tidak ada yang terlalu spesial di angka tiga Oktober sebelum Saya bertemu dengan Ibu dari anak-anak Saya. momen yang akan menjadi abadi setelah keputusan untuk menikah di tanggal tersebut meski seringkali Saya berujar bahwa Saya tidak pernah terlalu memperdulikan setiap momen yang Saya telah lalui entah itu ulang tahun, hari pernikahan atau momen apapun yang seringkali orang lain rayakan dengan euforia yang berlebihan.
Saya tidak tahu persis kenapa di momen tanggal tiga Oktober dua tahun yang lalu, dipilih oleh Mertua Saya tetapi yang jelas bahwa pada saat bertemu dengan keluarga besar Isteri, Saya hanya mengatakan bahwa untuk setahun ke depan, Saya belum bisa melangsungkan pernikahan karena masih terikat kontrak di Perusahaan tempat Saya bekerja.
Di momen dua tahun pernikahan Saya, ada kado yang kurang mengenakkan karena Damar demam lagi. Sedari kemarin siang, Damar sudah merasakan gejala demam namun belum terlalu parah sampai akhirnya tadi siang ketika Saya maupun Isteri Saya sudah di kantor, Saya dikabari bahwa Damar nampaknya harus dibawa periksa ke Dokter. Isteri Saya memberi pilihan apakah Saya yang izin pulang atau dia namun akhirnya Isteri Saya yang pulang duluan dan mengantar Damar ke Rumah Sakit.
Saya seakan merasa sangat tidak berguna sebagai suami namun Saya benar-benar jengah berurusan dengan rumah sakit. Entah kenapa setiap kali Saya berdoa untuk tidak terlalu berinteraksi dengan urusan rumah sakit namun selalu saja ada yang mengharuskanku untuk itu.
Setiba di rumah sore hari menjelang malam, kutatap wajah Isteri Saya yang nampaknya keletihan dan menanggung beban perasaan yang amat berat. Ingin kuucapkan selamat anniversary pernikahan namun kuurungkan. Saya tetap saja memandangnya dan merasa berdosa membiarkannya mengurus tetek bengek masalah anak.
Terlintas di kepalaku bahwa dia lah yang pantas untuk apa saja tentang anak dan lebih pantas mendapat balasan suatu saat dari anak-anaknya. Saya hanya pelengkap tak berguna yang meracu tak jelas. Kenyataan ini menguatkan keyakinanku kenapa Kanjeng Nabi menyuruh seorang anak berbakti kepada Ibunya sebanyak tiga kali kemudian sekali berbakti kepada Bapaknya, jika ini dimaknai kontekstual.
Menikah memang tidak mudah. Tidak seperti bayangan nirwana saat masih bujangan maupun tidak seindah lagu percintaan. Menikah adalah perjuangan untuk banyak hal. Berjuang mengalahkan ego demi keharmonisan rumah tangga.
Dua tahun berlalu masih sangat singkat untuk dijadikan tolak ukur tentang keberhasilan menghadirkan harmoni keluarga yang ada bahwa banyak hal remeh temeh yang masih menjadi batu sandungan.
Perjalanan hari ke depan akan semakin menemui tantangannya. Saya sendiri sedang berjuang untuk melunakkan hati Saya atas setiap pilihan yang sudah digenggam tanpa harus kembali menganulirnya. Pernikahan ini akan terus berlangsung untuk waktu yang tak diketahui, Saya hanya butuh diri untuk berjuang dan membawa pernikahan ini ke cita-cita awal meski Saya sadari bahwa kehadiran seorang anak seringkali memutar arah pernikahan dan menjadikan anak sebagai sentrum perhatian yang butuh kasih sayang yang berlipat.
Untuk anakku Damar, Semoga cepat sembuh dari demammu nak dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.
Untuk Isteriku, selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-2.
3 Oktober 2017 21.30 wib
Di momen dua tahun pernikahan Saya, ada kado yang kurang mengenakkan karena Damar demam lagi. Sedari kemarin siang, Damar sudah merasakan gejala demam namun belum terlalu parah sampai akhirnya tadi siang ketika Saya maupun Isteri Saya sudah di kantor, Saya dikabari bahwa Damar nampaknya harus dibawa periksa ke Dokter. Isteri Saya memberi pilihan apakah Saya yang izin pulang atau dia namun akhirnya Isteri Saya yang pulang duluan dan mengantar Damar ke Rumah Sakit.
Saya seakan merasa sangat tidak berguna sebagai suami namun Saya benar-benar jengah berurusan dengan rumah sakit. Entah kenapa setiap kali Saya berdoa untuk tidak terlalu berinteraksi dengan urusan rumah sakit namun selalu saja ada yang mengharuskanku untuk itu.
Setiba di rumah sore hari menjelang malam, kutatap wajah Isteri Saya yang nampaknya keletihan dan menanggung beban perasaan yang amat berat. Ingin kuucapkan selamat anniversary pernikahan namun kuurungkan. Saya tetap saja memandangnya dan merasa berdosa membiarkannya mengurus tetek bengek masalah anak.
Terlintas di kepalaku bahwa dia lah yang pantas untuk apa saja tentang anak dan lebih pantas mendapat balasan suatu saat dari anak-anaknya. Saya hanya pelengkap tak berguna yang meracu tak jelas. Kenyataan ini menguatkan keyakinanku kenapa Kanjeng Nabi menyuruh seorang anak berbakti kepada Ibunya sebanyak tiga kali kemudian sekali berbakti kepada Bapaknya, jika ini dimaknai kontekstual.
Menikah memang tidak mudah. Tidak seperti bayangan nirwana saat masih bujangan maupun tidak seindah lagu percintaan. Menikah adalah perjuangan untuk banyak hal. Berjuang mengalahkan ego demi keharmonisan rumah tangga.
Dua tahun berlalu masih sangat singkat untuk dijadikan tolak ukur tentang keberhasilan menghadirkan harmoni keluarga yang ada bahwa banyak hal remeh temeh yang masih menjadi batu sandungan.
Perjalanan hari ke depan akan semakin menemui tantangannya. Saya sendiri sedang berjuang untuk melunakkan hati Saya atas setiap pilihan yang sudah digenggam tanpa harus kembali menganulirnya. Pernikahan ini akan terus berlangsung untuk waktu yang tak diketahui, Saya hanya butuh diri untuk berjuang dan membawa pernikahan ini ke cita-cita awal meski Saya sadari bahwa kehadiran seorang anak seringkali memutar arah pernikahan dan menjadikan anak sebagai sentrum perhatian yang butuh kasih sayang yang berlipat.
Untuk anakku Damar, Semoga cepat sembuh dari demammu nak dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.
Untuk Isteriku, selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-2.
3 Oktober 2017 21.30 wib