July 17, 2014

Bocah Penjual Plastik dan Raibnya BB

Seperti sore-sore sebelumnya. Aku dengan setia menjemput W yang pulang kantor pada sore hari. Setelah itu, kami akan menentukan dimana akan tarwih malam itu. Ada 2 masjid yang selalu menjadi pilihan kami, masjid al-Azhar dan masjid Istiqlal. Namun kemarin W lebih memilih untuk menuju mesjid Istiqlal.

Tepat jam 4 sore, kami menyusuri jalan sepanjang jalan Rasuna Said ke arah menteng sampai ke tugu tani dan belok arah ke Istiqlal. Kendaraan yang amat padat memaksa kami mengendarai motor dengan amat sangat pelan bahkan terkadang harus berhenti saat desakan kendaraan tidak memberi celah sedikitpun untuk melaju. Tidak heran memang karena jam seperti itu bertepatan dengan jam pulang kantor.

Butuh waktu yang lebih lama dari biasanya sebelum kami mencapai parkiran Istiqlal. Parkiran motor nampaknya sudah mulai penuh dari para jamaah yang ingin buka puasa di mesjid tersebut. Memasuki area parkir, beberapa bocah penjual plastik sudah mendatangi kami satu persatu. Salah satu dari mereka adalah bocah yang mungkin berumur 7-8 tahun dan memakai kostum barcelona bertuliskan messi.  Saat mematikan mesin motor, dia dengan gigihnya menawarkan plastik dengan polosnya “pak, plastiknya untuk sandal, seikhlasnya saja.” Tawarnya. “ kalau Rp. 100 perak mau gak?” candaku. “gak apa-apa yang penting ikhlas.” Jawabannya tersebut seakan menohok hatiku paling dalam. Aku bahwa tidak menduga dia akan menjawab seperti itu. Ada rasa bersalah yang muncul di dalam hatiku. Kubeli plastiknya dengan harga 2 ribu.

Sesaat berlalu, aku penasaran dan ingin memotret anak itu untuk kutulis di blog. Dia sudah bergabung dengan teman-temannya untuk menunggu pengendara yang lain menawarkan plastiknya. Kuperhatikan dari jauh anak itu dan celotehnya bersama teman-temannya kembali membuatku terharu. Entah apa yang dibicarakan namun anak tadi itu berceloteh kepada temannya bahwa kalau kita tidak sekolah dan tidak punya ijazah, kita tidak bisa bekerja kalau sudah besar. Ah, anak itu benar-benar memberiku pelajaran sore kemarin. Aku mengingat-ingat saat aku seusia dengannya bahwa aku sama sekali belum memikirkan masa depan dan bahkan tentang ijasah. Aku hanya bermain dan bersekolah namun anak itu telah di dewasakan oleh keadaan melampaui umurnya yang bahkan belum baliqh.

Kutinggalkan anak itu dan kami kemudian menuju pelataran mesjid. Setelah buka puasa, kami bergegas menunaikan shalat maghrib. Banyaknya khalayak yang datang di mesjid ini memaksa kami untuk berdesak-desakan mengambil air wudhu. Bahkan untuk naik ke lantai atas pun jamaah sangat padat dan seringkali petugas mengingatkan barang-barang bawaan karena banyaknya pencuri. Setelah saat maghrib, kami makan malam di sekitar mesjid yang memang dipenuhi oleh penjual makanan.

Waktu isya sudah masuk saat kami selesai makan malam. Kami lalu bergegas menuju tempat wudhu dan menunaikan shalat isya yang kemudian dilanjutkan dengan shalat tarweh.  Setelah selesai shalat tarweh, aku sadar bahwa hp BB ku tidak lagi di kantongku. Aku mencoba menghubungi namun setiap kali menghubungi selalu saja dimatikan. Setelah beberapa kali kuhubungi akhirnya diangkat dan aku menyarankan untuk mengembalikannya karena bagaimanapun kartu di nomor itu permanen dan tidak bisa diganti. Jawaban yang kudengar membuatku syok, di seberang sana dia hanya menyahut “bicara kosong kau.” Lalu kemudian dimatikan. Aku baru sadar bahwa memang HP itu sudah ditangan orang lain.. aku hanya mengelus dada dan berfikir benar-benar bahwa tidak semua orang yang ke mesjid berniat untuk ibadah.

Sampai saat ini, aku masih berusaha untuk mengikhlaskan karena bagaimanapun HP itu telah di tangan orang lain yang tidak punya niat untuk mengembalikannya.


17-7-14

No comments: