Setahun lamanya bermukim di Ngawi, ada begitu banyak orang yang sering kutemui, berinteraksi dengan mereka dan bercengkerama, namun hanya ada tiga makhluk yang hampir pasti kujumpai dalam sehari kecuali hari minggu. Mereka bisa dikatakan rekan kerja yang selalu dan setiap saat ada di sampingku dengan berbagai kelakar, pembicaraan serius bahkan guyonan-guyonan jayus diantara kami dan terkadang juga saling bergosip.
Praktis hanya m*ir yang seumuran denganku karena dua yang lainnya jauh diatasku. aku menyadari kami dalam ikatan kerja dan hubungan yang kami bangun pun tak terlepas dari hubungan rekan kerja tetapi terlepas dari itu semua, kembali lagi bahwa kami masih makhluk yang bernama manusia dan tentunya saja masih punya hati dan itulah yang membuat kami terjalin seperti saudara meski terkadang ada konfrontasi tapi tak apalah karena itu namanya manusia.
Ini yang pertama, dia adalah Group leader di Ngawi, asli orang Bl**r. Awal bertemu dengannya, aku tidak mengerti kalau ternyata dia adalah pimpinan, perawakannya yang putih dan kelihatan masih muda. Aku bahkan berpikir kala itu dia seumur denganku ternyata dia masih jauh lebih tua 6 tahun persis seumur dengan kakakkku yang sulung. Bahkan dia sudah punya putra 1 yang kira-kira umurnya 5 tahun
Rekan kerja yang satu ini sudah amat sangat lama bergelut di dunia marketing. dia sudah malang melintang dari kota satu ke kota lainnya di jawa Timur. Dia alumni unair jurusan sosio tahun 1996. Anaknya ada dua, putra dan putri. Pertama kali bertemu dengannya, aku malah mengira dia pimpinan Ngawi.
Kawan yang satu inilah yang amat paling sering kulihat, kurasakan bau tubuhnya atau apapun yang berhubungan dengannya karena dia seumuran denganku, bareng denganku masuk di Perusahaan bahkan sekamar selama di ngawi. Mungkin setiap pribadi ada sisi yang tidak cocok namun aku selalu berkeyakinan bahwa setiap orang yang telah menghiasi hidup kita sehar-hari adalah orang yang terbaik untuk ditemani. Kadang muncul ketidak cocokan namun itu hal yang amat sangat lumrah dalam sebuah interaksi sosial sepanjang tidak merusak hubungan pertemanan.
Bersama ketiga orang tersebut, aku merangkai hariku di Ngawi. Bercengkerama, bersama dalam beberapa perbedaan budaya karena aku dari Pulau seberang sedangkan mereka asli pribumi. Perbedaan budaya akan tetap ada namun satu hal yang pasti bahwa ketika kita masih berlabel manusia maka kebaikan tetaplah sama karena kebaikan itu universal dalam artian bahwa ketika kita mencoba menjadi pribadi yang baik maka kita akan tetap diterima di komunitas apapun meski dengan begitu banyak perbedaan budaya.
Rangkaian pengalaman-pengalaman yang pada nantinya akan membentuk sebuah susunan puzzle yang mengokohkan pendirian seseorang di masa depan. sebuah bentukan karakter yang dibangun dari berbagai pengalaman masa lalu.
Sudah terlalu banyak aku menulis tentang kebaikan, tentang hidup, tentang diri ataupun tentang yang kedengarannya filosofis namun masih saja aku seperti ini, belum banyak berbuat seperti yang aku tulis. Huh, penat juga cuma menulis namun tidak teraplikasikan.
No comments:
Post a Comment