October 3, 2018
Tiga Tahun
September 21, 2018
OTS #12
Wisata kuliner yang pernah kurasakan seperti warung makan di sebuah tempat menuju Baturaden. sedikit berbeda tentang menu masakan dan tata ruang warungnya yang lebih rapi.
hal lain yang berbeda adalah merasakan menginap di hotel baru dekat kantor. selebihnya suasananya masih sama. riuh kehidupan serasa berhenti pada sekitar jam 8 atau jam 9 malam. orang banyak yang berdiam di rumah sehingga kota lebih lengang. berbeda berkali lipat dengan kehidupan ibukota yang serasa tidak pernah berhenti berdetak.
menurut saya, kota ini memang salah satu pilihan terbaik bagi sebagian orang yang suka dengan ketenangan dan ingin menikmati hidup yang tenang. kota ini menawarkan banyak sisi yang bisa dihirup sebagai energi kehidupan. dekat dengan alam dan terhindar dari kegaduhan hidup.
September 2018
#Purwokerto
September 7, 2018
Semakin Menua
Umur yang semakin menua, saya masih berada pada pergulatan pekerjaan yang tidak sesuai dengan prinsip namun tetap bertahan karena kebutuhan. oh mengerikan memang namun pada puncak kegelisahan pun belum ada jalan keluar sampai pada detik ini. perasaan paling bersalah apalagi yang melebih rasa bersalah terhadap penghianatan kata hati. kita bergulat dengan rasa bersalah setiap saat namun tidak kuasa mengikuti kata hati, hanya mengeluh tanpa berada bertindak.
Saya kembali berikrar kepada nuraniku bahwa tahun ini terakhir berada di pekerjaan yang tidak sejalan dengan prinsipku, kekuatan hati dan doa-doa yang mengalir deras dari lisanku senantiasa membangkitkan harapanku bahwa Tuhan sang Pemilik semesta akan berkenan mengamini doaku karena sekeras apapun usaha dan tekad jika Sang Maha belum berkenan maka tidak ada yang bisa mengubah apapun. saya sudah mengalami banyak hal yang menurutku memang tidak bisa diganggu gugat terkait kejadian-kejadian yang tidak disangka.
paling tidak kita hanya bisa berdoa yang terbaik dengan meenyerahkan keputusan yang terbaik menurut-Nya. "jika memang impian ini terbaik untuk diri dan keluarga, dunia dan akhirat maka ridhailah karena yang tahu segalanya adalah Engkau Ya Tuhanku." mungkin seperti itu redaksi yang lebih baik dibandingkan dengan redaksi meminta untuk diluluskan dengan nada yang menggebu.
Tahun ini, saya punya impian keluar dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan hati. saya berencana dan berusaha mendaftar di instansi yang menurutku lebih aman. ironinya lagi bahwa ini yang kesekian kalinya saya mencoba. saya tidak tahu di tempat mana saya terdampar namun saya akan berusaha dan berdoa kemudian menyerahkan segala keputusan kepada Tuhanku dengan mengandalkan intervensi doa. saya yakin Tuhanku akan selalu mengiringi jalanku dan menunaikan impianku.
Ibuku, ibu dari anakku dan Ibu dari ibu anakku akan bahagia ketika impian ini terwujud. mereka adalah kebahagianku.
sampai jumpa di akhir tahun ini. semoga Tuhanku menunjukkan kuasanya kepadaku dan mengamini doa-doaku untuk impianku dengan keridhaanNya.
7 9 18
August 5, 2018
Rezeki
Dua bulan lalu, mimpi membeli rumah masih sekedar angan-angan.belum ada usaha untuk mewujudkan mimpi tersebut karena menganggap masih mustahil adanya. tabungan belum seberapa sedangkan harga rumah di kota ini minta ampun harganya. setelah lebaran, mulai terbersit untuk lebih serius mencari rumah murah namun layak untuk ditempati bersama keluarga.
Tiga minggu terakhir, saya memberanikan diri mencari rumah di sekitar Jak-sel dan daerah Depok setelah berhitung dengan dana maksimal yang bisa dikeluarkan. beberapa rumah sangat ideal namun tidak terjangkau. Ada yang terjangkau namun jarak terlalu jauh. Ada yang terjangkau, jarak dekat namun rumahnya tidak layak.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan membeli rumah tersebut meski sebagian dari dana dipinjam dari bank yang harus dilunasi dalam sepuluh tahun. Hal tersebut sedikit menjadi beban namun pertimbangan yang lebih jauh lagi bahwa jika tidak memberanikan diri maka akan semakin sulit merealisasikan impian mempunyai rumah. Saat ini masih dalam proses transaksi, semoga berjalan sesuai dengan harapan tanpa ada rintangan yang berarti.
Hal yang ingin kuceritakan bukan impian yang terwujud namun proses bagaimana kami menjalaninya. Proses yang sangat cepat hanya sekitar satu bulan sedangkan ada beberapa orang yang bertahun-tahun mencari rumah sebelum menemukan yang sesuai dengan keinginan.
Mungkin seperti teori cocoklogi namun saya pikir ada benang merah dengan kejadian beberapa waktu lalu yang kami alami di rumah kontrakan. Setahun di rumah kontrakan, kloset mampet sehingga tidak bisa digunakan. Kami memanggil jasa penyedot tinja karena berpikir pasti tampungan kotoran penuh. Setelah jasa penyedot datang, kami mencari septic tank yang ternyata tidak ada. Akhirnya kami minta maaf kepada karyawan jasa penyedot tinja dan memberinya tip sebagai pengganti bensin. Kemudian kami berinisatif membiayai pembuatan septic tank dengan harapan, sang empunya kontrakan mengganti biayanya.
Di luar dugaan, setelah proses pengerjaan septic tank selesai, pemilik kontrakan tidak mau mengganti penuh biaya dengan berbagai alasan. Dia hanya mengganti sepertiga dari seluruh biaya. sejak saat itu, kami berdoa semoga tahun ini terakhir mengontrak di rumah ini dan mencari rumah kontrakan baru. masalah lain muncul ketika mesin air bermasalah dan dia pun tidak bersedia bertanggung jawab sedangkan seharusnya, kerusakan inventaris yang bukan merupakan sebab dari yang mengontrak, seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik.
Kami mengikhlaskan hal tersebut sementara terus berdoa semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih layak. namun Tuhan memberikan sesuatu yang lebih baik. Dia membuka jalan membeli rumah untuk segera pindah dari kontrakan ini. prosesnya sementara berjalan tinggal menunggu proses di Notaris.
Demikianlah Allah bekerja dengan tak terduga. manusia hanya berusaha memastikan kaki, tangan, hati dan semua gerak geriknya melakukan hal-hal baik. Meskipun sebagian dana untuk membeli rumah berasal dari pinjaman bank yang masih menjadi perdebatan namun setidaknya, saya sudah berkonsultasi dengan salah seorang ustadz yang kuanggap kapabel dan memahami hukum Islam.
4 august 18
July 11, 2018
Tengah Tahun
June 15, 2018
Ironi Perantau Saat Musim Mudik
June 14, 2018
Random tentang Ramadan
April 30, 2018
Sesal
March 28, 2018
OTS #11
March 26, 2018
Gagal
Nah, saya terjebak dalam sebuah lingkup pekerjaan yang menurutku bertentangan dengan apa yang sudah kupelajari. pekerjaan yang masih debatable secara hukum sharia, apakah masuk dalam kategori haram atau halal meski pada kenyataannnya, mayoritas ulama menganggapnya haram dan sebagian menghalalkan dengan beberapa catatan dalam hal ini, jika mau ambil jalan tengahnya, berarti jenis pekerjaan ini syubhat, hal yang seharusnya kutinggalkan. mungkin hanya satu hal yang membuatku bertahan adalah nasehat dari salah seorang guruku yang menyarankan untuk tidak gegabah, tetap bertahan sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena lebih dzalim jika saya keluar dan tidak mampu memberi nafkah kepada keluarga.
kedua, saya pernah belajar tentang varian ilmu ekonomi yang seharusnya dijalani. mungkin sedikit geli mengatakan tentang sistem ekonomi yang adil dan tidak semata berpatron pada profit namun lebih luas berguna bagi masyarakat. namun apa yang kujalani sekarang alih-alih untuk masyarakat, semua hanya untuk profit yang menguntungkan Perusahaan. bahkan terkadang banyak hal yang menurutku memang sepantasnya saya harus mencari pekerjaan yang lebih menentramkan hati.
Saya menghabiskan sebagian besar waktuku memikirkan hal ini bahkan benar-benar bekerja hanya menggugurkan kewajiban. pikiranku benar-benar sudah mentok pada strategi apa yang harus kulakukan untuk melepaskan diri dari penjara pikiran, rasa bersalah atas nurani dan hal semacamnya yang sifatnya tak bisa diindrawi.
Saya memutar memoriku ke tahun-tahun yang sudah berlalu.entah kenapa, setiap pekerjaan yang memang kuidamkan begitu sulit kuraih dan selalu saja keadaan sepertinya menarikku masuk dalam ruang yang tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan namun hanya demi kebutuhan perut, hal tersebut tetap kujalani meski demikian isi kepala berontak.
atau kah saya yang tidak bersetia pada nurani? melawan bisikan nurani demi sebuah prestise. merasa mampu menjadi diri sendiri dan menafkahi orang lain. menganggap bahwa hal tersebut bisa dikompromikan meski ternyata berakhir dengan ironi. hidup sungguh tidak menyenangkan dan tidak membanggakan apa yang sedang dijalani. harus bersusah payah untuk tetap bersembunyi dari keadaan bahkan lebih parah jika harus selalu berdusta demi sebuah prestise.
entahlah, satu hal yang pasti bahwa saya akan tetap berusaha untuk melangkahkan kaki menjauh dari tempat yang tidak membuat nuraniku tidur nyenyak, dan lebih cepat mungkin lebih baik namun dengan pertimbangan yang matang dan tetap punya pegangan untuk memberi nafkah keluargaku.
kapan? sekali lagi entah kapan, biarkan tangan Sang Pemilik Semesta yang bekerja.
26 3 18
March 5, 2018
Islam Tuhan, Islam Manusia
Judul: Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 20
Tebal: 288
Haidar Bagir adalah salah seorang cendikiawan muslim di Indonesia yang
tidak perlu diragukan lagi kedalaman ilmunya dan juga tebaran pengetahuan yang
beliau pupuk selama ini. Selain mengurus sebuah penerbitan beliau juga sibuk
mengelolah yayasan pendidikan, dimana salah seorang kawan saya mengajar di
salah satu sekolahnya.
Tak terkira berapa buku yang sudah dihasilkan dari olah pikirnya salah satunya buku "Islam Tuhan Islam Manusia." bagian belakang buku ini dihiasi testimoni orang-orang besar di negeri ini. K.H Ahmad Mustofa Bisri, Goenawan Muhammad, Mochtar Pabottingi dan Franz Magnis-Suseno.
Pada bagian awal buku ini pada tulisan "Aku dan Islamku" Haidar Bagir menjelaskan dengan runut seperti apa beliau mengenali dirinya terlepas dari tudingan-tudingan orang yang tidak bersepakat dengannya. Entah berapa kali beliau mengklarifikasi secara langsung maupun tidak langsung atas tuduhan bahwa dirinya penganut Syiah namun klarifikasi tersebut tidak menyurutkan tuduhan dari orang-orang yang tidak bersepakat dengan dirinya.
Beliau meyakini bahwa akal ada anugerah Tuhan meski di lain sisi, beliau juga menyadari bahwa akal memiliki keterbatasannya sendiri. Dalam pencarian opini yang benar, fokusnya terletak pada kebenaran bukan pada popularitas. Sebelum mengkritik, kita harus memahami pendapat yang akan kita kritik seperti pemahaman penganutnya. Beliau melakukan pendekatan terhadap teks Al-Qur'an, sunnah dan tradisi Islam bersifat hermeneutika. Meski di lain sisi, beliau percaya bahwa pendekatan hermenutika memiliki jebakan-jebakannya tersendiri.
Isi buku ini sendiri terbagi ke dalam 5 bagian: Masalah, "Islam di
zaman kacau. Khazanah Pemikiran Islam. Pendekatan, "Dialog Intra
Islam". Pendekatan, " Dialog Islam, Budaya dan Peradaban".dan
Solusi, "Islam,Cinta dan Spritualitas".
Pada bagian pertama, beliau mengelaborasi tentang masalah yang sedang dihadapi umat Islam secara spesifik. Tentang radikalisme, asal usul takfirisme dan negara yang disebutnya sebagai tuna budaya.
Saya akan menuliskan ulang beberapa inti pemikiran beliau dari setiap lembar tulisannya yang dijelaskan secara runut di buku ini.
Budaya adalah soal menjadi manusia secara komprehensif. Manusia spritual, bermoral, berestetika, sadar dan berpikir.berakar dari concern kemanusiaan paling dalam sebagai pengejawantahan dari Ketuhanan yang cirinya memiliki fitrah cinta kebenaran, kebaikan dan keindahan. Selain dari hal tersebut adalah antibudaya. Negara ini sudah lama menanggalkan budayanya dan menjadi santapan hegemoni ekonomi, komersialisasi cukong kapital besar berkolaborasi dengan politik busuk untuk menyerap seluruh saripati negara ini tanpa sisa. Meski demikian, budaya juga tidak seharusnya statis tetapi harus berkembang secara organis. Peran Pemerintah dalam revitalisasi kesadaran kolektif bangsa dalam meletakkan budaya sebagai persemaian seluruh aspek kehidupan.
"Information spill over" telah membuat orang mengalami diorientasi. Terlalu banyak informasi justru membuat orang kebingungan, hilangnya kedalaman dan lahirnya generasi baru pengguna internet, "orang-orang dangkal" (The shallows) menuruut Nicholas Carr. Orang-orang yang terbiasa menyantap informasi instan tanpa kedalaman.
Situasi yang mengkhawatirkan ini masih ditambah dengan perilaku tidak kritis masyarakat yang dengan mudahnya menggandakan dan menyebarluaskan apa saja yang dibacanya, ke ruang publik baik via WA, Twitter, Facebook dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, sebagian media mendasarkan informasi dari sumber yang tidak dipertanggungjawabkan ini.
Keberlimpahan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya dianggap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup, justru meninggalkan kehampaan psikologis dan spritual karena hanya menegaskan kenyataan bahwa setelah semua keberlimpahan itu tercapai, kebahagiaan hidup tidak ditemukan di sana.
Maka menjadi tugas para agamawan dan pemikir keagamaan moderat untuk menawarkan suatu paham atau penafsiran keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit kaum fundamentalis dan radikal. Haidar Bagir merasa bahwa sejenis pemahaman keagamaan yang bersifat mistik (sufistik) merupakan alternatif paling efektif.
Mengenai Hermeneutika, Haidar Bagir mengutip pemikiran Friederich Schleimermacher yang mengandung dua langkah. Pertama, pemahaman teks melalui penguasaan aturan-aturan sintaksis bahasa komunitas si pengarang. kedua, penangkapan muatan emosianal dan batiniah pengarang secara intuinitif dengan jalan menempatkan diri subjek dalam benak pengarang.
Tentang Takwil, Haidar Bagir mengutip pahaman Ibn' Arabi dalam futuhat menyatakan bahwa "sesungguhnya setiap orang punya akses kepada pemahaman atas teks Al-Qur'an selama bersifat terbuka, tulus yakni dengan pemikiran sehat dan hati bersih yang tak tercampuri nafsu. Baik pemahaman yang bersifat 'ardhi (horizontal/tafsir) maupun thuli (Vertikal/Takwil).
Naql dipahami dengan aql, karena aql bisa keliru, dicek lagi dengan naql begitu seterusnya. Persis ketika kita membaca maknanya kita bisa simpulkan dari konteks kalimat tetapi untuk mendapatkan terjemahan yang pas, kita cek kesimpulan kita dengan membuka kamus, makna kamus pun pada gilirannya akan kita pahami dengan pas dalam konteks kalimat, begitu prosesnya terus menerus.
Dalam sebuah konfrensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ilmuwan ditanya mengenai sebab kemunduran Sains di wilayah ini. Prof. Osman mengatakan bahwa permusuhan terhadap filsafat di negara Islam selama beberapa abad menjadi sebab utama persoalan ini.
Manusia modern mengalami kehampaan spritual, krisis makna, legitimasi hidup serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan terhadap dirinya sendiri. Seyyed Hossein Nasr dalam the Plight of Modern Man mengatakan bahwa krisis eksistensial berawal dari pemberontakan manusia modern terhadap Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan masa depan seperti yang dijanjikan Renaisans.
Dalam sebuah wawancara, Haidar Bagir menjelaskan bahwa dalam berbicara ekonomi yang ideal itu apakah kapitalistik atau sosialistik atau yang bersifat lain, mau tidak mau kita diskusi defenisi tentang keadilan. Ketika membedah politik. apakah yang bagus itu demokrasi atau otoritarianisme maka mesti kita diskusi tentang tujuan politik itu apa?
Tentang Mazhab. Imam Syafii secara luas diriwayatkan pernah berkata, "pendapatku benar, namun sangat potensial keliru sementara pendapat orang selainku keliru namun sangat mungkin benar." di lain waktu Beliau berkata "jika suatu Hadist itu sahih, maka itulah mazhabku."
Pada prinsipnya setiap perbuatan bersifat netral nilai. Tindakan baikdan buruk dinilai berbeda bergantung pada penerapannya. Mencuri bisa dinilai terlarang tetapi bisa juga sunnah bahkan wajib. Ibn Hazn al-Zhahiri dalam bukunya yang berjudul al-Muhalla pernah mengatakan bahwa seorang pencuri yang mengambil harta dari seorang kaya dikarenakan haknya tidak diberikan kemudian tertangkap dan terbunuh,maka dipercaya mati syahid.
Tentang fenomena Sunni-Syiah. ada dua sebab yang memperkeruh konflik antara Sunni-Syiah. Pertama, sejak revolusi Iran, ada sekelompok di dalam negeri Iran yang ingin mengekspor Revolusi Islam ke negara lain. Kedua, ada ketakukan dari negara teluk monarki kalau revolusi yang terjadi di Iran akan merembet ke negara mereka. Harus diingat bahwa Iran menjadi negara Islam bukan karena revolusi tetapi lewat referendum.
Di masing-masing kubu Sunni-Syiah, ada kelompok ekstrim, mereka inilah yang memanas-manasi keadaan akibatnya timbul ketegangan yang terus menguat.
Tentang pembahasan Kafir.
Abu Sufyan tetap bertahan dengan agama arab jahiliah bukan karena percaya
dan mengimaninya sebagai sebuah kebenaran, namun lebih karena sistem purba itu
menguntungkannya secara politik dan sosial. Doktrin Islam terkait reformasi
sosial yang memberatkan orang semacam Abu Sufyan untuk memeluk Islam bukan soal
pengakuan dan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, artinya faktor ekonomi
dan politik bukan faktor teologis yang menjadi dasar penyangkalan terhadap
Islam.
Sebuah perkataan Nabi Ibrahim seperti yang disitir Al-Qur'an, kebencian dan permusuhan diarahkan kepada sifat/perbuatan buruk orang, bukan kepada orang/pelakunya sendiri (QS. Mumtahanah 60:4).
Beragama, betapa pun melibatkan fisik dalam menjalankan ritual-ritualnya, adalah urusan "rumah", urusan hati yang ada di dalam diri. urusan rohani. Ritual, seberapa pun pentingnya dalam kehidupan beragama, adalah simbol. baik agama maupun politik dan hukum, kesemuanya itu dimaksudkan untuk membantu manusia agar dapat meraih kehidupan yang baik/bahagia.
Ketika ditanya tentang apakah beliau Syiah atau Sunni, inilah jawabannya. "Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga."
5 3 18
February 28, 2018
Auditor dan Jurnalis
January 30, 2018
OTS #10
Akhirnya saat pagi sudah mulai menua, tanah pulau itu sudah nampak. Cuaca juga sepertinya bersahabat. Saat pesawat akan mendarat, hamparan bukit, hutan dan danau menyambut. Lumayan mengobati perjalanan yang melelahkan. Pesawat mendarat dengan mulus.
Jarak bandara menuju pusat ibukota provinsi masih ditempuh sejam lamanya. Jalanan berkelok mengikuti lereng gunung di samping kiri dan danau di samping kanan.
Menjelang siang, akhirnya tiba di pusat kota. Ada yang aneh karena saya jarang menjumpai suku asli di pulau ini. Bahkan saya seperti pulang kampung karena pusat kota dipenuhi perantau dari daerah asalku.
Seminggu di kota ini. Saya tidak banyak menjelajah ke beberapa spot yang indah. Meski begitu lumayan mengikis inginku untuk melihat luasnya negeri ini.
Oh iya, di kota ini, sangat umum menjumpai pedagang pinang dan di sepanjang tempat, kita seringkali melihat bekas pinang yang tersebar di mana-mana.
Semoga ada kesempatan di lain waktu untuk kembali menuntaskan keinginan menapaki banyak tempat yang belum disinggahi.
30 1 18
