Ada beberapa momen yang mungkin akan selalu kuingat di kota ini, momen itu terjadi minggu lalu secara bersamaan. Aku juga sampai sekarang belum bisa menerjemahkan apa yang menjadi hikmah dibalik kejadian itu yang pastinya bahwa kedua momen tersebut melukiskan pengalaman hidupku di masa yang akan datang entah hanya akan menjadi cerita nostalgia ataupun akan menjadi pelajaran berharga buat perjalanan hidupku. Aku selalu yakin bahwa di setiap kejadian yang aku lalui, selalu terselip makna dari Sang Ilahi untuk menjadikan kita lebih dewasa.
Momen pertama adalah tentang pembayaran dari salah satu sekolah yg tidak mau membayar tagihan sekitar 4 juta. Jelas itu membuatku shock karena jumlah uang seperti itu sangat besar dengan ukuran aku yang hanya pegawai swasta rendahan yg masih mengandalkan angkringan sebagai sandaran hidupku dan ketika harus nombok sejumlah uang sebanyak itu jelas saja membuatku shock berat bahkan hampir sejam lamanya aku mengemis di ruang ks untuk diringankan, dalam perjalanan pulang dari sekolah itu.
Kadang ku mencaci tapi kadang pula aku pasrah akhirnya kuberhenti di sebuah mesjid sidolaju dan menenangkan diri. Aku melaksanakan shalat zuhur kemudian memanjatkan satu doa saat itu semoga saja diberi jalan keluar sari masalah ini.sesaat kemudian, aku mulai tenang dan menuju jalan pulang, kuutarakan semua permasalahan ini kepada bosku, aku meminta pendapat nya dan kami sepakat mencari ganti dari TR sekolah lain. Saat kutulis masalah ini, semua sudah kelar..
Momen kedua pas setelah masalah itu. Cerita berawal ketika aku sering makan di warung yg sering kami sebut WTS (warung tengah sawah). Pemilik warung tersebut sepasang suami isteri. Aku dan teman2 kerjaku senang jajan di sana karena selain dekat dengan kantor suasananya di tengah sawah semakin membuat kami kerasan berlama-lama ngopi diwarung tersebut. Saat pagi sampai senja, isterinya yg jaga di warung dan saat malam sampai larut, bapaknya yg jaga.
Kembali ke masalah tadi, pagi sebelum masuk kerja, aku seringkali ke warung itu hanya sekedar ngopi dan makan jajan. Hari itu, saat senja, aku dan kedua temanku ngopi di warung tersebut, alangkah kagetnya aku ketika isteri pemilik warung tersebut mengomeli ku bahwa aku membayar kurang jajan yang aku makan setiap aku makan disana dan yg lebih parahnya lagi, aku dituduh merokok namun tidak membayar rokok tersebut sedangkan seingatku, terakhir aku mencoba menjadi perokok tahun 2005 silam. Aku terperangah dan hanya diam membisu sambil sesekali mengklarifikasi meski akhirnya ibu itu tidak mau tau dan tetap menuduhku seperti itu.
Akupun berlalu. Walau kutahu suaminya sangat baik kepadaku dan tetap mengajakku ke warung nya setelah mengetahui peristiwa itu. Aku hanya mengelus dada sambil berprasangka bahwa mungkin saja ada khilaf yg kuperbuat yg harus di balas seperti ini.
hpku lobet, continued....
No comments:
Post a Comment