June 16, 2015

Marhaban ya Ramadan

Sudah tak berbilang kali aku menulis tentang waktu bahkan dalam beberapa tulisanku yang bahkan tidak berhubungan dengan waktu pun sering kusisipkan kata itu. Aku memang selalu memperhatikan perjalanan waktu yang seakan tidak pernah letih melangkah dan terus melangkah bahkan sering terkesan waktu berlari begitu cepat. Aku terkadang tak percaya bahwa usiaku sudah menginjak umur yang matang dimana serasa baru kemarin aku bermain layangan ataupun bermain lumpur.

Tiba pada saat ini, di gerbang Ramadhan 1436 H, seakan baru sebulan berlalu aku menjalani Ramadhan tahun di Cilandak namun ternyata kali ini ramadan sudah datang menyapa. Perjalanan waktu yang begitu amat cepatnya benar-benar membuatku terkesima bahwa tidak ada tempat bagi orang yang berleha-leha tanpa bergerak mengikuti alur kehidupan. berjalan adalah solusi paling sempurna dalam mengikuti permainan waktu dan sesekali meneduh ketika penat menghampiri namun jangan biarkan malas mendera karena kita akan tergerus oleh aliran waktu

Durasi setahun yang aku lalui layaknya hanya sekilas pandangan mata. aku tidak sempat mudik lebaran tahun lalu karena masalah ekonomi. Masih segar diingatanku saat shalat ied di masjid Istiqlal. Di tengah riuh kegembiraan manusia yang merayakan kemenangan, aku bahkan menitikkan air mata dengan berbagai alasan. Sepi dalam keramaian karena jauh dari orang yang diakrabi mungkin pula nista yang sudah bergunung membuatku tak tahu harus bagaimana mengakuinya di hadapan Sang Ilahi.

Setahun berjalan, kedzaliman masih aku ulangi meski beberapa kali aku mengikrarkan diri untuk bertobat. Benarlah sebuah pernyataan yang kira-kira seperti ini bahwa lebih baik menghindari maksiat karena ketika sudah terjebak di dalamnya, terkadang membutuhkan kerja keras untuk lepas darinya bahkan seringkali manusia gagal lepas dari cengkraman maksiat.

Hal yang berbeda setahun ini adalah kesibukanku yang harus menjalani rutinitas di kantor bumida rawamangun. Aku kemudian bergumul dengan kesibukan mingguan kemudian menghabiskan waktu berjalan-jalan saat weekend. Suatu bentuk kesyukuran karena tidak mempunyai aktivitas terkadang membunuh gairah kreativitas.

Esok ramadan kembali. Selalu saja ketika momen tersebut tiba, maka memori masa lalu menyeruak di kepalaku tentang semua kenangan di kampung. Ramadan memang selalu menghadirkan kehangatan karena kita akan melewati beberapa rutinitas bersama-sama entah dengan keluarga maupun dengan teman-teman. mulai sahur, shalat subuh di mesjid yang dipenuhi khalayak, jalan-jalan pagi dan saat petang menjelang, aneka jajanan ta'jil dijual di pinggir jalan, buka bersama yang ramai diadakan dimana-mana sampai tarweh bareng.

Di usia yang sudah tidak lagi muda, aku berusaha untuk memaknai Ramadhan bukan sekedar bernostalgia dengan masa kecil yang penuh kesan namun lebih dari semua itu, aku berusaha untuk merefresh ulang semua hal yang telah berjalan setahun sebelumnya. Ramadhan selalu mengingatkan aku bahwa usia selalu bertambah dan umur berkurang.

Sebentar lagi Ramadhan tiba
Marhaban Ya Ramadhan
170615

June 15, 2015

Di Pintu Gerbang Ramadan

Cahaya berpendar dalam dinding nurani yang roboh akan ingin nafsu yang membara, seakan memaksa keluar dan meluluhlantahkan sisasisa iman yang tersisa
selaksa aib terus saja tersembur dari mulut busa
entah sesuatu yang disengaja ataupun asa yang mulai bergeser dari porosnya
kita tenggelam dalam nafas yang saling mengadu dengan mata yang menahan perasaan di ubunubun

aku seakan tersesat di setiap helaan nafasmu yang membuat nafasku menyatu
sisa farfummu menyeretku dalam kelam yang tak berujung
aku mengadah
namun seperti pekat yang terlihat tak mampu berkata apaapa
aku hanya bisa pasrah dengan desahan malam
semakin menenggelamkanku dalam kabut dosa

aku berdiri
merapikan lengan bajumu yang terkoyak
di setiap percikan bau mulut kita yang melekat di lengan baju

ah, aku tak kuasa dengan tangis alam menghampiri
hujatan semesta membuatku semakin merasa seperti pendosa tak berhati
ingin kuakhiri hajat ini
inginku membersihkan noda malam
namun tak jua ada energi
aku menangis
meski seringkali kesadaranku berucap bahwa itu tangisan palsu
karena esok akan berulang lagi

dalam sepi
tertulis doa ini Tuhan
Sembuhkanlah luka nurani ini

di pintu gerbang Ramadhan
1501615

Cerita Ironi Tentang Petani

Cerita tentang Petani selalu saja tidak bosan untuk diuraikan. Saya menulis tulisan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan tulisan Kak Yusran tentang Malu Aku Jadi Petani Indonesia namun murni pengalaman pribadiku dan percakapan-percakapan ringan dengan bapakku yang seorang petani tulen. Aku bahkan merasa akulah Asep sebenarnya dalam tulisan Kak Yusran dan itu fakta terjadi di kehidupanku bahkan diriku sendiri.

Sebelum mengurai ceritaku dengan bapak mengenai perbincangan masalah Petani, saya ingin bercerita tentang kampung halamanku yang berada jauh di bagian utara Sulawesi Selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Toraja. Kontur kampungku berbukit-bukit dan disitulah penduduk di kampungku bercocok tanam dari jaman dulu. meskipun ada sawah namun hanya berpetak-petak tidak seperti hamparan sawah yang amat luas di daerah bugis seperti pinrang.

Masyarakat di kampungku menggantungkan hidupnya dari hasil bertani dan sawah meski tidak bisa dikatakan berlebihan namun saya pun tidak pernah menemui masyarakat di kampungku yang tergolong miskin karena setidaknya mereka masih bisa makan sehari 3 kali bahkan masih tersisa untuk biaya membeli keperluan lain dan menyekolahkan anak-anaknya.

Ada cerita tentang kampungku yang membuat termasyhur sampai di daerah lain. Dulu entah tepatnya tahun berapa, kampungku terkenal dengan kampung jujur dan bebas dari pencurian, bayangkan saja ketika ada mangga ataupun kelapa jatuh dari pohonnya maka tidak ada seorang pun Masyarakat yang akan mengambilnya selain pemiliknya. Cerita lain adalah tidak pernah terjadi pencurian ataupun tindak kejahatan lainnya. memang dulu religiusitas di kampung sangat tinggi.

Kembali ke masalah petani. Saya tidak tahu pasti berawal dari mana, pola kehidupan di kampungku berubah bahkan sampai pada paradigma bahwa profesi sebagai petani adalah profesi yang berada di strata paling bawah dibandingkan dengan profesi lain seperti pedagang apatahlagi PNS. Masyarakat di kampungku sudah merubah isi kepalanya tentang sebuah pekerjaan bahkan sekolah selalu saja dikorelasikan dengan pekerjaan. Saya berkali-kali mendengar cerita sinis dari masyarakat tentang beberapa pemuda yang sudah menyelesaikan pendidikan sampai pada tingkat sarjana namun akhirnya kembali ke kampung dan bekerja sebagai petani, masyarakat di kampungku menganggap hal tersebut seperti aib yang memalukan.

Sampailah saya pada perbincangan tentang petani dengan bapakku. Berkali-kali ketika berbicara melalui telepon, saya selalu merasa tidak enak ketika bapakku seakan tidak mensyukuri pekerjaannnya sebagai petani. "nak, kalian harus meningkat dari orang tua, kami jadi petani dan jangan menjadi petani lagi seperti saya." Begitu berkali-kali pernyataan dari bapakku. secara tersirat bapakku seperti tidak mensyukuri pekerjaan sebagai petani dan dia seperti masyarakat pada umumnya di kampungku yang menganggap bahwa menjadi petani berarti memilih menjadi bagian strata paling bahwa dalam kehidupan bermasyarakat. dia bahkan berkali-kali menekankan bahwa kami sudah disekolahkan sampai sarjana sehingga harus bekerja kantoran.

Seringkali terdengar sangat keras ketika saya melancarkan protes kepada bapakku bahwa petani mungkin pekerjaan yang lebih bersih dari hal yang syubhat. Saya pun mengatakan bahwa menjadi petani bukan aib dan tidakkah kita memikirkan masa-masa yang lalu bahwa dari bertani lah kita bertumbuh dan tidak pernah sekalipun kita kelaparan.

Masyarakat di kampungku mayoritas berpikiran bahwa bekerja kantoran adalah sebenar-benarnya pekerjaan. mengenakan pakaian rapi, rambut disisir, berangkat jam 7 dan pulang jam 5 bagi mereka adalah pekerjaan ideal dan jauh lebih baik dari pekerjaan bersenjata cangkul, pakaian apa adanya dan berangkat jam berapa saja kemudian pulang berkubang lumpur. Entahlah apa yang sedang terjadi dalam pergeseran paradigma namun kesimpulanku bahwa itu terletak di dalam hati. ketika kita melakukan demi diri dan tulus bahkan hal tersebut bukan menjadi masalah namun beda halnya ketika kita sudah pada tingkat melihat sesuatu bukan pada esensinya bahkan terkadang fokusnya pada duniawi dan ingin dianggap berhasil oleh orang sekitar maka semua yang dianggap baik adalah yang kasat mata.

Saya pribadi memang dari dulu bekerja sambilan sebagai petani sejak masih SD sampai SMA dan sekarang saya tidak pernah menyesali kehidupan tersebut bahkan malah merindukannya. memang dulu sesekali terlintas pikiran bahwa bekerja kantoran masih lebih baik namun seiring seringnya mengamati banyak hal ternyata saya keliru.

Cara pandang orang tua seringkali berpengaruh terhadap perkembangan anak. Ketika distimulasi sesuai keinginan orang tuanya maka outputnya akan menjadi seperti paradigma orang tua yang berlanjut terus menerus atau sebaliknya akan menjadi pribadi yang menentang segala hal.

Kembali lagi bahwa profesi Petani sama sekali bukan profesi yang paling bawah dalam strata masyarakat bahkan profesi ini sangat vital dalam mata rantai kelangsungan hidup manusia. Namun ketika semua sudah menganggap bertani adalah pekerjaan yang memalukan maka tinggal menunggu waktu ada titik dalam mata rantai keberlangsungan hidup manusia yang terputus dan itu akan membuat kehidupan akan berhenti.

150615

Cerita Yang Tersisa dari Arisan

Saya menilai diriku adalah pribadi yang mungkin selalu berubah dari beberapa hal. Terkadang saya suka berkumpul dan mengunjungi keluarga ataupun kenalan namun seringkali pula saya merasa hanya ingin sendiri dan berdiam diri namun terlepas dari semua itu, saya adalah orang yang tidak ingin memutus silaturrahim dan alasan itu yang membuatku tetap memelihara persaudaraan maupun pertemanan dalam batasan-batasan tertentu.

Berkenalan dengan win dan menjalin relasi lebih dari sekedar pertemanan otomatis membuat saya berkenalan dengan keluarga besarnya. Realita tersebut tidak bisa dipungkiri dan saya harus pandai menempatkan diri di saat tertentu misalnya saja ada acara keluarga. keluarga besar tentunya tidak memiliki isi kepala yang sama sehingga terkadang kita harus memahami satu persatu Acara keluarga yang rutin dilakukan adalah arisan. Sejak setahun yang lalu, saya sudah ikut arisan dengan keluarga besar win meski harus saya akui bahwa status sosial masih saja menggangguku dan bahkan seringkali perasaan minder yang tidak bisa dihindari menghinggapiku dalam setiap sesi pertemuan keluarga. Entahlah meski seringkali saya camkan dalam hati bahwa strata sosial tidak mungkin membunuhku dalam setiap kondisi yang paling pahit pun namun hati tetaplah berkata lain, perasaan seperti itu akan selalu ada sampai mungkin saja bisa berdamai dengan diri. 

Kemarin, arisan keluarga yang ketiga kalinya saya hadiri di rumah pak en. Sehari sebelumnya memang mama eni sudah bbm mengabari acara arisan tersebut. Meski sudah berkali-kali ikut namun tetap saja perasaan saya belum bisa enjoy saat berada di tengah-tengah mereka. Saya bahkan diam seribu bahasa ketika tidak ditanya apatahlagi mereka khususnya yang sudah mak-mak selalu saja membicarakan kuliah, kerja dan apa saja mengenai hal yang mereka anggap prestise. Saya bukan tidak suka namun lebih tepatnya tidak sepakat ketika anak dipaksa untuk mengikuti kemauan orang tua ataupun distimulasi untuk mendapatkan nilai sempurna dan dalam kesempatan yang lain mereka dipaksa bekompetisi dengan diri mereka mencapai kemauan orang tua.

Satu hal yang membuat saya sedikit tersenyum ketika bertemu dengan mereka adalah tingkah polah anak-anak yang lucu dan terlihat agak pendiam. Mereka tidak pernah terlalu perduli dengan ucapan orang tua mereka yang terlalu me"lebay"kan hal yang telah mereka dapat. Saya salut dengan mereka karena dalam berinteraksi dengan sesamanya, mereka sopan dan tahu menempatkan diri mereka dengan orang di sekitarnya. Terlihat dalam hal ini bahwa orang tua mereka berhasil dalam mendidik anaknya menjadi anak yang sopan.

Diantar kelima anak tersebut, mungkin If yang paling supel dan dengan ramah selalu menyapa saudara-saudaranya bahkan yang lain hanya menjawab seperlunya ketika ditanya. Ic pun juga supel namun kelihat sekali bahwa Ic sudah mulai menempatkan dirinya karena dia memang sudah seorang mahasiswa. Saudara mereka yang laki-laki lebih banyak diam, reski, Johan dan Fa amat sangat pendiam dan bahkan menjurus lebih pemalu. Ris masih sedikit membaur namun Johan selalu menyendiri dan lebih suka diam meski dia sebenarnya bukan karena pemalu namun memang dia pendiam sedangkan Fa, mungkin karena usianya yang baru belia, dia lebih pemalu dan seringkali hanya menutup muka ketika ditanya sesuatu oleh tante maupun omnya.

Overall, keluarga besar mama en semua sabar dan pendiam meski dari beberapa sisi mereka rame.
Begitulah berkenalan dengan keluarga baru yang tidak semua isi kepala dan karakter sama.

Rawamangun 150615

June 13, 2015

Menunggu Senja Bersamamu

Aku mengeja waktu menantimu di sudut bangku toko
Merapal mantra perisai dirimu yang sedang pasrah dalam genggaman semesta
Melayang-layang tanpa ada kuasa menaklukkan kecemasan

Bukankah perjalan seperti itu adalah penyerahan total nasib pada takdir
Aku sekali lagi mengirim beribu kata baik kepada sang alam
Semoga angin tetap dengan tenangnya menjagamu

Ah, aku ingin membunuh gundah
Aku mengubur cemas
Lebih baik kuceritkan saja hariku

Tak jua kakiku beranjak bersama alunan hari yang mulai senja
Sebentar lagi engkau tiba

Kita melunasi rindu di taman Menteng
Bersama sepi yang berpendar dalam riuh canda bocah-bocah.

130615

June 12, 2015

malam yang merindu

Aku mendaki senja dengan nafas berbau hening
sepi menangisi sisa pertemuan semalam
diujung derita yang mulai mengering

Kita tidak lebih dari pekat yang berjatuhan
Riuh dalam nada hidup yang semakin meredup
Kita tidak lebih dari sekedar onggokan dendam yang basi

Khutbah Jum'at

khutbah jumat kali ini tidak terlalu banyak yang melekat di memori otakku. hanya ada kalimat yang diucapkan Khatib tadi tentang Khutbah yang disampaikannya. mungkin juga saya yang terlambat mendatangi shalat jumat sehingga khutbah yang kudengarkan terdengar terpotong-potong.

" Allah adalah sumber manfaat dan juga Allah adalah sumber Mudharat."

hanya kalimat ini yang masih segar di kepalaku terkait khutbah tadi. setelah itu hanya potongan-potongan kata tentang tauhid yang entah kenapa tidak kumengerti arah khutbahnya.

ah, ini saja lah
khutbah jumat tak berkesan
120615

June 11, 2015

Ode Untuk Sang Kekasih

Aku membalutmu dengan hening malam ini
pelukan dingin menghangatkan aroma kebersamaan kita dengan cengikancengikan sepi
aku merindu rinai yang selalu datang bertamu
namun entah di 2 kamis bulan juni, dia masih enggan menampakkan kehangatannya

aku melukis rindu dengan sisa salju yang kupungut di negeri seberang
ingin kukabarkan semua cerita tentangmu yang mendamba laut

"besok aku kan pergi sebentar waktu sayang, menyeberang lautan bertangan hampa. aku kembali saat sepi mendera dan rindu di ubunubun."
begitu pamitmu saat sebuah kecupan hangat kudaratkan di keningmu yang berkerut disiram hening.

sebentar saja waktu bertanya tentangku namun aku tak pernah peduli. lautan mengirimkan angin rindu saat kau mulai beranjak
aku seakan diremas malam yang dingin saat merayakan kepergianmu untuk sementara
namun tak juah tangisku

kakimu semakin melukis peta dan semakin menjauh.
namun sepanjang jalan di kota ini selalu saja meyakinkanku bahwa tak ada kata ingkar dalam pelukan semalam
hanya sedikit waktu yang hilang dan kemudian kembali saat rindu menyiksa
karena langit percaya kita adalah bilangan ganjil yang selalu menggenapkan
kita tidak akan pernah berbelah menjadi dua oleh jarak karena ganjil tak bisa berpisah

hutan semakin menakar dirinya menjadi taman percintaan kita
lautan pun berteriak
memekakkan telinga bagi para bedebah penebar asmara

tapi aku hanya disini untukmu
menyimpan sisasisa hidup bersama kenanganmu

110615

June 10, 2015

Tentang Jodoh

Saya dulu berangan-angan berjodoh dengan gadis yang bisa kutemani diskusi, tentang hidup ataupun bahkan tentang semua remeh temeh. Seorang gadis yang suka membaca dan menulis apa saja. entah mungkin karena terpengaruh dengan beberapa model pasangan seniorku dimana mereka sering berpacaran dan tentunya ada yang sampai menikah dengan gadis yang satu kepala dengan mereka. dalam artian bahwa passion mereka sama.

hingga akhirnya saya kemudian menakar diri. melihat ke dalam diriku sampai dimana sebenarnya kualitas diriku yang harus kujadikan patokan untuk mencari pasangan. harus kuakui bahwa jodoh bukan tentang sebuah pilih memilih yang seenak jidat kemudian dengan angan-angan palsu namun dia lebih pada masalah hati dan keyakinan.

kriteriaku berubah suatu waktu mungkin di akhir-akhir kuliah. saya sudah mulai mendiskusikan masalah jodoh dengan beberapa temanku di Makes. salah satu kawanku pernah mengatakan bahwa
 " jika kita ingin mencari jodoh, maka hal yang pertama yang harus kita lihat adalah bagaimana hubungan gadis tersebut dengan ibunya, bagaimana dia memperlakukan ibunya. hal kedua sebelum mendekati gadis yang sudah sesuai dengan kriteria kita adalah pertama-tama kita dekati ibunya."

hasil diskusi dengan teman-temanku tersebut selalu terngiang-ngiang di kepalaku. saya juga sebenarnya menyadari bahwa tidak begitu mudah untuk memilih pasangan yang kita akan temani seumur hidup. saya tidak munafik bahwa saya pun mendamba pasangan yang cantik sesuai standar fisik secara umum namun kemudian hatiku lebih memilih untuk mencari perempuan yang cantik hatinya dan bersabar dikala saya sedang dalam keadaan susah.

 kebiasaanku ketika bertemu dengan orang baru adalah mencoba membaca hati mereka sehingga terkadang ketika saya bertemu dengan orang baru, hal yang pertama kulakukan adalah banyak diam karena dengan begitu, saya bisa mempelajari orang dari cara bicaranya namun tidak serta merta saya menjustifikasi seseorang pada pertemuan pertama karena seringkali kita akan mengenal karakter seseorang ketika sudah beberapa kali berinteraksi meski begitu, ada hal prinsipil yang saya tetap pegang ketika berinteraksi di awal pertemuan misalnya orang yang suka mengumbar keberhasilannya, orang yang suka mengeluh dan orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain. mungkin itu sebagian kriteria bagi saya untuk menilai orang pada awal pertemuan.

saya bertemu dengan windi bersama dua perempuan temannya. seperti biasa saya bukan orang yang cepat akrab dengan orang asing. saya lebih sering mengamati. dari hasil pengamatan saya, saya tahu bahwa windi dan linda orangnya baik bukan saya menganggap bahwa teman perempuan yang satu itu tidak baik cuma karena dia masuk dalam kriteria yang saya sebutkan diatas maka saya tidak menganggap dia bisa menjadi kawan pencerita. kawan perempuan yang satu terlalu suka mengeluh, seringkali menceritakan kejelekan orang lain di belakang orang atau istilahnya ghibah bahkan terkadang pula sering menceritakan kesuksesan-kesuksesannya di masa lalu. windi dan linda lain. meski berbeda karakter, windi pendiam dan linda lebih periang namun mereka tidak termasuk dalam kriteria jelek yang kusebutkan.

pada akhirnya, saya sangat dekat dengan mereka berdua bahkan windi lebih dari sekedar dekat. dia menjadi calon isteriku. saya benar-benar menerapkan hasil diskusi saya dengan teman saya yang ada di Makes. sebelum mendekati windi, saya sudah tahu bagaimana kedekatan dia dengan ibunya dan bagaimana dia memperlakukan ibunya bahkan sejauh yang saya tahu, windi tidak ingin menyusahkan ibunya. langkah kedua ketika ingin mendekati windi adalah mendatangi langsung ibunya. memang pada awalnya ibunya kurang setuju namun pada akhirnya dia mengiyakan. 

hal yang kutemai dari interaksiku dengan keluarga windi adalah kesabaran. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sifat windi dan ibunya. saya harus akui bahwa saya tertinggal jauh jika berbicara masalah kesabaran bahkan saya yang sering marah dan ngambek kepada mereka berdua. saya selalu saja geram ketika mereka di dzalimi orang lain namun mereka memilih untuk sabar.

perjalanan waktu selama 2 tahun banyak mengajarkan hal baru ketika berinteraksi dengan mereka. klimaksnya saat ini saat saya dan windi berencana menikah dan saya dibebaskan oleh ibunya membantu dana secukupnya meski saya sadari bahwa menikah saat ini tidaklah murah namun ibunya benar-benar legowo saat saya hanya mempunyai dana amat sangat sedikit untuk membantu resepsi pernikahan kami. 

speachless..
11 juni 2015

Di Antara Perjalanan Sepi Yang Melelahkan

masihkah kopi pagi ini hangat di setiap urat tenggorokanku
ketika hati memilih untuk tidak tenang
masihkah ada sisasisa bau tanah sehabis dihampiri hujan semalam

tanya itu selalu memenuhi ubunubun kepala
serupa tubuh yang selalu memahami kebahagiaan di sudut sepi
kita sering mengunjungi cerobong-cerobong panjang dalam kehidupan gelap

"apa bedanya sepi dan bahagia ketika kita ada, semua melebur menjadi fana" bisikmu lirih tepat ketika kita mendaki sunyi.
iya, mereka hanyalah frase bentukan otak yang bingung merumuskan istilah dan semua melebur di dalam pelukan malam ini

sebuah tanya tentang pagi melintas tepat di setiap relung hatiku. meminta untuk memberinya jawaban
"aku ingin engkau pulang membawa rinduku yang hilang" jawabku khidmat
tak ada kata dalam diam hanya tatapan matamu yang berubah menjadi mentari dengan cahayanya berpendar menerangi kebersamaan kita

kita melukis senja dengan tinta hujan
kita bertamu pada malam dalam hening, tidur dalam pelukannya kemudian bermimpi tentang bahagia

kita berdoa menjelma menjadi butiran harapan untuk masa nanti
"kita tak akan pernah melepaskan genggaman tangan ini kan kak..?" tanyamu dalam ujung pendakian kita pada tepi malam
"iya, sampai waktu pada akhirnya menjadi pembeda antara jarak langkah kita..!! jawabku sambil memberimu setangkai mawar rindu yang layu

kita akhirnya sampai di kelokan waktu
saatnya merebahkan tubuh menanti hujan yang bergelayut
selamat malam dek.

100615

June 7, 2015

Kita Membunuh Waktu

" waktu mempermainkan cinta kita kak, atau mungkin kita yang selalu kalah berpacu dengan sabar." Katamu sepanjang jalan saat kita menyusuri senja yang bisu

Aku bahkan tak tahu lagi harus menabuh bendera perang dengan waktu karena setiap kali aku memeluknya dengan sabar, waktu seakan berhenti melangkah
Aku dan kau pun sedang mengejar waktu namun seakan dia enggan melangkah

Terkadang aku mengintip hujan dengan jawabannya namun dia seakan memberiku luka
Senja yang kemarin selalu bersamaku pun seakan enggan bertutur
Ah, kali ini aku menyerah
Membanting semua cangkir di bibir meja

Sedari tadi kususuri pandangan yang kosong dari setiap kedipan matamu
Aku menemukan cinta di dalamnya
Dan kau buktikan itu,
Sisa farfummu masih menyatu di pundakku

Aku ingin mengalahkan waktu
Membunuh waktu yang enggan melangkah

tidak sekalipun dia mengungkap misterinya
memberi jawaban yang pasti
atau sekedar pernyataan yang menenangkan
bahkan tekateki yang melekat sepanjang dirinya

kita terlalu lama jauh dari pandangan semesta
entah sekarang sudah tak terlihat lagi ataukah hanya samarsamar
akupun tak tahu

Seperti puisi dian yang bosan dengan penat
080615

Pasung Jiwa

Judul : Pasung Jiwa

Pengarang : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia

Hal : 328 ; 20 cm

ISBN : 978-979-22-9557-3









Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Kalimat di sampul belakang novel tersebut yang membuatku tertarik membelinya ketika mengitari hamparan buku di Lt 4 pasar senen. Setidaknya bahwa fenomena kebebasan seringkali menerabas keingintahuanku sehingga tanpa pikir panjang, kusodorkan lembaran 20 ribuan kepada penjualnya dan membawa pulang novel tersebut.

Seminggu lamanya novet ini hanya menganggur dan menemaniku di sudut kasur tanpa kubuka segelnya. Dengan berbagai alasan di kepalaku bahwa aku belum punya waktu, masih terlalu capek atau sibuk dengan memainkan hp sampai akhirnya novel tersebut terkadang hanya menjadi bantal.

Semalam secara perlahan aku mebuka sampul novel tersebut. Perlahan kubaca kalimat demi kalimat di setiap lembarannya. Aku bahkan tidak berkedip sampai kulihat jam menunjukkan pukul 24:00. Kupaksa menutup novel setelah 3/4 halaman selesai kulahap.

Ada dua tokoh utama yang dimunculkan di novel ini, yang pertama adalah sasana. Dia terlahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pengacara dan ibunya seorang dokter bedah. sederhananya bahwa Sasana lahir dengan kecukupan ekonomi bahkan ketika masih kecil, bergiliran guru piano didatangkan oleh orang tuanya untuk mengajarinya main piano. meski Sasana sendiri tidak suka dengan hal itu namun untuk menyenangkan orang tuanya, dia mampu melahap pelajaran piano dan memainkan musik klasik dengan baik terbukti dengan banyaknya medali yang diraih di setiap lomba.

meski begitu, passion sasana tidak di piano bahkan sejak dia mendengar orkes dangdut di samping rumahnya, dia tertarik dan ikut menonton dangdut sambil goyang alhasil ketika orang tuanya mengetahui akan hal tersebut, sasana dimarahi habis-habisan karena kedua orang tuanya menganggap musik dangdut adalah musik untuk orang berandalan. 

prestasi sasana di sekolah terbilang cukup memuaskan. dia selalu mampu meraih sepuluh besar. saat tamat SMP, kedua orang tuanya memasukkan sasana di sekolah katolik khusus laki-laki meski sasana adalah seorang muslim. periode pergulatan sasana mungkin dimulai saat di SMA. pertama kali masuk di sekolah tersebut, dia dikeroyok oleh geng siswa di sekolah tersebut. peristiwa tersebut selalu berlanjut dan sasana tidak pernah jujur kepada orang tuanya hingga suatu waktu, sasana jujur akan semua kejadian tersebut dan ayah sasana yang seorang pengacara melaporkan kasus tersebut ke polisi namun kasus tersebut tidak pernah ditindaklanjuti karena salah seorang dari pengeroyok sasana adalah anak jenderal.

sasana kemudian kuliah di kota Malang. masa ini yang menjadi awal dari kisah sasana mencari kebebasannya. meski terlahir sebagai seorang pria namun sasana merasa jiwanya feminim walaupun untuk urusan asmara, sasana tidak pernah jatuh cinta kepada laki-laki.  sasana hanya bertahan 2 bulan kuliah kemudian memutuskan untuk berhenti ketika bertemu cak jek dan mengamen keliling kota Malang. profesi inilah yang dianggap oleh sasana adalah kebebasan bagi jiwanya.

kebebasan selalu terampas pada sebuah momen untuk memperjuangkan idealisme. berawal ketika cak man datang di rumah sasana (sasa), sejak menjadi pengamen keliling bersama cak jek, sasana dikenal sebagai sasa, mengabarkan bahwa anaknya yang bernama marsini yang bekerja di sidoarjo hilang sudah seminggu. menurut cerita cak man bahwa anaknya hilang setelah dia minta kenaikan gaji kepada bosnya.

Cak man, Cak Jek, sasa dan 6 orang temannya sepakat untuk aksi menuntut Marsini dikembalikan. mereka menuju Sidoarjo dan melakukan aksi di jalanan. aksi tersebut diredam paksa oleh aparat dan mereka ditangkap dan dipenjarakan. sasa mengalami kejadian paling kelam dalam hidupnya. di dalam penjara, dia dilecehkan secara seksual yang selalu menghantuinya sepanjang hidupnya.

setelah dibebaskan, sasa kembali ke jakarta namun apesnya, dia dianggap gila karena masa lalu yang selalu menghantuinya. dia dimasukkan ke dalam Rumah sakit jiwa. meski dalam kesadarannya bahwa dia tidak gila namun hanya mendapatkan kebebasannya.

sementara itu, Cak Jek berangkat ke Batam dan bekerja sebagai buruh pabrik ketika dibebaskan dari penjara setelah melakukan aksi menuntut dikembalikannya Marsini. berkerja di Batam tidak serta merta membuat hidup cak Jek menjadi lebih baik. dia bekerja sebagai pembuat kaca dan menghabiskan waktunya menjalani rutinitas sebagai buruh. suatu waktu dia memecahkan kaca tanpa sengaja dan menerima konsekuensi tidak digaji selama 2 hari. cak jek tidak terima dan dia memukul mandornya alhasil dia dipecat dan melarikan diri. cak jek kemudian hidup dengan seorang wts di sebuah rumah namun tak lama, mereka diusir oleh warga sekitar. cak jek kembali ke jawa namun sebelumnya singgah di jakarta.

dia bertemu dengan Laskar pembela Agama di jakarta yang bermarkas di petamburan. cak jek kembali memulai hidup baru sebagai laskar pembela agama. menggrebek tempat maksiat adalah pekerjaan sehari-harinya. beberapa saat kemudian, cak jek kembali ke malang dan bergabung dengan laskar malang. nama cak jek semakin tenar di malang.

sementara itu, sasa sudah menjadi penyanyi yang tenar dan sering mendapat panggilan menyanyi sampai ke luar kota, pada suatu waktu, sasa mendapat undangan menyanyi di Malang. malam itu sepertinya menjadi klimaks dari novel tersebut karena saat tampil menyanyi, Laskar pimpinan Cak Jek membubarkan paksa acara tersebut. sasa dipermalukan oleh anggota cak jek dan dia dijadikan tersangka penistaan agama. cak jek kembali galau karena dialah yang menjadikan hidup sasana menjadi sasa namun dia pula yang menghancurkannya.

sasa akhirnya disidang dan dijebloskan penjara. cak jek kemudian menjenguk sasa dan mengajak sasa kembali mengamen bersamanya. seperti kata mereka bahwa itulah kebebasan mereka.

"Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orang tuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan . Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengurungku menjadi tembok-tembok tinggi  yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku". 
(hlm  293) 

overall, cerita dari novel ini mengasikkan karena semua yang digambarkan di dalam novel tersebut ada di sekitar kita bahwa seringkali ada dalam diri terutama masalah kebebasan. pada dasarnya, semua orang ingin menjadi apa adanya dan melakukan sesuai dengan nuraninya dan bebas dari intimidasi apapun sehingga kebebasan adalah kata yang sakral bagi manusia untuk menemukan dirinya.
namun seperti kutipan paling awal dari tulisan ini bahwa apakah kebebasan tersebut benar-benar ada? ada banyak hal yang tanggung di dalam novel ini, bukan pada endingnya namun dalam beberapa kasus yang diselipkan terlihat begitu setengah-setengah. bagian paling mengecewakan yang adalah perjuangan marsini menuntut kenaikan gaji kemudian hilang dan aksi jalanan sasa dan kawan-kawannya yang hanya beberapa orang kemudian setelah mereka dipenjara, cerita tersebut menguap begitu saja. tidak ada pesan yang tertera dibaliknya atau bahkan metode aksi massa yang lebih rapi.

novel ini benar-benar menggelinding begitu saja menceritakan bagian-bagian kehidupan kita yang sayangnya tidak berakhir pada sebuah kesimpulan. entah novel ini murni menjadi novel psikologi ataupun novel politik namun tidak ada yang kelar. semua diceritakan dan tidak meninggalkan pendapat dari penulisnya.

jika dikatakan novel ini hanya pada novel tentang mencari kebebasan namun sebagai orang awam, saya beranggapan bahwa seharusnya penulis memberikan sedikit pandangannya tentang seperti apa itu kebebasan ataukah makhluk apa itu kebebasan. mungkin juga kesimpulan penulis ada pada kata tanya dibawah ini

Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Rawamangun
080615

June 5, 2015

Betumbuhlah

Padamu setiap kasih tak berujung. semesta menawarkan cintanya untuk setiap tawamu
bahkan di sudut malam yang menua pun, dua manusia tetap menjagamu dengan hati yang syahdu
masihkah kau ragu bertumbuh?

jangan, jangan pernah ragu
ada banyak di sekelilingmu yang membuatmu aman
bahkan duri pun tidak akan dibiarkan ada di hadapanmu

di sudut matamu
ada secercah asa yang kau simpan erat
biarkan menjadi besar
dan tak pernah pudar


Kusapa dirimu dalam getaran telepon semalam
Hanya ocehan-ocehan menggemaskan yang keluar dari mulut mungilmu
Begitulah setiap permulaan
Terkadang butuh belajar lebih banyak

 hidup tidak akan menjadi sebuah pertunjukan sulap
 menjadi ada dari ada
 karena hidup adalah proses 

 Ada seseduh susu untukmu pagi ini
Diramu dengan cinta oleh malaikatmu
Engkau menjadi titik perhatian setiap yang ada
Mungkin tak kau sadari
Sedari tadi kami mendoakanmu
Semua tentang apa yang akan engkau lalui
Tidurlah nak,
Aku ingin menghabiskan kopiku malam ini

 aku ingin bercerita tentang seorang anak kecil
 hujan selalu menjadi temannya bermain
bahkan mentari adalah sahabatnya
dia memanjakan hatinya menjadi riang

aku sepertinya kehabisan katakata berdongeng kepadamu
 aku hanya ingin melihatmu memanjat, menendang bola, bermain hujan dan apa saja seperti momen yang pernah kulalui
sesekali menangis dan tertawa sepuasnya

jangan pernah takut tentang hidup

Rawamangun.
060615