June 8, 2016

Perjalanan Waktu dengan Seorang Kawan

10 tahun. 
Agak klise kalau saya menyebutnya serasa baru seminggu berlalu tetapi toh memang kenyataannya seperti itu. Waktu hanyalah kedipan mata, ketika kita mengedipkan sekai dua kali maka kita sudah terlempar jauh ke masa depan dengan ruangdan waktu yang berbeda.

10 tahun sudah
Saya memulai hidup yang random. kuliah, berteman dan mengotori otak dengan berbagai aneka teori yang pada akhirnya Saya sendiripun tidak pernah mengerti mau kuapakan.
tidak ada penyesalan terhadap pilihan-pilihan masa lalu toh semua hanya berakhir sebagai masa lalu yang disimpan sudut ruangan atau dalam draft file.

10 tahun
Saya mengenal berbagai rupa kawan baru dengan ragam latar belakang. Mungkin 10 tahun yang lalu adalah awal saya mengenalkan diriku pada dunia yang begitu heterogen. Bagaimana tidak, di kampung leluhurku, nyaris semua berada dalam keadaan homogen. Persamaan terlalu banyak.

Semua masyarakat di kampungku mengaku Islam bahkan faksinya pun sama, Muhammadiyah. budaya pun seragam sehingga sama sekali tidak ada perbandingan dalam perbedaan yang nantinya akan kujumpai.

10 tahun yang lalu
Kemudian saya terlempar ke masa kini dan pada akhirnya saya mendapati diri saya dalam kesunyian. Dari sinilah saya mengukur diri tentang pertemanan. Mungkin terlalu mewah kalau kusebut persaudaraan. Toh meski beberapa teman kemudian lenyap dengan berbagai alasan namun tetap saja masih ada yang tinggal dan berbagi cerita dengan saya.

Seorang kawan, fisically lebih besar dari saya. Entah apa yang tetap mengeratkan pertemanan kami namun sebanyak perbedaan yang muncul dalam setiap interaksi kami namun berlipat pula alasan kami untuk tetap menyambung silaturahim.

Saya sadari dia lah yang punya hati lapang. Seringkali menanyakan kabar dimana pun berada dan terhitung pula dia membantuku dalam banyak hal.

Seingatku, ada dua momen yang mungkin membuatnya begitu kesal kepada saya. Tahun 2013, kami lebaran Idul Adha di sebuah kota di Jawa. Paginya, saya sudah siap berangkat ke masjid namun tololnya, saya lupa membangunkan kawan tadi alhasil sepulang shalat ied, dia tidak terlalu bergairah bercengkerama denganku dan saya pun menyadari hal tersebut karena kelalaian saya tidak membangunkannya lagian toh dari dulu, saya sudah mafhum jikalau kawan itu susah bangun pagi.

Kesalahan kedua saat saya menikah. Saya tidak memberitahunya jauh-jauh hari sebelumnya dan lebih fatalnya lagi karena dia mendengar kabar saya mau menikah dari orang lain.

Tau apa yang dia lakukan saat itu..?? Dia meneleponku saat itu juga dan menyatakan kekesalannya karena rencana Saya menikah tidak pernah kuceritakan kepadanya.

Pada akhirnya, dia selalu berbesar hati dan kembali kami kercengkerama dalam setiap percakangan yang hangat. dia pribadi yang mudah memaafkan dan senang membantu teman-temannya.

Saya pribadi yang susah memupuk perkawanan karena banyaknya pikiran-pikiran tidak enak pada kawan yang sudah berhasil dan jika saya masih akrab dengan kawan yang kuceritakan di atas berarti dia yang berbesar hati berkawan dengan saya.

Pulogadung, June 2016

No comments: