Selamat
ulang tahun yang ke-24. Tidak terasa engkau telah berada pada masa ini yang
mungkin saja tidak engkau bayangkan sebelumnya. Semoga setiap perjalanan
hidupmu ke depan selalu berada dalam keberkahan Tuhan. Semoga saja engkau tidak
jauh diri dan tetap berada dalam diri yang tawaddhu.
Orang mencari cinta maka akan kehilangan cinta,
mendapatkan dan memberikan adalah dua ujung tombak yang mengarah sama. Tetapi
mana yang didahulukan itulah yang terpenting. Aku mendahulukan memberi, seperti
Tuhanku yang telah memberikan segala sesuatu yang aku butuhkan dalam hidup.
Tetapi banyak orang yang ingin mendapatkan tanpa mau memberikan maka hancurlah
keseimbangan itu. ( Miftahul Huda Ms “Buat sang
fajar dan bumiku tercinta)
Lama tak menulis tentangmu setelah tragedi hilangnya
semua naskah buku yang ingin kuhadiahkan kepadamu. Tragedi itu benar-benar
menyapu semangat menulisku yang hampir pasti musnah. Bahkan untuk menulis
kebersamaan kita yang penuh cerita di kota ini pun aku tak sanggup hingga
akhirnya kemarin aku tersadar bahwa 2 hari lagi menjelang ulang tahunmu.
Aku
bertanya padamu ingin kado apa namun engkau tidak ingin apa-apa hanya ingin
bertemu denganku pada hari kelahiranmu. Sejujurnya aku amat sangat menyesal
mungkin tidak bisa memberimu kado apa-apa. Hingga kuputuskan untuk menulis saja
semua hal tentang kita dan tentang apa saja yang terlewatkan di kota ini.
Serasa waktu menggelinding bagaikan bola di lapangan
yang licin, bahwa amat sangat cepat berlalu jejak waktu yang dijalani. Engkau
menjelang hari jadimu yang ke 24. Entah apa yang mengalun di benakmu saat
engkau tersadar bahwa hampir seperempat abad engkau berubah menjadi manusia.
Hari jadimu kali ini pun menandakan bahwa kita telah melewati waktu kebersamaan
selama satu setengah tahun lamanya dan kuingat persis tahun lalu bahwa aku
masih bisa memberimu bantal warna pink kesukaanmu namun kali ini aku tidak tahu
apa yang harus kuhadiahkan kepadamu.
Ingin kutumpahkan semua rasa di tulisan ini tentangmu
pun tentang kebersamaan kita. Tahun ini mungkin adalah salah satu tahun
terberat yang sedang kita jalani bersama. Waktu yang setiap detik meninggalkan
kita tak sedikitpun berkompromi tentang keinginan-keinginan kita. Bahkan saat
kita sudah berikrar untuk saling menjaga dan akan bersama dengan janji suci di
depan orang tua kita namun tetap saja di kota ini belum memberi harapan yang
terang.
Tiga bulan tanpa kegiatan apa-apa di kota ini
benar-benar mengikis semangatku bahkan kondisi fisik yang kadang tidak
bersahabat semakin memojokkanku di sudut ruangan gelap dan alasan untuk tetap
bertahan di sini adalah engkau dan orang tua yang kusayangi. Aku selalu saja
tersedu menyaksikan setiap kisah ketulusanmu terhadapku dan menyemangati dan
memberiku kekuatan lebih untuk tetap bersabar. Engkau sama sekali tidak peduli
tentang semua kecuali tentang kebersamaan kita.
Di beberapa episode kebersamaan kita di sini, aku
masih sering menyakitimu dan membuatmu harus menangis dan itu yang selalu aku
sesali. Saat bulir air matamu menetes maka perih kurasakan karena air mata itu
tidak seharusnya jatuh karena salahku. Aku selalu saja menyayangimu setiap
keadaanmu karena begitulah adanya cinta. Mencintai tanpa melihat kekurangan. Aku bahkan belum pernah menjumpai seorang
wanita yang begitu tulus terhadapku selain ibuku dan itu adalah engkau. Wanita
kecil mungil yang memiliki segudang semangat untuk mencintaiku dan bertahan
bersama denganku tanpa alasan apa-apa.
Aku dan engkau telah berirkar dan berdoa kepada Tuhan
bahwa januari 2015 adalah waktu yang kita rencanakan untuk menghalalkan
hubungan kita. Bahkan kita sadar jalan
ke arah sana masih amat berliku karena sampai detik ini aku masih belum punya
penghasilan dan kita telah bersepakat dan tentunya aku juga bahwa laki-laki
harus bekerja. Namun selalu saja kita menguatkan doa-doa kepada Tuhan semesta
alam semoga saja Dia menunjukkan kebesaranNya terhadap rencana suci kita. Ah,
terlalu mengharu biru ketika berbicara seperti ini, lebih baik aku menceritakan
saja kebersamaan kita.
Hidup adalah ruang kosong dimana kita menyisakan
cerita indah di dalamnya. Engkau dan aku pun begitu adanya. Di bulan Ramadhan
kali ini, kebersamaan kita selalu saja dilewati di setiap mesjid dikota ini.
Berbuka bersama kemudian mencari mesjid untuk tarwih. Ada dua mesjid yang
menurutmu sangat engkau sukai karena suasananya yang nyaman. Masjid al-azhar dan masjid Istiqlal. Yah
kebersamaan kita di bulan ini dihabiskan di mesjid menunggu waktu berbuka dan
menunggu waktu tarwih.
Waktu adalah keadaan yang berulang namun tak sama.
Setahun sudah berlalu. Saat merayakan ulang tahunmu di kotamu dengan kue ulang
tahun warna pink kesukaanmu. Waktu selalu saja tidak disadari kepergiannya
bahkan saat kita terlena pun waktu akan selalu bergerak menjauh dan menggiring
kita ke waktu yang berbeda. Semakin waktu berlalu maka hidup yang dijalani
adalah sisa dari waktu yang akan menjemput kita.
Tak ada lagi kue tart warna pink kesukaanmu kali ini.
Merayakan ulang tahunmu hanya dengan bersama menghabiskan waktu yang tersisa.
Mengingat apa saja yang pernah dilalui dan membayangkan seperti apa masa yang
akan dijejak di depan kita karena ketahuilah bahwa kemarin adalah sejarah dan
masa depan adalah misteri paling pelik yang dipecahkan. Hanya saja bahwa rencana
dan harapan membuat kita selalu optimis dalam menantang masa depan yang
mencemaskan.
Berlalu bersama kenangan yang kita kisahkan. Dengan
tawa canda dan sekali tangis yang mengiringi. Cerita itu akan terkenang suatu
saat entah kapan dan terkadang ketika mengenangnya. kita selalu saja ingin
kembali ke masa itu dan merasakan indahnya hidup karena memang manusia adalah
makhluk yang tidak puas. Itulah mengapa aku selalu berpesan kepadamu untuk
selalu menikmati setiap detik waktu yang dijalani karena yakinlah hidup itu
indah dengan semua ceritanya. Gampang saja untuk merasakan bahwa hidup itu
benar-benar indah. Sering-seringlah mengingat masa lalumu baik itu yang engkau
anggap masa sulit maupun masa indah dan aku yakin bahwa seringkali terbersit
dalam hatimu untuk kembali ke masa itu dan bahkan ke masa yang engkau anggap
masa sulitmu. Itulah memang hidup, baru terasa indah saat sudah dilewati dan
baru terasa berharga setelah kehilangan maka hargailah semua waktu yang sedang
engkau miliki dan sayangilah siapa yang sedang bersamamu.
Sekali lagi selamat ulang tahun yang ke 24.
Semoga saja harapan yang kita cita-citakan diaminkan oleh semesta raya dan
semoga saja Tuhan selalu mengiringi harimu dalam ridhaNya. Semoga saja engkau
tetap seperti apa dirimu dan selalu bergantung kepada Tuhan. Jangan pernah
berlari menjauh dari Tuhan dan jadikan Dia segalanya bagi setiap apa yang
engkau lakukan bahkan pad setiap helaan nafasmu.
Bekerjalah seperti
tidak memerlukan uang, berkaryalah seperti tidak ada yang menonton, beribadalah
seperti tidak mengharapkan syurga. Siapapun yang bekerja dengan ikhlas, mungkin
kaya mungkin tidak kaya tapi setiap kali butuh, duit itu ada. (Sudjiwo tedjo di
tonight show)
kado tak berharga
16 juli 14