May 9, 2023

Masuk Kampus (9)

Seharusnya kemarin menjadi hari pertama masuk kampus setelah libur tiga minggu, namun seperti pada tulisan sebelum ini bahwa senin kemarin, saya harus mengurus pajak motor yang sudah off 3 bulan dan harus ganti plat, terpaksa saya izin.

Hari ini saya masuk kampus namun tidak ada kelas. Saya hanya ingin mengembalikan semua energi yang menguap karena libur yang terlalu lama. Saya khawatir ada semangat yang hilang jika terlalu lama meninggalkan suasana kampus padahal setumpuk tugas sudah menunggu. Kuliah yang harus jalan lagi, penelitian yang belum ada kemajuan, dan segudang tugas yang menanti untuk diselesaikan.

Bagaimana pun, energi saya tergerus dengan durasi liburan yang terlalu lama dan membuat saya sedikit lupa atas antusiasme di tempat ini.

#9 2023

May 8, 2023

Pajak Motor (8)

Hari ini saya izin untuk tidak masuk kampus meskipun ada acara halal bihalal setelah libur panjang. Saya harus mengurus pajak kendaraan motor yang sudah tiga bulan off dan harus ganti plat. Sebenarnya saya sudah minta diuruskan oleh tetangga yang  juga calo pengurusan dokumen kendaraan namun dia mematok harga yang menurut saya tidak rasional sehingga saya memutuskan untuk mengurus sendiri. Harga yang dikenakan mencapai 1,5 juta sementara motor ini sudah 10 tahun dan sudah bayar mahal saat cabut berkas di Madiun.

Saat berada di samsat Jakarta Selatan, saya menuju lokasi cek fisik kendaraan yang sudah dipenuhi motor dan mobil yang sedang antri cek fisik ganti plat. Saya menanyakan pada salah satu karyawan yang bertugas bagaimana prosedur mutasi kendaraan dengan menunjukkan dokumen cabut berkas. Dia menjelaskan bahwa kendaraan harus digesek ulang sebagai bukti kehadiran kendaraan kemudian diajukan mutasi.

Sebelum proses gesek fisik kendaraan, si petugas mengatakan dengan jelas kepada saya bahwa saya bantu namun mohon pengertiannya saja. Sebuah pernyataan yang tentu sebagai bentuk meminta imbalan dari pekerjaannya sedangkan sudah jelas tertulis di aturan bahwa cek fisik kendaraan tidak dipungut biaya. Saya merogoh dua lembar lima ribu sebagai bentuk pengertian yang dia maksud.

Saya bandingkan dengan petugas cek fisik di Samsat Jakarta Timur ketika bulan lalu saya mengurus kendaraan di sana. Petugasnya sama sekali tidak mengeluarkan kalimat meminta imbalan dan hanya sibuk menyelesaikan tugasnya dengan baik meskipun begitu, pemilik kendaraan memberikan imbalan sebagai apresiasi atas pekerjaannya.

Setelah cek fisik, dokumen masih harus dicek kembali oleh bagian Tata Usaha (TU) terkait kelengkapan dokumen. Ternyata tidak bisa selesai dalam satu hari dan saya diminta untuk kembali esok harinya. Saya meminta keringanan agar bisa diurus di senin depan karena esok hari saya harus masuk kampus. Petugasnya dengan senang hati mengatakan bahwa saya bisa mengurus senin pekan depan.

Saya juga menanyakan persoalan biaya yang harus saya siapkan namun ternyata estimasinya belum bisa ditentukan karena nomor kendaraan belum terbit. 

#8 2023

May 7, 2023

Konsep Rezeki (7)

Kemarin menjadi hari yang penuh pelajaran dalam hidupku. Aku benar-benar memeras otak untuk menangkap semua pesan yang disampaikan semesta kepadaku atas berbagai kejadian yang tidak mampu kuurai secara rasional. Aku sekuat tenaga berdoa agar dihindarkan dari rasa putus asa dan menyalahkan kejadian yang kuhadapi karena di beberapa titik kejadian, aku benar-benar ingin berteriak sekencang-kencangnya atas kenyataan yang tidak sesuai dengan harapanku.

Jadi, sejak turun dari pesawat, aku sudah berniat untuk mencari transportasi yang ramah dompet karena pengeluaran selama liburan sudah banyak. Aku sudah mengecek harga taxi online sejak pesawat landing, ternyata harganya cukup mahal. 

Aku kemudian mengecek perbandingan harga dengan taxi online lain yang ternyata tertera lebih murah. Ketika sampai di tempat penjemputan, aku mengecek kembali harga sebelum memesan dan harganya naik lebih 50%.

Aku memutuskan membatalkan pesanan dan beralih ke bis Damri yang tentu harganya jauh lebih murah meskipun durasi perjalanan lebih lama. Aku memesan Damri jurusan Pasar Minggu. Perjalanan tidak terlalu macet meskipun di beberapa titik, terdapat kepadatan kendaraan.

Masalah terjadi ketika sudah memasuki kawasan Pasar Minggu. Kendaraan padat merayap dan hujan turun dengan sangat deras sementara sebentar lagi aku sudah harus turun dari bis. Aku berharap hujan reda sebelum turun agar bisa pulang dengan ojek online yang lebih murah dari mobil online.

Benar saja, ketika turun dari bis, hujan semakin deras sehingga tidak memungkinkan untuk memesan ojek online. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku memutuskan untuk memesan taxi online dengan harga jauh lebih mahal. 

Aku pun harus menunggu cukup lama karena macet sehingga mobil tidak bisa segera datang. Masalah lain muncul ketika mobil tiba, hujan sudah reda yang harusnya saya bisa memesan ojek online. Aku berusaha memaklumi keadaan bahwa memang semakin kita irit maka semakin ada keadaan yang memaksa kita mengeluarkan biaya lebih dari perkiraan kita.

Memasuki kawasan dekat rumah, ternyata tidak ada tanda-tanda hujan sebelumnya, jalanan kering dan tidak ada sisa air hujan. Ternyata hujan hanya di sekitar kawasan Pasar Minggu.

Begitulah mungkin konsep rezeki. Tidak bisa dikuantifikasi dengan kalkulasi manusia karena jika memang bukan rezeki, maka akan keluar sendirinya, namun jika memang itu rezeki maka akan menjadi hak kita.

#7 2023

May 6, 2023

Penderitaan dan Kebosanan (6)

Manusia berada di antara dua lubang jarum, perasaan menderita dan kebosanan. Kedua kondisi tersebut silih berganti menyerang perasaan manusia. Jika sedang memperjuangkan sesuatu maka manusia akan berada dalam kondisi menderita, sementara ketika semua ambisi sudah terpenuhi dan berada dalam zona nyaman dalam waktu tertentu, maka rasa bosan akan menjadi teman baik bagi manusia.

Begitulah absurdnya hidup yang sedang dijalani tanpa tahu apa hakikat dari semua itu. Titik temu dari semua itu hanya ajal yang akan mengantarkan manusia ke alam lain. Mungkin bukan akhir namun setidaknya bagi manusia yang masih hidup, mereka merasa bahwa kematianlah yang mengakhiri semua penderitaan dan rasa bosan.

Agama hadir untuk mengantarkan kabar gembira dan solusi atas kedua kondisi tersebut, bahwa dengan rasa syukur dan sabar, maka manusia akan terlepas dari penderitaan dan rasa bosan kemudian akan menghadirkan ketenangan jiwa yang membuat hidup manusia lebih tenang.

Namun tentu rumus syukur dan sabar bukan rumus matematika yang bisa selesai dengan memahaminya namun proses menjalani laku syukur dan sabar yang berat. Tidak jarang manusia  gagal menjalaninya kemudian kembali menderita dan merasa bosan.

Manusia yang bunuh diri hanya disebabkan dua hal, tentu penderitaan dan rasa bosan itu. Manusia yang gagal memenuhi ambisinya dari perasaan menderita, seringkali mengambil jalan pintas untuk bunuh diri. Demikian halnya dengan manusia yang dimudahkan semesta memenuhi semua ambisinya bahkan mungkin tidak ada ambisinya yang tidak terpenuhi, maka dalam kondisi jiwa yang merasa bosan, seringkali juga berakhir dengan bunuh diri.

Begitulah kehidupan manusia yang absurd.

Jika pernah bertemu orang yang meninggalkan semua kekayaannya kemudian hidup sederhana, itu karena mereka mengalami rasa bosan yang tak tertahankan kemudian ingin mencari ketenangan jiwa.

Di lain waktu ketika berjumpa dengan manusia yang melakukan segala cara untuk memenuhi ambisinya, maka dia sedang dalam penderitaan yang berkepanjangan.

Albert Camus bilang bahwa jika ada dua pilihan, bunuh diri atau minum kopi, maka saya lebih baik minum kopi. Seberat dan seabsurd apa pun hidup ini, tetap layak dijalani.

#6 2023

May 5, 2023

Mulai dari Mana (5)

Saya benar-benar baru meraba harus mulai dari mana semua ini. Semua seakan tampak samar dan tidak ada kejelasan yang harus saya lalui. Jalanan terlalu berdebu dan menyisakan kabut yang agak rumit untuk diurai. Keputusan hidup yang saya ambil kali ini memaksa saya untuk berada di zona yang lumayan sangat tidak nyaman.

Apakah saya harus melangkah mundur? Tentu tidak

Namun road map yang harus saya lalui di tempat yang baru ini masih terlalu gelap. Ketika saya urai satu persatu, jalanannya ternyata terlalu terjal dan harus berjibaku dengan berbagai keadaan. Kemampuan diri, lingkungan yang kurang mendukung, semangat yang sedikit mulai terkikis dan berbagai hal lain yang harus saya atasi demi sebuah tujuan yang sudah saya tetapkan sebelumnya.

Empat bulan sudah lamanya saya lalui di jalanan ini dan saya masih serasa jalan di tempat tanpa ada pergerakan yang berarti. Saya sedang mencari mentor namun sayangnya belum dipertemukan oleh semesta.

#5 2023

May 4, 2023

Last Day in Village (4)

Sebenarnya saya balik ke Jakarta masih dua hari lagi namun saya memutuskan untuk mampir di Makassar sehari sebelum balik ke Ibu Kota. Maka ini hari terakhir saya di kampung. 

Hari terakhir di kampung selalu meninggalkan perasaan hampa karena menyadari bahwa sebentar lagi harus pergi jauh dari jangkauan Ibu. Saya memandangi semua sudut rumah dan merasakan bahwa ada banyak hal yang akan saya rindukan, mungkin semua.

Dua minggu di kampung serasa hanya sehari, padahal saya hanya menghabiskan sebagian waktu di rumah dan melepaskan semua penat dan kerinduan.

#4 2023

May 3, 2023

Kampungku (3)

Saya ingin sekali menulis tentang perasaan yang saya alami selama di kampung. Bukan tentang rasa rindu namun tentang kondisi kampung yang saya saksikan. Apalagi kalau bukan masifnya pembukaan lahan pertanian bawang. Di satu sisi, saya ikut senang melihat kehidupan ekonomi penduduk kampung yang bergeliat dengan hasil bawang yang membawa dampak baik secara ekonomi untuk berbagai kalangan.

Itu di satu sisi, namun ketakutan terbesar yang saya khawatirkan tentang masa dengan lingkungan kampung halaman. Pembukaan lahan pertanian bawang dilakukan tanpa memperhitungkan efek negatif. Semua lahan dibabat habis bahkan bukit di sepanjang jalan umum pun disulap menjadi lahan kosong yang siap ditanami bawang.

Alhasil, di berbagai sudut kampung, longsor menjadi hal yang sangat umum sementara saat dulu ketika saya masih kecil, jika terjadi longsong maka sudah dianggap sebagai bencana besar.

Saya bingung mau menulis dari mana mengenai kondisi kampung yang di satu sisi secara perekonomian sedikit membaik dengan pertanian bawang merah yang merajalela, namun ancaman kerusakan lingkungan membayangi.

Hanya satu harapan yang selalu saya selipkan adalah adanya sekelompok orang yang sadar akan bahaya masa depan jika tidak ada pendampingan dalam pertanian bawang merah. Dalam artian bahwa pemahaman lahan mana yang aman dan lahan yang tidak boleh digarap. Selain itu, tentu petani bawang harus dewasa dalam menggunakan pestisida.


 #3 2023

May 2, 2023

Hardiknas (2)

Ingatan saya kembali ke masa kuliah belasan tahun yang lalu. Salah satu hajatan akbar untuk turun ke jalan adalah peringatan hari pendidikan nasional. Memang di masa kuliah, setiap peringatan hari besar dijadikan momentum untuk menyampaikan pendapat yang relevan.

2 mei merupakan peringatan hardiknas maka akan disusun berbagai aspirasi yang akan disampaikan ke pejabat terkait. Dunia pendidikan Indonesia memang masih menyimpan begitu banyak persoalan yang harus ditambal, baik dari sistemnya, pelajar, pengajar, fasilitas dan berbagai elemen lain dalam dunia pendidikan.

Sejak lulus kuliah dan sampai beberapa tahun kemudian, tanggal 2 mei saya lewati tanpa perayaan bahkan seringkali saya tidak menyadari bahwa momen tersebut begitu sakral saat mahasiswa dulu. Saya abai karena terlalu sibuk bekerja di dunia korporasi yang merampas sebagian kedaluatan saya untuk menyuarakan apa yang saya rasakan.

Tibalah akhirnya saya kembali ke dunia pendidikan yang lama saya dambakan. Kembali menjadi bagian dari dunia pendidikan tentu memaksa saya untuk memutar kembali memori untuk merefleksikan semua aspek dalam dunia pendidikan dan tanggal 2 mei menjadi momentum paling tepat untuk menakar semua hal tentang pendidikan.

Jika dulu saya sebagai seorang pelajar maka saat ini posisi saya menjadi seorang pengajar yang tentu memiliki kewajiban lebih besar dari sekadar menjadi pelajar. Saya harus memikirkan banyak hal khususnya bagaimana menjadi pengajar yang baik dalam berbagai hal termasuk menjadi contoh yang baik.

#2 2023

May 1, 2023

Evaluasi Diri (1)

April sudah berlalu dengan berbagai dinamika yang sudah dilewati. Salah satunya tentu momen lebaran dan euforia mudik yang sudah berlalu. Ramadan selalu menjadi momen yang paling mengesankan dan selalu dirindukan. Ada rasa yang hilang ketika ramadan terakhir sudah tiba. Ada rasa hampa yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Selain itu, bulan april juga menjadi momen paling menyebalkan karena saya tidak bisa melakukan banyak hal termasuk membaca banyak buku dan menulis lebih sering lagi. Meskipun untuk tulisan, ada beberapa hal yang kusyukuri karena saya merasa lebih sering menulis dari sebelumnya namun seharusnya bisa lebih produktif lagi.

Membaca adalah aktivitas paling saya sesali karena tidak terlalu banyak buku yang saya tuntaskan di ramadan kali ini. Buku yang menumpuk di meja seharusnya bisa saya cicil untuk menambah sedikit wawasan namun ternyata saya tidak mampu produktif dalam membaca.

Setelah mei menjelang, saya ingin menambah produktivitas yang jauh lebih intens dari apa yang sudah saya lakukan di bulan april. Membaca dan menulis masih merupakan target utama untuk  dituntaskan selain tentu kewajiban mengajar dan meneliti.

Semoga

#1 2023

April 30, 2023

Bersama Dua Orang Teman (30)

Setelah lulus SMA, saya tidak pernah ikut acara reuni yang kerap kali diadakan setiap tahun pasca lebaran. Momen mudik lebaran menjadi waktu paling tepat untuk mengadakan reuni karena mayoritas perantau mudik ke kampung. Saya pernah mendengar celoteh dari salah seorang teman bahwa reuni sekolah hanya ditujukan untuk mereka yang sukses dalam ukuran pekerjaan dan pendapatan.

Dalam beberapa kali tulisan, saya mengkritisi ajang reuni yang sejatinya bertujuan untuk menyambung silaturahim namun acapkali berakhir dengan ajang pamer. Kesuksesan, barang mewah, mobil terbaru, istri cantik, anak lucu, dan sederet pencapaian yang laya untuk dibanggakan. 

Saya tidak sedang menaruh rasa iri terhadap teman-teman yang ikut reuni karena saya pekerjaan yang saya jalani juga bisa dibanggakan, namun saya tentu melihat fenomena bahwa memang ada beberapa teman yang ingin menunjukkan siapa mereka sekarang. Di awal-awal lulus kuliah dan sebagian sudah bekerja, pernah suatu waktu ada teman saya yang dalam beberapa hari, dia tidak pernah melepaskan baju yang tertulis perusahaan tempatnya bekerja.

Mungkin saja itu tidak dimaksudkan sebagai bentuk ingin menunjukkan diri namun saya pribadi sangat anti untuk menggunakan atribut tempat saya bekerja. Bukan karena malu namun hanya sekadar ingin menjaga perasaan teman-teman yang masih berjuang mencari pekerjaan. 

Saat mudik, saya lebih suka menyambangi beberapa teman yang memang sefrekuensi dengan saya tanpa harus saling menunjukkan apa yang sudah dicapai. Kami hanya ingin menghabiskan cerita-cerita kekonyolan masa lalu dan cerita tentang bagaimana kita bertahan dengan segala keterbatasan yang ada tanpa harus saling menonjolkan diri.

Di suatu malam, saya mengunjungi salah seorang teman kuliah yang tinggal tidak jauh dari rumah saya di kampung. Dia tidak pernah merantau karena harus menemani ibunya. Keputusannya sangat mulia karena tidak egois meninggalkan ibunya yang semakin menua, sementara saya dengan entengnya melanglang buana ke pulau Jawa. Nilai-nilai seperti itu yang harus dipahami bahwa seseorang tidak bisa diukur dari apa yang terlihat saja.

Ketika mayoritas temannya sudah menikah, dia masih belum menemukan jodohnya namun beruntung, dia akhirnya menemukan pasangan hidupnya tahun lalu dan istrinya sedang hamil. Dia nampak bahagia ketika saya kunjungi dan seperti kebiasaan kami, selalu menunjukkan kehangatan di awal pertemuan.

Kami bercerita panjang lebar sambil mengingat kembali kenangan saat kuliah. Saat asik ngobrol, salah seorang teman yang lain datang. Teman ini dianggap lebih sukses di kampung karena menjabat sebagai sebagai pimpinan di salah satu instansi pemerintahan. Saya turut berbangga atas pencapaiannya karena saya tahu begitu kerasnya dia mendapatkan apa yang sekarang dijalaninya.

Percakapan kemudian menjadi membosankan karena teman yang baru datang tadi terus menanyakan aktivitas saya di perantauan. Saya sudah memberikan beberapa kode bahwa saya tidak terlalu nyaman ditanyai mengenai aktivitas saya di tanah rantau dan hanya ingin bercengkerama tanpa obrolan pekerjaan.

Selain itu, saya ingin menghormati teman saya yang lain karena dia tidak terlalu nyaman jika kami mengobrol masalah pekerjaan. Tujuan kami hanya ingin melepas penat dan mengingat kembali masa lalu yang pernah dijalani bersama-sama.

Dia sama sekali tidak peka sehingga akhirnya teman yang saya datangi hanya diam mendengarkan kami berdua berbincang.

#30 2023

April 29, 2023

Lanjut Studi (29)

Menjadi seorang akademisi tentu harus lebih memaksa diri untuk belajar terus menerus termasuk melanjutkan studi. Selain ketentuan dari kampus, saya pribadi tertarik untuk melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi untuk mengukur batas kemampuan saya karena kita tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuan kita jika tidak menargetkan sesuatu yang lebih tinggi. 

Studi lanjut butuh dana yang lumayan besar sehingga saya harus menyiapkan segalanya untuk mendaftar beasiswa karena mungkin agak lebih sulit ketika saya lanjut dengan biaya mandiri.

#29 2023

April 28, 2023

Kecemasan dan Kekhawatiran (28)

"Do not dwell in the past, do not dream in the future, concentrate the mind on the present moment"

 _Buddha_

Saya semakin menyadari bahwa pada dasarnya, musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Peperangan terjadi terus menerus setiap waktu dengan diri dengan berbagai bentuk dan dimensi peperangan yang harus dimenangkan. Semua manusia punya porsi tersendiri dalam melawan dirinya namun sesungguhnya bahwa bukan hal mudah untuk menaklukkan berbagai hasrat dari dalam diri.

Semenjak berkeluarga, saya semakin keras melawan diri yang terus dihantui masa lalu dan dicemaskan masa depan. Dua kondisi yang terus menggelayut di kepala tanpa mau sedikit pun menyingkir. Penyesalan masa lalu karena saya merasa terlalu banyak waktu yang terbuang untuk hal yang sia-sia sementara saya mencemaskan masa depan karena kekhawatiran yang belum tentu adanya.

Meskipun mudah untuk mengatakan bahwa manusia harus hidup pada masa kini namun bukan perkara seperti membalik telapak tangan. Perkara hidup di masa kini adalah perkara memaksa diri untuk menekuni apa-apa yang sedang dijalani saat ini dengan komitmen dan konsentrasi yang penuh dan menyerahkan segalanya kepada Sang Maha atas apa yang akan terjadi esok hari.

Namun sekali lagi itu hanya teori yang dapat diucapkan oleh siapa saja namun hanya sedikit sekali manusia yang mampu menjalaninya dengan baik dan konsisten. Menjalani hari-hari saat ini tanpa merasa khawatir esok hari merupakan kemewahan bagi sedikit manusia yang mampu mengalahkan dirinya sendiri.

#28 2023

April 27, 2023

Toleransi (27)

Saya bersama rombongan keluarga ke Palopo untuk menghadiri hajatan pernikahan salah satu saudara sepupu yang selama ini tinggal di Sorong namun menemukan jodohnya di Palopo. Perjalanan dari kampung saya ke Palopo membutuhkan energi yang besar karena perjalanan yang cukup melelahkan dengan kondisi jalan berbelok. Untungnya aspal jalan mulus sehingga tidak terlalu menyiksa perjalanan panjang.

Sebelum memasuki Palopo, mobil melewati sepanjang jalan protokol di Toraja. Daerah yang terkenal karena wisatanya sehingga seringkali dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing. Selain pemandangan alamnya, budayanya juga yang menjadi daya tarik para wisatawan.

Setelah melewati Toraja maka perjalanan sesungguhnya dimulai saat berada di puncak turun ke kota Palopo. Mobil harus melewati lereng bukit yang cukup curam dan beberapa titik yang rawan longsor. Saat belok kiri, badan belum lurus namun harus belok kanan lagi. Kondisi demikian yang membuat sebagian orang tidak kuat menahan mabok perjalanan.

Namun yang ingin saya ceritakan di sini bukan tentang perjalanan tadi namun tentang daerah Toraja unik. Penduduk Toraja dikenal mayoritas menganut agama Kristiani sementara wilayah di sekitarnya seperti Palopo dan Enrekang, mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Hal itu yang menjadi salah satu tanda tanya besar bagaimana sejarah panjang ajaran Kristiani tersebar di Toraja yang diapit oleh daerah dengan penduduk yang menganut Islam.

Konon kabarnya bahwa persinggungannya dengan suku Batak sangat kuat. Entah mungkin ada misionaris dari Batak yang kemudian bermukim di Toraja atau seperti apa namun kisah ini belum tervalidasi. Ciri-ciri fisik orang Toraja tidak jauh berbeda dengan penduduk asli Palopo dan Enrekang.

Keunikan lainnya bahwa meskipun diapit oleh wilayah dengan penganut Islam mayoritas, sejak saya lahir sampai sekarang, saya tidak pernah mendengar ada konflik agama antara wilayah tetangga dengan Toraja. Toleransi yang dianut sangat tinggi sehingga penghargaan terhadap pemeluk agama berbeda sangat dihargai.

Warga Toraja sangat menghargai penganut agama Islam. Mereka menyiapkan alat makan khusus untuk tamu Muslim demi menjaga agar makanan yang diharamkan oleh Islam tidak tercampur dengan makanan mereka seperti Babi. Penghargaan seperti itu mungkin yang kemudian membuat mereka rukun dengan wilayah lain.

Orang Toraja juga dikenal sangat baik terhadap sesama mereka bahkan terhadap kami orang Enrekang. Saya salah satu saksi hidup bagaimana baiknya teman-teman saya yang berasal dari Toraja. Bahkan saat pertama kali merantau ke Jakarta, saya menginap di kos teman saya yang dari Toraja. Saya beberapa minggu di sana dan sikap tidak pernah berubah bahkan dia menyiapkan makanan untuk saya. Sampai saat ini pun, hubungan pertemanan kami masih tetap baik.

Orang Toraja dikenal sangat mendukung kesuksesan sesama mereka. Di beberapa instansi maupun Perusahaan, selalu ditemukan beberapa orang Toraja yang sudah sukses. Prinsip mereka, jika ada yang sukses maka dia harus menjadi jembatan bagi yang lainnya untuk meniti kesuksesan.

Begitulah bagaimana mereka memberikan saya hikmah tentang kebaikan kepada sesama.

#27 2023