December 7, 2013

Mengurai Kehidupan Mahasiswa

Saat menjadi salah satu mahasiswa di kota asalku, aku sangat gandrung dengan paham yang sering dianggap kekiri-kirian nan makar. Begitu banyak faktor yang membuatku harus menjadi seperti itu. disamping jurusanku yang memang mengkaji berbagai ideologi diluar ideologi mainstream, lingkungan pergaulanku juga menjadi salah satu faktor yang sangat mendukungku menjadi mahasiswa yang suka menggunggat apa saja yang kuanggap salah. Bahkan latar belakang dari kampung kecil yang sudah terbiasa dengan kerasnya hidup menjadi faktor lain mengapa aku semakin gandrung mempelajari hal-hal di luar pemahaman mainstream. 

Saat masih di kampung, aku menganggap bahwa kerasnya kehidupan adalah hal wajar dan mungkin juga takdir atau bahkan orang malas bekerja sehingga hidup susah namun saat menginjakkan kaki di kampus, banyak membaca informasi dan diskusi dengan siapa saja maka aku mendapat pencerahan bahwa hidup ternyata ada sebuah hal konstruktif yang dijalankan oleh orang-orang bejat.

Pertama kali berubah status sebagai mahasiswa, aku disuguhi oleh fenomena kehidupan kampus yang sangat berbeda jauh dengan kehidupan yang kujalani di masa SMA ku. Beribu wajah kujumpai dengan segala cerita yang mereka goreskan. Saat diskusi di berbagai sudut kampus, begitu banyak istilah yang membuat kepalaku berputar untuk memahaminya. 

Perlahan aku mencari jati diriku sebagai mahasiswa yang pada akhirnya lingkungan mahasiswaku mengantarkanku menjadi mahasiswa yang suka diskusi dan mempelajari ideologi yang berbeda dengan ideologi status quo. Aku bahkan menyadari bahwa pada awalnya aku benar-benar hanya terpengaruh oleh lingkunganku namun pada akhirnya, aku benar-benar mengamini semua dari pahaman yang aku kaji. Mulai dari perlawanan terhadap gurita besar kapitalisme, kemudian mempelajari tandingan ideologinya yaitu marxisme. 

Dalam mempelajari pahaman seperti ini, aku mulai membongkar paham ortodoks yang sudah lama tertanam di dalam kepalaku. PKI yang dulunya kuanggap benar-benar sadis ternyata tidak seperti yang kupikirkan. Berbagai macam distorsi sejarah membuat mereka dilabeli sebagai hantu yang harus dimusnahkan dan tidak punya hak untuk hidup. Kenyataan yang aku pelajari bahwa paham marxisme yang kemudian dikenal di Indonesia sebagai PKI ternyata berjuang melawan status quo yang bangsat dan otoriter. 

Perlawanan mereka yang begitu gigih dengan berbagai cara akhirnya diredam oleh penguasa dengan cara licik. Mereka diftnah sebagai anti agama dan kelompok sadis sehingga masyarakat awam termakan hasutan tersebut dan ikut membenci perjuangan mereka.

Bahkan dalam beberapa edisi perjalananku sebagai mahasiswa, aku seringkali ikut aksi jalanan dalam berbagai isu nasional. Berhadapan dengan laras polisi dan pentungan benar-benar tidak menciutkan nyaliku untuk terus ikut aksi jalanan bahkan pernah dua kali saat chaos, aku harus merelakan dadaku terkena lemparan batu polisi di dekat tugu volcom kampus, begitu sakit memang namun selepas itu, tidak jua membuatku jera. 

Aku bahkan saat itu benar-benar muak dengan penguasa lalim. Aku bercita-cita menyaksikan dunia yang penuh kedamaian dimana semua orang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Aku semakin yakin bahwa kemiskinan bukan sebuah takdir Ilahi namun tidak lebih ada konstruksi dari dinasti kapitalisme yang mencengkeram dunia.

Pemiskinan terjadi dimana-mana bahkan 80% kekayaan dunia hanya dimiliki oleh 20% penduduk bumi artinya bahwa 20% kekayaan dunia dibagi kepada 80% penduduk bumi. Ini jelas sebuah kecurangan yang tidak bisa dibiarkan. Pemiskinan seperti itu yang pada akhirnya melahirkan gerakan perlawanan. Bayangkan saja, di Indonesia, hany segelintir orang punya tabungan yang tak terhitung nilainya sedangkan disamping mereka, beribu orang makan hanya sekali dalam 3 hari, apakah ini takdir. 

Jelas tidak, Tuhan tidak sejajar itu, mereka yang rakus menyebabkan kondisi seperti ini. Semua ingin dimiliki seakan bahwa perut mereka bisa menampung semua itu bahkan hany untuk makan nasi bungkus buat orang disekelilingnya pun mereka enggan. Bumi ini bukan buat mereka saja. Masih banyak orang yang menempati bumi ini.

Sampai saat ini, meski tensi interaksiku dengan duniaku yang dulu tidak terlalu intens namun aku tetap mendukung setiap perjuangan pergerakan yang menuntut keadilan apapun itu namanya. Perjuangan untuk sebuah keadilan bumi bukan berarti membenci orang kaya namun lebih dari itu, melawan ketamakan dan tidak semua orang kaya itu tamak. 

Bumi adalah milik semua makhluk dan tidak ada seorangpun yang berhak memonopoli bumi ini demi nafsu mereka. Bumi masih mampu memberi makan buat semua penghuninya kecuali bagi mereka yang tamak. Tidak ada bumi yang cukup buat mereka yang tamak.

No comments: