June 10, 2016

Ramadan 1437 H

Siklus tahunan yang dipercaya oleh umat Islam sebagai bulan ampunan, bulan penuh kemuliaan dengan segala keberkahan di dalamnya. Setiap kali kedatangannya, Ramadan membangkitkan recehan kisah masa lalu. tak terhitung kiranya kenangan yang kuhadirkan kembali seiring dengan hadirnya Ramadan.

Aku seringkali menelan air wudhu, entah saat itu Aku umur berapa. Aku sering menghabiskan waktu main layangan, Aku sering tidur di Mesjid saat tarwih. oh masa lalu, begitu banyak kenangan yang tertinggal bersamamu.

Ini ramadan yang berbeda dari sebelumnya. Aku sudah menjadi seorang suami dan bertanggung jawab terhadap seorang Isteri. Ramadan kali ini harus menjadi pembelajaran diri untuk menempa diri dalam banyak hal terutama dalam kesabaran.

Isteri sedang berada di kampung selama bulan Ramadan ini alhasil, meskipun sudah berkeluarga, aku masih menjalani rutinitas ramadan layaknya saat masih bujangan. Buka puasa sendiri dan sahur sendiri, namun toh pada akhirnya Ramadan bukan tentang sahur, buka dan rasa lapar namun tentang penempaan diri melawan diri sendiri menuju manusia seutuhnya.

Ramadan di Ibu kota, rasa lapar adalah tantangan kesekian karena lawan paling tangguh di kota ini adalah amarah khususnya bagi para karyawan yang setiap pagi dan sore hari berada di jalanan. Betapa tidak, jalanan kota ini layaknya arena penguji emosi. Pengendara nampaknya merasa puas dengan segala makian ataupun bunyi klakson yang bersahut-sahutan dalam keruwetan jalanan.

Tantangan kedua mungkin saat berada di Kantor. suasana kantor yang terbiasa dalam kondisi menceritakan keburukan orang lain. Betapa naifnya kita menjadi Manusia, berteman kemudian menghantam teman dari belakang dengan aneka cerita yang mungkin saja tidak benar adanya. Kita terlalu sering membunuh karakter teman sendiri. Sejelek-jeleknya seorang teman adalah yang menceritakan aib temannya sendiri. teman itu laksana keluarga, harus dijaga aibnya.

Aku tidak sempat mudik ke kampung ramadan kali ini. Tidak ada burasa masakan Ibu, opor ayam dan kue kering. Ah, selalu saja ada butiran bening di sudut mataku jika membayangkan ramadan tidak di samping Ibuku. Memeluknya, melihat senyumnya dan menggelontorkan puluhan ciuman di sekujur wajahnya sebelum berangkat shalat Ied.

Tidak ada belaian mesra di kepalaku menjelang tidur di Ramadan kali ini, tidak ada yang menyelimutiku diam-diam saat tidur di ruang tamu, tidak ada tatapan nanar yang kulihat menjelang tidur. oh betapa ironi memang Ramadan tanpa ritual mudik. hambar benar rasanya.

Ramadan kali ini giliran mudik ke kampung isteri, apatahlagi dia sedang hamil tua. menikah memang perkara berkorban banyak hal, perasaan, waktu dan semua hal-hal yang sudah tidak bisa diperlakukan sama seperti ketika masih bujangan.

Sebenarnya tidak ada getaran rasa kangen kampung saat mudik ke kampung isteri. Mungkin karena kenangan dan ikatan batin terhadap kampung isteri tidak ada namun tetap saja harus dibiasakan karena toh semua sudah berubah dari yang sebelumnya.

Ah sudah ah. Terlalu sentimental jika bercerita mengenai Ibuku.

Marhaban ya Ramadhan 1437 H
telat 5 hari

10 06 16

No comments: