September 30, 2016

OTS #1

Purwokerto, kota pertama yang kukunjungi dalam rangka tugas kantor. sebenarnya sih bulan lalu sudah dinas luar namun berhubung masih di daerah Jabodetabek jadi kesannya serasa tidak dinas.

semenjak mutasi 2 bulan lalu, saya harus siap keluar kota minimal sekali dalam sebulan. harus mempersiapkan kesehatan lahir dan batin demi pekerjaan.

Purwokerto sebuah kota yang terletak di jawa tengah merupakan bagian dari kota Banyumas. saya sudah sering melintasi kota ini setiap kali mudik ke Madiun namun tidak pernah mampir meski sekedar di stasiunnya alhasil ada sedikit rasa lega ketika ditugaskan ke sana dan mempunyai kesempatan mengitari sudut kota itu.

saya menginap di hotel Meotel yang terletak di pinggir kota. hotel yang masih baru di kota ini. masih tersisa aroma cat dan bagian samping masih dalam proses finishing. saya seminggu di kota ini dari tanggal 19- 23 September 2019.

sepintas kota Purwokerto hampir sama dengan Madiun. kota ini terbilang lumayan ramai dalam kategori kecamatan. ya Purwokerto cuma kota kecamatan bahkan bukan kabupaten namun ramai oleh Mahasiswa.

Terdapat banyak universitas di kota ini. Unsoed adalah universitas paling besar di kota ini. terletak di kawasan arah ke Baturraden. sayang sekali saya tidak sempat menikmati kawasan kampus tersebut padahal biasanya kalau menyambangi sebuah kota, saya selalu tertarik mengunjungi kampus-kampus apatahlagi kampus yang lumayan besar.

malam terakhir di kota ini, saya menyambangi daerah Baturraden. agak sedikit mirip jalanannya di daerah Batu, Malang. 

untuk menetap dan menua, kota ini lumayan recommended. tidak terlalu bising dan punya banyak ruang untuk bermesraan dengan semesta.

30 9 16

Penghujung September

Tidak ada, iya tidak ada sama sekali
hampa, mengisi setiap detik yang terlangkahi

di penghujung september kali ini
semua sama
hanya waktu yang terbuang sia-sia

30 9 16

September 26, 2016

Idul Adha

Entah sudah berapa kali aku melewatkan momen Idul Adha di kampung. Tidak lagi menyaksikan euforia masyarakat ketika menjelang pemotongan hewan qurban. masa yang dulu selalu meninggalkan kenangan yang tertawan di sudut hati.

Tahun lalu, Saya menikmati momen Idul Adha di kawasan Cibubur tepatnya di kota wisata. Rumah salah seorang kerabat isteri Saya. Tidak terlalu banyak hal yang membuatku harus mengingat momen Idul Adha tahun lalu. toh hanya mengikuti shalat Idul Adha kemudian kembali ke rumah dan berdiam diri di kamar.

Idul Adha kali ini kemungkinan akan kembali kuhabiskan di Ibu Kota. Saya tidak punya cukup waktu untuk mudik ke kampung halaman. Namun ada kesyukuran lain karena seminggu sebelum Idul Adha, Saya punya kesempatan pulang kampung bertepatan dengan tugas kantor di kota Provinsi.

Menelisik kembali momen Idul Adha membawaku menikmati masa kecil. Masa di mana begitu riangnya kami kumpulan bocah membantu para orang tua yang sedang sibuk di tempat pemotongan hewan qurban. Tugas kami biasanya mencuci daging qurban di sungai kemudian membagikan ke Masyarakat.

Hanya saja, di malam Idul Adha. Saya sedih melihat jagoan Saya yang meringkuk lenas karena demam. Dokter mengatakan bahwa dia diare akut.

Saya agak trauma setiap kali dia demam. Kenangan setahun silam dini hari sekitar jam 3 pagi, saat kami harus bergegas membawanya ke RSUD Pasar Minggu. Dia harus diopname selama 3 hari sebelum diizinkan pulang oleh Dokter.

Oh iya, doa-doa terbaik kupanjatkan di malam Idul Qurban, semoga kita semua bisa meneladani perjalanan tauhid Nabi Ibrahim dan ketaatan Nabi Ismail terhadap Tuhan dan orang tuanya.

Cilandak, 31 8 17
Saat takbir berkumandang sahut menyahut.

September 9, 2016

Ulang Tahun (Lagi)

Sejak kapan aku mulai peduli dengan yang namanya ulang tahun? selalu kupersetankan hal remeh temeh seperti itu sejak dulu. toh keniscayaan yang tidak bisa dihindari sampai pada akhirnya membawa kita ke lembah kefanaan.

Tapi tidak apalah untuk sekedar mengingat awal jejak memasuki gerbang dunia yang tengik. berapa puluh tahun yang lalu, di sebuah desa kecil dan terlahir dari seorang Ibu yang keren. aku berlumuran darah dan tangisan yang meraung-raung menyadari betapa mengerikannya menghadapi hidup ini. kata Ibu hari itu hari senin.

Sampai sekarang dengan berlipat angka umurmu. aku tak tahu harus berkata apa karena doa sudah terpanjatkan semua. hanya yang menjadi pembeda saat ini adalah aku sudah beristeri dengan seorang anak kecil yang ganteng. untuk yang lainnya mungkin tidak ada perubahan.

Aku masih belum mampu menentukan arah hidup yang hakiki. masih selalu terjebak dalam setiap tikungan yang absurd namun tak apalah, langkah harus tetap diayun.

Sudah tidak terlalu banyak harapan yang kusandarkan di dunia ini. hanya beberapa hal sederhana yang kuinginkan.

Normal bagi seorang suami menginginkan anak isterinya selalu dalam keadaan baik-baik saja. memberi nafkah dan menyediakan tempat berteduh. seperti itu mungkin keinginan sederhana yang sekarang kusimpan dalam diriku, tidak lebih.

hal lain mungkin adalah keinginan untuk menetap dan menua di kota kecil. tidak di Ibu kota. aku memang bukan orang yang terlalu ngotot dalam hidup untuk hal-hal yang sifatnya material. hanya sekedar ingin hidup bahagia dalam kesederhanaan bersama keluarga.

entah, semua itu keinginan yang sederhana atau bahkan terlalu muluk namun yang pasti hidupku sekarang hanya ingin berfokus pada keluarga.

angka-angka hidup yang kulewati semakin bertambah banyak. aku ingin sampai pada suatu titik dimana hidup itu kuartikan bukan melulu tentang hal-hal yang indrawi namun menyingkap semua hijab yang masih menutup hati.

ah, sudah. ini saja testimoni tentang pengulangan tanggal lahirku. sebenarnya aku sudah malas menulis rutinitas tiap tahun seperti ini namun sekedar untuk menyegarkan otakku tentang hal-hal yang kuinginkan.

Selamat ulang tahun buat saya.

Cipaku, 8 September 16

August 24, 2016

Tentang Berpulang

Hidup adalah cerita tentang penantian untuk berpulang bukan tentang pertemuan. Selalu saja ketika ada yang mendapat giliran apatahlagi seorang yang diakrabi, maka diri akan bersedih. Saya selalu berandai-andai seandainya saja perpisahan itu tidak ada namun toh itu bukanlah hidup jika abadi.
 
Sabtu malam kemarin, kakak laki-laki dari ibuku mendapat giliran dipanggil Ilahi. Ada rasa pilu di sudut hatiku mendengar kepergian beliau. salah satu saudara ibuku  yang dekat dengan Ibuku. Subjektif memang alasannya kenapa saya menaruh respek kepada beliau namun toh bukankah semua orang memang memandang kecintaan mereka secara subjektif.

Bukan tanpa alasan kenapa saya menyimpan sedih mendengar kepergiaannya. Sejak kecil beliau selalu ada ketika Ibuku butuh, beliau hadir sebagai sosok kakak bagi Ibuku dan tak terhitung bantuannya kepada keluargaku.

Beliau menjaga silaturrahim dengan istiqomah. Sehabis pulang shalat maghrib, beliau selalu saja menyempatkan mampir di rumahku entah sejenak atau bahkan sampai menjelang isya. Beliau akan selalu ada mendengarkan masalah yang sedang dihadapi Ibuku.

Beliau mempunyai 12 orang anak dan menghidupinya dari bertani tanpa sekalipun mengeluh. Sesuatu yang langka bagi pasangan suami isteri sekarang yang tidak berani mempunyai banyak anak karena ketakutan-ketakutan akan kekurangan materi, jangankan berani mempunyai anak sampai selusin, 3 ataupun 4 anak masih banyak yang mempertimbangkan masalah nafkahnya. Namun beliau tidak pernah ada pertimbangan seperti itu karena kekuatan iman bahwa toh semua rezeki sudah disiapkan semesta bagi calon penghuninya.

Tidak ada lagi paman saya yang selalu menyambutku dengan senyuman saat mudik, tidak ada lagi yang menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan usil dan hal-hal lain yang selalu kurindukan darinya.
 
Selamat jalan om, semoga Ilahi selalu menyertaimu dengan maghfiranya. Menerima semua amalan baikmu dan mengampuni semua khilafmu.

Cipaku, 24 Agustus 2016

July 19, 2016

Zona Baru

Genap 2 tahun di tempat ini dan harus memulai hal baru di tempat yang baru. Memang selalu ada kekhawatiran ataupun kecemasan terhadap hal yang akan terjadi ketika berpindah zona dari yang sebelumnya sudah settle kemudian harus beradaptasi lagi yang baru, tetapi takkan meruntuhkan semangatku karena toh hidup ini akan menjadi lapang ketika ketika selalu berusaha memperluas zona nyaman kita.

Hidup tidak melulu tentang hal-hal yang mudah namun juga sebaliknya, hidup bukan tragedi yang selalu menawarkan kepedihan. Hidup adalah perjalanan hidup dengan iringan suka duka, senang susah. jika hanya memilih senang maka itu bukan hidup tetapi surga.

Hidup seperti perjalanan waktu yang bergerak laksana cahaya, hanya kedipan mata kemudian kita sudah dilemparkan jauh ke depan entah dalam nasib seperti apa. Dua tahun di tempat ini hanyalah seperti melempar pandangan ke langit kemudian tiba-tiba sampai.

Masih jelas ingatanku 2 tahun silam, 26 Agustus 2014, Aku memasuki tempat ini tanpa pengetahuan sama sekali. Diam dan terus memperhatikan keadaan sekitar, sesekali bertanya akan hal-hal yang asing. Semua mengalir dan berlalu begitu saja sampai sekarang, tempat ini perlahan menyatu dengan diri.

Sekali lagi, zona nyaman ini sebentar lagi akan kutinggalkan. Sejatinya, aku sudah tidak terlalu sentimentil terhadap yang namanya perpisahan namun tetap saja bahwa semua hal yang sudah dilewati akan dirindukan. Aku harus berdamai dengan pergantian proses dalam hidup karena toh ketika tidak ada pergantian maka hidup akan berjalan di tempat.

 Di tempat yang baru, aku menduga akan banyak lagi puzzle yang harus kususun menjadi satu kesatuan utuh, toh menurutku, hidup ini adalah serpihan puzzle yang kita rangkai satu persatu hingga pada akhirnya nanti, semua akan ditinggalkan entah ketika menjadi utuh atau tidak lagian yang akan diperlihatkan nantinya oleh Ilahi adalah kesungguhan kita mengikuti proses bukan pada hasilnya.

Tempat ini sudah kuresapi baunya, sudah kupeluk erat selama dua tahun dan akan menjadi kenangan dan cerita yang nantinya akan kutertawakan terhadap hal-hal yang terjadi selama ini. meski selalu ada kesempatan untuk kembali ke tempat ini selama aku masih berstatus di bawah bendera perusahaan namun mungkin saja masih lama atau bahkan tidak sama sekali

Ya sudah, Sayonara kantor Rawamangun.

19 07 16 08:34

June 29, 2016

Aku Ingin Cepat Pulang

Hari ini jarum jam sepertinya malas bergerak.
Aku ingin segera pulang mencampakkan tubuhku di ranjang dengan pikiran yang begitu kacaunya. 

Tak pernah sepenat ini kurasakan.
sepertinya ingin kuledakkan tubuh ini menjadi abu yang kemudian diterbangkan angin ke segala penjuru lalu abadi dalam ketiadaan.

Aku ingin
Pulang dalam pelukan semesta
Memberikan hak bagi diri yang sudah lelah dieksploitasi
Aku ingin cepat pulang dari keramaian kepura-puraan

Aku muak memandang topeng
Mereka tidak menunjukkan diri dalam realitas
Aku ingin
Mencampakkan semua
Dalam hening tak bersuara

June 12, 2016

Kompleksitas Hidup

Harusnya aku bersyukur, bukan menjadikan semua ini kambing hitam untuk larut dalam kesedihan yang berlarut. Ya bersyukur dengan kenyataan bertemu bahkan menjadi bagian keluarga antitesis dari relasi ideal antara ibu dan anak yang selama ini kuimpikan toh aku bisa menarik semua kesimpulan dari setiap keadaan bahkan dalam 2 sisi sekalipun. jika keadaannya baik maka jadikan contoh dan berusaha diikuti namun jika kondisinya tidak ideal maka dijadikan contoh untuk tidak diikuti.

Harusnya aku sujud syukur menemukan fenomena seorang ibu yang begitu mengasihi anaknya tak berbatas ruang dan waktu meski sang anak tanpa ampun terus menerus mendorong ibunya dalam tiap jengkal kesedihan sampai pada titik air mata yang hampir kering.

Toh dia jarang bahkan hanya sekali mengganggu hidupku. Kenyataan hidup yang terhampar di depanku setidaknya meyakinkanku bahwa relasi anak dan ibu seperti itu benar-benar ada dan tidak hanya diceritakan dalam dogeng.

Aku tidak seharusnya menjadikan hidupnya sebagai alasan pelarian dalam segala masalahku toh dia tidak berarti apa-apa terhadapku. Dengan dalil iba terhadap si ibu pun tidak harus lantas membuatku mengusik lebih dalam lagi lara si ibu. pada akhirnya yang ada di dunia ini hanyalah gerik gerik alamiah alam semesta sebagai manifestasi karya cipta Sang Ada. 

Tidak seharusnya aku bersedih atas atas semua hal yang diperhadapkan kepadaku. misalnya saja dia mulai mengusik cukup ditolak permintaannya. Seharusnya setiap kesedihan itu tidak ada.

Picik jika aku merasa takut kekurangan atas tindakannya. Pecundang jika hal tersebut mengurangi kebahagiaannku bersama sang isteri. Apatahlagi tak kurang-kurangnya isteri bersetia terhadap setiap keputusan-keputusanku, tidak sekalipun dia ingkar atas apa yang kuinginkan.

Isteriku adalah gambaran nyata tentang kesetiaan dan kesabaran. hanya ada dua yang dia perlihatkan kepadaku,senyum dan tangis. dua hal tersebut sudah bisa mengartikan segala tindakanku terhadapnya, tidak kurang dan tidak lebih.

Saya sudah percaya bahwa menikah itu masalah hati bukan kata-kata yang diolah oleh otak kemudian dihamburkan di muka pasangan. kita bisa merasakan semua suasana hati pasangan hanya dengan melihat raut mukanya.

ah  lalu kenapa kemudian aku harus bersedih dan murka atas sesuatu yang di luar jangkauanku.?
6 Ramadan 1437 H

Pertanyaan Tentang Pernikahan

Beberapa bulan setelah menikah, pertanyaan seputar pernikahan menyerang kepalaku bertubi-tubi.

Bukan, bukannya aku tidak bahagia dengan pernikahan bahkan lebih dari itu, kebahagian menyelimutiku tiap hari meski hidup terkadang belangsung monoton namun kemudian teka-teki tentang pernikahan tidak berhenti pada apakah bahagia berdua dengan isteri atau tidak namun selalu ada variabel-variabel lain yang bermain di sekitar pernikahan misalnya saja relasi dengan keluarga pasangan.

Tidak rumit untuk memilah relasi tersebut karena pertanyaannya hanyalah "apakah terjadi gangguan dengan relasi antara keluarga pasangan? jika jawabannya tidak maka selesai masalah namun pertanyaan lain akan bertubi-tubi menghampiri jika jawabannya ya.

Ada banyak pernikahan yang kandas hanya karena relasi dengan keluarga pasangan, entah karena keluarga pasangan yang terlalu ikut campursehingga menjalar menjadi ketidakcocokan. Bagaimanapun, petuah orang tua tentang pernikahan bahwa "menikah itu bukan sekedar menjalin hubungan dengan seorang pasangan saja namun lebih dari itu, menyatukan keluarga isteri dan suami."jika hal tersebut gagal maka ada celah menuju kehancuran pernikahan.

Begitulah pernikahan, bukan masalah enak menit namun harus dipikirkan secara komprehensif variabel-variabel yang bersambungan di dalam pernikahan tersebut.

June 2016

June 10, 2016

Ramadan 1437 H

Siklus tahunan yang dipercaya oleh umat Islam sebagai bulan ampunan, bulan penuh kemuliaan dengan segala keberkahan di dalamnya. Setiap kali kedatangannya, Ramadan membangkitkan recehan kisah masa lalu. tak terhitung kiranya kenangan yang kuhadirkan kembali seiring dengan hadirnya Ramadan.

Aku seringkali menelan air wudhu, entah saat itu Aku umur berapa. Aku sering menghabiskan waktu main layangan, Aku sering tidur di Mesjid saat tarwih. oh masa lalu, begitu banyak kenangan yang tertinggal bersamamu.

Ini ramadan yang berbeda dari sebelumnya. Aku sudah menjadi seorang suami dan bertanggung jawab terhadap seorang Isteri. Ramadan kali ini harus menjadi pembelajaran diri untuk menempa diri dalam banyak hal terutama dalam kesabaran.

Isteri sedang berada di kampung selama bulan Ramadan ini alhasil, meskipun sudah berkeluarga, aku masih menjalani rutinitas ramadan layaknya saat masih bujangan. Buka puasa sendiri dan sahur sendiri, namun toh pada akhirnya Ramadan bukan tentang sahur, buka dan rasa lapar namun tentang penempaan diri melawan diri sendiri menuju manusia seutuhnya.

Ramadan di Ibu kota, rasa lapar adalah tantangan kesekian karena lawan paling tangguh di kota ini adalah amarah khususnya bagi para karyawan yang setiap pagi dan sore hari berada di jalanan. Betapa tidak, jalanan kota ini layaknya arena penguji emosi. Pengendara nampaknya merasa puas dengan segala makian ataupun bunyi klakson yang bersahut-sahutan dalam keruwetan jalanan.

Tantangan kedua mungkin saat berada di Kantor. suasana kantor yang terbiasa dalam kondisi menceritakan keburukan orang lain. Betapa naifnya kita menjadi Manusia, berteman kemudian menghantam teman dari belakang dengan aneka cerita yang mungkin saja tidak benar adanya. Kita terlalu sering membunuh karakter teman sendiri. Sejelek-jeleknya seorang teman adalah yang menceritakan aib temannya sendiri. teman itu laksana keluarga, harus dijaga aibnya.

Aku tidak sempat mudik ke kampung ramadan kali ini. Tidak ada burasa masakan Ibu, opor ayam dan kue kering. Ah, selalu saja ada butiran bening di sudut mataku jika membayangkan ramadan tidak di samping Ibuku. Memeluknya, melihat senyumnya dan menggelontorkan puluhan ciuman di sekujur wajahnya sebelum berangkat shalat Ied.

Tidak ada belaian mesra di kepalaku menjelang tidur di Ramadan kali ini, tidak ada yang menyelimutiku diam-diam saat tidur di ruang tamu, tidak ada tatapan nanar yang kulihat menjelang tidur. oh betapa ironi memang Ramadan tanpa ritual mudik. hambar benar rasanya.

Ramadan kali ini giliran mudik ke kampung isteri, apatahlagi dia sedang hamil tua. menikah memang perkara berkorban banyak hal, perasaan, waktu dan semua hal-hal yang sudah tidak bisa diperlakukan sama seperti ketika masih bujangan.

Sebenarnya tidak ada getaran rasa kangen kampung saat mudik ke kampung isteri. Mungkin karena kenangan dan ikatan batin terhadap kampung isteri tidak ada namun tetap saja harus dibiasakan karena toh semua sudah berubah dari yang sebelumnya.

Ah sudah ah. Terlalu sentimental jika bercerita mengenai Ibuku.

Marhaban ya Ramadhan 1437 H
telat 5 hari

10 06 16

Tiap Hari di Bulan Ramadan

Oke, Ramadan sudah berjalan 5 hari. tidak apalah, Saya akan berkomitmen untuk menulis selama bulan Ramadan tersisa, 
apapun itu..?? ya, apapun.
meski norak..??? biarin ga peduli.

Sudah tulisan ga ada progressnya sama sekali, malas pula. ah kalau begini terus mungkin polisi tidur ada gunanya, berbaring di setiap gang digilas roda kendaraan supaya tidak melaju dengan kecepatan di luar batas normal.

Bahkan tulisan tentang Ramadan yang sudah sehari sebelum ramadan mulai kutulis namun sampai sekarang masih menjadi draft basi di blog ini. Benar-benar ironi nan memilukan. sama rasa malas saja kalah. tau ah.

Tetapi, aku harus melawan kemalasan. memaksa diri membaca dan menulis terus menerus. Bukan untuk siapa-siapa, hanya mengisi hari yang monoton.

Tahun lalu, aku menulis setiap malam tentang ceramah Ramadan bahkan hanya 2 paragrap namun sekarang nampaknya kondisi tidak mendukung karena masjid dekat rumah tidak mengadakan ceramah sesaat setelah shalat Isya. 

Eh, bukan kondisi ding yang salah, aku nya saja yang malas mencari masjid lain, toh ada beberapa masjid lain yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Lagi-lagi karena kemalasanku yang nampaknya sudah mendekati akut.

Ah, sudahi banyolan ini, mulai memikirkan apa yang harus ditulis di blog ini supaya tidak kalah telak sama komitmen menulis selama ramadan.

da.da.da

Pulogadung, 10 06 16 13:21 WIB


June 8, 2016

Perjalanan Waktu dengan Seorang Kawan

10 tahun. 
Agak klise kalau saya menyebutnya serasa baru seminggu berlalu tetapi toh memang kenyataannya seperti itu. Waktu hanyalah kedipan mata, ketika kita mengedipkan sekai dua kali maka kita sudah terlempar jauh ke masa depan dengan ruangdan waktu yang berbeda.

10 tahun sudah
Saya memulai hidup yang random. kuliah, berteman dan mengotori otak dengan berbagai aneka teori yang pada akhirnya Saya sendiripun tidak pernah mengerti mau kuapakan.
tidak ada penyesalan terhadap pilihan-pilihan masa lalu toh semua hanya berakhir sebagai masa lalu yang disimpan sudut ruangan atau dalam draft file.

10 tahun
Saya mengenal berbagai rupa kawan baru dengan ragam latar belakang. Mungkin 10 tahun yang lalu adalah awal saya mengenalkan diriku pada dunia yang begitu heterogen. Bagaimana tidak, di kampung leluhurku, nyaris semua berada dalam keadaan homogen. Persamaan terlalu banyak.

Semua masyarakat di kampungku mengaku Islam bahkan faksinya pun sama, Muhammadiyah. budaya pun seragam sehingga sama sekali tidak ada perbandingan dalam perbedaan yang nantinya akan kujumpai.

10 tahun yang lalu
Kemudian saya terlempar ke masa kini dan pada akhirnya saya mendapati diri saya dalam kesunyian. Dari sinilah saya mengukur diri tentang pertemanan. Mungkin terlalu mewah kalau kusebut persaudaraan. Toh meski beberapa teman kemudian lenyap dengan berbagai alasan namun tetap saja masih ada yang tinggal dan berbagi cerita dengan saya.

Seorang kawan, fisically lebih besar dari saya. Entah apa yang tetap mengeratkan pertemanan kami namun sebanyak perbedaan yang muncul dalam setiap interaksi kami namun berlipat pula alasan kami untuk tetap menyambung silaturahim.

Saya sadari dia lah yang punya hati lapang. Seringkali menanyakan kabar dimana pun berada dan terhitung pula dia membantuku dalam banyak hal.

Seingatku, ada dua momen yang mungkin membuatnya begitu kesal kepada saya. Tahun 2013, kami lebaran Idul Adha di sebuah kota di Jawa. Paginya, saya sudah siap berangkat ke masjid namun tololnya, saya lupa membangunkan kawan tadi alhasil sepulang shalat ied, dia tidak terlalu bergairah bercengkerama denganku dan saya pun menyadari hal tersebut karena kelalaian saya tidak membangunkannya lagian toh dari dulu, saya sudah mafhum jikalau kawan itu susah bangun pagi.

Kesalahan kedua saat saya menikah. Saya tidak memberitahunya jauh-jauh hari sebelumnya dan lebih fatalnya lagi karena dia mendengar kabar saya mau menikah dari orang lain.

Tau apa yang dia lakukan saat itu..?? Dia meneleponku saat itu juga dan menyatakan kekesalannya karena rencana Saya menikah tidak pernah kuceritakan kepadanya.

Pada akhirnya, dia selalu berbesar hati dan kembali kami kercengkerama dalam setiap percakangan yang hangat. dia pribadi yang mudah memaafkan dan senang membantu teman-temannya.

Saya pribadi yang susah memupuk perkawanan karena banyaknya pikiran-pikiran tidak enak pada kawan yang sudah berhasil dan jika saya masih akrab dengan kawan yang kuceritakan di atas berarti dia yang berbesar hati berkawan dengan saya.

Pulogadung, June 2016

June 1, 2016

Surat Kepada Mr. Jose Mourinho

Dear Tn. Mou

semoga anda dalam keadaan sehat selalu bersama keluarga..!!!

Saya tulis surat ini ketika membaca berita pagi ini di media online bahwa anda telah deal melatih klub yang paling tidak keren di Premiere League. MUnyuk. Oh seperti mimpi di malam hari, eh di siang bolong. Saya tidak pernah menyangka bahwa Anda benar-benar akan menjadi bagian dari sebuah klub yang tidak keren dan hanya layak menjadi klub medioker.

Tn Mou,
Tahukah anda bahwa semenjak melatih klub keren, FC. Internazionale. Saya sudah memasukkan nama anda dalam daftar panjang juru taktik favoritku meski di edisi setelah kesuksesanmu di klub keren FC. Internazionale,  anda akhirnya berlabuh di Real Madrid kemudian kembali ke mantan anda, Chelsea. Saya tidak pernah menyesali keputusan anda memilih menjadi manager kedua klub tersebut karena toh lumayan keren, namun petaka di akhir musim ini ketika ternyata anda benar-benar menerima pinangan si klub yang katanya "Setan Merah" namun sama sekali tidak keren.

Tn Mou
Perasaanku benar-benar random saat ini. Saya ingin sekali mengatakan bahwa langkah yang anda ambil saat ini adalah salah satu blunder paling fatal di hidup anda melebihi blunder klub kesayangan umat FC Internazionale yang melego Mateo Kovacic ke Real Madrid awal musim 2015/16. 

Tn Mou
sebenarnya beberapa hari yang lalu, Negara Saya sempat heboh tentang isu mengenai kemungkinan anda melatih timnas negara Saya. namun isu tersebut sama sekali tidak mengusik suasana hati Saya toh pada akhirnya semua hal-hal yang belum pasti di Negeri ini sudah heboh bahkan ketika masih sekedar isu. darimana pula Negeri ini memperoleh uang membayarkan gajimu. Negeriku memang kaya namun hanya ada dalam buaian angan-angan. ah, tidak perlu membahas Negeriku yang antah berantah. mungkin juga anda tidak pernah mengenal Negeriku.

Kembali lagi ke permasalahan pokoknya. Saya harap anda tidak serius dalam menangani  klub Munyuk  supaya mereka selalu berada di barisan klub medioker. eitss tunggu dulu Mr. Mou, begini saja jalan terbaiknya, anda tetap serius meracik strategi yang pas untuk klub tersebut seperti saat anda menenggelamkan Chelsea musim yang baru selesai dan usahakan klub Munyuk tetap berada di papan tengah atau kalau anda tega, jadikan mereka klub pertama yang terdegradasi musim 2017/18.

Tn. Mou
Sebenarnya Saya berharap anda melatih klub tetangga Munyuk,  Manchester City tetapi kok malah malah si botak Pep yang berlabuh di sana. ah dilema rasanya ingin memutuskan apakah menghapus anda dari barisan Manager favoritku sementara anda melatih klub yang tidak keren.

satu-satunya alasan kenapa anda menjadi Manager keren bukan karena anda sudah menorehkan berbagai prestasi yang luar biasa namun setidaknya alasan utama karena kesetiaan anda terhadap klub keren seantero dunia,FC Internazionale. bahkan anda menolak secara mentah-mentah tawaran dari klub serie A karena tidak ingin mengkhianati klub keren si biru hitam. 

Tn Mou
Saya tidak yakin apakah surat ini sampai di tangan anda sebelum musim Premiere League 2016/17 dimulai namun setidaknya Saya sudah mengungkapkan poin penting yang anda harus ingat bahwa memilih menjadi pelatih klub setan merah adalah kekhilafan terbesar dalam karir anda.

indonesia,1 Juni 2016