Saat orang-orang bergerombolan ke TPS menyalurkan hak mereka memlih calon presiden, saya memilih menghabiskan waktu di kamar sambil menikmati film dokumenter "Sexy Killers." film yang diinisiasi oleh Dendy dwi laksono dkk mengenai kondisi miris bumi nusantara yang dieksploitasi secara massif oleh kapital birokrat negeri ini.
Saya memang memutuskan untuk kembali tidak memilih siapa-siapa di pilpres kali ini. harapan saya akan negeri ini membaik tidak tampak pada kedua calon, atau mungkin juga ekspektasi saya yang terlalu tinggi. saya harus akui bahwa lima tahun lalu, saya menaruh harapan besar kepada petahana namun seiring berjalannya waktu, banyak hal yang ternyata tidak terwujud meski saya tidak memungkiri bahwa ada perubahan lima tahun terakhir.
Istri dan mertua saya berangkat ke TPS dan saya di rumah menjaga anak. isteri sudah berkali-kali membujuk untuk ikut dengan alasan tidak enak hati jika ditanya ibu RT. dugaannya tidak meleset, dia ditanya kenapa saya tidak ikut. untungnya dia menjawab diplomatis, saya di rumah menjaga anak.
Saya sama sekali tidak membanggakan diri karena tidak mencoblos bahkan ada sedikit rasa bersalah saat isteri saya dan mertua saya berangkat tanpa saya temani, atau juga saat mengingat Cak Nun yang mengatakan bahwa beliau setiap pemilu tetap ke TPS karena menghargai mereka yang sudah bekerja keras, atau nasehat dari uztad yang selalu menjadi referensiku yang kutanya kemarin terkait suatu hal tentang pemilih. bahkan saya malu melihat banyak dari mereka yang tetap datang ke TPS dengan berbagai keterbatasan, saya benar-benar malu atas beberapa hal tersebut, namun kenapa saya tetap bersikeras untuk tidak mendatangi TPS hari ini?
Saya tidak tertarik mencoblos bukan berarti saya apatis namun landasan sikap saya adalah melihat realitas sosial yang ada. pilpres benar-benar sudah membunuh akal waras sebagian dari kita yang terlalu fanatik. semua sampah pikiran dihamburkan di mana-mana atas dasar membela junjungan yang sesungguhnya tidak benar adanya. kebangsaan kita terkoyak hanya karena pertaruhan elit politik yang menjadikan kita jualan mereka, lalu dimana kita meletakkan rasionalitas.
Dalam berbagai kesempatan sejak momen kampanye, saya sudah muak dengan model kampanye yang hanya menyerang rival tanpa mengedukasi voters terkait visi misi calon yang diusung, lalu apa alasan saya memilih jika kenyataannya tidak ada harapan yang diberikan? bahkan sesungguhnya jika mereka memberikan harapan pun seringkali diingkari apatahlagi mereka tidak memberikan harapan. hanya ketakutan yang ditebar di setiap kampanye. jangan memilih si A karena jika menang komunis akan bangkit. jangan memilih si B karena jika menang, khilafah berkibar. kampanye model apa ini, memuakkan...!!!!
Berangkat dari kekecewaan proses demokrasi yang tidak pernah dewasa membuat saya memilih untuk menempuh jalan sendiri, tidur di hari pemilihan.!!!
Saya memimpikan negeri ini berdemokrasi dengan sehat. proses yang tercipta mendidik rakyatnya menjadi pemilih yang cerdas. menjatuhkan pilihannya dengan pertimbangan rasional bukan karena ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh elit politik. jika iklim seperti itu sudah tercipta maka saya akan dengan senang hati memilih siapa yang menurutku mampu membawa negara ini menjadi negara yang diimpikan.
Saat tulisan ini saya posting, quick count sementara adalah petahana unggul dengan selisih suara sekitar 8-9% dari beberapa lembaga survey. semoga saja tidak terjadi sengketa atas hasil pilpres ini dan sebagai pemilih yang tidak ikut mencoblos, harapan saya hanyalah sebatas pada keamanan negeri ini dan semoga rakyat kecil tidak menjadi lebih susah dalam segala aspek dari hari ini. semoga, semoga dan semoga...!!!
semoga saya diampuni karena tidak memilih yang berarti tidak menghargai keringat mereka yang sudah bersusah payah menyiapkan proses pemilihan bahkan jauh hari sebelum hari ini. semoga kerja mereka dihitung sebagai amal ibadah.
Aaamiiin!!!
17 April 2019 23.18 wib
Istri dan mertua saya berangkat ke TPS dan saya di rumah menjaga anak. isteri sudah berkali-kali membujuk untuk ikut dengan alasan tidak enak hati jika ditanya ibu RT. dugaannya tidak meleset, dia ditanya kenapa saya tidak ikut. untungnya dia menjawab diplomatis, saya di rumah menjaga anak.
Saya sama sekali tidak membanggakan diri karena tidak mencoblos bahkan ada sedikit rasa bersalah saat isteri saya dan mertua saya berangkat tanpa saya temani, atau juga saat mengingat Cak Nun yang mengatakan bahwa beliau setiap pemilu tetap ke TPS karena menghargai mereka yang sudah bekerja keras, atau nasehat dari uztad yang selalu menjadi referensiku yang kutanya kemarin terkait suatu hal tentang pemilih. bahkan saya malu melihat banyak dari mereka yang tetap datang ke TPS dengan berbagai keterbatasan, saya benar-benar malu atas beberapa hal tersebut, namun kenapa saya tetap bersikeras untuk tidak mendatangi TPS hari ini?
Saya tidak tertarik mencoblos bukan berarti saya apatis namun landasan sikap saya adalah melihat realitas sosial yang ada. pilpres benar-benar sudah membunuh akal waras sebagian dari kita yang terlalu fanatik. semua sampah pikiran dihamburkan di mana-mana atas dasar membela junjungan yang sesungguhnya tidak benar adanya. kebangsaan kita terkoyak hanya karena pertaruhan elit politik yang menjadikan kita jualan mereka, lalu dimana kita meletakkan rasionalitas.
Dalam berbagai kesempatan sejak momen kampanye, saya sudah muak dengan model kampanye yang hanya menyerang rival tanpa mengedukasi voters terkait visi misi calon yang diusung, lalu apa alasan saya memilih jika kenyataannya tidak ada harapan yang diberikan? bahkan sesungguhnya jika mereka memberikan harapan pun seringkali diingkari apatahlagi mereka tidak memberikan harapan. hanya ketakutan yang ditebar di setiap kampanye. jangan memilih si A karena jika menang komunis akan bangkit. jangan memilih si B karena jika menang, khilafah berkibar. kampanye model apa ini, memuakkan...!!!!
Berangkat dari kekecewaan proses demokrasi yang tidak pernah dewasa membuat saya memilih untuk menempuh jalan sendiri, tidur di hari pemilihan.!!!
Saya memimpikan negeri ini berdemokrasi dengan sehat. proses yang tercipta mendidik rakyatnya menjadi pemilih yang cerdas. menjatuhkan pilihannya dengan pertimbangan rasional bukan karena ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh elit politik. jika iklim seperti itu sudah tercipta maka saya akan dengan senang hati memilih siapa yang menurutku mampu membawa negara ini menjadi negara yang diimpikan.
Saat tulisan ini saya posting, quick count sementara adalah petahana unggul dengan selisih suara sekitar 8-9% dari beberapa lembaga survey. semoga saja tidak terjadi sengketa atas hasil pilpres ini dan sebagai pemilih yang tidak ikut mencoblos, harapan saya hanyalah sebatas pada keamanan negeri ini dan semoga rakyat kecil tidak menjadi lebih susah dalam segala aspek dari hari ini. semoga, semoga dan semoga...!!!
semoga saya diampuni karena tidak memilih yang berarti tidak menghargai keringat mereka yang sudah bersusah payah menyiapkan proses pemilihan bahkan jauh hari sebelum hari ini. semoga kerja mereka dihitung sebagai amal ibadah.
Aaamiiin!!!
17 April 2019 23.18 wib
No comments:
Post a Comment