Tulisan ini adalah titipan kedua dari gadis pesekku. Dia ingin supaya aku mengurai kebersamaan kami minggu kemarin dalam coretan blogku meski jujur bahwa aku lebih sangat senang jika seandainya dia sendiri yang menuliskannya.
Entah kenapa akhir-akhir ini dia amat gandrung terhadap tulisan-tulisan sederhana namun aku bahkan sangat senang ketika dia menyukai tulisan karena sejatinya bahwa aku adalah salah satu dari sekian lelaki yang suka pada gadis yang rajin menulis apapun itu. dan gadis pesekku kelihatan sudah mulai kembali menemukan ritme menulisnya yang secara perlahan hilang saat kuliah dimakan kesibukan tugas-tugas yang membosankan.
Dia pernah bercerita bahwa sejak dulu, dia amat sangat senang dunia tulis menulis namun hilang begitu saja sejak duduk di bangku kuliah karena tugas yang tidak ada habisnya. aku berharap semoga saja gadis pesekku kembali menstimulasi otaknya untuk rajin menulis karena percayalah bahwa tulisan tidak ada habisnya dan akan menjadi gambaran perkembanganmu dari masa ke masa maka jika engkau ingin mengukur kapasitas dirimu maka menulis lah dari masa ke masa hingga suatu masa engkau membacanya seakan membaca perjalanan hidupmu.
Kembali ke gadis pesekku yang menitipkan untuk diceritakan kebersamaan kami minggu kemarin. aku beranjak ke kotanya menghampirinya. selain untuk membunuh rindu yang sudah membuncah, aku juga ingin menemaninya mengikuti tes di salah satu instansi. siang itu, matahari sangat menyengat namun tidak menghentikan langkahku menghampirinya dengan bis MIRA.
Perjalanan dari kotaku ke kotanya hampir menghabiskan waktuku selama 5 jam karena macet yang begitu parah di akhir pekan membuatku harus menghitung mundur jarum jam untuk sampai di kotanya. macet pula yang membuatnya menunggu begitu lama di pinggir terminal. menjelang maghrib, aku akhirnya sampai di persinggahan terminal dan kutemui dirinya yang sudah menungguku di bawah jembatan. sesaat kukecup keningnya dan kurangkul dirinya, kami berdua beranjak mencari mesjid karena dia belum menunaikan shalat.
Sesaat setelah menunaikan shalat, kami membela kota pahlawan yang sudah mulai remang-remang dimakan senja, pesekku terus saja memelukku diatas motor tanpa sekalipun ingin melepas pelukannya. Aku membawa motor dengan begitu pelan karena kendaraaan yang begitu amat padat di kota ini. tepat di dekat kos, kami singgah mengisi perut di sebuah warung penyetan.
Aku dengan lahap menghabiskan makananku kemudian menyeruput secangkir es teh. setelah perut kami mulai kenyang, beranjaklah kami ke kosnya pesekku. Di ruang tamu kosnya pesekku, kami melepas rindu, sesekali bercanda, sesekali kami melepas kecupan di jidat masing-masing, kadang kupeluk dia dari belakang kemudian kukecup lehernya dengan mesra, bau kami bersatu dan baunya yang tidak asing lagi bagiku. kurangkul dia dengan erat sambil mengecup pipinya. dia seakan tidak ingin melepas pelukannya dariku. kami begitu amat dekat malam itu dan tidak ada lagi yang tertutupi hingga larut malam mengharuskan kami berpisah untuk sementara .
Esok hari, kujemput dia kemudian kuantar ke tempat tes. kutunggu dirinya selama dia tes di sebuah warung, saat senja menyapa, barulah dia selesai tes. Kami berdua beranjak mencari warung karena belum mengisi perut sejak dari pagi. saat senja sudah mulai berlalu, aku dan pesek kembali ke terminal beranjak ke kotanya menjemput malam. kami berdua duduk bersebelahan di atas bis, sesekali dia merebahkan kepalanya di pundakku dan sesekali memelukku.
Bis terus saja melaju menuju kota kelahirannya. aku terantuk-antuk saat tidur lelap dan ternyata dia sama sekali tidak tidur, hanya mengamatiku saat aku tidur di bis, mungkin saja dia ingin menjagaku hingga dia memutuskan untuk tidak tidur.
Akhirnya bis memasuki terminal kota kelahirannya, kami menumpang bis ke rumahnya di sebuah perumahan dalam kota, malam yang larut membuatku harus menumpang tidur di rumahnya. aku tidur di sofa namun tak masalah buatku karena memang aku sudah terbiasa tidur dimana saja. saat aku mulai memejamkan mataku, gadisku selalu saja keluar dari kamar memastikan diriku, dia mengecup bibirku lalu merangkulku kemudian masuk kamar kembali, lagi-lagi hal yang sama dilakukannya, keluar kamar membelai rambutku lalu mendaratkan kecupannya di pipiku hingga beberapa kali.
Pagi datang menyapa, dia sudah membangunkanku, memijit betisku yang lumayan pegal seharian berjalan lalu kemudian menghadiakan kecupan di pipiku. membisikiku supaya bangun menunaikan shalat. pagi semakin terang, dia lalu mengantarkanku ke terminal untuk kembali ke kotaku, kebersamaan kami kembali dipisahkan oleh waktu yang cepat berlalu.
No comments:
Post a Comment