Meski beribu huruf yang kutulis untuk melukiskan seorang ibu di negeri sana, tak jua menampung apa yang ada di pikiranku. kata hanyalah rangkaian huruf yang dibaca namun berbicara tentang ibuku adalah tentang cinta yang amat sangat picik ketika termuat dalam tulisan puitis sebagus apapun. hanya memandang wajah sendunya sudah menguapkan semua yang ada dipikiranku. tak ada lagi katakata yang terucap ketika bersamanya. benar bahwa merantau telah mengajarkanku nilai lebih tentang cinta terhadapnya. aku bahkan sampai tidak membayangkan bagaimana beliau berada di ujung negeri ini. memang amat sentimental ketika aku berbicara tentang ibuku bahkan andai saja aku adalah windi maka urai air mataku sudah tak tertahankan lagi ketika rindu terhadapnya menyerangku.
kata orang hari ini adalah hari ibu, aku tak peduli itu, aku tak peduli kapan hari ibu itu karena ibuku ada dalam cintaku, beliau mengajarkanku cinta kepada Khalik dan Muhammad. selalu saja ada getaran rindu yang tak tertahankan ketika mengucap kata ibu. aku selalu mencoba melukis dirinya, menggambarkan ketulusannya namun selalu saja gagal bahkan saat masih berpikir untuk melakukan itu, aku sudah yakin akan gagal karena cintanya hanyalah kurasakan melalui hatiku.
Masih saja beliau bekerja di negeri sana, ketika beliau kutinggalkan, masih dalam keadaan sehat, entah sekarang namun mudah-mudahan saja perjalanan waktu tidak terlalu cepat menggerogoti kekuatannya. beliau masih punya impian melihat anak-anaknya bahagia namun lebih dari itu, aku amat sangat berharap suatu saat nanti menyaksikannya tidak terlalu bekerja keras karena kami sudah berhasil, aku hanya ingin menyaksikan beliau menghabiskan masa tuanya bermain bersama cucu-cucunya tanpa harus lagi bekerja keras. sudah cukup beliau menghabiskan separuh waktunya untuk mengais rejeki buat kami, mungkin saja momennya beliau bermain-main dengan orang yang disayanginya.
Baru segini tulisan tentangnya namun aku sudah tidak bisa mencurahkan katakataku lagi. di memoriku hanyalah wajahnya yang sendu dan dengan diamnya terus mengadon kue, memasak nasi dan pekerjaan yang lain sambil menunggu waktu istirahat, saat senja jatuh menghampiri bumi, beliau bersujud di sajadahnya yang sudah kusam sambil menitikkan air matanya. meski aku tak pernah bertanya tentang doadoanya di dalam shalatnya namun aku amat sangat yakin bahwa beliau tidak sedang berdoa untuk dirinya namun beribu doa dari mulutnya hanya untuk anak-anaknya.
salam sejahtera selalu untukmu ma..
semoga senantiasa sehat wal'afiat
No comments:
Post a Comment