang, meski kemudian hari berikutnya, anggapan saya teranulir. orang Minang menurutku tidak berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Saya menginap di salah satu hotel yang baru berdiri, hotel Amaris. sekitar dua kilometer dari kantor tempatku beraktivitas selama seminggu di kota Minang. sebenarnya ada hotel Pangeran tepat di depan kantor namun jauh hari sebelumnya, hotel Amaris sudah dibooking temanku via aplikasi online.
Saya tidak terlalu banyak waktu mengeksplorasi kota ini karena ada masalah di kantor, namun sejauh jejak kakiku di kota ini, saya beranggapan bahwa kota ini tidak terlalu besar, mungkin jauh lebih kecil dari kota Makassar. oh iya, keterikatan asmara kota Makassar dengan kota Minang sangat kental. wakil Presiden seorang Bugis dan isterinya dari Minang. novel Buya Hamka mengangkat cerita asmara antara tokoh utama Zainuddin yang berasal dari Makassar dengan sang pacar, Hayati yang merupakan keturunan bangsawan Minang.
Sejatinya saya ingin menyambangi tempat legendaris batu Malin Kundang yang melegenda seantero nusantara namun seperti yang saya katakan di atas bahwa masalah di kantor membuat gerak saya terbatasi dan membatalkan beberapa rencana yang sudah matang. saya hanya mengunjungi pantai dan menyusuri jalan arah ke Semen Padang, selebihnya hanyabl sudut kota yang kudatangi.
Sependek pengamatan saya selama seminggu dan analisa dari salah seorang teman yang sudah bermukin di kota ini, karakter orang Minang sangat tidak enakan. mereka lebih memilih menyimpan masalah daripada harus menyinggung perasaan orang lain. pandangan saya ini subjektif memang namun saya punya bukti setidaknya semua hasil interview yang saya lakukan. semua auditee saya memilih lebih memendam masalah dan tidak menceritakan kepada orang lain dibandingkan menjadikan masalah mereka menjadi lebih besar. kalau hal yang tidak enakan kayak begini, saya jadi ingat teman saya di Makassar yang disentil oleh salah seorang teman saya yang lain melalui artikel yang berjudul "Saying no without feeling guilty".
Minang, 12-17 12 18
Sepanjang perjalanan, Saya membayangkan bagaimana dulu kota ini melahirkan banyak cendikia, Buya Hamka misalnya. saya juga membayangkan kota ini didominasi masyarakat yang cantik dan tampan khas suku Minang, meski kemudian hari berikutnya, anggapan saya teranulir. orang Minang menurutku tidak berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Saya menginap di salah satu hotel yang baru berdiri, hotel Amaris. sekitar dua kilometer dari kantor tempatku beraktivitas selama seminggu di kota Minang. sebenarnya ada hotel Pangeran tepat di depan kantor namun jauh hari sebelumnya, hotel Amaris sudah dibooking temanku via aplikasi online.
Saya tidak terlalu banyak waktu mengeksplorasi kota ini karena ada masalah di kantor, namun sejauh jejak kakiku di kota ini, saya beranggapan bahwa kota ini tidak terlalu besar, mungkin jauh lebih kecil dari kota Makassar. oh iya, keterikatan asmara kota Makassar dengan kota Minang sangat kental. wakil Presiden seorang Bugis dan isterinya dari Minang. novel Buya Hamka mengangkat cerita asmara antara tokoh utama Zainuddin yang berasal dari Makassar dengan sang pacar, Hayati yang merupakan keturunan bangsawan Minang.
Sejatinya saya ingin menyambangi tempat legendaris batu Malin Kundang yang melegenda seantero nusantara namun seperti yang saya katakan di atas bahwa masalah di kantor membuat gerak saya terbatasi dan membatalkan beberapa rencana yang sudah matang. saya hanya mengunjungi pantai dan menyusuri jalan arah ke Semen Padang, selebihnya hanyabl sudut kota yang kudatangi.
Sependek pengamatan saya selama seminggu dan analisa dari salah seorang teman yang sudah bermukin di kota ini, karakter orang Minang sangat tidak enakan. mereka lebih memilih menyimpan masalah daripada harus menyinggung perasaan orang lain. pandangan saya ini subjektif memang namun saya punya bukti setidaknya semua hasil interview yang saya lakukan. semua auditee saya memilih lebih memendam masalah dan tidak menceritakan kepada orang lain dibandingkan menjadikan masalah mereka menjadi lebih besar. kalau hal yang tidak enakan kayak begini, saya jadi ingat teman saya di Makassar yang disentil oleh salah seorang teman saya yang lain melalui artikel yang berjudul "Saying no without feeling guilty".
Minang, 12-17 12 18