mencoba bercerpen ria
Aku seakan tak percaya sampai di kota ini. Kota yang hanya sering kubaca di buku sejarahku sejak masih sekolah, kota ini pun terkenal dengan julukan kota pahlawan. aku sama sekali tak percaya dan masih seakan mimpi berada di kota ini. Setelah menyelesaikan kuliahku dikota kelahiranku, aku memutuskan untuk merantau mencari tantangan hidup. Tak ada yang aku pikirkan sesaat meninggalkan kotaku di seberang pulau sana, hanya bagaimana meningkatkan taraf hidupku hingga mengharuskan aku terdampar di kota ini. Memikirkan semua apakah aku bisa menjadi seperti yang aku pikirkan atau bahkan harus menyerah di kota ini namun aku sama sekali tak perduli, semua kekhawatiran kucampakkan di sudut kota dan mulai melangkah dengan optimis apa bahwa aku akan menaklukkan kota dan berhasil menjadi apa yang aku harapkan. Setiap kali aku gagal dan ingin menyerah, bayang wajah tulus ibuku di kampung menghiasi kepalaku membuatku kembali tegar. Yah, salah satu semangat hidupku adalah ibuku dan dialah yang membuatku selalu ingin membahagiakannya bahkan dalam kondisi susah, wajahnya yang sendu selalu menari di kepalaku saat aku merindukkannya, bagaimana tidak ini adalah petama kali aku harus jauh darinya bahkan jauh sekali.
Aku seakan tak percaya sampai di kota ini. Kota yang hanya sering kubaca di buku sejarahku sejak masih sekolah, kota ini pun terkenal dengan julukan kota pahlawan. aku sama sekali tak percaya dan masih seakan mimpi berada di kota ini. Setelah menyelesaikan kuliahku dikota kelahiranku, aku memutuskan untuk merantau mencari tantangan hidup. Tak ada yang aku pikirkan sesaat meninggalkan kotaku di seberang pulau sana, hanya bagaimana meningkatkan taraf hidupku hingga mengharuskan aku terdampar di kota ini. Memikirkan semua apakah aku bisa menjadi seperti yang aku pikirkan atau bahkan harus menyerah di kota ini namun aku sama sekali tak perduli, semua kekhawatiran kucampakkan di sudut kota dan mulai melangkah dengan optimis apa bahwa aku akan menaklukkan kota dan berhasil menjadi apa yang aku harapkan. Setiap kali aku gagal dan ingin menyerah, bayang wajah tulus ibuku di kampung menghiasi kepalaku membuatku kembali tegar. Yah, salah satu semangat hidupku adalah ibuku dan dialah yang membuatku selalu ingin membahagiakannya bahkan dalam kondisi susah, wajahnya yang sendu selalu menari di kepalaku saat aku merindukkannya, bagaimana tidak ini adalah petama kali aku harus jauh darinya bahkan jauh sekali.
“nak,
baik-baiklah di kampung orang, jangan jauh dari dirimu”, kata-kata yang sangat
dalam meluncur dari mulut ibuku sesaat sebelum saya akan bernagkat dengan bis
yang telah menunggu di depan halaman rumahku di sebuah desa kecil pulai
seberang. Kata-kata itu meluncur dengan terbata-bata dari mulu ibuku karena dia
mengucapkannya sambil terisak, entah dia sedih melihatku harus berpisah
dengannya untuk pertama kalinya atau bahkan dia khawatir bahwa aku akan merana
di kota ini, entahlah namun terakhir kali kulihat raut wajahnya membuatku juga
harus mengucurkan butir-butir airmataku secara perlahan. Tangisan itulah yang
selalu membasahi semangatku mengarungi kerasnya hidup di kota ini, saat aku
kekeringan bayang-bayang ibuku selalu menguatkanku untuk tidak menyerah begitu
saja kepada keadaan , how hard that conditions, itulah aku yang selalu
menjadikan wajah sendu ibuku sebagai semangat hidupku, bahkan ketika kadang aku
ingin menyerah atau melakukan sesuatu yang salah, wajahnyalah yang datang
menghalau semua itu yang kemudian kembali mengarahkanku ke jalan yang benar.
Aku adalah air,
begitulah selalu yang kupikirkan selama menjalani hidup di kota ini, karena air
akan selalu merendah dan selalu menyejukkan. Perjalanan hidup yang benar tak
sesuai dengan apa yang terpikirkan. Selalu saja ada banyak halangan yang
mencoba menghalau semangatku, namun tak jua kupudarkan sedikitpun kobar asa ku
di dalam dada.
Awal aku di kota
ini, aku menumpang di rumah keluargaku. Dik, tetaplah tegar mengejar
cita-citamu”..! kata-kata itu setiap pagi dari kakak sepupuku untuk
menyemangatiku, namun selang beberapa bulan menumpang di rumah keluargaku, ada
perasaan segan menghinggapiku karena sampai sekarang, tak ada satupun lamaran
pekerjaanku yang berhasil, setiap lowon gan telah kulamar dan tak terhitung
pula aku masuk keluar kantor mengajukan lamaran namun tetap saja nihil hingga
pada bulan ketiga, aku diterima di salah satu LSM internasional. Betapa girang
kurasa meskipun tanpa kutahu sebelumnya spesifikasi kerja yang harus aku
jalani.
Kuingat dengan
jelas, hari kamis adalah hari pertama aku masuk kerja, dengan semangatnya aku
pamit dan melangkah dengan keyakinan penuh ke tempat kerja yang berada dipusat
kota ini. Hingga sampai di kantor LSM tersebut, ada sedikit perasaan ciut
menghampiriku setelah melihat kantor yang tidak seperti kubayangkan, kantor
yang megah, bertingkat dan full ruangan AC namun berbeda 180 derajat dari
kantor yang sedang aku tuju sekarang, hanya tuntutan kebutuhanlah yang tetap
menggiring langkahku memasuki kantor ini. “persetan dengan pekerjaan apapun
yang akan aku jalani, yang penting aku bisa bertahan hidup sejenak di kota
ioni”, gumamku saat itu. Sesampai di dalam ruangan kecil yang merupakan aula
pertemuan kantor LSM ini, sudah ada 4 karyawan yang duduk mendengarkan arahan
dari tim leader LSM, ternyata mereka adalah karyawan baru sepertiku dan aku
yang paling terlambat datang.
Perkenalkan,
namaku udin. Aku berasal dari pulau seberang..! kata-kata itulah yang pertama
kali meluncur dari mulutku setelah dipersilahkan memperkenalkan namaku.
Ternyata aku adalah satu-satunya karyawan yang berasal dari luar pulau, alhasil
logatku pun berbeda dari mereka namun justru itu yang membuatku semangat karena
aku beda dengan mereka. Setelah perkenalan semua karyawan baru, si team leader
yang kemudian sering kami panggil dengan nama bang cepot menjelaskan tentang
seperti apa pekerjaan yang harusw kami lakukan. DDC, itulah divisi dimana kami
akan ditempatkan dan harus kesetiap tempat keramaian mencari donasi seperti
layaknya marketing asuransi, pikirku saat itu. Kulihat satu persatu wajah dari
karyawan baru dan semua mengisyaratkan wajah kecewa setelah mengetahui seperti
apa pekerjaan yang harus kami jalani. Meskipun demikian, tak ada satupun dari
kami yang mengundurkan diri karena mungkin saja mereka juga butuh pekerjaan,
gumamku.
Hari pertama
kerja menjadi sangat tidak mengenakkan, harus berdiri di sebuah pintu masuk
mall terbesar di kota ini dan menyapa setiap pengunjung yang lalu lalang
kemudian menawarkan menjadi donatur di LSM ini, “ ah, betapa malunya saat
pertama aku melakukannya”, bahkan pikirku ini adalah hal yang kemudian tak
pernah terpikirkan sebelumnya olehku namun kemudian aku harus menjalaninya demi
mengisi perut.
Lis, kok kamu
tertarik bekerja di tempat ini? Kamu kan cewek dan pekerjaan kita sering
memakan waktu sampai larut. Pertanyaan itu kulontarkan kepada salah satu teman
kerjaku. Dia hanya membalas dengan senyum yang tersungging dari bibir tipisnya.
***************
Aku dan listy
sekarang merajut kebersamaan di sudut alun-alun kota ini. Sejak sama-sama
memutuskan resign dari LSM tempat kami bekerja di kota pahlawan, kami semakin
dekat. Listy adalah cewek kalem yang pertama kali kukenal sejak november yang
basah. Dik, kok tiba-tiba suka padaku dan membalas cintaku”? suatu senja aku
menanyakan alasan kenapa dia membalas cintaku. Dan sudah kuduga bahwa setiap
kali aku menanyakan hal yang sentimental, dia hanya membalas dengan senyuman
tipis yang akhirnya akan melunturkan keinginanku untuk bertanya lebih banyak
lagi kepadanya.
Aku bahkan tidak
canggung lagi bertamu ke rumahnya di ujung kota ini. Bertemu ibunya dan
bercerita banyak hal. aku ingat suatu waktu, ibunya menelponku dan memintaku
datang ke rumahnya, mas, apa mas benar-benar serius kepada adik..? aku gk mau
kalau mas hanya mempermainkan adik..! itulah kata yang keluar dari mulut ibunya
sesaat dia memintaku datang ke rumahnya. Aku dan ibunya memang memanggil listy
dengan sebutan adik dan hanya kami berdua yang kerap memanggilnya seperti itu. Dik,
kemarin ibu menanyakan keseriusanku kepadaku.! Aku membeberkan setiap kalimat
pertanyaan kepadanya melalui telepon
setelah ibunya meminta ketegasan kepadaku. Kami memang sekarang beda kota, dia
tetap di kota pahlawan dan aku mendapatkan pekerjaan baru di ujung pulau ini. Trus
kakak jawab apa..? dia menanyakan ulang tentang jawabanku kepada ibunya tadi
pagi. Dia juga memanggilku dengan panggilan kakak. Aku tidak ingin
menyakitimu..! jawabku singkat.
Begitulah romansa
kami dirajut dalam ruang dan waktu yang beda. Kadang bertemu sesekali ketika
kukunjungi dirinya di kota pahlawan hanya untuk melepas rindu yang membuncah. Seringkali
kami membunuh kebersamaan dengan waktu mengunjungi setiap tempat yang pernah
menjadi cerita kami sejak masih berteman dan kebanyakan tempat itu menyimpan
beribu kenangan yang tak terlupakan hingga setiap kata tak lagi terucap hanya
terkadang wajah yang menampakkan perubahan ronanya kadang bahaggia dan kadang
pula sedih.
Kuingat dengan
jelas saat dia mengantarkanku ke pelabuhan kota ini saat aku berniat menjenguk
ibuku di pulau seberang. Dia dengan motor kesayangannya membelah hujan
membawaku ke pelabuhan menunggu kapal di dermaga yang sebentar lagi mengantarku
pulang ke istana kecilku. Kak, Kakak harus kembali kepada adik, jangan tinggal
lama di sana..! itu pesan terakhir yang dibisikkan di telingaku sesaat kapal
akan bersandar untuk segera kunaiki. Iya dik, kakak akan kembali membawa sejuta
impian kita merajut kebersamaan di kota ini, kakak hanya mengunjungi ibuku dan
memastikan bahwa dia sehat-sehat saja..! balasku dengan sedikit menggombal. Kulihat
raut mukanya yang begitu bahagia saat kuucapkan bahwa aku akan segera kembali
dari kampung halaman.
************************
Lis, kok gak
dijawab, kenapa kok mau kerja di tempat ini yang mengharuskan kita pulang malam sedangkan kamu
sendiri kan cewek”…! Nampaknya gadis yang baru kukenal beberapa hari ini tidak
dengan pertanyaanku tadi, Listy adalah salah satu dari tiga karyawan baru di
kantor ini. Dia amat sangat pendiam dan hanya menjawab seperlunya ketika
ditanya. Enggak kok mas, sambil nyari kerjaan yang lain”..! balasnya. Pantas saja
aku bertanya seperti itu karena tempo hari dia bercerita bahwa dia dari
pendidikan yang berlatar kesehatan dan kuanggap bahwa pekerjaan ini sama sekali
tidak ada hubungannya dengan kesehatan. Bahkan dua temanku yang lain berasal
dari teknik dan guru. Begitulah wajah pendidikan indonesia, spesifikasi jurusan
yang dipilih saat masih kuliah sama sekali tidak menentukan pekerjaan apa yang
nantinya akan dilakoni bahkan perbankan adalah salah satu dari perusahaan yang
menerima semua jurusan.
Kami adalah
pencari kerja. Lima orang karyawan baru di tempat ini termasuk aku sering
berbagi cerita tentang masa ke masa yang telah kami lalui. Perbedaan latar
belakang suku membuat cerita kami seringkali diwarnai dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar adat budaya hingga kami pun semakin intim. Sejak saat
itu ula, aku tahu bahwaw gadis yang bernama listy adalah paling pendiam dan
kalem diantara kami, dia hanya menyela sekali ketika kami sedang asyik
bercerita dan aku merasa salah satu yang paling banyak bercerita. Hingga pada
suatu saat, satu persatu kelima dari kami mengambilkan keputusan untuk keluar
dari pekerjaan ini, ada yang kemudian pindah perusahaan yang paling besar, ada
yang menikah dan ada pula yang menjadi guru. Aku pun pindah perusahaan dan
gadis yang bernama Listy itu diterima menjadi salah satu staff di kampusnya.
Keep in touch
yah”..! itulah kata-kata terakhir yang kami ucapkan saat kami mengadakan
farewell party di salahhs atu kedai yang menjadi langganan kami. Semua dari
kami selalu menjaga satu sama lain tanpa ada yang dilupakan. Pertemanan yang
telah kami jalin sejak bekerja bersama di tempat ini akhirnya dipisahkan oleh
waktu yang terasa amat cepat berlalu. Pertemanan
dari berbagai macam suku yang semakin membuat kami akrab.
*************************
Dik, kok bisa
kita bersama padahal kita begitu banyak perbedaan yah..! suatu senja saat kami
menghabiskan waktu berdua di alun-alun kotanya. Aku menanyakan perbedaan kami
yang begitu banyak namun tidak menghalangi kami untuk bersama. Enthalah kak,
kakak sendiri yang memulai menyatakan perasaannya jadi saya menerima aja..!
balasnya dengan amat singkat dan selalu diiringi senyuman tipis dari bibirnya. Kebersamaan
kami seperti itu seringkali amat sangat singkat karena kami harus kembali ke
kota masing-masing untuk memulai rutinitas kerja yangg menggunung. Kebersamaan kami
mengeja waktu hanya terjadi di akhir pekan selama sebulan sekali. Jarak dan
waktu yang menjadi sebab kami harus
melakoni romantisme asmara seperti ini. Hingga semua berjalan begitu
melambat.
Dik, aku sudah
resign dari tempat kerjaku, aku mau ngomong sesuatu yang amat penting tentang
kita berdua”,,! Kutelpon Listy bahwa aku sudah resign, gadis yang dulunya
adalah temanku sekarang menjadi kekasih. Dia masih bekerja sebagai staff di
kampusnya. Minggu depan kita ketemu. Iya kak”..! balasnya singkat di telepon
dengan suara yang menyimpan beribu tanda tanya.
Dik, aku diminta
pulang oleh orang tuaku, sejak aku resign, orangtuaku tahu dan dia khawatir
jika aku berada di kota ini tanpa ada pekerjaan yang tetap. Kutatap mata Listy
dengan nanar. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun namun sedikit demi
sedikit, air matanya tumpah dan tak lama kemudian dia histeris dan
menghamburkan dirinya kedalam pelukanku dan berteriak jangan pergi kak. Perasaanku
campur aduk, bahkan tak dapat kugambarkan saat itu apa yang mesti kulakukan,
seakan matahari pun mulai redup akibat tangisannya. Dia memelukku dengan erat
tanpa sekalipun membiarkanku lepas dari pelukannya. Dengan amat sangat pelan,
kubisik bahwa aku sayang sama dia, dik, persoalan ini hanyalah tentang
perbedaan ruang dan waktu namun yakinlah bahwa hatiku tetap menyimpan cintamu
dalam-dalam”…! Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku yang membuatnya
sedikit lebih tenang. Kapan kakak pulang”..? tanyanya dengan terbata-bata
setelah tangisnya sudah mulai reda. Besok lusa dik..! jawabku singkat. Kembali tangisnya
pecah membuat sweater hitamku basah oleh airmatanya. Namun takdir telah
menuliskan seperti itu bahwa kita akan saling mengasihi dengan jarak dan waktu
yang memisahkan.
Dik, aku
berangkat jam 09.00..! sms singkat kukirim kepadanya sesaat keberangkatanku ke
dermaga. Kemarin, dia memutuskan untuk tidak mengantarku ke dermaga bahkan
sekalipun dia tidak mengangkat telepon apalagi membalas pesan singkatku. Pagi ini
menjadi saksi tentang romansa kami yang beda, yang kemudian harus kuukir dalam
cerita hidupku bahwa kami selalu saja dibatasi oleh ruang dan waktu seakan
mereka tidak pernah mau memaklumi cinta kami hingga akhirnya selalu saja
memisahkan keberadaan kami dan sampai sekarang begitu jauh. Kami tidak pernah
tahu lagi kami akan berjumpa namun kuyakin bahwa kekuatan cinta akan melebihi
ruang dan waktu yang tentunya kami akan bisa berjumpa kapanpun karena hati kami
telah menyatu..
@Dermaga
Tanjung Perak
No comments:
Post a Comment