May 5, 2015

Tentang Hukum

Kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap hukum yang berlaku di Negeri ini memang sedang mengalami anti klimaks yang parah. berbagai macam kasus hukum yang setiap hari dipertontonkan di media massa yang nampaknya selalu saja berpihak kepada kaum berduit membuat masyarakat semakin muak akan hukum kita, mereka seakan tidak percaya hukum itu akan berjalan dengan baik di negeri ini.

Beberapa hari yang lalu, konvoi mobil mewah Lamborghini tanpa plat nomor dikawal oleh pihak kepolisian yang seharusnya bahwa setiap kendaraan harus memiliki plat nomor namun pemilik mobil mewah adalah orang kaya yang seakan "kebal" hukum. disisi lain, pihak kepolisian dengan seenak jidatnya menilang kendaraan yang lain. 

Hukum di pengadilan pun tak kalah lucunya, beberapa kasus masyarakat Proletar di Indonesia dipermainkan oleh hukum seperti Asyani alias Bu Muaris, nenek 63 tahun, dituduh mencuri tujuh batang kayu jati yang konon milik Perhutani sumber. Nenek tersebut ditahan sejak 15 Desember 2014 untuk menunggu persidangan. tidak perlu dijelaskan lebih jauh kronologis kejadian tersebut karena hanya membuat miris namun pada intinya bahwa kayu tersebut adalah miliknya sendiri

Adalagi Nenek Minah (55) yang tak pernah menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) akan menjadikannya sebagai pesakitan di ruang pengadilan. Bahkan untuk perbuatannya itu dia diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan sumber. masih banyak lagi kasus serupa yang mungkin tidak pernah diterima oleh akal sehat karena di lain sisi, Koruptor yang notabene lebih menyengsarakan rakyat bisa saja menyogok aparat hukum sehingga bebas begitu saja.

Kemarin aku bertemu dengan seorang klien yang mengajukan klaim kehilangan kendaraan roda 2 merek Vario. awalnya yang dipertentangkan adalah jumlah Indemnity yang akan diterima oleh klaim yang bernama Deny Yunandra. Aku menjelaskan panjang lebar bahwa penggantian Indemnity itu sudah diatur dalam klausula polis namun tetap saja dia berkeras bahwa asuransi memang selalu punya dalih supaya klaim tidak dibayar atau bahkan nilai klaim dikurangi. 

Pernyataannya tersebut membuatku sedikit terusik dan menjelaskan bahwa sejauh yang aku tahu bahwa asuransi itu adalah berkenaan dengan hukum karena polis ditandatangani di atas meterai sehingga semua ketentuan ada pada klausula polis dan jika memang nasabah yang benar maka seharusnya mereka bisa menggugat pihak asuransi ke ranah hukum

Perdebatan kemudian berlanjut ke ranah hukum yang lebih luas lagi. bapak tadi mengatakan bahwa hukum di Indonesia sangat mudah dipermainkan nampaknya dia sudah amat sangat apriori terhadap dunia hukum terlihat dari kata-katanya yang menjustifikasi penegak hukum bahwa memang hukum tertulis itu ideal namun yang mengetuk palu pun pasti orang hukum yang punya kepentingan.

Memang tidak ada yang salah dari pernyataannya tersebut namun sedikit keliru karena bagaimanapun hukum itu dibuat sedemikian ideal untuk menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat meski pada kenyataannya terdapat cacat yang mengikuti penegakan hukum tersebut namun tidak lantas pula kita kemudian melabeli hukum sebagai sebuah ranah yang benar-benar sudah tidak ada keadilan di dalamnya.

Hukum itu adil yang ideal. aplikasi dari para penegak hukum yang terkadang tidak adil bagi hukum itu sendiri
cuap-cuap.0405015

May 3, 2015

Stasiun Cirebon

Di stasiun cirebon
Meletup sebuah rasa yang indah
Melebur mereka lalu lalang dalam tujuan
Kerap kali degup langkah
Dan peringatan pemberangkatan kereta

Aku diam di sebuah kursi tunggu
Menikmati alunan alam yang syahdu
Cirebon,
Kukenal dari bacaan buku SD
Sampai akhirnya kakiku bersatu padu dengan tanahnya

Di stasiun
Suatu malam yang dingin
Stasiun Cirebon saat Maghrib
Stasiun Cirebon
30515 18:58
Perjalanan Madiun-Jakarta

April 30, 2015

Kebahagiaan Itu di Hati Bukan di Mata Orang Lain

"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yg menyukaimu tak butuh itu, dan yg membencimu tidak percaya itu.
(Ali bin Abi Thalib)"

 Katakata hanyalah bualan dari mulut yang bau, tidak ada yang akan percaya dan hanya akan menjadi sampah yang tak berarti. semua orang punya pandangan dan pada dasarnya, manusia terlalu muak terhadap siapa saja yang suka mengeluh dan mereka hanya akan pura-pura iba terhadap setiap keluhan yang mereka dengar.

diam adalah emas dan biarkan semua ada dan berjalan dengan sendirinya. memang benar adanya bahwa jawaban atas semua masalah yang dihadapi adalah diam dan tetap bersabar sambil mencari jalan keluar atas masalah tersebut.

 bercerita kepada orang lain hanya akan merendahkan dirimu di mata mereka. menceritakan setiap masalah yang engkau hadapi hanya akan dirayakan mereka dengan gelak tawa kemenangan meski di depan matamu mereka memperlihatkan wajah sendu seakan paling bersedih atas semua yang sedang engkau hadapi.

bukan menjustifikasi semua manusia dengan perasaan anti pati namun demikianlah mereka dari mayoritas memiliki sifat mementingkan diri mereka sendiri.

entah seperti apa adanya setiap masalah ketika tersebar kepada mereka yang tidak peduli. ada yang kemudian mencemoh dan meyumpahi dalam hati. penjelasan paling paripurna telah dijelaskan dengan sangat baik oleh Imam Ali bahwa ada dua jenis orang di dunia ini, orang yang menyukaimu dan orang yang membencimu bahkan kedua-duanya sama sekali tidak butuh penjelasan atas dirimu hanya saja bahwa sikap yang diambil berbeda. yang menyukaimu sama sekali tidak butuh semua penjelasan karena dia akan menerima keadaan dirimu apa adanya sedangkan orang yang membencimu pun tidak akan pernah percaya kata-katamu.

hidup memang tentang menyikapi diri dan mengenal diri. terlalu sulit untuk menjadi manusia seutuhnya ketika kita belum mampu mengenali diri sendiri seperti apa adanya. semua tergantung pada kemauan untuk belajar sedikit lebih sabar dalam semua hal.


hidup adalah tentang perjuangan

hidup adalah tentang mengenal diri

2015

April 29, 2015

Sepucuk Surat

Ini sepucuk surat
isinya tentang semua cerita pagi ini atau bahkan tentang senja yang sebentar lagi menyapa
aku membacanya
disebuah taman bunga

Perempuan Bernama Mary Jane

saya tidak ingin ikut-ikutan pro terhadap hukuman mati yang sedang menjadi hot issue di negeri ini ataupun tidak ingin menjadi orang yang kontra terhadap kebijakan tersebut. kapasitas untuk membicarakan kebijakan tersebut haruslah punya banyak referensi tanpa sekedar membaca dari sosial media yang hanya merupakan opini liar dari masyarakat luas bahkan sama sekali saya tidak punya pretensi untuk menjustifikasi benar salah atas kasus tersebut. saya hanya mengetahui sekilas karena ramai dibicarakan oleh orang di kantor dan sesekali membaca di media online.

tepatnya semalam dini hari tanggal 29 April 2015 pukul 00:25 WIB delapan terpidana mati, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia); Martin Anderson (Ghana); Raheem A Salami, Sylvester Obiekwe, dan Okwudili Oyatanze (Nigeria); Rodrigo Gularte (Brasil); serta Zainal Abidin (Indonesia) menemui ajalnya sumber, sebenarnya ada sembilan terpidana mati yang siap di eksekusi namun ternyata hanya delapan karena salah seorang dari narapidana tersebut ditunda eksekusinya, perempuan tersebut bernama Mary Jane asal Filipina. tidak perlu saya utarakan semua kronologis dari kedelapan narapida yang sudah dieksekusi dan kesalahan apa yang menyebabkan mereka sampai harus meregang nyawa dengan cara seperti itu. kronologisnya sudah bertebaran di media-media dan percakapan masyarakat.

saya lebih tertarik membahas sisi lain dari Mary jane, salah satu Narapida Narkoba yang sudah dijadwalkan dieksekusi semalam namun ditunda karena ada alasan eksternal. sebenarnya bukan benar salahnya yang ingin kuceritakan namun lebih kepada perasaan sesosok manusia biasa menghadapi maut yang sudah ditentukan. perasaan seperti apa yang berkecamuk di dalam diri Mary Jane saat ini.

kematian selalu saja menjadi misteri yang paling menakutkan karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan mereka akan menemui maut kemudian ketika berada di posisi Mary Jane yang sudah ditentukan ajalnya oleh manusia, bagaiman kegoncangan yang terjadi di dalam jiwanya bahkan ketika tanggal 29 April yang sudah dijadwalkan ternyata diundur, Mary Jane seakan dipermainkan oleh maut. saya bahkan bersimpati kepadanya dan mungkin saja dia lebih tersiksa dari kedelapan narapida yang sudah dieksekusi. persoalan mati memang akan dilalui oleh semua orang namun kesiapan dalam menghadapi maut adalah sesuatu yang paling menyiksa.
 

Sosok Mary Jane sedang menjalani hidupnya yang berat. entah nantinya hukumannya akan di PK ataupun  rencana eksekusi akan tetap dilaksanakan terhadap dirinya namun tetap saja bahwa hari-hari ini menjadi hari paling mengerikan baginya. sosoknya yang seperti diberitakan di media-media bahwa hanya seorang warga miskin dengan dua anak di Filipina yang kemudian menjadi korban human trafficking.

entah sikap apa yang harus saya ambil melihat kasus hukuman mati. disatu sisi melihat seorang manusia dengan cara menjemput mautnya di tangan orang menurut saya amat sangat tidak adil meski mungkin di mata hukum dia "layak" mendapat hukuman setimpal atas kesalahan yang dilakukan.

hidup memang semua panggung pertunjukkan yang selalu menghadirkan drama yang tak terduga. masa depan selalu saja menjadi rahasia semesta yang tidak pernah bisa diprediksi meski manusia merencakan masa depannya serapi apapun namun tetap saja akan menjadi misteri.

Rawamangun.290415

April 28, 2015

Lagi Tentang Ustadz D

Aku sudah beberapa kali menulis tentang Ustadz D setiap kali selesai meneleponnya. meski demikian, terkadang kata-kataku tak pernah habis untuk menuliskan semua nasehat yang terucap dengan tulus dari Beliau bahkan aku merasa bahwa Beliau tidak pernah sedikitpun menasehatiku dalam berbagai hal.

seperti kemarin malam saat meneleponnya, dengan ciri khas yang heboh dan penuh dengan senyum, Beliau memulai percakapan dengan menanyakan kenapa diriku baru kali ini meneleponnya setelah sekian lama. aku hanya bisa menjawab bahwa rutinitas telah membuat sedikit waktuku tercurah. Beliau pun selalu dengan pemaklumannya.

Seringkali ketika bercakap dengannya melalui telepon, aku lebih banyak diam dan mendengarkan apa saja yang ingin diceritakannya mulai dari aktivitas teman-teman di Al-Markas sampai kehidupan kota di Makassar yang sudah tiga tahun terakhir kutinggalkan.

Menurutku, inti dari semua apa yang dikatakan beliau adalah ketika menasehatiku tentang hal-hal yang menyangkut keagamaan. pertama beliau menyarankanku untuk membeli Qur'an tafsir per kata. sebenarnya sudah sejak lama Beliau menyarankan untuk yang satu ini namun aku yang masih belum tergerak untuk membelinya.

Beliau tidak pernah alpa mengingatkanku untuk selalu dekat dengan Allah karena hanya itu yang hanya bisa membuat hati kita tenang dalam setiap keadaan. Beliau menambahkan bahwa ketika kita merantau dan dekat dengan Allah maka semua akan bisa dilalui dengan ikhlas bahkan menurut ceritanya, Beliau pernah merantau dan ketika dalam keadaan lapar dan sama sekali tidak punya uang untuk membeli makanan, Beliau mengaji sampai tertidur di mesjid.

perbanyaklah teman dan jangan menyakiti teman. ketika ada teman yang berbuat jahat terhadap kita maka jangan dibalas dengan kejahatan. begitu nasehat berikutnya yang membuatku sedikit berpikir bahwa memang kesabaran untuk diri itu harusnya tidak ada batasannya namun ketika kita melihat orang lain dizalimi, seharusnya kita menolong.

jangan pernah mengkafirkan orang lain dan sekali-kali jangan menyalahkan orang lain. penampilan beliau yang memang sudah kenyang dengan pendidikan agama bahkan menyarankanku untuk jangan mengkafirkan orang lain. tidak seperti dengan mereka yang memproklamirkan dirinya ustadz namun begitu mudahnya mengeluarkan kata kafir kepada orang lain, jangan kepada yang beda agama, yang seagama namun beda Mazhab pun digelari kafir. Ustadz D jauh dari perangai seperti itu dan kurasa Beliau mengerti apa hakekat dari perbedaan, hal tersebut yang menenangkanku setiap kali bercakap dengan Beliau.

malam itu, Beliau berpesan bahwa tidak apa ikut kajian dan ambil baiknya, Beliau menjelaskan bahwa sama sekali tidak ada masalah dengan Syiah, Sunni, Ahmadiyah atau aliran apapun di dalam Islam sepanjang kita mengambil yang baik dan menjauhi yang kurang baik dengan satu kunci bahwa jangan sekali-kali mengkafirkan orang lain karena itu wilayah Tuhan, sama sekali kita tidak punya otoritas untuk hal tersebut.

"Masalah Umat Islam sekarang adalah masalah kebodohan, banyak yang sok pintar dan mengkafirkan orang lain, padahal itu pandangan yang salah" Prof Quraish Shihab

"bukankah demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal muasal bukanlah tanda kelemahan melainkan menunjukkan kekuatan"

KH. Abdurrahman Wahid
07 September 1940-30 Desember 2009

Bahagia Itu

ketika ku bocah, aku bergumam alangkah bahagianya menjadi orang dewasa
kini aku dewasa dan bergumam kemudian, ternyata masa kecil adalah masa terindah

saat sedang menjalani masa SMA, pikirku bahwa menjadi anak kuliah menyenangkan, berpakaian bebas kemudian memanjangkan rambut, saat kuliah ternyata SMA menyisakan rindu yang mendalam kemudian akupun berpikir masa itu menyenangkan

sekarang aku bekerja, lagi-lagi aku selalu bahagia bernostalgia dengan masa kuliah, alangkah menyenangkan ketika semua sudah berlalu.

kenapa kebahagiaan seperti sebuah fatamorgana yang ketika jauh serasa menyenangkan namun ketika berada di genggaman menjadi hambar.

apakah memang seperti itu hakekatnya sebuah kebahagiaan..??
ataukah hidup akan berhenti ketika kita benarbenar memeluk bahagia itu?

aku miskin melihat si kaya bahagia
aku sakit melihat si sehat merayakan bahagia
aku hidup di desa melihat bahagianya orang yang hidup di kota

namun ketika semua itu menjadi terbalik
akupun melihat kebahagiaan tersebut terbalik menjauh

bahagia adalah katakata bukan kenyataan
dia melayang di ufuk mimpi yang menjelma menjadi ilusi sepanjang hanyat
tanpa pernah diraih

hidup adalah tragedi mengejar kata bahagia
yang tidak akan pernah menjadi sebuah kata benda
karena hakekatnya adalah kata sifat

jika seperti itu adanya
berarti bahagia tak kasat mata
dia inheren dalam diri manusia yang selalu mampu bersyukur
mungkin itulah konsep bahagiaku


April 27, 2015

Bapak Tukang Semir Sepatu

Sudah terlalu lama saya tidak menjumpai seorang Tukang Semir sepatu keliling. hal yang lumrah yang pernah ada di kota saya di makassar dulu namun sejak merantau ke pulau ini, tak sekalipun kujumpai mereka yang dengan sabar mencari rejeki menjadi tukang semir sepatu sampai kemarin siang, akhirnya saya kembali menjumpai seorang laki-laki yang kutaksir umurnya 30an tahun dengan muka sendu menawarkan jasa semir sepatu di mesjid Rawamangun

Bapak Tukang Semir Sepatu
Entah apa yang ada dipikiranku ketika melihat bapak tersebut namun sejenak terlintas dalam kepalaku untuk memakai jasanya menyemir sepatuku yang memang sudah sangat kusam bahkan sejak sepatu tersebut saya beli di pinggir jalan Manggarai seharga Rp. 200.000.

saya selalu kagum dengan orang yang dengan ikhlas terpancar dari mukanya menjalani sebuah profesi yang mungkin sebagian orang dianggap profesi kelas bawah. Bapak kemarin siang mengajarkan saya bagaimana sebuah profesi selayaknya dijalani dengan penuh keridhaan.

ingin rasanya kemarin berbincang banyak tentang kehidupannya dan berapa lama dia menjalani profesi tersebut namun hatiku sedikit agak ragu disamping karena menghargai perasaannya juga karena dia amat sibuk bergelut dengan beberapa pasang sepatu yang masih harus diselesaikan olehnya. mungkin juga rezeki bapak kemarin siang karena di dekat mesjid tersebut ada hajatan orang nikah dan para tamu undangan mampir di mesji shalat Dhuhur sehingga memudahkan bapak tersebut mengais rezeki dari mereka.

Sepatuku sudah disemir



April 26, 2015

Selamat Berbahagia

Ada banyak kesamaan diantara kami. Selisih umur kami hanya dua hari. Kami melewati masa kecil bersama, berteman, kemudian bertengkar namun seperti itulah interaksi manusia masa kecilnya. dia adalah saudara sepupuku, namanya SR. Menceritakan masa bersamanya ketika kecil mungkin tidak tertuliskan satu persatu. karakter orangnya kuat meski kutahu dia sempat memang menjadi bandel dalam beberapa hal namun sesungguhnya itulah lelaki, aku saja yang terlalu takut untuk mengeksplorasi kelaki-lakianku.

Aku harus angkat jempol untuknya. dia memutuskan untuk menikah menikahi seorang gadis di kampung kami yang sudah lama dipacarinya. Anak itu baru menyelesaikan masa SMA nya namun tidakkah itu sebuah keberanian laki-laki yang harus diapresiasi dibandingkan dengan beberapa anak muda yang hanya berani memacari anak gadis tanpa berani bertanggung jawab

Hidup memang tentang pilihan namun ada satu penentu yang bisa menjatuhkan pilihan seseorang terhadap sesuatu yaitu kepercayaan diri dan keberanian. itulah yang dimiliki oleh saudara sepupu saya yang satu ini. sejak kami masih bocah sampai menjadi remaja tanggung dan beranjak dewasa, dia dikenal berani dalam segala hal bahkan hal yang dianggap baik akan dipertahankannya.

Pernah suatu waktu saat kami masih TK, aku dan dia berkelahi di belakang sekolah TK dekat lapangan. aku tidak tahu persis apa masalah diantara kami saat itu namun memang hal yang lumrah di kampung kami saat anak kecil berkelahi apalagi ketika ada orang dewasa yang ikut mengompori. Meski akupun sadar bahwa setelah berkelahi, kami kembali akrab dan bermain bersama.

Aku tidak ingat secara pasti kelas berapa dia tidak naik kelas sehingga dia berada 1 tingkat di bawahku. Meski kami berbeda sekolah saat itu, aku masuk di sekolah Madrasah Ibtidayah sedangkan dia masuk di SD Negeri. kami masih sering bersama dan terkadang ke kebun bersama.

Satu hal lagi yang kuingat adalah dia amat kuat dalam pekerjaan berat seperti berkebun dan bekerja di sawah. mungkin hal tersebut pun didukung oleh posturnya yang tinggi dan kekar. bahkan dalam beberapa pekerjaan yang berat, dia selalu membantu. pernah beberapa kali aku dan dia bekerja di kebun dan di sawah namun harus kuakui bahwa dia lebih piawai bekerja. hanya mungkin dia tidak fokus karena dia akan bekerja ketika mood.

Setidaknya dia sekarang sudah memutuskan menikah dan mengambil tanggung jawab sebagai suami dan sebagai ayah kelak. tanggung jawab yang tidak main-main dan butuh kerja keras untuk melanggengkan pernikahan namun aku selalu percaya kepadanya bahwa dia akan melewati segalanya. keberaniaannya sudah melalui beberapa tahap yang mungkin orang lain belum melewatinya. doaku semoga saja dia tetap konsekwen dan bahagia bersama istrinya.

“Baarakallahu laka wa baarakaa ‘alaiyka wa jama’a baiynakumaa fii khoir”. adits shahih diriwayatkan Abu Hurairah.

sekali lagi, selamat berbahagia semoga pernikahanmu selalu dilimpahi keberkahan, sangsurang..!!

Rawamangun, 260415


April 25, 2015

Cerita Tentang Indo dan Ambe

Aku tidak pernah menanyakan bahkan terlintas pun tidak kepada mama ataupun bapak tentang awal jalinan kasih yang menyatukan mereka. Apakah mereka adalah korban perjodohan orang tua ataupun melalui proses pacaran, aku bahkan sama sekali tidak tahu menahu dan sampai sekarang belum ada keinginan untuk menanyakan hal tersebut. Entah karena sungkan ataupun mungkin aku yang tidak terlalu peduli, toh mereka tetap langgeng saling menjaga dan menopang sampai saat ini sejak 35 atau mungkin 36 tahun memutuskan bersama.

aku mungkin terkadang melihat ibuku dan bapakku berbeda pendapat bahkan sering berdebat tentang apa saja yang menurut mereka benar namun tidak pernah sekalipun aku melihat mereka saling meninggalkan.

entah bagaimana menceritakan metode berkeluarga yang mereka jalani namun  mereka tetap mampu melewati setiap masalah yang kerap kali melanda bahtera rumah tangga mereka.

kalau ibuku, aku tidak pernah menjumpai dia benar-benar marah sampai murka kepada kami. dia adalah sosok penyeimbang dalam hidupku dan mungkin pula bahwa dia yang menjadikanku seperti ini. aku tidak pernah lupa mengingatnya dalam setiap hal dan aku amat sangat mencintai

sembah sujud kepada kedua orang tuaku
suatu waktu di bulan april 2015

April 24, 2015

Penjual Jamu Merangkap Penjual Pecel

Aku amat sangat kagum terhadap ibu penjual jamu yang sering datang ke kantor menawarkan jamu pagi hari kemudian sore hari, dia menawarkan pecel. umurnya sekitar 50an atau bahkan sepantaran dengan ibuku. bahasanya halus saat menawarkan menggambarkan dirinya yang seorang jawa. dia nampaknya seorang pekerja keras.

aku belum mengenal lebih jauh tentang kehidupan pribadinya bahkan tidak pernah punya kesempatan untuk bercerita dengannya namun dari selentingan cerita yang kudengar bahwa dari hasil jualan jamu dan pecel, ibu itu berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. sebuah pencapaian yang luar biasa menurutku.

aku selalu terngiang-ngiang dengan perjuangan ibuku membiayai anak-anaknya ketika melihat ibu itu. bedanya hanya di jualan, kalau ibuku menjual aneka kue seperti apem, sawalla, baje, dodol dan cendol di sebuah pasar yang dikenal dengan pasar Baraka. pasar itu hanya beroperasi dua kali tepatnya hari senin dan kamis. ibuku harus berangkat saat mentari belum nampak dan pulang saat malam mulai tiba.

aku mafhum bahwa orang yang bekerja keras akan selalu memperoleh hasil yang memuaskan dan seperti itulah mereka para ibu yang dengan segenap tenaganya berusaha untuk kebahagiaan anak-anaknya. ibu penjual Jamu tidak pernah memancarkan wajah yang letih bahkan yang ada adalah goresan-goresan kesabaran di setiap sudut wajahnya yang mulai keriput dan menua. mereka tua dalam keberkahan karena hidup dari tetesan keringat mereka tanpa keluhan sedikitpun.

aku selalu percaya kepada seorang ibu yang dengan tulusnya berjalan di pagi hari menyusuri alam raya mencari rejeki kemudian beranjak pulang saat senja menjelang. aku selalu kagum dan tidak pernah mengurangi rasa hormatku terhadap seorang ibu yang dengan tegarnya menjani hidup dengan kerja keras.

mungkin pengalaman masa kecil yang menajamkan rasa iba dalam diriku kepada para Ibu yang bekerja keras, bagaimana tidak, sejak SD, aku sudah menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku bagaimana kerasnya perjuangan ibuku dalam bekerja. bangun disaat kami masih terlelap dan berangkat ke pasar disaat kami anak-anaknya baru bangun bahkan pulang ke rumah saat malam.

aku juga sering menyaksikan bagaimana ketika dagangannya tidak laku. perasaan seperti apa lagi yang terpendam di dalam jiwaku dalam keadaan seperti itu namun akupun yakin bahwa ibuku sudah mengetahui rumus kehidupan bahwa hidup ada kalanya tertawa namun kita pun harus siap menangis suatu waktu. tidak ada yang abadi di suatu kondisi karena hidup adalah suka duka yang silih berganti, semua berlaku kepada setiap orang dan yang membedakan adalah sikap tiap orang dalam menyikapi masalah hidup yang ada pada mereka.

ah, tulisan ini kemana arahnya, tadi aku hanya ingin menceritakan seorang ibu yang setiap hari datang di kantorku menjajakan jamu dan pecel namun kenapa berujung pada cerita rutinitas ibuku. aku memang sering sentimental ketika menceritakan apa saja yang berhubungan dengan seorang ibu. semua karena pengalaman masa kecil melihat perjuangan ibuku

semoga ibuku sehat selalu
suatu waktu di bulan April 2015

Ceramah Jumat #2

Tidak ada yang terlalu menarik untuk kutulis pada materi ceramah jumat siang tadi. ceramah jumat yang hanya berdurasi 10 menit. aku memastikan itu karena sesaat setelah khotib naik mimbar, aku melirik jam dinding yang tepat menunjukkan pukul 12:00. setelah khatib mengakhiri khutbahnya, aku kembali melirik jam dinding yang tepat menunjukkan pukul 12:00.

sekilas saat melihat Khatibnya, aku kira dia masih umur 20 tahun. masih muda memang namun tidak menyurutkan niatku untuk mendengarkan dengan seksama khutbahnya. aku mulai sedikit mengendurkan konsetrasiku ketika di 3 menit awal, khatib nampaknya hanya membaca buku khutbah dan sama sekali tidak melihat jamaah. dia sepertinya tidak menguasai publik.

satu hal yang masih segar di ingatanku dari khutbah yang dibacanya adalah kita harus senantiasa bertasbih kepada Allah bahkan seluruh alam semesta tidak luput bertasbih kepadaNya.

mudah-mudahan serabut hikmah ceramah jum'at tadi tidak menjebakku dalam Gibah karena menuliskan proses khutbah yang dibacakan oleh Khatib.

ah, bingung mau nulis tentang apa khutbah jumat tadi
sudahlah
240415

Yang Tersisa Dari Touring Bukit Moko

tulisan ini hanya merefleksikan sebuah kondisi paradoks yang sering dialami oleh manusia dalam perjalanan hidupnya. sejujurnya bahwa tulisan ini terinspirasi dari tulisan Yusran disini. aku pun langsung merefleksikan semua apa yang telah kulalui. aku yang lahir dan bertumbuh di desa penuh hutan benar-benar merasakan paradoks kehidupan yang sedang kualami. hampir persis seperti yang diceritakan oleh yusran darmawan di tulisannya tentang kegelisahannya melihat fenomena orang kota yang harus membayar mahal untuk bisa merasakan kehidupan seperti yang dirasakan oleh orang kampung secara alami.

satu setengah bulan yang lalu. aku dan teman sekantor touring ke sebuah daerah di Jawa Bandung, Bukit Moko dan Tebing Keraton. satu hal yang terlintas di kepalaku saat ditawari untuk ikut adalah sebuah tempat yang mungkin keren dan menarik minatku, kami pun diwajibkan membayar sewa 350 Ribu.

sabtu pagi kami sudah beranjak dari ibu kota menuju bandung. sekitar pukul 11:00 , kami sampai di tujuan pertama, Dusun Bambu. kulihat goresan wajah teman-temanku kagum dengan tempat tersebut karena memang mereka jarang bersentuhan dengan alam karena besar di kepungan gedung yang megah. namun reaksiku sama sekali tidak menampakkan sebuah kekaguman karena aku sadar bahwa kampung halamanku masih lebih asri dari yang sedang kami tempati sekarang.

tempat kedua adalah Tebing Keraton. lagi-lagi ekspektasiku tidak sesuai harapan karena yang kutemui di tempat tersebut hanya sebuah bukit yang di desain menjadi tempat wisata dan sama sekali tidak ada yang istimewa. mungkin karena aku yang menghabiskan masa kecilku di kampung yang berada di lereng Gunung sehingga tempat seperti itu tidak terlalu mengesankan bagiku bahkan terkesan biasa-biasa saja.

tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah Bukit Moko. lagi-lagi tempat ini hanyalah sebuah bukit yang lanscape nya seperti resting di kampungku. tidak ada yang terlalu istimewa selain jalanan menanjak ke sebuah bukit dan pemandangan kota di bawahnya, itu saja tidak lebih. hanya kumpulan aa dan teteh yang sedang memadu kasih disepanjang jalan itu sambil memandangi hamparan kota bandung di bawahnya.

aku mampir di rumah sahar, salah seorang kawan kuliah yang sekarang bermukim di Bandung. aku menceritakan antusiasme teman-temanku melihat pemandangan di bukit yang sebenarnya biasa-biasa saja bagi kami yang yang berasal dari kampung. sahar menimpali bahwa memang setiap tempat yang suasana perkampungan akan digandrungi oleh orang kota yang terbiasa dengan pengap dan riuhnya gedung tanpa pernah merasakan alam yang luas.

membaca tulisan Yusran Darmawan membuka mataku bahwa kehidupan paradoks sedang kualami. aku yang dulunya terbiasa dengan pegunungan bahkan setiap hari naik turun gunung ke kebun harus menelan pil pahit saat menyadari realita yang terbalik, aku hijrah ke ibukota dan akhir pekan, harus membayar 350 ribu untuk bisa kembali merasakan kehidupan di pegunungan. sesuatu yang benar-benar membuatku kadang geli.

rumus kehidupan mungkin memaksa kita untuk selalu bersyukur dengan apa sedang dijalani. setidaknya itu yang sekarang aku yakini bahwa senjata ampuh untuk tetap survive dalam kehidupan adalah bersyukur sebanyak-banyaknya. hal yang terlihat pada diri orang lain seringkali memang lebih baik daripada yang ada di diri sendiri meski seringkali yang ada di kita bahkan lebih baik.

"orang yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang selalu bersyukur atas apa yang ada padanya."

alam adalah hidup masa kecilku
entah sekarang
mereka menjadi asing saat aku menjadi kaum urban
huhuh
240415