March 21, 2020

Kepemimpinan

Lima tahun bergabung di Perusahaan ini setidaknya sudah memberikan saya pengalaman menjadi seorang bawahan dari empat sosok pimpinan yang berbeda karakter. pimpinan tertinggi dalam struktur unit kerja yang langsung berhubungan dengan pekerjaanku sehari-hari. perbedaan karakter mewarna gaya kepemimpinan masing-masing. 

Sebenarnya tidak ada yang salah atas gaya kepemimpinan yang berbeda hanya saja jika kepemimpinan sudah berubah arah menjadi terlalu tendensius untuk kepentingan pribadi maka perlu diinterupsi apatahlagi Perusahaan ini bergerak di bidang jasa yang tentunya fokus pada kepuasan customer. 

Ini beberapa pemimpin yang kualami sejak di Perusahaan ini. saya yakin bahwa penjelasan ini akan sangat subjektif sesuai penilaianku namun di belahan dunia mana sih sesuatu tidak subjektif jika seseorang memberikan penilaiannya.

Tahun pertama bergabung, saya dibawahi oleh seorang pimpinan yang menurutku wibawa sebagai pemimpin sudah ada. dia seorang yang terkesan tegas dan tidak pandang bulu, berani dan blak-blakan. hanya saja menurutku dia terkadang sering meremehkan seseorang yang tidak disenanginya, terlalu sering menceritakan negatif orang lain di belakang. ini sangat aneh karena orang yang blak-blakan biasanya tidak suka memendam perasaan. overall, dia tidak pernah memarahiku secara langsung namun juga saya bukan bawahan yang dia senangi. intinya jiwa kepemimpinannya sangat kuat hanya saja dia setidaknya bisa menahan diri untuk tidak terlalu banyak bicara apalagi untuk hal-hal yang tidak perlu bahkan tidak memandang siapa lawan bicaranya. Pemimpin yang kedua adalah anti tesis dari sosok pertama.

Teori tentang Pemimpin dan kepemimpinan sudah seabrek. tinggal kita bagaimana mengambil hikmah dari semua teori yang sudah berserakan atau jangan-jangan bukan pertanyaan bisa atau tidak bisa mengambil hikmah namun lebih pada pertanyaan mau atau tidak mau mengambil hikmah, karena ketakutan akan status quo atau perasaan ego untuk dihargai sebagai seorang Pemimpin.

power sindrom...!!

Begitu banyak Pemimpin yang seperti itu. jabatannya mengekang dirinya dan menguasai kepribadiaannya tanpa sadar bahwa karakter yang dipertunjukkan sangat artifisial yang sama sekali tidak membuat bawahannya terkesan yang ada bahwa bawahannya menerterwakan kejenakaannya.

Pemimpin yang baik tidak harus berteriak bahwa dia seorang Pemimpin untuk dihormati namun Pemimpin yang disegani adalah yang bekerja dengan sepenuh hati dan memperlihatkan kepada bawahannya tentang realitas pekerjaan yang sebenarnya, bukan malah sibuk melakukan pencitraan sebagai seorang atasan yang tak tahu arah memimpin.

atau jangan-jangan untuk menutupi ketidakmampuan memimpin..?

mungkin saja, selalu muncul hipotesi-hipotesis sebagai anggapan dasar terhadap perilaku yang agresif.

Pemimpin, jabatan yang tak lekang waktu karena sejatinya kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.

January 16, 2020

OTS #

Kali kedua menginjakkan kaki di pulau Borneo, namun kali ini Borneo bagian timur yang lebih dekat dengan Sulawesi dan mayoritas pendatang berasal dari sana sehingga saya tidak merasa asing di daerah ini. bahasa yang digunakan hampir dengan bahasa native saya sehingga serasa pulang kampung.

Perjalanan perdana di tahun 2020 memang terasa berkesan apatahlagi daerah yang belum pernah dikunjungi. meski demikian, sehari sebelum keberangkatan yang sudah ditentukan, saya sedikit was-was saat menonton berita dan ternyata kota ini dikelilingi banjir yang tidak main-main tingginya, ada yang hampir sepaha orang dewasa bahkan pada puncak banjir, akses jalan ke bandara tidak bisa dilewati. untungnya siang hari saat berangkat, langit nampak cerah seakan merestui perjalanan saya kali ini, tidak ada setitik awan yang menandakan akan turun hujan.

Saya berangkat dari ibu kota jam setengah 3 sore dengan menumpang pesawat batik air. pesawat lumayan penuh. jarak tempuh perjalanan via udara sekitar 2 jam persis sama dengan jarak tempuh ke kampung saya. sesampai di Bandara, saya menemukan cuaca yang cukup cerah sehingga mengurangi kekhawatiran saya akan terhalang banjir ke tempat menginap. oh iya saya sudah memesan hotel Violand di bilangan jalan Ahmad Yani dengan pertimbangan karena dekat dengan kantor.

keluar dari bandara, seperti pada umumnya di bandara lain, bejibun sopir taxi menawari kami dengan berbagai macam rayuan maut. saya menjatuhkan pilihan pada salah seorang sopir paruh baya yang kemudian saya ketahui lebih muda dari pada saya ketika banyak berbincang di atas mobil padahal kesan pertama saya, dia mungkin sudah berumur 40 tahun.

Perjalanan ke hotel sekitar 40 menit dengan jalanan yang hampir sama dengan medan jalan di kampungku. naik turun bukit.

Kami tiba hotel sehabis maghrib dengan sebuah hotel yang sangat jauh dari ekspektasi yang diharapkan. saat memesan hotel via traveloka, gambarnya lumayan bagus dan nampaknya akan menyenangkan menginap di hotel tersebut namun ide selalu menyalahi realita. kebersihan tidak dijaga, bau menyengat dari kamar mandi, handuk yang sudah berwarna coklat pun demikian seprei yang sepertinya meninggalkan noda. Esok hari, kami memutuskan pindah ke hotel Amaris. hotel yang lumayan untuk ditinggali selama 6 hari.

Selama 6 hari di kota ini, saya memandangi banyak hal. hiruk pikuk kota yang sebentar lagi menjadi bagian dari ibu kota negara. penataan kota yang belum terlalu baik apatahlagi kota ini dipenuhi sungai yang menyebabkan kota ini sangat rawan banjir dan diperparah dengan hutan di sekelilingnya yang sudah dihabisi para penambang.

Selasa pagi, banjir akhirnya benar-benar datang setelah sebelumnya diguyur hujan. banjir di kota ini tidak tanggung-tanggung bahkan ada yang sampai sepaha. sebagian besar kota ini dilanda banjir yang menyebabkan saya tidak bisa mengeksplorasi sudut-sudut kota secara detail.

sampai sabtu pagi saat hendak pulang, kota ini masih digenangi air banjir bahkan hampir saja saya tidak bisa pulang karena akses ke arah bandara sudah banjir di daerah terminal.

December 31, 2019

2020

2019 selangkah lagi akan berlalu kemudian melangkah ke halaman berikutnya, 2020. sebuah perjalanan waktu yang secara positivistik sebenarnya sangat lama namun secara afeksi hanya berlalu dalam sekedip mata. begitulah perkembangan manusia sampai pada ujungnya nanti bahwa kalkulasi angka-angka selalu dinegasikan dengan perasaan yang ada dalam diri manusia, itulah sebabnya hidup ini tidak melulu tentang pengetahuan posivistik bahkan mungkin sesuatu yang tidak bisa dikalkulasi selalu lebih dominan. toh Tuhan juga tidak suka jika kita terlalu kalkulatif dalam hidup karena Dia punya rumus sendiri, kalau tidak percaya, coba pelajari lagi konsep sedekah - lain soal jika kalian tidak mempercayai konsep Ketuhanan berserta sistematika semesta yang berjalan sesuai instruksiNya- yang mana ketika seseorang bersedakah, uangnya berkurang secara matematis namun bertambah secara nilai. entah itu perasaan senang karena sudah membantu orang lain atau bahkan memang jika percaya bahwa sedekah akan membawa berkah misalnya ketika kita membutuhkan sesuatu, maka selalu ada jalan. Tuhan menyiapkan sesuatu yang kita butuhkan.

Saya kadung terbiasa menulis sesuatu di akhir tahun yang saya inginkan terjadi di tahun berikutnya meskipun semua tidak terealisasi. namun paling tidak, dalam beberapa tahun terakhir, selalu ada perubahan besar dalam setiap tahun minimal satu momen.

Tahun ini, momen yang menurutku lumayan signifikan adalah saya melanjutkan sekolah. sesuatu yang sebenarnya beberapa tahun sudah saya impikan namun baru terwujud tahun ini sedangkan di tahun sebelumnya, saya menempati rumah yang dicicil. selalu ada hal yang membahagiakan setiap tahunnya.

Tidak terlalu banyak harapan yang kuinginkan di tahun depan namun paling tidak beberapa resolusi tahun-tahun sebelumnya bisa terealisasi di tahun depan. kemudian volume bacaan bisa meningkat paling tidak 4 buku sebulan mengingat saya harus memaksa diri untuk membaca, selain memang sebuah kebutuhan, saya juga membutuhkan sebagai referensi di kampus. kemudian saya berharap ada gawean anyar yang bisa terjadi di tahun depan. semua hal-hal baik selalu saya harapkan termasuk kesehatan keluarga.

Tulisan juga harus diperbanyak untuk melatih kemampuan menulis sebelum menghadapi karya tulis akhir. semua harus dibiasakan untuk bisa mencapai hasil yang maksimal.

Amin Ya Allah

Kebagusan, 31-12-19, 21.39 Wib

December 22, 2019

Macea

Rumah,
sanubariku terenyuh setiap kali melintasi semua kenangan.
manusiawi,
mungkin iya.
kepada siapa aku mengharapkan waktu membawa semua serpihan memori yang terserak, tertinggal nun jauh waktu yang lampau dan ruang yang terbentang

Ibu, rinduku padamu. 
klise,
mungkin iya,
tetapi tak ada satupun yang berani menggerus semua rasaku pada dirimu, tak ada bahkan semesta mengamini.

setelah itu, 
aku hanya ingin memelukmu, dalam hening yang dicengkeram malam

Ibu, 
aku hampir kalah,
bertarung tak berujung di kota ini. pertarungan tanpa tujuan yang hanya berakhir pada sisasisa energi yang terkuras.

Ibu,
sanubariku ingin bertanya padamu, 
kemana semua arah ini akan berujung

setelah itu,
aku hanya ingin mengecup keningmu yang mulai mengeriput.

Hari Ibu
22 12 2019

December 19, 2019

Being a Role Model

Dua kali saya memutuskan resign dari sebuah Perusahaan dengan alasan yang hampir saja, ada unsur pekerjaan yang tidak mampu saya kompromikan dengan prinsipku sehingga membulatkan tekadku untuk menyatakan bahwa saya harus meninggalkan pekerjaan tersebut. bagiku, prinsip adalah sebuah hal yang tidak bisa ditawar dengan apapun dan apa saja yang bertentangan dengan prinsip maka yang harus dimenangkan adalah prinsip, jangan pernah menawar akan hal itu.

Now, I'm having that moment like before. my job have any situation that makes me compromise with an ideal things.
Saya tidak pernah membayangkan akan bekerjasama dengan seorang Supervisor yang sudah sangat senior namun dengan karakter seperti staf bahkan lebih dari hal tersebut, dia sepertinya menggunakan wilayahnya menjadi interest personal. sesuatu yang menurutku sangat norak dengan posisi yang seperti itu. 

here is some of what he done when I gone to do a job in  Paid acomodation by his akun online to get some cashback even just 2 hundred thousand.

December 18, 2019

Sadar Diri

Saya menyimpan sebuah file ceramah Cak Nun tentang mengukur makanan yang masuk ke dalam diri. intinya bahwa kita harus selalu memperhatikan apa saja yang masuk ke dalam tubuh karena akan menjadi anasir yang bercampur dengan darah dan menjadi tulang belulang. nasehata Cak Nun tersebut seringkali saya dengarkan di kantor ketika waktu luang.

Di lain hal, saya benar-benar menjadi anomali karena pada banyak waktu, saya sering menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, lebih parahnya dua bulan terakhir. bahan kuliah sering saya download di kantor bahkan waktu kerja seringkali saya gunakan untuk mengerjakan tugas kulah.

Meski bukan sari makanan yang saya masukkan ke dalam tubuh melalui hal yang tidak baik menurut Cak Nun namun menurut perenungan saya bahwa selama ini, saya tidak berhati-hati dalam memilih sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. menggunakan fasilitas kantor untuk mendownload bahan bacaan atau menggunakan jam kerja mengerjakan tugas kuliah merupakan sesuatu yang seharusnya tidak saya lakukan. memperoleh pengetahuan yang terdapat di dalamnya cara yang tidak baik, kemungkinan tidak berkah.

saya harus memulai untuk mengukur kembali diri. sadar akan posisi dan sadar akan ruang dan waktu untuk lebih bijak dalam banyak hal. saya memutuskan untuk menghapus data bahan bacaan yang saya download di kantor dan berusaha untuk tidak menggunakan jam kerja mengerjakan PR kuliah. paling tidak jika waktu istirahat, saya bisa menggunakannya untuk mengerjakan tugas.

Hidup memang tentang perenungan dan kontemplasi yang tak berujung. semua langkah harus diukur dengan kepantasan sesuai dengan nilai yang dianut. saya menganut nilai ajaran agama saya yang mengatur tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. kantor tempat saya bekerja telah mengatur bahwa saya digaji 8 jam mulai dari jam 8 sampai dengan jam 5 dipotong istirahat 1 jam dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sudah diatur dengan jelas. maka dari itu, jika saya ingin melakukan sesuatu yang sifatnya pribadi maka saya punya waktu 1 jam yang diperuntukkan untuk istirahat.

Sebenarnya tidak menjadi menjadi idealis namun fokusnya bahwa saya mempunyai anak isteri yang setiap hari saya doadakan untuk dihidarkan dari sesuatu yang sifatnya haram bahkan yang syubhat sekalipun, nah jika saya sendiri tidak mengukur diri maka bagaimana saya bisa menjadi anak isteri saya.

18 12 19

November 26, 2019

Aspire E1-422

Cara masuk Bios

  1. Tekan Ctrl+Alt+Del. ketika sudah muncul logo Acer, langsung tekan F2 untuk masuk ke Bios
  2. setelah masuk Bios, arahkan ke "main" dan ubah jam dan tanggal menggunakan enter
  3. Setelah itu, arahkan ke "boot" dan ubah Boot Mode dari UEFI ke Legacy dengan cara menekan enter
  4. Tekan F10 untuk save dan Exit

November 24, 2019

OTS #21

Saya sangat bergairah untuk melakukan perjalanan kali ini, hal ini karena daerah yang akan saya tuju merupakan 1 dari sekian daerah di sumatera yang belum pernah saya kunjungi. saya memang menyukai mengunjungi sebuah daerah meski saya menyadari bahwa semua daerah di Indonesia tidak memiliki perbedaan yang signifikan. saya pernah ke ujung timur negeri ini, saya juga sudah sampai di titik 0 paling barat namun semua sama saja, tidak ada perbedaan yang signifikan. 

Perjalanan kali ini hanya ditempuh sekitar 1 jam dengan pesawat. saya memilih bandara Halim karena tidak terlalu jauh dari rumah sehingga tidak membutuhkan waktu lama dari rumah ke Bandara. benar saja, meski pesawat yang saya tumpangi berangkat jam 4 namun saya baru berangkat dari rumah ke bandara pukul 14.20 WIB. saya tiba di Halim tepat pukul 15.00 WIB, sebuah waktu dari rumah ke bandara yang sangat singkat, hampir mustahil melakukan hal yang sama jika saya berangkat dari Cengkareng.

Pesawat delay setengah jam. kami tiba di bandara Fatmawati Soekarno pukul 17.50 WIB. saya langsung memesan taxi bandara sesaat setelah keluar dari kedatangan. harga tiket RP. 80 ribu dari bandara ke hotel Cordela yang berada di tengah kota dengan jarak sekitar 20 km dengan waktu tempu setengah jam. 

Perjalanan ke kota tidak terlalu padat dengan pemandangan yang hampir sama pada semua daerah di sumatera. pemandangan sepanjang jalan dipenuhi dengan perumahan penduduk dan sesekali kita akan mendapati kebun kelapa sawit.

Maghrib telah lewat setelah saya tiba di hotel. perkiraan saya tentang hotel Cordela tidak meleset. hotel yang didesain mini dan nampak seperti ruko kemudian saya dapat info dari teman bahwa memang sebelumnya hotel tersebut adalah ruko yang baru diubah dua bulan lalu.

Kantor saya di kota ini hanya sekitar beberapa meter saja dari hotel sehingga saya tidak perlu terburu-buru tiap pagi apalagi di kota ini, kehidupan seperti melambat. semua orang tidak seperti dikejar anjing tiap berangkat kerja. hidup bagaikan di kampung sendiri.

tidak banyak tempat yang saya kunjungi selama 5 hari di kota ini, hanya pernah mampir di pantai panjang, melihat rumah ibu fatmawati dan masjid besar di kota ini, At Taqwa. selain itu, saya hanya mengunjungi beberapa tempat makan yang menurutku sangat khas sumatera dengan dominasi santan pada setiap makanan.

Jum'at sore, saya sudah harus pulang. dengan begitu, saya sudah mengunjungi sebagian besar kota di Sumatera. melihat sisi kehidupan mereka dan merasakan denyut kehidupan di kota mereka. selain itu, belajar bahwa hidup adalah perjalanan untuk belajar.

24 11 19

October 18, 2019

OTS #20

ini kali kedua saya menginjakkan kaki di kota ini. dua tahun lalu tepatnya bulan Juli, saya sudah pernah ke sini dengan tujuan yang sama, pekerjaan kantor. kota yang mungkin sangat akrab di telinga saya karena ketika pulang ke Madiun, kereta pasti akan berhenti sekitar 30 menit di stasiun kota ini. kota yang sebagian dipengaruhi jawa barat dan sebagian tawa timur pada secara geografis, kota ini berada dalam wilayah jawa barat.

Saya berangkat dari Gambir hari minggu sore, tiba di Cirebon sekitar setengah 9 malam. sesaat setelah turun dari kereta, saya menuju warung makan empal gentong yang berada tepat di depan stasiun. warung ini juga menjadi pelepas lapar dua tahun lalu saat pertama kali ke kota ini.

saya memesan 1 porsi empal gentong dengan segelas lemon tea hangat kemudian dua telor asin. mengenang pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dengan makan di tempat yang sama. setelah melahap makanan yang saya pesan, lemon tea masih tersisa banyak di gelasku. saya menuangkan ke bekas botol dan memasukkan ke tasku.

saya memesan ojek online menuju ke hotel tempatku menginap. hotel Dewanti yang sangat murah menurut perhitunganku dengan harga kurang dari 300 ribu per malam. letak hotelnya sekitar 5 km dari stasiun. ojek online membawaku ke hotel melalui jalan utama. melewati bekas kantor lama.

sesampai di hotel, saya mencium aroma hotel dengan desain kuno. hotel ini sebenarnya baru namun konsepnya lawas. desain kamarnya pun seperti hotel lama.

saya hanya semalam menginap di hotel ini kemudian memilih untuk pindah ke hotel Amaris sebagai pertimbangan karena hotel tersebut dekat dengan kantor yang bisa dicapai hanya dengan jalan kaki sekitar 5 menit.

selama 5 hari di kota ini, saya hanya mengitari jalanan sekitar kantor. tidak banyak sudut kota yang saya eksplorasi karena waktu yang mepet dan saya harus menyelesaikan tugas kantor dalam waktu yang mepet. rutinitasku hanya seputar pagi ke kantor, siang keluar makan kemudian sore pulang ke hotel lalu kemudian malam keluar makan.

Jumat sore jam 6, saya sudah harus pulang ke jakarta.

Oktober 2019

October 12, 2019

Minggu Ke-IV Kuliah di UP

 Seperti minggu-minggu sebelumnya, saya agak terburu-buru berangkat ke kampus pagi ini. Bagaimana tidak, jam 7 kurang 15 menit yang berarti bahwa saya hanya butuh maksimal 15 menit menempuh perjalanan dari rumah ke kampus dengan jarak sekitar kurang lebih 10 km. Untungnya, sepanjang jalan dari Buncit ke Mampang agak longgar di hari Sabtu.


Saya mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kencang. Tidak ada hambatan yang berarti sehingga saya tiba di parkiran kampus tepat jam 7 lebih 1 menit. Ini berarti bahwa kemungkinan besar dosen belum masuk kelas. benar saja, ketika saya masuk di ruangan A.207 lantai 2, Bu Direktur sebagai dosen pengampu belum datang, saya hanya menjumpai beberapa teman yang sedang bercengkerama di kelas sambil mengakrabkan diri dengan yang lain. Memang kelas ini sangat unik karena di pertemuan ke-4, kelas ini serasa belum cair bahkan saya sendiri belum mengenal semua teman sekelas bahkan di antara semua teman perempuan, hanya 1 yang saya kenal namanya karena dia ketua kelas, yang lain hanya kenal muka. haha.

Sekitar 15 menit kemudian, dosen Pengampu mata kuliah nongol di kelas dengan menenteng laptop. Sambil tergopoh-gopoh, dia minta maaf karena sedikit terlambat. Dia berdalih bahwa sudah datang sebelum jam 7 namun karena kebiasaan ngopi di pagi hari membuatnya harus menuntaskan rutinitasnya sebelum masuk kelas. Dia lulusan S3 Jerman, sudah 2 pertemuan menggantikan Pak Freddy sebagai dosen di mata kuliah Diplomasi.

Kali ini, dia menjelaskan tentang paradigma Liberalisme dan Konstruktivisme. saya belum pernah membaca tulisan-tulisannya di media namun menurut bisik-bisik dari teman bahwa si dosen sangat Konstruktivis dalam berbagai banyak hal. Entahlah, saya harus membaca tulisannya sebelum memahami bagaimana dia dikenal sebagai seorang Konstruktivis.

Di pertengahan kuliah, saya bertanya sedikit tentang bagaimana posisi kita sebagai individu memandang fenomena melalui kacamata paradigma. Apakah kita hanya sebagai pengamat yang memandang isu dengan kesesuaian paradigma yang ada ataukah kita harus menarik garis untuk berpihak pada salah satu paradigma sebagai tanggung jawab moral untuk memandang fenomana, karena jika kita hanya memandang fenomana sebagai seorang pengamat maka ilmu seakan sangat bebas nilai? 
Dia menjelaskan bahwa paradigma digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi sesuai dengan pandangan paradigma yang ada. Contohnya paradigma Liberalisme sulit menjelaskan peristiwa ketika USA menginvasi Irak karena menurut Liberalisme bahwa negara harus bekerja sama namun kenapa masih ada perang.

Setengah 10, dia menyelesaikan kelas hari ini. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk istirahat yang akan dilanjutkan dengan mata kuliah Metode Penelitian dalam HI yang dipandu oleh mas Ben di ruang A201.

Tepat jam 10, dia sudah masuk di kelas. Kali ini dia tidak terlalu banyak menjelaskan tentang paradigma sebagaimana pertemuan sebelumnya. Dia lebih banyak mengeksplorasi Reading Skill. Dia menjelaskan banyak hal tentang membaca bukan sebagai sebuah kesenangan namun sebagai sebuah passion.

Kelas mas Ben juga bubar lebih cepat dari biasanya sehingga kami punya banyak waktu isitirahat sebelum dilanjutkan dengan mata kuliah Ekonomi Pasar yang dipandu oleh pak T.

Jam 1 siang, kuliah si dosen sudah dimulai. Sebenarnya beliau tidak terlalu membosankan dalam proses belajar namun saya selalu tidak berhasil mengalahkan rasa kantuk yang menyerang di jam tidur siang. Beberapa kali saya menguap untuk tetap menahan mata agar tidak tertidur.

Pak T sering menjelaskan mekanisme ekonomi yang dipengaruhi oleh politik dari hal-hal kecil. Beliau menarik kita ke dalam logika sederhana bagaimana menahan laju kapitalisasi ekonomi yang sangat pesat. Misalnya saran untuk menanam apa saja yang bisa ditanam di dekat rumah, memelihara ayam atau hal sederhana lainnya yang membuat kita berdaulat atas diri sendiri.

Pak T mengakhiri kuliahnya setengah 4 kurang 15 menit, ini berarti pertarungan saya dengan rasa kantuk berakhir.

Universitas Paramadina, 12 Oktober 2019

September 24, 2019

Persoalan Moral di Kantor

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi panjang lebar dengan salah seorang kolega di kantor. permasalahan sederhana sebenarnya dan sudah sering digaungkan namun tidak pernah saya tanggapi. hanya saja momen saat itu tepat dengan keadaan sehingga saya butuh meresponnya dengan berbagai alasan yang menurutku rasional dan saya bisa pertanggungjawabkan berdasarkan regulasi di kantor dan secara moral yang saya yakini.

Jadi awalnya, saya berniat mengajukan surat over time dan pada saat yang sama, rekan saya tersebut bersuara, entah serius atau bercanda, bahwa dia tidak masalah siapapun yang lembur sepanjang bisa dipertanggungjawabkan di hari kemudian. track recordnya, dia memang menjadi rekan yang paling menentang over time entah dengan alasan apa.

Saya yang sedang dalam mood yang ingin berdiskusi langsung menyambar perkataannya. saya mengeluarkan semua isi kepala yang selama ini saya yakini. dengan detail saya katakan padanya tentang sikap saya terkait over time:
  1. Saya tidak ada urusan dan tidak akan campur tangan siapa pun yang ingin mengajukan over time sepanjang dia mengikuti alur regulasi yang berlaku di Perusahaan ini. misalnya surat pengajuan Over time ditandatangani oleh Kepala Bagian maka hal tersebut sudah tidak ada masalah.
  2. Terkait asumsinya yang yang menjurus ke arah moralitas bahwa terkadang di jam kerja tidak dimanfaatkan oleh si karyawan namun di luar jam kantor mengajukan over time. menurut saya bahwa hal tersebut tidak relevan diurusi oleh sesama staf karena fungsi kontrol ada di Kepala bagian.
  3. Terkaik klaimnya bahwa dia khawatir jika di akherat dihisab atas over time yang tidak pantas. saya menimpali bahwa wilayah moralitas sama sekali bukan wilayah kontrol sesama staf. semua karyawan sudah punya pengendalian dirinya terkait wilayah moral apa yang pantas atau tidak pantas.
  4. Jika ingin melakukan masuk pada wilayah moral maka seharusnya dibuat regulasi yang bisa diukur, sehingga jatuhnya tidak subjektif, misalnya dia merasa bahwa ada staf yang pada jam kerja mengerjakan kepentingan pribadi namun di jam kantor mengajukan over time maka seharusnya jika ingin mengukur hal tersebut, ada regulasi bahwa staf harus melaporkan apa yang dikerjakan pada jam kerja.
Main Game

Tidak, saya tidak sedang mengerdilkan seseorang yang ingin menjadikan wilayah moral sebagai alat kontrol di kantor namun menurut saya bahwa lebih bijak jika pegangan kita dalam melakukan kontrol adalah regulasi yang bisa ditakar dan bisa dipertanggungjawabkan secara tertulis. di regulasi dijelaskan apa yang harus dikerjakan dan sanksi apa yang diberikan jika tidak dikerjakan bukan memvonis niat seseorang dengan nilai yang sangat subjektif.

Persoalan moralitas seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing dan dijadikan kontrol bagi di sendiri.

Dunia pekerjaan adalah dunia tempat manusia yang sudah mempunyai kehendak bebas dan tidak sudi diperlakukan seperti manusia yang baru belajar nilai. saya yakin bahwa setiap orang di dunia kerja membawa nilai diri masing-masing dan tidak perlu dipersinggungkan dengan nilai orang lain.

Self reminder agar lebih bijak dalam menegur seseorang.
24 September 2019

September 7, 2019

Menua

Tidak ada omong kosong kali ini. semua sudah menghilang oleh harapan-harapan yang tidak terwujud karena ulah sendiri. masih banyak harapan sebelumnya yang harus diwujudkan tanpa harus menata harapan yang baru. saya khawatir membuat harapan baru kemudian mengingkarinya lagi seperti sebelumnya. lebih baik saya berdoa atas apa-apa yang terbaik yang sedang saya jalani sekarang. 

Umur yang sudah semakin menua namun kualitas diri tak kunjung berkembang. masih berkutat pada hal bendawi yang sesungguhnya bukan tujuan akhir namun melawan nafsu sungguh berliku, kadang memenangkan perlawanan nafsu namun seringkali tunduk akan iming-iming nafsu duniawi yang melenakan. meski sesungguhnya sudah paham bahwa khayalan akan duniawi layaknya fatamorgana yang ketika didatangi sesungguhnya tidak ada. jadi seperti apa sesungguhnya yang harus dijalani? 

Saya akan berusaha menjalani sesederhana apa yang ada di depanku. kuliah lagi yang akan dimulai minggu depan dan tetap berharap semoga berjalan lancar dan baik. meski secara spesifik, subjek yang saya pilih bukan merupakan ilmu agama namun saya tetap percaya bahwa semua ilmu itu akan bermuara pada satu, "Tiada Tuhan Selain Allah."  

Pekerjaan yang sedang saya jalani akan saya tekuni dengan sebaik-baiknya. jika memang pada akhirnya pekerjaan ini masih mengandung sesuatu yang syubhat atau bahkan haram dari sisi mana pun maka saya sangat berharap Allah swt akan menuntun saya pada satu titik di mana saya bekerja untuk sesuatu yang halal menurutNya. toh terlalu lelah untuk mengejar sesuatu yang bukan karena Dia.

Seringkali kita membaca atau mendengar kisah seorang yang sebelumnya ateis, agnostik atau siapa pun yang menafikan adanya Tuhan namun kemudian pada akhirnya menemukan Hidayah dari Allah swt. saya yakin bahwa mereka itu tetap belajar dengan tujuan ingin tahu kebenaran. sebaliknya, mungkin kita pernah mendengar maupun membaca kisah seorang yang sudah menghabiskan sebagian hidupnya untuk belajar ilmu agama namun pada akhirnya jauh dari Allah. perkiraan saya, selama proses belajar, mereka tidak sedang mencari kebenaran hakiki, entah mungkin tujuannya bukan Allah. 

Hidup yang semakin menua dan di umur yang seharusnya sudah matang dalam banyak hal, saya berharap Allah memberikan saya kekuatan hati untuk konsisten dalam kebaikan-kebaikan kecil bertujuan mencari ridhaNya. 

Sekali lagi, saya tidak berharap banyak untuk hal-hal apa pun selain harapan semoga Allah menemani saya dalam setiap menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah, selain itu, hanya harapan kesehatan lahir dan batin untuk anak isteri dan orang tua dan mertua.

7 sep 2019

July 20, 2019

Tentang Batasan

Saya mulai membiasakan diri untuk selalu berada di dalam garis, dalam bidang apapun itu namun saya selalu menarik garis sebagai batasan untuk setiap apa yang boleh atau tidak bileh saya lakukan bahkan untuk hal-hal yang remeh sekalipun. misalnya dalam hal makan. sejak dua bulan belakang, saya membatasi diri untuk menyantap makanan yang mungkin sebelumnya menjadi kegemaranku bahkan saya selalu berusaha menakar perut saya untuk urusan makanan. isteri saya terkadang mengingatkan untuk makan namun selalu saya timpali bahwa ukuran makan ada di perutku dan batasannya pun sudah saya gariskan. ini bukan perkara diet sekedar untuk menurunkan berat badan namun lebih dari hal itu bahwa batasan itu saya coba diterapkan dari hadist:.

"Cukuplah bagi bani Adam makanan yang dapat menegakkan tulang rusuknya kalau tidak boleh tidak (harus memenuhi perutnya) hendaklah 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk nafasnya"

Bukan sebuah kebanggaan namun di beberapa doa yang kulafalkan, saya sering menyelipkan permintaan agar Allah swt menjaga saya, anak isteri dan keluarga lainnya dari makanan yang subhat dan haram. agak klise karena sering memang karena sudah sangat sering kita mendengar ceramah tentang makanan yang haram akan merusak sendi kehidupan namun saya sangat percaya akan hal tersebut. makanan adalah salah sebagian faktor dan pertumbuhan fisik dan batiniah manusia sehingga makanan menjadi elemen penting untuk diperhatikan.

Pekerjaan sebagai karyawan swasta membuat saya harus ekstra hati-hati untuk memilah mana menjadi hak saya dan yang bukan hak apatahlagi saya sebagai Auditor yang saban bulan harus melakukan perjalanan dinas dengan sistem reimbursment. sebelum berangkat, saya dibekali uang kas sebagai bon yang dipergunakan selama perjalanan sampai selesai tugas dengan batasan yang sudah diatur di regulasi. 

Beberapa hal yang mungkin sebisa mungkin saya hindari dari penggunaan bon tersebut misalnya belanja makanan ringan termasuk kopi kemasan dalam jumlah banyak dengan niat setelah selesai audit, kopi atau jajanan lain masih tersisa dan dibawa pulang. menyelipkan biaya yang seharusnya tidak diperbolehkan seperti laundering. membeli oleh-oleh menggunakan bon. uang dinas yang dilebihkan dari yang seharusnya dan sederet hal remeh teme yang sering luput dari pengamatan.

Selain yang tersebut di atas, saya juga menakar diri tentang uang over time. sejatinya saya bisa dengan leluasa menambah penghasilan dari over time namun kesadaran diri terkadang membuat saya harus menakar kembali bahwa sejauh mana tanggung jawab moral terhadap isteri dan anak yang harus saya nafkahi. apakah memang benar bahwa over time adalah sebuah kebutuhan atau sudah menjadi kebutuhan demi tambahan penghasilan. kembali lagi bahwa seharusnya saya bisa merevisi apa yang saya lakukan di kantor sebagai sebuah karya. jika tujuannya adalah karya maka akan saya jalani namun jika tujuan utama adalah uang maka saya harus berani untuk bersikap, siapapun yang akan menjadi benturan saya.

Saat ini yang menjadi soal bagaimana mengekspresikan itu semua untuk menghindari stigma dari teman sejawat bahkan dari Supervisor sendiri yang nampaknya terkadang mengamini hal seperti itu dengan pengalaman yang sudah saya alami. celakanya, saya menjadi korban cerita dari ketidakhati-hatian tersebut sehingga mengganggu komitmen saya untuk menjaga integritas. hal yang saya agung-agungkan dalam memulai pekerjaan sebagai karyawan.

semoga diberikan jalan terbaik menurut Sang Pemberi Solusi.

20 Juli 2019. 09.56 WIB