November 3, 2013

Gadis Bernama Listy

mencoba bercerpen ria

Aku seakan tak percaya sampai di kota ini. Kota yang hanya sering kubaca di buku sejarahku sejak masih sekolah, kota ini pun terkenal dengan julukan kota pahlawan. aku sama sekali tak percaya dan masih seakan mimpi berada di kota ini. Setelah menyelesaikan kuliahku dikota kelahiranku, aku memutuskan untuk merantau mencari tantangan hidup. Tak ada yang aku pikirkan sesaat meninggalkan kotaku di seberang pulau sana, hanya bagaimana meningkatkan taraf hidupku hingga mengharuskan aku terdampar di kota ini. Memikirkan semua apakah aku bisa menjadi seperti yang aku pikirkan atau bahkan harus menyerah di kota ini namun aku sama sekali tak perduli, semua kekhawatiran kucampakkan di sudut kota dan mulai melangkah dengan optimis apa bahwa aku akan menaklukkan kota dan berhasil menjadi apa yang aku harapkan. Setiap kali aku gagal dan ingin menyerah, bayang wajah tulus ibuku di kampung menghiasi kepalaku membuatku kembali tegar. Yah, salah satu semangat hidupku adalah ibuku dan dialah yang membuatku selalu ingin membahagiakannya bahkan dalam kondisi susah, wajahnya yang sendu selalu menari di kepalaku saat aku merindukkannya, bagaimana tidak ini adalah petama kali aku harus jauh darinya bahkan jauh sekali.

“nak, baik-baiklah di kampung orang, jangan jauh dari dirimu”, kata-kata yang sangat dalam meluncur dari mulut ibuku sesaat sebelum saya akan bernagkat dengan bis yang telah menunggu di depan halaman rumahku di sebuah desa kecil pulai seberang. Kata-kata itu meluncur dengan terbata-bata dari mulu ibuku karena dia mengucapkannya sambil terisak, entah dia sedih melihatku harus berpisah dengannya untuk pertama kalinya atau bahkan dia khawatir bahwa aku akan merana di kota ini, entahlah namun terakhir kali kulihat raut wajahnya membuatku juga harus mengucurkan butir-butir airmataku secara perlahan. Tangisan itulah yang selalu membasahi semangatku mengarungi kerasnya hidup di kota ini, saat aku kekeringan bayang-bayang ibuku selalu menguatkanku untuk tidak menyerah begitu saja kepada keadaan , how hard that conditions, itulah aku yang selalu menjadikan wajah sendu ibuku sebagai semangat hidupku, bahkan ketika kadang aku ingin menyerah atau melakukan sesuatu yang salah, wajahnyalah yang datang menghalau semua itu yang kemudian kembali mengarahkanku ke jalan yang benar.

Aku adalah air, begitulah selalu yang kupikirkan selama menjalani hidup di kota ini, karena air akan selalu merendah dan selalu menyejukkan. Perjalanan hidup yang benar tak sesuai dengan apa yang terpikirkan. Selalu saja ada banyak halangan yang mencoba menghalau semangatku, namun tak jua kupudarkan sedikitpun kobar asa ku di dalam dada.

Awal aku di kota ini, aku menumpang di rumah keluargaku. Dik, tetaplah tegar mengejar cita-citamu”..! kata-kata itu setiap pagi dari kakak sepupuku untuk menyemangatiku, namun selang beberapa bulan menumpang di rumah keluargaku, ada perasaan segan menghinggapiku karena sampai sekarang, tak ada satupun lamaran pekerjaanku yang berhasil, setiap lowon gan telah kulamar dan tak terhitung pula aku masuk keluar kantor mengajukan lamaran namun tetap saja nihil hingga pada bulan ketiga, aku diterima di salah satu LSM internasional. Betapa girang kurasa meskipun tanpa kutahu sebelumnya spesifikasi kerja yang harus aku jalani.

Kuingat dengan jelas, hari kamis adalah hari pertama aku masuk kerja, dengan semangatnya aku pamit dan melangkah dengan keyakinan penuh ke tempat kerja yang berada dipusat kota ini. Hingga sampai di kantor LSM tersebut, ada sedikit perasaan ciut menghampiriku setelah melihat kantor yang tidak seperti kubayangkan, kantor yang megah, bertingkat dan full ruangan AC namun berbeda 180 derajat dari kantor yang sedang aku tuju sekarang, hanya tuntutan kebutuhanlah yang tetap menggiring langkahku memasuki kantor ini. “persetan dengan pekerjaan apapun yang akan aku jalani, yang penting aku bisa bertahan hidup sejenak di kota ioni”, gumamku saat itu. Sesampai di dalam ruangan kecil yang merupakan aula pertemuan kantor LSM ini, sudah ada 4 karyawan yang duduk mendengarkan arahan dari tim leader LSM, ternyata mereka adalah karyawan baru sepertiku dan aku yang paling terlambat datang.

Perkenalkan, namaku udin. Aku berasal dari pulau seberang..! kata-kata itulah yang pertama kali meluncur dari mulutku setelah dipersilahkan memperkenalkan namaku. Ternyata aku adalah satu-satunya karyawan yang berasal dari luar pulau, alhasil logatku pun berbeda dari mereka namun justru itu yang membuatku semangat karena aku beda dengan mereka. Setelah perkenalan semua karyawan baru, si team leader yang kemudian sering kami panggil dengan nama bang cepot menjelaskan tentang seperti apa pekerjaan yang harusw kami lakukan. DDC, itulah divisi dimana kami akan ditempatkan dan harus kesetiap tempat keramaian mencari donasi seperti layaknya marketing asuransi, pikirku saat itu. Kulihat satu persatu wajah dari karyawan baru dan semua mengisyaratkan wajah kecewa setelah mengetahui seperti apa pekerjaan yang harus kami jalani. Meskipun demikian, tak ada satupun dari kami yang mengundurkan diri karena mungkin saja mereka juga butuh pekerjaan, gumamku.

Hari pertama kerja menjadi sangat tidak mengenakkan, harus berdiri di sebuah pintu masuk mall terbesar di kota ini dan menyapa setiap pengunjung yang lalu lalang kemudian menawarkan menjadi donatur di LSM ini, “ ah, betapa malunya saat pertama aku melakukannya”, bahkan pikirku ini adalah hal yang kemudian tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku namun kemudian aku harus menjalaninya demi mengisi perut.
Lis, kok kamu tertarik bekerja di tempat ini? Kamu kan cewek dan pekerjaan kita sering memakan waktu sampai larut. Pertanyaan itu kulontarkan kepada salah satu teman kerjaku. Dia hanya membalas dengan senyum yang tersungging dari bibir tipisnya.
                                                ***************
Aku dan listy sekarang merajut kebersamaan di sudut alun-alun kota ini. Sejak sama-sama memutuskan resign dari LSM tempat kami bekerja di kota pahlawan, kami semakin dekat. Listy adalah cewek kalem yang pertama kali kukenal sejak november yang basah. Dik, kok tiba-tiba suka padaku dan membalas cintaku”? suatu senja aku menanyakan alasan kenapa dia membalas cintaku. Dan sudah kuduga bahwa setiap kali aku menanyakan hal yang sentimental, dia hanya membalas dengan senyuman tipis yang akhirnya akan melunturkan keinginanku untuk bertanya lebih banyak lagi kepadanya.
Aku bahkan tidak canggung lagi bertamu ke rumahnya di ujung kota ini. Bertemu ibunya dan bercerita banyak hal. aku ingat suatu waktu, ibunya menelponku dan memintaku datang ke rumahnya, mas, apa mas benar-benar serius kepada adik..? aku gk mau kalau mas hanya mempermainkan adik..! itulah kata yang keluar dari mulut ibunya sesaat dia memintaku datang ke rumahnya. Aku dan ibunya memang memanggil listy dengan sebutan adik dan hanya kami berdua yang kerap memanggilnya seperti itu. Dik, kemarin ibu menanyakan keseriusanku kepadaku.! Aku membeberkan setiap kalimat pertanyaan kepadanya melalui  telepon setelah ibunya meminta ketegasan kepadaku. Kami memang sekarang beda kota, dia tetap di kota pahlawan dan aku mendapatkan pekerjaan baru di ujung pulau ini. Trus kakak jawab apa..? dia menanyakan ulang tentang jawabanku kepada ibunya tadi pagi. Dia juga memanggilku dengan panggilan kakak. Aku tidak ingin menyakitimu..! jawabku singkat.

Begitulah romansa kami dirajut dalam ruang dan waktu yang beda. Kadang bertemu sesekali ketika kukunjungi dirinya di kota pahlawan hanya untuk melepas rindu yang membuncah. Seringkali kami membunuh kebersamaan dengan waktu mengunjungi setiap tempat yang pernah menjadi cerita kami sejak masih berteman dan kebanyakan tempat itu menyimpan beribu kenangan yang tak terlupakan hingga setiap kata tak lagi terucap hanya terkadang wajah yang menampakkan perubahan ronanya kadang bahaggia dan kadang pula sedih.

Kuingat dengan jelas saat dia mengantarkanku ke pelabuhan kota ini saat aku berniat menjenguk ibuku di pulau seberang. Dia dengan motor kesayangannya membelah hujan membawaku ke pelabuhan menunggu kapal di dermaga yang sebentar lagi mengantarku pulang ke istana kecilku. Kak, Kakak harus kembali kepada adik, jangan tinggal lama di sana..! itu pesan terakhir yang dibisikkan di telingaku sesaat kapal akan bersandar untuk segera kunaiki. Iya dik, kakak akan kembali membawa sejuta impian kita merajut kebersamaan di kota ini, kakak hanya mengunjungi ibuku dan memastikan bahwa dia sehat-sehat saja..! balasku dengan sedikit menggombal. Kulihat raut mukanya yang begitu bahagia saat kuucapkan bahwa aku akan segera kembali dari kampung halaman.

                                                ************************
Lis, kok gak dijawab, kenapa kok mau kerja di tempat ini yang  mengharuskan kita pulang malam sedangkan kamu sendiri kan cewek”…! Nampaknya gadis yang baru kukenal beberapa hari ini tidak dengan pertanyaanku tadi, Listy adalah salah satu dari tiga karyawan baru di kantor ini. Dia amat sangat pendiam dan hanya menjawab seperlunya ketika ditanya. Enggak kok mas, sambil nyari kerjaan yang lain”..! balasnya. Pantas saja aku bertanya seperti itu karena tempo hari dia bercerita bahwa dia dari pendidikan yang berlatar kesehatan dan kuanggap bahwa pekerjaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesehatan. Bahkan dua temanku yang lain berasal dari teknik dan guru. Begitulah wajah pendidikan indonesia, spesifikasi jurusan yang dipilih saat masih kuliah sama sekali tidak menentukan pekerjaan apa yang nantinya akan dilakoni bahkan perbankan adalah salah satu dari perusahaan yang menerima semua jurusan.

Kami adalah pencari kerja. Lima orang karyawan baru di tempat ini termasuk aku sering berbagi cerita tentang masa ke masa yang telah kami lalui. Perbedaan latar belakang suku membuat cerita kami seringkali diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan seputar adat budaya hingga kami pun semakin intim. Sejak saat itu ula, aku tahu bahwaw gadis yang bernama listy adalah paling pendiam dan kalem diantara kami, dia hanya menyela sekali ketika kami sedang asyik bercerita dan aku merasa salah satu yang paling banyak bercerita. Hingga pada suatu saat, satu persatu kelima dari kami mengambilkan keputusan untuk keluar dari pekerjaan ini, ada yang kemudian pindah perusahaan yang paling besar, ada yang menikah dan ada pula yang menjadi guru. Aku pun pindah perusahaan dan gadis yang bernama Listy itu diterima menjadi salah satu staff di kampusnya.

Keep in touch yah”..! itulah kata-kata terakhir yang kami ucapkan saat kami mengadakan farewell party di salahhs atu kedai yang menjadi langganan kami. Semua dari kami selalu menjaga satu sama lain tanpa ada yang dilupakan. Pertemanan yang telah kami jalin sejak bekerja bersama di tempat ini akhirnya dipisahkan oleh waktu yang terasa amat cepat  berlalu. Pertemanan dari berbagai macam suku yang semakin membuat kami akrab.
                                                *************************
Dik, kok bisa kita bersama padahal kita begitu banyak perbedaan yah..! suatu senja saat kami menghabiskan waktu berdua di alun-alun kotanya. Aku menanyakan perbedaan kami yang begitu banyak namun tidak menghalangi kami untuk bersama. Enthalah kak, kakak sendiri yang memulai menyatakan perasaannya jadi saya menerima aja..! balasnya dengan amat singkat dan selalu diiringi senyuman tipis dari bibirnya. Kebersamaan kami seperti itu seringkali amat sangat singkat karena kami harus kembali ke kota masing-masing untuk memulai rutinitas kerja yangg menggunung. Kebersamaan kami mengeja waktu hanya terjadi di akhir pekan selama sebulan sekali. Jarak dan waktu yang menjadi sebab kami harus  melakoni romantisme asmara seperti ini. Hingga semua berjalan begitu melambat.

Dik, aku sudah resign dari tempat kerjaku, aku mau ngomong sesuatu yang amat penting tentang kita berdua”,,! Kutelpon Listy bahwa aku sudah resign, gadis yang dulunya adalah temanku sekarang menjadi kekasih. Dia masih bekerja sebagai staff di kampusnya. Minggu depan kita ketemu. Iya kak”..! balasnya singkat di telepon dengan suara yang menyimpan beribu tanda tanya.
Dik, aku diminta pulang oleh orang tuaku, sejak aku resign, orangtuaku tahu dan dia khawatir jika aku berada di kota ini tanpa ada pekerjaan yang tetap. Kutatap mata Listy dengan nanar. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun namun sedikit demi sedikit, air matanya tumpah dan tak lama kemudian dia histeris dan menghamburkan dirinya kedalam pelukanku dan berteriak jangan pergi kak. Perasaanku campur aduk, bahkan tak dapat kugambarkan saat itu apa yang mesti kulakukan, seakan matahari pun mulai redup akibat tangisannya. Dia memelukku dengan erat tanpa sekalipun membiarkanku lepas dari pelukannya. Dengan amat sangat pelan, kubisik bahwa aku sayang sama dia, dik, persoalan ini hanyalah tentang perbedaan ruang dan waktu namun yakinlah bahwa hatiku tetap menyimpan cintamu dalam-dalam”…! Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku yang membuatnya sedikit lebih tenang. Kapan kakak pulang”..? tanyanya dengan terbata-bata setelah tangisnya sudah mulai reda. Besok lusa dik..! jawabku singkat. Kembali tangisnya pecah membuat sweater hitamku basah oleh airmatanya. Namun takdir telah menuliskan seperti itu bahwa kita akan saling mengasihi dengan jarak dan waktu yang memisahkan.

Dik, aku berangkat jam 09.00..! sms singkat kukirim kepadanya sesaat keberangkatanku ke dermaga. Kemarin, dia memutuskan untuk tidak mengantarku ke dermaga bahkan sekalipun dia tidak mengangkat telepon apalagi membalas pesan singkatku. Pagi ini menjadi saksi tentang romansa kami yang beda, yang kemudian harus kuukir dalam cerita hidupku bahwa kami selalu saja dibatasi oleh ruang dan waktu seakan mereka tidak pernah mau memaklumi cinta kami hingga akhirnya selalu saja memisahkan keberadaan kami dan sampai sekarang begitu jauh. Kami tidak pernah tahu lagi kami akan berjumpa namun kuyakin bahwa kekuatan cinta akan melebihi ruang dan waktu yang tentunya kami akan bisa berjumpa kapanpun karena hati kami telah menyatu..




                                                                                    @Dermaga Tanjung Perak

No comments: