April 6, 2019

Pilihan Politik

Sebenarnya diskusi politik tidak terlalu menarik perhatian saya bahkan sikap saya selama ini lebih cenderung pada sikap tidak peduli karena sejatinya pilihan politik seharusnya menjadi pilihan masing-masing yang hanya diri sendiri yang tahu tanpa harus mendeklarasikan kepada orang lain atau ikut-ikutan menjadi juru kampanye amatiran hanya sekedar ingin dikatakan melek politik atau tidak ingin disebut kuper politik. sistem demokrasi yang dianut Indonesia mengharuskan kita memilih pemimpin yang diusung oleh partai politik. maka kesimpulan awal saya bahwa pilihan yang ada adalah hasil analisa dari segerombolan partai politik untuk kepentingan mereka tanpa benar-benar ingin bekerja demi rakyat.

Pemilihan Presiden yang sebentar lagi akan dihelat di pertengahan April menjadi fenomena tersendiri. di satu sisi sering membuat saya tersenyum melihat tingkah kedua belah pihak pendukung calon Presiden tetapi di sisi lain membuat saya sering jijik dengan cara mereka mendiskusikan pilihan yang mereka anggap paling baik. seharusnya wacana tentang Pilpres mampu menggiring masyarakat ke arah yang lebih baik dengan terbukanya informasi maupun referensi pembelajaran politik namun harapan selalu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, realitas yang terjadi di tengah masyarakat seakan mundur berpuluh-puluh tahun ke belakang. mereka berdiskusi dengan menyanjung pilihan mereka dan menjatuhkan lawan. tidak ada esensi dari diskusi yang diangkat di hampir semua forum politik baik dari forum politik tingkat atas sebagai politikus maupun kalangan masyarakat umum yang mendiskusikan politik ke setiap sudut Kota bahkan di Desa. perdebatan yang muncul hanya seputar tentang pilihan mereka yang baik dan calon yang lain tidak baik. benar-benar menjijikkan...!!!

Hal yang sama dan membuat saya seringkali muak setiap hari yang kutemui teman-teman saya yang doyan membuka forum politik tentang Pilpres namun argumen yang keluar dari mulut mereka hanya seputar pilihan mereka yang tanpa dosa dan calon yang lain bergelimang dosa. seingat saya, tidak pernah sekalipun saya serius meladeni mereka dalam berdebat meski selalu berusaha mempengaruhi dengan cara apapun hingga suatu waktu di sore hari menjelang jam kantor usai, saya yang sudah penat akhirnya mengeluarkan semua sikap politik yang saya percayai untuk Pilpres kali ini. saya mendeklarasikan bahwa saya tidak akan memilih, bukan karena terpaksa namun dari perenungan panjang tentang iklim politik di Negeri ini yang sama sekali tidak membaik. saya juga mengatakan kepada mereka bahwa biaya politik dalam proses Demokrasi Indonesia sangat besar dan hal tersebut sebagai indikasi bahwa "jarang" sekali politikus yang serius mewujudkan gombal-gombal politik mereka yang dikampanyekan menjelang pemilu.

Argumen saya tentang biaya politik bukan tanpa bukti. pengalaman yang akan saya paparkan di sini juga sebagai pengakuan dosa bahwa saya pernah mengotori proses Demokrasi yang berlangsung di Indonesia dalam skali Pilkada. 

Sebelas tahun yang lalu tepatnya di tahun 2008, Pilkada di daerah saya dilangsungkan. seingat saya adalah Pilkada pertama yang dipilih langsung oleh Rakyat. calon yang maju seorang Petahana didampingi oleh salah satu mantan kepala BKD yang "kebenaran" adalah keluarga dekat saya, nenek saya dan neneknya masih saudara kandung sehingga silsilah keluarga kami adalah "sepupu dua kali"

Saya tidak ingat persis bagaimana awalnya saya masuk dalam lingkaran tim sukses namun yang masih segar di pikiran saya tentang proses menjelang pemilu. saya yang berada di Ibu Kota Provinsi sering berkoordinasi dengan salah seorang Dosen saya yang juga tergabung dalam tim sukses dan berperan sebagai Koordinator. saya beberapa kali harus pergi-pulang ke kampung hanya sekedar mengurus kampanye. Suatu waktu menjelang pemilu sudah dekat. saya dan beberapa tim sukses di panggil ke rumah pemenangan di kota Kabupaten dalam rangka merapatkan konsolidasi. 

Saya menyesal saat menyadari bahwa saya pernah menjadi bagian dari proses Demokrasi yang tidak ideal menurut saya namun setidaknya pengalaman tersebut juga mengajarkan saya di setiap Pemilu bahwa apa yang ada di depanmu, apa yang ditulis oleh para calon di setiap spanduk yang dipasang di pinggir jalan, bukan realitas. jargon tersebut hanya sebagai pemanis yang nantinya akan dicampakkan di comberan setelah mereka terpilih atau jika sial dan gagal, spanduk mereka akan menjadi selimut di rumah sakit jiwa.

Kembali ke wacana Pilpres kali ini bahwa belum tidak ada bedanya dengan perhelatan dari Pemilu sebelumnya yang hanya menjadi rutinitas 5 tahunan dan mengeksploitasi hak suara rakyat kemudian akan diabaikan sesaat setelah pemilihan namun yang membuat saya ikut kasihan karena adanya potensi perpecahan sesama masyarakat. mereka yang sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, telah termakan propoganda politikus sehingga mereka dengan segala energi menjunjung tinggi pilihan mereka bahkan sampai mengorbankan banyak hal termasuk persaudaraan yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Sekali lagi pada Pilpres kali ini, saya tidak akan memilih siapa-siapa. saya akan berdiam diri di rumah sambil menikmati kopi tanpa terpengaruh siapa yang akan terpilih namun dengan sebaris doa yang akan saya ucapkan bahwa semoga hasil dari Pilpres tidak membuat masyarakat Indonesia tercerai-berai. semoga mereka kembali bersenda gurau dan menyambung silaturrahim diantara mereka yang berbeda pilihan.

April 2019, dua minggu menjelang tanggal 18 April 2019.

No comments: