Kalau bicara soal sahabat, mungkin semua orang punya persepsi sendiri-sendiri. Tidak tau dari sudut mana namun suatu kebebasan untuk semua individu mengatakan sahabat itu seperti apa?? Ah, aku merasa akhir -akhir ini terlalu melankolis, terlalu banyak menulis hal-hal yang sentimental namun tidak apalah yang penting menulis.
Oh iya, kepada ke sahabat tadi, kalau orang punya pemikiran tersendiri tentang sahabat maka akupun demikian. Menurutku, sahabat itu adalah sosok yang dirindukan, kita tenang saat berada di dekatnya dan tidak risau atas guyonannya dan yang utama bahwa dia tulus mendoakan kebaikan buat diri kita dan tidak pernah sama sekali iri atas pencapaian yang kita raih bahkan dia malah ikut senang.
Kalau indikasi yang ini sangat tidak empiris, hal ini sangat subjektif dan hanya bisa dirasa oleh pribadi kita masing-masing. Terkadang orang yang menganggap kita sahabat seringkali sesungguhnya menjadikan kita kompetitor bahkan selalu berusaha diatas kita walau dari mulutnya keluar beribu doa buat namun hati tidak bisa dikibuli seperti itu.
Cinta mungkin tidak lepas dari sahabat. persahabatan pasti akan berbicara tentang cinta kepada mereka. Aku ingat jelas saat masih kuliah, seorang kawan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah lagi mencari seorang sahabat, dia hanya ingin mencari seorang teman. alasannya karena trauma, pernah sekali waktu dia punya sahabat dan sudah sangat percaya terhadap sahabatnya namun dalam perjalanan persahabatannya, dia dikhianati oleh sahabatnya.
Kasus ini mungkin sangat lumrah karena dalam setiap interaksi manusia, selalu saja tidak bebas nilai, selalu akan ada kepentingan dalam sebuah interaksi dan yang membedakan hanyalah apakah kepentingannya berupa ego atau altruistik.
No comments:
Post a Comment