July 27, 2014

Mohon Ampun Tuhan

Tuhan
Di lebaran kali ini
Aku tidak punya siapasiapa
Akupun tidak punya apapa
Tak ada keluarga disampingku
Tak ada pula teman
Bahkan aku begitu jauh dari semua
Aku tak punya pekerjaan
Bahkan tak punya tabungan
Aku tidak ada lagi bergantung selain kepadaMu
Bahkan untuk berpikir jernih pun aku tak sanggup
Hanya meratapi waktu yang kulewati dengan maksiat
Seandainya saja aku tidak percaya akan luasnya pengampunanMu
Melebihi dosadosaku
Maka mungkin saja aku sudah menghabisi jasadku untuk menebus dosa-dosaku
Aku malu Tuhan
Aku melakukan dosa yang melampaui batas
Membiarkan syahwatku merajai ragaku
Hingga akhirnya aku hanyut dalam maksiat kepadaMu
Tuhan, aku sudah sering bertobat seperti ini, bahkan sesering dosa itu kuperbuat
Aku takut Tuhan
Jika ada kesempatan aku mengulanginya lagi
Aku memohon dengan segenap jiwa ragaku Tuhan
Jagalah diriku dari setiap maksiat yang terlihat maupun yang tidak


Sabtu, 26 juli 2014

Ceramah Ramadan

Suatu waktu di penghujung ramadan, aku dan W memilih masjid al-Azhar blok M untuk shalat tarwih. Kami memang sering kali ke sana karena salah satu masjid yang ada sesi ceramahnya setelah shalat isya dan sebelum shalat tarwah sedangkan mesjid yang lain begitu selesai shalat Isya langsung shalat tarwah. Masjid Istiqlal dan masjid al-Azhar blok M adalah beberapa dari mesjid di kota ini yang ada sesi ceramahnya jadi hitung-hitung menambah ilmu agama.

Malam itu ceramah yang dibawakan oleh pemateri begitu sangat mengena di hatiku. Aku bahkan bersyukur menyempatkan diri ke blok M malam itu meski kutahu bahwa ceramahnya sudah sangat umum namun entahlah dengan gaya bahasa sang penceremah, aku merasa sangat tersentuh oleh isi ceramahnya dan yakin dengan apa yang disampaikannya. Beberapa inti dari isi ceramahnya yang masih terekam dalam memoriku.

Saya yakin rejeki sudah ditentukan oleh Allah jadi saya hanya bisa berusaha dan berdoa karena yakinku tidak ada makhluk yang bisa mengambil rejekiku. Tidak ada satupun makhluk yang bisa mengambil rejeki kita. Rejeki yang sudah tercatat sebagai milik kita pasti akan kita dapatkan. Ketika kita punya sesuatu dan tiba-tiba hilang maka itu bukan rejeki kita atau ketika kita membeli makanan dan belum sempat kita makan tiba-tiba saja tumpah maka yakinlah bahwa itu bukan rejeki kita.

Saya yakin ajal sudah ditentukan oleh Allah tidak bisa dimajukan dan juga tidak bisa diundur jadi saya hanya menjalani hidup dengan berusaha untuk berbuat baik dan menghindari maksiat. Ajal tentunya sudah ditetapkan oleh Allah SWT dan sekeras apapun usaha kita untuk menghindari ajal tetap saja kita akan menemuinya ketika waktunya sudah datang maka janganlah risau terhadap kedatangan ajal tersebut dan yang bisa dilakukan adalah tetap berada di jalur yang benar dan berbuat baik serta menghindari maksiat sampai ajal datang menemui kita.

Ada beberapa cara untuk mempertahankan rejeki kita antara lain :
1.        Bersyukur
2.      Berinfaq
3.       Konsumsi barang yang halal dan baik
4.      Memperbanyak istiqfar
5.      Taqwa kepada Allah SWT
6.      Tawakkal
7.      Silaturrahim
8.      Hijrah
9.      Haji dan umrah
10.   Perbanyak doa

Dari ceramah diatas, aku benar-benar tersentuh dengan isi yang memang benar adanya tinggal bagaimana kita mencoba untuk mengaplikasikan dengan sepenuh hati dan dengan daya upaya melalui perjuangan karena sejatinya untuk tetap berada di jalan yang benar membutuhkan perjuangan yang tidak mudah karena istiqamah adalah syaratnya dan istiqamah itu bukan hal yang mudah didapatkan dan harus diupayakan terus menerus.

Aku akan berusaha untuk melakukan beberapa hal yang menurutku saat ini menjadi masalah terbesarku yang juga menjadi kelemahanku untuk tetap berada di jalan yang benar. Aku belajar untuk mengendalikan nafsu syahwatku yang membelengguku setahun terakhir yang menjebakku dalam maksiat yang melampaui batas

Aku berusaha untuk menahan nafsu amarahku yang setiap saat datang menghampiriku. Menghadirkan kebencian dalam diriku hingga terkadang aku mengikutinya. Aku mencoba untuk mengenal bagaimana itu hidup. Bahwa hidup hanya dijalani dengan jalur yang benar dan apapun yang terjadi maka serahkan semua kepada Allah SWT. Tidak perlu untuk terlalu banyak pertimbangan yang berasal dari olah pikiran karena seringkali sesat


Cobalah untuk menikmati setiap potongan hidup tanpa mengeluh dan tetap bersyukur.

28 Ramadhan 1435 H

Kangen Ibu

Aku tergerak menyusuri lorong waktu yang misteri
Terus saja berjalan meninggalkan rumah istanaku
Menjauh dari tangan halus ibu yang selalu ada saat aku butuh
Sampai akhirnya aku di sini
Di tempat yang jauh darinya
Ibu, aku rindu padamu
Rindu yang mungkin harus kupendam kali ini
Di lebaran yang selalu saja bersamamu
namun kali ini tidak
Lebaran yang mungkin menjadi pertama tidak bersamamu
Tidak merasakan nikmatnya masakanmu di hari lebaran
Aku merindukan masakanmu
Aku merindukan ceritamu di malam lebaran
Aku merindukan suasana lebaran di kampung
Dan terlebih aku merindukanmu
Aku merindukan semua itu bu.


Maafkan aku bu
Lebaran kali ini aku tidak pulang

Jak-sel, 21 juli 2014

July 17, 2014

Selamat Ulang Tahun Gadis

Selamat ulang tahun yang ke-24. Tidak terasa engkau telah berada pada masa ini yang mungkin saja tidak engkau bayangkan sebelumnya. Semoga setiap perjalanan hidupmu ke depan selalu berada dalam keberkahan Tuhan. Semoga saja engkau tidak jauh diri dan tetap berada dalam diri yang tawaddhu.

Orang mencari cinta maka akan kehilangan cinta, mendapatkan dan memberikan adalah dua ujung tombak yang mengarah sama. Tetapi mana yang didahulukan itulah yang terpenting. Aku mendahulukan memberi, seperti Tuhanku yang telah memberikan segala sesuatu yang aku butuhkan dalam hidup. Tetapi banyak orang yang ingin mendapatkan tanpa mau memberikan maka hancurlah keseimbangan itu. ( Miftahul Huda Ms “Buat sang fajar dan bumiku tercinta)

Lama tak menulis tentangmu setelah tragedi hilangnya semua naskah buku yang ingin kuhadiahkan kepadamu. Tragedi itu benar-benar menyapu semangat menulisku yang hampir pasti musnah. Bahkan untuk menulis kebersamaan kita yang penuh cerita di kota ini pun aku tak sanggup hingga akhirnya kemarin aku tersadar bahwa 2 hari lagi menjelang ulang tahunmu. 

Aku bertanya padamu ingin kado apa namun engkau tidak ingin apa-apa hanya ingin bertemu denganku pada hari kelahiranmu. Sejujurnya aku amat sangat menyesal mungkin tidak bisa memberimu kado apa-apa. Hingga kuputuskan untuk menulis saja semua hal tentang kita dan tentang apa saja yang terlewatkan di kota ini.

Serasa waktu menggelinding bagaikan bola di lapangan yang licin, bahwa amat sangat cepat berlalu jejak waktu yang dijalani. Engkau menjelang hari jadimu yang ke 24. Entah apa yang mengalun di benakmu saat engkau tersadar bahwa hampir seperempat abad engkau berubah menjadi manusia. Hari jadimu kali ini pun menandakan bahwa kita telah melewati waktu kebersamaan selama satu setengah tahun lamanya dan kuingat persis tahun lalu bahwa aku masih bisa memberimu bantal warna pink kesukaanmu namun kali ini aku tidak tahu apa yang harus kuhadiahkan kepadamu.

Ingin kutumpahkan semua rasa di tulisan ini tentangmu pun tentang kebersamaan kita. Tahun ini mungkin adalah salah satu tahun terberat yang sedang kita jalani bersama. Waktu yang setiap detik meninggalkan kita tak sedikitpun berkompromi tentang keinginan-keinginan kita. Bahkan saat kita sudah berikrar untuk saling menjaga dan akan bersama dengan janji suci di depan orang tua kita namun tetap saja di kota ini belum memberi harapan yang terang.  

Tiga bulan tanpa kegiatan apa-apa di kota ini benar-benar mengikis semangatku bahkan kondisi fisik yang kadang tidak bersahabat semakin memojokkanku di sudut ruangan gelap dan alasan untuk tetap bertahan di sini adalah engkau dan orang tua yang kusayangi. Aku selalu saja tersedu menyaksikan setiap kisah ketulusanmu terhadapku dan menyemangati dan memberiku kekuatan lebih untuk tetap bersabar. Engkau sama sekali tidak peduli tentang semua kecuali tentang kebersamaan kita.

Di beberapa episode kebersamaan kita di sini, aku masih sering menyakitimu dan membuatmu harus menangis dan itu yang selalu aku sesali. Saat bulir air matamu menetes maka perih kurasakan karena air mata itu tidak seharusnya jatuh karena salahku. Aku selalu saja menyayangimu setiap keadaanmu karena begitulah adanya cinta. Mencintai tanpa melihat kekurangan.  Aku bahkan belum pernah menjumpai seorang wanita yang begitu tulus terhadapku selain ibuku dan itu adalah engkau. Wanita kecil mungil yang memiliki segudang semangat untuk mencintaiku dan bertahan bersama denganku tanpa alasan apa-apa.

Aku dan engkau telah berirkar dan berdoa kepada Tuhan bahwa januari 2015 adalah waktu yang kita rencanakan untuk menghalalkan hubungan kita.  Bahkan kita sadar jalan ke arah sana masih amat berliku karena sampai detik ini aku masih belum punya penghasilan dan kita telah bersepakat dan tentunya aku juga bahwa laki-laki harus bekerja. Namun selalu saja kita menguatkan doa-doa kepada Tuhan semesta alam semoga saja Dia menunjukkan kebesaranNya terhadap rencana suci kita. Ah, terlalu mengharu biru ketika berbicara seperti ini, lebih baik aku menceritakan saja kebersamaan kita.

Hidup adalah ruang kosong dimana kita menyisakan cerita indah di dalamnya. Engkau dan aku pun begitu adanya. Di bulan Ramadhan kali ini, kebersamaan kita selalu saja dilewati di setiap mesjid dikota ini. Berbuka bersama kemudian mencari mesjid untuk tarwih. Ada dua mesjid yang menurutmu sangat engkau sukai karena suasananya yang nyaman. Masjid al-azhar dan masjid Istiqlal. Yah kebersamaan kita di bulan ini dihabiskan di mesjid menunggu waktu berbuka dan menunggu waktu tarwih.

Waktu adalah keadaan yang berulang namun tak sama. Setahun sudah berlalu. Saat merayakan ulang tahunmu di kotamu dengan kue ulang tahun warna pink kesukaanmu. Waktu selalu saja tidak disadari kepergiannya bahkan saat kita terlena pun waktu akan selalu bergerak menjauh dan menggiring kita ke waktu yang berbeda. Semakin waktu berlalu maka hidup yang dijalani adalah sisa dari waktu yang akan menjemput kita.

Tak ada lagi kue tart warna pink kesukaanmu kali ini. Merayakan ulang tahunmu hanya dengan bersama menghabiskan waktu yang tersisa. Mengingat apa saja yang pernah dilalui dan membayangkan seperti apa masa yang akan dijejak di depan kita karena ketahuilah bahwa kemarin adalah sejarah dan masa depan adalah misteri paling pelik yang dipecahkan. Hanya saja bahwa rencana dan harapan membuat kita selalu optimis dalam menantang masa depan yang mencemaskan.

Berlalu bersama kenangan yang kita kisahkan. Dengan tawa canda dan sekali tangis yang mengiringi. Cerita itu akan terkenang suatu saat entah kapan dan terkadang ketika mengenangnya. kita selalu saja ingin kembali ke masa itu dan merasakan indahnya hidup karena memang manusia adalah makhluk yang tidak puas. Itulah mengapa aku selalu berpesan kepadamu untuk selalu menikmati setiap detik waktu yang dijalani karena yakinlah hidup itu indah dengan semua ceritanya. Gampang saja untuk merasakan bahwa hidup itu benar-benar indah. Sering-seringlah mengingat masa lalumu baik itu yang engkau anggap masa sulit maupun masa indah dan aku yakin bahwa seringkali terbersit dalam hatimu untuk kembali ke masa itu dan bahkan ke masa yang engkau anggap masa sulitmu. Itulah memang hidup, baru terasa indah saat sudah dilewati dan baru terasa berharga setelah kehilangan maka hargailah semua waktu yang sedang engkau miliki dan sayangilah siapa yang sedang bersamamu.

Sekali lagi selamat ulang tahun yang ke 24. Semoga saja harapan yang kita cita-citakan diaminkan oleh semesta raya dan semoga saja Tuhan selalu mengiringi harimu dalam ridhaNya. Semoga saja engkau tetap seperti apa dirimu dan selalu bergantung kepada Tuhan. Jangan pernah berlari menjauh dari Tuhan dan jadikan Dia segalanya bagi setiap apa yang engkau lakukan bahkan pad setiap helaan nafasmu.

Bekerjalah seperti tidak memerlukan uang, berkaryalah seperti tidak ada yang menonton, beribadalah seperti tidak mengharapkan syurga. Siapapun yang bekerja dengan ikhlas, mungkin kaya mungkin tidak kaya tapi setiap kali butuh, duit itu ada. (Sudjiwo tedjo di tonight show)


 kado tak berharga
16 juli 14


Bocah Penjual Plastik dan Raibnya BB

Seperti sore-sore sebelumnya. Aku dengan setia menjemput W yang pulang kantor pada sore hari. Setelah itu, kami akan menentukan dimana akan tarwih malam itu. Ada 2 masjid yang selalu menjadi pilihan kami, masjid al-Azhar dan masjid Istiqlal. Namun kemarin W lebih memilih untuk menuju mesjid Istiqlal.

Tepat jam 4 sore, kami menyusuri jalan sepanjang jalan Rasuna Said ke arah menteng sampai ke tugu tani dan belok arah ke Istiqlal. Kendaraan yang amat padat memaksa kami mengendarai motor dengan amat sangat pelan bahkan terkadang harus berhenti saat desakan kendaraan tidak memberi celah sedikitpun untuk melaju. Tidak heran memang karena jam seperti itu bertepatan dengan jam pulang kantor.

Butuh waktu yang lebih lama dari biasanya sebelum kami mencapai parkiran Istiqlal. Parkiran motor nampaknya sudah mulai penuh dari para jamaah yang ingin buka puasa di mesjid tersebut. Memasuki area parkir, beberapa bocah penjual plastik sudah mendatangi kami satu persatu. Salah satu dari mereka adalah bocah yang mungkin berumur 7-8 tahun dan memakai kostum barcelona bertuliskan messi.  Saat mematikan mesin motor, dia dengan gigihnya menawarkan plastik dengan polosnya “pak, plastiknya untuk sandal, seikhlasnya saja.” Tawarnya. “ kalau Rp. 100 perak mau gak?” candaku. “gak apa-apa yang penting ikhlas.” Jawabannya tersebut seakan menohok hatiku paling dalam. Aku bahwa tidak menduga dia akan menjawab seperti itu. Ada rasa bersalah yang muncul di dalam hatiku. Kubeli plastiknya dengan harga 2 ribu.

Sesaat berlalu, aku penasaran dan ingin memotret anak itu untuk kutulis di blog. Dia sudah bergabung dengan teman-temannya untuk menunggu pengendara yang lain menawarkan plastiknya. Kuperhatikan dari jauh anak itu dan celotehnya bersama teman-temannya kembali membuatku terharu. Entah apa yang dibicarakan namun anak tadi itu berceloteh kepada temannya bahwa kalau kita tidak sekolah dan tidak punya ijazah, kita tidak bisa bekerja kalau sudah besar. Ah, anak itu benar-benar memberiku pelajaran sore kemarin. Aku mengingat-ingat saat aku seusia dengannya bahwa aku sama sekali belum memikirkan masa depan dan bahkan tentang ijasah. Aku hanya bermain dan bersekolah namun anak itu telah di dewasakan oleh keadaan melampaui umurnya yang bahkan belum baliqh.

Kutinggalkan anak itu dan kami kemudian menuju pelataran mesjid. Setelah buka puasa, kami bergegas menunaikan shalat maghrib. Banyaknya khalayak yang datang di mesjid ini memaksa kami untuk berdesak-desakan mengambil air wudhu. Bahkan untuk naik ke lantai atas pun jamaah sangat padat dan seringkali petugas mengingatkan barang-barang bawaan karena banyaknya pencuri. Setelah saat maghrib, kami makan malam di sekitar mesjid yang memang dipenuhi oleh penjual makanan.

Waktu isya sudah masuk saat kami selesai makan malam. Kami lalu bergegas menuju tempat wudhu dan menunaikan shalat isya yang kemudian dilanjutkan dengan shalat tarweh.  Setelah selesai shalat tarweh, aku sadar bahwa hp BB ku tidak lagi di kantongku. Aku mencoba menghubungi namun setiap kali menghubungi selalu saja dimatikan. Setelah beberapa kali kuhubungi akhirnya diangkat dan aku menyarankan untuk mengembalikannya karena bagaimanapun kartu di nomor itu permanen dan tidak bisa diganti. Jawaban yang kudengar membuatku syok, di seberang sana dia hanya menyahut “bicara kosong kau.” Lalu kemudian dimatikan. Aku baru sadar bahwa memang HP itu sudah ditangan orang lain.. aku hanya mengelus dada dan berfikir benar-benar bahwa tidak semua orang yang ke mesjid berniat untuk ibadah.

Sampai saat ini, aku masih berusaha untuk mengikhlaskan karena bagaimanapun HP itu telah di tangan orang lain yang tidak punya niat untuk mengembalikannya.


17-7-14

Ceramah subuh



Seperti kebiasaanku saat sedang makan sahur. Aku selalu memutar radio melalui HP mendengarkan ceramah subuh. Memang setiap subuh selalu ada kultum di radio yang lumayan untuk menemani sahur dan menambah ilmu agama.

Tadi subuh pun aku mendengarkan kultum dan mungkin kultum tadi subuh benar-benar mengena pada diriku. Kultum tersebut membahas tentang masalah yang bisa berarti macam-macam tergantung kepada siapa masalah itu ditimpakan. Bahkan kepada orang alim pun masalah sering kali terjadi namun pada hakekatnya, masalah yang terjadi pada orang alim berbeda dengan masalah yang dialami oleh orang fasik.

Menurut kultum tadi subuh. Masalah itu terbagi atas tiga tergantung orang yang mengalaminya antara lain, masalah itu bisa berarti ujian kemudian masalah itu bisa berarti teguran dan yang terakhir adalah masalah itu bisa berarti azab. Penguraiannya seperti ini bahwa ketika masalah itu ditimpakan kepada orang alim dan amat sangat taat kepada Allah maka masalah itu adalah ujian baginya untuk naik tingkat. Kemudian ketika masalah itu dialami oleh orang yang taat namun dalam beberapa kesempatan dia berbuat khilaf maka masalah itu bermakna teguran supaya dia kembali ke jalan yang benar dan menyadari dosa-dosanya. Terakhir bahwa ketika masalah itu ditimpakan kepada para pendosa maka masalah itu berarti azab bagi dosa-dosa mereka.

Masalah disini meliputi apa saja yang tidak sesuai dengan keinginan kita, entah itu masalah ekonomi, masalah kesehatan dan sebagainya.

Aku menimang-nimang diriku bahwa dimanakah letak gerangan masalah yang sedang kujalani sekarang, aku tahu bahwa yang pertama itu tidak mungkin karena aku bukanlah orang yang taat amat namun antara yang kedua dan yang ketiga. Semoga saja bukan yang ketiga.


17-7-14

Rasa Hidup

Rasa-rasanya berat untuk memulai lagi merangkai kata-kataku yang tercecer di setiap jalanan waktu yang terlewati. Rasa-rasanya hati ini tertawan dalam rasa malas yang mendera bahkan melirik tulisan orang pun untuk dibaca sedikit maknanya amat berat. Hidup adalah tentang banyak makna yang dipersepsikan oleh setiap orang yang masih mengaku menjalani hidup dengan harapan masing-masing. Hidup adalah bahagia, hidup tentang pencarian makna, hidup adalah seni yang selalu berharap dinikmati dan beribu arti hidup yang dimaknai secara bebas oleh manusia.

Aku sendiri merangkai makna hidupku sejalan dengan batasan waktu yang kujalani. Aku bahkan harus menghapus dan mengganti makna hidupku setiap periode yang kujalani dan pemaknaanku terhadap hidup itu sangat tentatif dan akan selalu berubah-ubah.  

Membaca jejak diri yang sudah amat jauh melangkah memaksaku untuk menimbang dan menghitung seberapa berharganya aku terhadap hidupku dan kehidupan. Apa yang sudah kulakukan yang membuatku bangga disebut sebagai manusia. Semakin aku mengingat semua hal yang kutorehkan di kehidupan lalu maka semakin aku mendapati diriku yang terlalu egois dan masih sangat minim dalam berkarya bahkan rasa kepedulianku ternyata amat sangat beku, sama sekali tidak sensitif. 

Aku harus akui itu meski sering kali aku berkhotbah bahwa hidup itu akan selalu bermakna ketika kita memberi arti kepada orang lain. Bahagia dalam hidup ketika bisa menyenangkan orang lain dan itu adalah rumus kehidupan yang tidak bisa dibantah oleh ilmuwan sehebat apapun karena menyangkut sesuatu yang inheren dalam diri setiap manusia.

Ah, lagi-lagi aku mengeluarkan teori namun aku masih juga tidak bergerak untuk melakukan apa yang bisa membuat orang sekitarku merasakan kebahagiaan dengan tingkahku. Aku terlalu banyak memikirkan kegetiran hidup yang sedang kujalani tanpa mencoba untuk mengintip begitu banyak celah untuk merayakan kebagahagiaan hidup yang sedang kujalani. Aku terlalu banyak menuntut diri untuk menjadi  manusia yang sempurna meski itu adalah absurd. 

Semakin ku mengikuti apa yang ada dipikiranku dan meninggalkan bisikan halus dari dalam hati yang paling suci maka hidupku akan menjadi pertaruhan tragedi yang memilukan dan akan berakhir dengan kesengsaraan abadi tanpa batas.

Hidup adalah corong manusia untuk meproklamirkan dirinya sebagai tangan Tuhan untuk berbuat baik di jagat semesta namun tidak sedikit dari manusia yang pada akhirnya menjadi antagonis dari kehidupan itu sendiri karena banyak hal. Keakuan mungkin adalah faktor yang paling besar menggiring manusia menghancurkan nilai kemanusiaan mereka.

NB. Ini adalah tulisan pertama sejak semua kumpulan tulisanku habis dihantam virus yang bersarang di FD bahkan kumpulan tulisan tentang makna kehidupan yang akan kuterbitkan untuk kekasihku windi pun lenyap sudah tak tersisa. Keteledoranku yang amat sangat memilukan menghilangkan semua tulisan yang mengikuti perjalananku.

15 juli 14

June 20, 2014

Gadis dan Kisahku

Ada beberapa alasanku untuk tetap bertahan di kota ini. Di tempat yang sampai sekarang belum menjadi zona nyamanku dan bahkan belum menampakkan setitik asa. Alasan utamaku pastilah orang tua yang kenapa aku tetap saja dengan sekuat tenaga bertahan dalam serba kesulitan. Alasan kedua yang tidak bisa kupungkiri memberiku semangat adalah gadis. Tidak pernah sekalipun terbayangkan sebelumnya bahwa ada seorang gadis mungil dan lugu dengan segala kepolosannya memberiku semangat yang begitu kuat. Bahkan di beberapa kesempatan, aku terkagum melihat kesabarannya menyemangatiku dan melakukan apa saja buatku di saat aku sendiri sudah seperti hampir kalah. Dia dengan sabarnya mencarikan jalan dan dengan doa-doanya yang tulus bahkan di raut mukanya tergambar betapa dia sangat sedih melihat aku masih saja seperti ini.

Aku bahkan sangat merasa bersalah terhadapnya karena nampaknya aku membebaninya di saat dia sendiri juga sudah punya masalah. Aku dan gadis memang sudah amat dekat dan kami merencakan beberapa impian di masa depan. Meski terkadang kami sering khilaf namum kami tidak pernah sekalipun putus asa untuk kembali memperbaiki diri.

Jika ingin menguraikan satu persatu kebaikannya mungkin tidak bisa terucap karena begitu banyak dia berkorban untukku. Aku bahkan sering membuatnya menangis yang sebenarnya tidak kuinginkan namun selalu saja kulakukan. Terkadang dia bahkan menangis saat aku susah melebihi apa yang dia rasakan. Tidak pernah sekalipun dia merasa capek dalam mewujudkan mimpi kami. Satu hal yang sangat kukagumi darinya adalah kesabarannya dalam berbagai hal. Meski kutahu bahwa dia juga sering curhat terhadap masalahnya namun tidak sekalipun dia memperlihatkan dengan tindakannya.

Dia adalah wanita yang penuh keridhaan dan menerima apa saja yang ada pada dirinya. Hidup baginya adalah tentang penerimaan yang ikhlas tanpa harus menyesali apa saja yang tidak sesuai dengan harapannya. Aku pun sudah berjanji untuk selalu menjaganya dan melindunginya dari apapun. Aku selalu memenuhi permintaannya untuk menyenangkan dirinya karena dia sudah terlalu banyak beban yang ditanggung.

Aku tidak ingin membuat dia terlalu sering bersedih karena kutahu dia begitu tulus untuk semua hal. Saat kami khilaf dalam beberapa kesempatan sebenarnya itu adalah salahku karena kutahu dia akan selalu menuruti nasehat-nasehatku tanpa harus ada alasan apa-apa. Dia percaya kepadaku akan beberapa hal yang selalu keceritakan kepadanya dan akupun amat sangat percaya kepadanya tentang semua hal karena dia sama sekali tidak pernah berbohong kepadaku. Kami selalu bersama dengan saling keterbukaan tanpa ada rahasia lagi bahkan untuk hal yang pribadi pun kami selalu saling berbagi cerita satu sama lain.

Di tulisan ini sebenarnya aku ingin menitipkan doa-doa suci untuk kebersamaan kami bahwa di awal tahun 2015, kami merencakan untuk menghalalkan hubungan kami untuk lebih mendapatkan ridha Allah karena kami tahu bahwa kebersamaan sekarang memang belum pada waktunya namun kami akan terus menjaga diri sampai Insya Allah, Allah SWT mengijinkan kami untuk saling bersama di awal tahun 2015 seperti yang sudah kami rencanakan matang-matang.

Kami selalu berjanji untuk saling bersama dan tidak saling meninggalkan meski sebenarnya saat ini kami masih harus bersabar untuk semua hal sampai kami benar-benar bersama dalam sebuah hubungan yang resmi.



Jaksel, 20 juni 2014

BAPAK YANG MENGULANG SHALAT

Tulisan ini sebenarnya harus selesai minggu lalu karena kejadian ini terjadi tepat di akhir pekan minggu kemarin saat aku dan windi menghabiskan waktu akhir pekan di bilangan plaza semanggi. Kami baru pertama kali ke sana jadi sangat kerasan mengelilingi setiap stand yang ada di sana. Tujuan kami adalah gramedia karena windi disuruh membeli beberapa peralatan kantor di gramedia. Tepat di lantai 1, sebuah stand menawarkan diskon dan windi tertarik pada sebuah jam tangan warna pink. Dia memang maniak warna pink dan apa saja yang berhubungan dengan warna pink pasti akan disukainya. Sialnya saat sudah membeli jam tangan tersebut ternyata kebesaran alhasil kami memutuskan menuju mall ambassador untuk memotong jam tangan tersebut supaya pas dikenakan.

Hujan yang mengguyur kawasan tersebut membuat kami tertahan agak lama di parkiran. Hampir sejam menunggu hujan reda, kami melaju ke mall ambassador dan tepat saat tiba di sana, kami memutuskan untuk menunaikan shalat dhuhur karena waktunya sudah hampir lewat. Di lt 3 mall tersebut, ada mushalah kecil di sudut paling pojok. Saat akan menunaikan shalat, masih ada beberapa pengunjung yang juga akan menunaikan jadi kami berjamaah. Seeorang maju jadi imam dan sekitar 5 orang disampingku jadi makmum. Dua rakaat pertama gerakan imam masih normal namun dua rakaat terakhir, gerakannya terlalu cepat bahkan belum selesai gerakan pertama sudah berlanjut ke gerakan lain.

Sebenarnya bukan intinya untuk menceritakan imam yang terlalu cepat dalam shalatnya namun inti yang ingin kuceritakan adalah saat selesai shalat dan imam sudah keluar dari mushalah tersebut, seorang bapak paruh baya yang juga ikut jadi makmum mengajak kami untuk mengulangi shalat karena menurutnya imam terlalu cepat. Dia lalu mengulang shalatnya namun aku dan beberapa orang yang juga ikut jadi makmum tidak mengulang shalatnya. Alasanku simpel saja sebenarnya bahwa sebelum shalat tadi, aku sudah berniat untuk jadi makmum dan apapun sebenarnya yang dilakukan oleh imam dalam shalat kita harus mengikuti adapun imam terlalu cepat itu tergantung kepada pribadi imamnya. Ketika mengulang shalat setelah shalat berjamaah itu sepertinya kita tidak percaya kepada imam. Adapaun mungkin alasan si bapak mengulang shalatnya karena dia terbiasa tuma’ninah atau mungkin ada alasan lain. Entahlah.



Kuningan, juni 2014

June 9, 2014

ASA UNTUKMU IBU


Dua bulan lamanya mengais asa di kota ini. Seperti seekor semut yang terus saja mengais tanah di tempat nun jauh dan berharap ada secercah harapan.
Dua bulan bukan waktu yang singkat dan bukan pula waktu yang sedikit meski terasa terbuang percuma tanpa menghasilkan apa-apa
Di kota yang jauh dan terdampar dari orang asing yang tak dikenal. Aku tertunduk lesu memikirkan nasib yang sedang menaungi dan tentang semua hitam putih di kota ini
Kadang tertawa meski tidak jarang meneteskan airmata tanpa lemah dan selalu saja berharap bahwa Tuhan membawa setitik harapan tepat di depanku.
Aku berpikir harus bagaimana. Aku berpikir akan kemana dan aku harus memutuskan semua agar supaya aku tidak menyesal pada akhirnya
Entahlah kemana lagi takdir langit akan membawaku selanjutnya setelah cerita ini. Semua seakan masih misteri bagiku dan selalu berharap takdir baik yang akan berjalan menghampiriku
Aku punya banyak impian, punya banyak harapan namun harapan yang terbesar tersimpan rapi di dalam dadaku adalah membahagiakan kedua orang tua yang amat kusayangi
Mereka adalah alasan terbesar aku tetap berjuang disini dan mencari secercah asa yang mungkin masih terkubur di dalam tanah yang sebentar lagi akan Nampak
Hidup memang butuh perjuangan dan diperlukan semangat untuk berjuang dalam hidup maka mereka lah alasanku tetap semangat dalam hidup ini
Aku tak kan menyerah untuk merangkai bahagia untuk mereka, aku tidak akan pernah mundur selangkah untuk berharap membawakan kebahagiaan kepada mereka
Dan aku berdoa kepada Pemilik Hidup semoga saja nantinya ada waktu aku membawa kebahagiaan kepada keduanya yang kemudian melihat mereka tersenyum adalah keindahan terbesar dalam hidupku.


 8 JUNE 2014