Lima tahun bergabung di Perusahaan ini setidaknya sudah memberikan saya pengalaman menjadi seorang bawahan dari empat sosok pimpinan yang berbeda karakter. pimpinan tertinggi dalam struktur unit kerja yang langsung berhubungan dengan pekerjaanku sehari-hari. perbedaan karakter mewarna gaya kepemimpinan masing-masing.
Sebenarnya tidak ada yang salah atas gaya kepemimpinan yang berbeda hanya saja jika kepemimpinan sudah berubah arah menjadi terlalu tendensius untuk kepentingan pribadi maka perlu diinterupsi apatahlagi Perusahaan ini bergerak di bidang jasa yang tentunya fokus pada kepuasan customer.
Ini beberapa pemimpin yang kualami sejak di Perusahaan ini. saya yakin bahwa penjelasan ini akan sangat subjektif sesuai penilaianku namun di belahan dunia mana sih sesuatu tidak subjektif jika seseorang memberikan penilaiannya.
Tahun pertama bergabung, saya dibawahi oleh seorang pimpinan yang menurutku wibawa sebagai pemimpin sudah ada. dia seorang yang terkesan tegas dan tidak pandang bulu, berani dan blak-blakan. hanya saja menurutku dia terkadang sering meremehkan seseorang yang tidak disenanginya, terlalu sering menceritakan negatif orang lain di belakang. ini sangat aneh karena orang yang blak-blakan biasanya tidak suka memendam perasaan. overall, dia tidak pernah memarahiku secara langsung namun juga saya bukan bawahan yang dia senangi. intinya jiwa kepemimpinannya sangat kuat hanya saja dia setidaknya bisa menahan diri untuk tidak terlalu banyak bicara apalagi untuk hal-hal yang tidak perlu bahkan tidak memandang siapa lawan bicaranya. Pemimpin yang kedua adalah anti tesis dari sosok pertama.
Teori tentang Pemimpin dan kepemimpinan sudah seabrek. tinggal kita bagaimana mengambil hikmah dari semua teori yang sudah berserakan atau jangan-jangan bukan pertanyaan bisa atau tidak bisa mengambil hikmah namun lebih pada pertanyaan mau atau tidak mau mengambil hikmah, karena ketakutan akan status quo atau perasaan ego untuk dihargai sebagai seorang Pemimpin.
power sindrom...!!
Begitu banyak Pemimpin yang seperti itu. jabatannya mengekang dirinya dan menguasai kepribadiaannya tanpa sadar bahwa karakter yang dipertunjukkan sangat artifisial yang sama sekali tidak membuat bawahannya terkesan yang ada bahwa bawahannya menerterwakan kejenakaannya.
Pemimpin yang baik tidak harus berteriak bahwa dia seorang Pemimpin untuk dihormati namun Pemimpin yang disegani adalah yang bekerja dengan sepenuh hati dan memperlihatkan kepada bawahannya tentang realitas pekerjaan yang sebenarnya, bukan malah sibuk melakukan pencitraan sebagai seorang atasan yang tak tahu arah memimpin.
atau jangan-jangan untuk menutupi ketidakmampuan memimpin..?
mungkin saja, selalu muncul hipotesi-hipotesis sebagai anggapan dasar terhadap perilaku yang agresif.
Pemimpin, jabatan yang tak lekang waktu karena sejatinya kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.
Teori tentang Pemimpin dan kepemimpinan sudah seabrek. tinggal kita bagaimana mengambil hikmah dari semua teori yang sudah berserakan atau jangan-jangan bukan pertanyaan bisa atau tidak bisa mengambil hikmah namun lebih pada pertanyaan mau atau tidak mau mengambil hikmah, karena ketakutan akan status quo atau perasaan ego untuk dihargai sebagai seorang Pemimpin.
power sindrom...!!
Begitu banyak Pemimpin yang seperti itu. jabatannya mengekang dirinya dan menguasai kepribadiaannya tanpa sadar bahwa karakter yang dipertunjukkan sangat artifisial yang sama sekali tidak membuat bawahannya terkesan yang ada bahwa bawahannya menerterwakan kejenakaannya.
Pemimpin yang baik tidak harus berteriak bahwa dia seorang Pemimpin untuk dihormati namun Pemimpin yang disegani adalah yang bekerja dengan sepenuh hati dan memperlihatkan kepada bawahannya tentang realitas pekerjaan yang sebenarnya, bukan malah sibuk melakukan pencitraan sebagai seorang atasan yang tak tahu arah memimpin.
atau jangan-jangan untuk menutupi ketidakmampuan memimpin..?
mungkin saja, selalu muncul hipotesi-hipotesis sebagai anggapan dasar terhadap perilaku yang agresif.
Pemimpin, jabatan yang tak lekang waktu karena sejatinya kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.
No comments:
Post a Comment