April 6, 2019

Lalu Lintas

Cerita tentang lalu lintas di Jakarta tidak pernah habis dan selalu saja ada hal yang bisa dikisahkan dari perjalanan di setiap sudut Jakarta. fenomena yang bertebaran di setiap ruang Jakarta terlalu luas dengan berbagai kejadian yang seringkali tidak disangka bahkan terjadi pada diri kita. semua kembali pada sikap masing-masing pribadi dalam menghadapi kejadian yang seringkali tidak mengenakkan di hati.

Senin siang, saya keluar dari kampus UGM di daerah Saharjo setelah melewati ujian yang melelahkan karena minim persiapan. hati yang gundah gulana dan prasangka buruk bahwa kali ini saya tidak akan lulus lagi setelah subjek yang sama sudah saya ikuti selama dua kali dan belum berhasil lulus. bayang-bayang kegagalan tersebut terngiang-ngiang di kepalaku sehingga konsentrasi mengendarai motor sedikit terganggu.

Sesaat setelah keluar dari parkiran dan sudah berada di jalan protokol, saya tidak menyadari ada motor dari belakang yang melaju kencang dan hampir menabrak motorku dari belakang. saya yang menyadari bahwa hal tersebut karena kecerobohanku memotong jalan tanpa memperhatikan kendaraan di belakang, dengan refleks mengangkat tangan sebagai bentuk permintaan maaf. saya kemudian melaju dengan tenang karena sudah menunaikan tugasku sebagai pengendara yang ceroboh paling tidak sudah minta maaf.

Baru beberapa detik kejadian tersebut berlangsung, saya menyadari bahwa pengendara tersebut membuntutiku kemudian tepat saat berada di sampingku, dia memainkan gas motornya sebagai reaksi kekesalan atas kesalahanku sebelumnya. saya yang menyadari hal tersebut kemudian memepetnya dan mengajaknya berbicara. kepala saya yang penat membuat emosiku meluap karena merasa sudah minta maaf namun dibalas dengan tindakan yang tidak menyenangkan.

Saya mencecarnya dengan beberapa pernyataan bahwa saya sudah minta maaf, kenapa dia masih merasa tersinggung. dia membalas dengan retorika yang membuatku semakin muak 
"sebelum berkendara, seharusnya prepare dulu supaya tidak membahayakan orang lain."

Nasehatnya tersebut semakin menyulut emosiku untuk berdebat dengannya sambil tetap berkendara. saya menepuk pundaknya dan berkata bahwa dalam setiap kehidupan jalanan di Jakarta, pasti ada gesekan.
Pada akhirnya, dia mengalah dan dengan nada sedikit kesal memaksaku untuk mendahuluinya "sudah, sudaahhh, silahkan jalan." katanya sambil menutup perdebatan kami.

Meski menerima tawarannya untuk mendahuluinya namun saya tetap mengendarai motor dengan sangat pelan sambil berharap dia menyusulku. saya masih sangat penasaran dengan ekspresinya. sampai pada akhirnya, setelah beberapa jauh ternyata dia tidak jua mencoba menyalipku dan akhirnya saya pulang dengan hati yang tidak karuan.

Entah dari mana keberanian yang muncul dari dalam diriku untuk bersikap agresif di jalanan namun saya khawatir bahwa Ibu kota benar-benar telah menggiringku ke dalam kerumuman masyarakat individualis nan emosional. hal remeh temeh yang seharusnya tidak menjadi masalah besar ternyata harus diselesaikan dengan urat leher.

Ah, saya semakin menua di kota ini sedangkan jiwaku tidak ikut menjadi bijaksana. umurku bertambah dan jiwa raga semakin terbelenggu dalam kehidupan kota yang palsu. mengejar sesuatu yang fatamorgana dan meninggalkan jauh di belakang prinsip yang seharusnya tetap mengiringi langkahku.

25 April 2019

No comments: