March 26, 2018

Gagal

Saya menjadi begitu inferior beberapa tahun belakangan atas pencapaian yang sudah saya dapatkan, oh iya kalau pun itu dianggap sebuah pencapaian. Pilihan hidup yang sama sekali tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku 10 tahun yang lalu. namun bukan berarti bahwa saya tidak mensyukuri seperti apa saya sekarang namun penekanannya lebih pada pilihan.

Bukan, sama sekali bukan karena materi sehingga saya terkadang menyesali pilihan ini namun lebih pada sebuah tanggung jawab moral atas apa yang sudah kupelajari selama ini, Setidaknya ada faktor dominan yang menegasikan pilihan hidup ini. faktor yang menurutku sulit untuk kuhindari atau bahkan kunaifkan untuk sekedar tetap memperoleh setiap bulannya pembeli sesuap nasi.

Pertama, pertengahan 2000-an, setahun sebelum masuk bangku kuliah, saya sudah ikut di sebuah organisasi yang kegiatannya di lingkungan masjid. organisasi yang menekankan pada nilai moral. dalam setiap dimensi kehidupan yang dijalani termasuk pula dalam sumber penghidupan. baik dari sumbernya, dzatnya atau apapun yang harus dinilai dari sisi moral. 

Nah, saya terjebak dalam sebuah lingkup pekerjaan yang menurutku bertentangan dengan apa yang sudah kupelajari. pekerjaan yang masih debatable secara hukum sharia, apakah masuk dalam kategori haram atau halal meski pada kenyataannnya, mayoritas ulama menganggapnya haram dan sebagian menghalalkan dengan beberapa catatan dalam hal ini, jika mau ambil jalan tengahnya, berarti jenis pekerjaan ini syubhat, hal yang seharusnya kutinggalkan. mungkin hanya satu hal yang membuatku bertahan adalah nasehat dari salah seorang guruku yang menyarankan untuk tidak gegabah, tetap bertahan sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena lebih dzalim jika saya keluar dan tidak mampu memberi nafkah kepada keluarga.

kedua, saya pernah belajar tentang varian ilmu ekonomi yang seharusnya dijalani. mungkin sedikit geli mengatakan tentang sistem ekonomi yang adil dan tidak semata berpatron pada profit namun lebih luas berguna bagi masyarakat. namun apa yang kujalani sekarang alih-alih untuk masyarakat, semua hanya untuk profit yang menguntungkan Perusahaan. bahkan terkadang banyak hal yang menurutku memang sepantasnya saya harus mencari pekerjaan yang lebih menentramkan hati. 

Saya menghabiskan sebagian besar waktuku memikirkan hal ini bahkan benar-benar bekerja hanya menggugurkan kewajiban. pikiranku benar-benar sudah mentok pada strategi apa yang harus kulakukan untuk melepaskan diri dari penjara pikiran, rasa bersalah atas nurani dan hal semacamnya yang sifatnya tak bisa diindrawi.

Saya memutar memoriku ke tahun-tahun yang sudah berlalu.entah kenapa, setiap pekerjaan yang memang kuidamkan begitu sulit kuraih dan selalu saja keadaan sepertinya menarikku masuk dalam ruang yang tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan namun hanya demi kebutuhan perut, hal tersebut tetap kujalani meski demikian isi kepala berontak. 

atau kah saya yang tidak bersetia pada nurani? melawan bisikan nurani demi sebuah prestise. merasa mampu menjadi diri sendiri dan menafkahi orang lain. menganggap bahwa hal tersebut bisa dikompromikan meski ternyata berakhir dengan ironi. hidup sungguh tidak menyenangkan dan tidak membanggakan apa yang sedang dijalani. harus bersusah payah untuk tetap bersembunyi dari keadaan bahkan lebih parah jika harus selalu berdusta demi sebuah prestise.

entahlah, satu hal yang pasti bahwa saya akan tetap berusaha untuk melangkahkan kaki menjauh dari tempat yang tidak membuat nuraniku tidur nyenyak, dan lebih cepat mungkin lebih baik namun dengan pertimbangan yang matang dan tetap punya pegangan untuk memberi nafkah keluargaku.

kapan? sekali lagi entah kapan, biarkan tangan Sang Pemilik Semesta yang bekerja.

26 3 18

No comments: