Harusnya aku bersyukur, bukan menjadikan semua ini kambing hitam untuk larut dalam kesedihan yang berlarut. Ya bersyukur dengan kenyataan bertemu bahkan menjadi bagian keluarga antitesis dari relasi ideal antara ibu dan anak yang selama ini kuimpikan toh aku bisa menarik semua kesimpulan dari setiap keadaan bahkan dalam 2 sisi sekalipun. jika keadaannya baik maka jadikan contoh dan berusaha diikuti namun jika kondisinya tidak ideal maka dijadikan contoh untuk tidak diikuti.
Harusnya aku sujud syukur menemukan fenomena seorang ibu yang begitu mengasihi anaknya tak berbatas ruang dan waktu meski sang anak tanpa ampun terus menerus mendorong ibunya dalam tiap jengkal kesedihan sampai pada titik air mata yang hampir kering.
Toh dia jarang bahkan hanya sekali mengganggu hidupku. Kenyataan hidup yang terhampar di depanku setidaknya meyakinkanku bahwa relasi anak dan ibu seperti itu benar-benar ada dan tidak hanya diceritakan dalam dogeng.
Aku tidak seharusnya menjadikan hidupnya sebagai alasan pelarian dalam segala masalahku toh dia tidak berarti apa-apa terhadapku. Dengan dalil iba terhadap si ibu pun tidak harus lantas membuatku mengusik lebih dalam lagi lara si ibu. pada akhirnya yang ada di dunia ini hanyalah gerik gerik alamiah alam semesta sebagai manifestasi karya cipta Sang Ada.
Tidak seharusnya aku bersedih atas atas semua hal yang diperhadapkan kepadaku. misalnya saja dia mulai mengusik cukup ditolak permintaannya. Seharusnya setiap kesedihan itu tidak ada.
Picik jika aku merasa takut kekurangan atas tindakannya. Pecundang jika hal tersebut mengurangi kebahagiaannku bersama sang isteri. Apatahlagi tak kurang-kurangnya isteri bersetia terhadap setiap keputusan-keputusanku, tidak sekalipun dia ingkar atas apa yang kuinginkan.
Isteriku adalah gambaran nyata tentang kesetiaan dan kesabaran. hanya ada dua yang dia perlihatkan kepadaku,senyum dan tangis. dua hal tersebut sudah bisa mengartikan segala tindakanku terhadapnya, tidak kurang dan tidak lebih.
Saya sudah percaya bahwa menikah itu masalah hati bukan kata-kata yang diolah oleh otak kemudian dihamburkan di muka pasangan. kita bisa merasakan semua suasana hati pasangan hanya dengan melihat raut mukanya.
ah lalu kenapa kemudian aku harus bersedih dan murka atas sesuatu yang di luar jangkauanku.?
6 Ramadan 1437 H
No comments:
Post a Comment