Rasa-rasanya berat
untuk memulai lagi merangkai kata-kataku yang tercecer di setiap jalanan waktu
yang terlewati. Rasa-rasanya hati ini tertawan dalam rasa malas yang mendera
bahkan melirik tulisan orang pun untuk dibaca sedikit maknanya amat berat. Hidup
adalah tentang banyak makna yang dipersepsikan oleh setiap orang yang masih
mengaku menjalani hidup dengan harapan masing-masing. Hidup adalah bahagia,
hidup tentang pencarian makna, hidup adalah seni yang selalu berharap dinikmati
dan beribu arti hidup yang dimaknai secara bebas oleh manusia.
Aku sendiri
merangkai makna hidupku sejalan dengan batasan waktu yang kujalani. Aku bahkan
harus menghapus dan mengganti makna hidupku setiap periode yang kujalani dan
pemaknaanku terhadap hidup itu sangat tentatif dan akan selalu berubah-ubah.
Membaca jejak diri
yang sudah amat jauh melangkah memaksaku untuk menimbang dan menghitung
seberapa berharganya aku terhadap hidupku dan kehidupan. Apa yang sudah
kulakukan yang membuatku bangga disebut sebagai manusia. Semakin aku mengingat
semua hal yang kutorehkan di kehidupan lalu maka semakin aku mendapati diriku
yang terlalu egois dan masih sangat minim dalam berkarya bahkan rasa
kepedulianku ternyata amat sangat beku, sama sekali tidak sensitif.
Aku harus
akui itu meski sering kali aku berkhotbah bahwa hidup itu akan selalu bermakna
ketika kita memberi arti kepada orang lain. Bahagia dalam hidup ketika bisa
menyenangkan orang lain dan itu adalah rumus kehidupan yang tidak bisa dibantah
oleh ilmuwan sehebat apapun karena menyangkut sesuatu yang inheren dalam diri
setiap manusia.
Ah, lagi-lagi aku
mengeluarkan teori namun aku masih juga tidak bergerak untuk melakukan apa yang
bisa membuat orang sekitarku merasakan kebahagiaan dengan tingkahku. Aku terlalu banyak memikirkan kegetiran hidup
yang sedang kujalani tanpa mencoba untuk mengintip begitu banyak celah untuk
merayakan kebagahagiaan hidup yang sedang kujalani. Aku terlalu banyak menuntut
diri untuk menjadi manusia yang sempurna
meski itu adalah absurd.
Semakin ku mengikuti apa yang ada dipikiranku dan
meninggalkan bisikan halus dari dalam hati yang paling suci maka hidupku akan
menjadi pertaruhan tragedi yang memilukan dan akan berakhir dengan kesengsaraan
abadi tanpa batas.
Hidup adalah corong
manusia untuk meproklamirkan dirinya sebagai tangan Tuhan untuk berbuat baik di
jagat semesta namun tidak sedikit dari manusia yang pada akhirnya menjadi
antagonis dari kehidupan itu sendiri karena banyak hal. Keakuan mungkin adalah
faktor yang paling besar menggiring manusia menghancurkan nilai kemanusiaan mereka.
NB. Ini adalah
tulisan pertama sejak semua kumpulan tulisanku habis dihantam virus yang
bersarang di FD bahkan kumpulan tulisan tentang makna kehidupan yang akan
kuterbitkan untuk kekasihku windi pun lenyap sudah tak tersisa. Keteledoranku
yang amat sangat memilukan menghilangkan semua tulisan yang mengikuti
perjalananku.
15 juli 14
No comments:
Post a Comment