Mungkin ini adalah titik klimaks. Semua hal yang tabu buatku ternyata terbongkar dan melebur hanya karena debu diri yang tak tahu diri. bagaimana tidak, dia hanya datang sekejap menjegalku bagai drama sepakbola yang saling tekel kemudian menguap begitu saja ketika semua telah terjadi.
Apa itu bukan namanya semu atau "absurditas", istilah yang sangat sering aku gunakan saat mahasiswa dulu. Aku bahkan harus menenggelamkan wajahku ditempat mana saja yang masih sudi menerimaku saat semua hal yang kubanggakan dan yang paling kujaga hancur berantakan bagai gelas yang jatuh ke ubin karena kesenggol bayi yang tak tahu apa-apa. menyesal...?
Jangan dulu angkuh mengatakan bahwa diriku menyesal atau tobat tanpa ingin lari ke lubang yang sama karena seringkali aku menghindari lubang tersebut dan sesering itu pula tersandung ke dalamnya dan berteriak bahwa itu jalan yang salah namun lagi-lagi kembali terjerumus.
Sudah hentikan berteriak kata tobat dan menyesal karena kata-kata adalah senjata mematikan yang akan menembakmu sendiri. sudah terlalu sering kata tobat itu menjadi amunisi penenang saat telah terjadi dan kemudian harus terulang lagi. benar-benar futur diri ini....!
No comments:
Post a Comment