Seperti
sore-sore sebelumnya. Aku dengan setia menjemput W yang pulang kantor pada
sore hari. Setelah itu, kami akan menentukan dimana akan tarwih malam itu. Ada
2 masjid yang selalu menjadi pilihan kami, masjid al-Azhar dan masjid Istiqlal.
Namun kemarin W lebih memilih untuk menuju mesjid Istiqlal.
Tepat
jam 4 sore, kami menyusuri jalan sepanjang jalan Rasuna Said ke arah menteng sampai
ke tugu tani dan belok arah ke Istiqlal. Kendaraan yang amat padat memaksa kami
mengendarai motor dengan amat sangat pelan bahkan terkadang harus berhenti saat
desakan kendaraan tidak memberi celah sedikitpun untuk melaju. Tidak heran
memang karena jam seperti itu bertepatan dengan jam pulang kantor.
Butuh
waktu yang lebih lama dari biasanya sebelum kami mencapai parkiran Istiqlal.
Parkiran motor nampaknya sudah mulai penuh dari para jamaah yang ingin buka
puasa di mesjid tersebut. Memasuki area parkir, beberapa bocah penjual plastik
sudah mendatangi kami satu persatu. Salah satu dari mereka adalah bocah yang
mungkin berumur 7-8 tahun dan memakai kostum barcelona bertuliskan messi. Saat mematikan mesin motor, dia dengan
gigihnya menawarkan plastik dengan polosnya “pak, plastiknya untuk sandal,
seikhlasnya saja.” Tawarnya. “ kalau Rp. 100 perak mau gak?” candaku. “gak
apa-apa yang penting ikhlas.” Jawabannya tersebut seakan menohok hatiku paling
dalam. Aku bahwa tidak menduga dia akan menjawab seperti itu. Ada rasa bersalah
yang muncul di dalam hatiku. Kubeli plastiknya dengan harga 2 ribu.
Sesaat
berlalu, aku penasaran dan ingin memotret anak itu untuk kutulis di blog. Dia
sudah bergabung dengan teman-temannya untuk menunggu pengendara yang lain
menawarkan plastiknya. Kuperhatikan dari jauh anak itu dan celotehnya bersama
teman-temannya kembali membuatku terharu. Entah apa yang dibicarakan namun anak
tadi itu berceloteh kepada temannya bahwa kalau kita tidak sekolah dan tidak
punya ijazah, kita tidak bisa bekerja kalau sudah besar. Ah, anak itu
benar-benar memberiku pelajaran sore kemarin. Aku mengingat-ingat saat aku
seusia dengannya bahwa aku sama sekali belum memikirkan masa depan dan bahkan
tentang ijasah. Aku hanya bermain dan bersekolah namun anak itu telah di
dewasakan oleh keadaan melampaui umurnya yang bahkan belum baliqh.
Kutinggalkan
anak itu dan kami kemudian menuju pelataran mesjid. Setelah buka puasa, kami
bergegas menunaikan shalat maghrib. Banyaknya khalayak yang datang di mesjid
ini memaksa kami untuk berdesak-desakan mengambil air wudhu. Bahkan untuk naik
ke lantai atas pun jamaah sangat padat dan seringkali petugas mengingatkan
barang-barang bawaan karena banyaknya pencuri. Setelah saat maghrib, kami makan
malam di sekitar mesjid yang memang dipenuhi oleh penjual makanan.
Waktu
isya sudah masuk saat kami selesai makan malam. Kami lalu bergegas menuju
tempat wudhu dan menunaikan shalat isya yang kemudian dilanjutkan dengan shalat
tarweh. Setelah selesai shalat tarweh,
aku sadar bahwa hp BB ku tidak lagi di kantongku. Aku mencoba menghubungi namun
setiap kali menghubungi selalu saja dimatikan. Setelah beberapa kali kuhubungi
akhirnya diangkat dan aku menyarankan untuk mengembalikannya karena
bagaimanapun kartu di nomor itu permanen dan tidak bisa diganti. Jawaban yang
kudengar membuatku syok, di seberang sana dia hanya menyahut “bicara kosong
kau.” Lalu kemudian dimatikan. Aku baru sadar bahwa memang HP itu sudah
ditangan orang lain.. aku hanya mengelus dada dan berfikir benar-benar bahwa
tidak semua orang yang ke mesjid berniat untuk ibadah.
Sampai
saat ini, aku masih berusaha untuk mengikhlaskan karena bagaimanapun HP itu
telah di tangan orang lain yang tidak punya niat untuk mengembalikannya.
17-7-14
No comments:
Post a Comment