April 30, 2023

Bersama Dua Orang Teman (30)

Setelah lulus SMA, saya tidak pernah ikut acara reuni yang kerap kali diadakan setiap tahun pasca lebaran. Momen mudik lebaran menjadi waktu paling tepat untuk mengadakan reuni karena mayoritas perantau mudik ke kampung. Saya pernah mendengar celoteh dari salah seorang teman bahwa reuni sekolah hanya ditujukan untuk mereka yang sukses dalam ukuran pekerjaan dan pendapatan.

Dalam beberapa kali tulisan, saya mengkritisi ajang reuni yang sejatinya bertujuan untuk menyambung silaturahim namun acapkali berakhir dengan ajang pamer. Kesuksesan, barang mewah, mobil terbaru, istri cantik, anak lucu, dan sederet pencapaian yang laya untuk dibanggakan. 

Saya tidak sedang menaruh rasa iri terhadap teman-teman yang ikut reuni karena saya pekerjaan yang saya jalani juga bisa dibanggakan, namun saya tentu melihat fenomena bahwa memang ada beberapa teman yang ingin menunjukkan siapa mereka sekarang. Di awal-awal lulus kuliah dan sebagian sudah bekerja, pernah suatu waktu ada teman saya yang dalam beberapa hari, dia tidak pernah melepaskan baju yang tertulis perusahaan tempatnya bekerja.

Mungkin saja itu tidak dimaksudkan sebagai bentuk ingin menunjukkan diri namun saya pribadi sangat anti untuk menggunakan atribut tempat saya bekerja. Bukan karena malu namun hanya sekadar ingin menjaga perasaan teman-teman yang masih berjuang mencari pekerjaan. 

Saat mudik, saya lebih suka menyambangi beberapa teman yang memang sefrekuensi dengan saya tanpa harus saling menunjukkan apa yang sudah dicapai. Kami hanya ingin menghabiskan cerita-cerita kekonyolan masa lalu dan cerita tentang bagaimana kita bertahan dengan segala keterbatasan yang ada tanpa harus saling menonjolkan diri.

Di suatu malam, saya mengunjungi salah seorang teman kuliah yang tinggal tidak jauh dari rumah saya di kampung. Dia tidak pernah merantau karena harus menemani ibunya. Keputusannya sangat mulia karena tidak egois meninggalkan ibunya yang semakin menua, sementara saya dengan entengnya melanglang buana ke pulau Jawa. Nilai-nilai seperti itu yang harus dipahami bahwa seseorang tidak bisa diukur dari apa yang terlihat saja.

Ketika mayoritas temannya sudah menikah, dia masih belum menemukan jodohnya namun beruntung, dia akhirnya menemukan pasangan hidupnya tahun lalu dan istrinya sedang hamil. Dia nampak bahagia ketika saya kunjungi dan seperti kebiasaan kami, selalu menunjukkan kehangatan di awal pertemuan.

Kami bercerita panjang lebar sambil mengingat kembali kenangan saat kuliah. Saat asik ngobrol, salah seorang teman yang lain datang. Teman ini dianggap lebih sukses di kampung karena menjabat sebagai sebagai pimpinan di salah satu instansi pemerintahan. Saya turut berbangga atas pencapaiannya karena saya tahu begitu kerasnya dia mendapatkan apa yang sekarang dijalaninya.

Percakapan kemudian menjadi membosankan karena teman yang baru datang tadi terus menanyakan aktivitas saya di perantauan. Saya sudah memberikan beberapa kode bahwa saya tidak terlalu nyaman ditanyai mengenai aktivitas saya di tanah rantau dan hanya ingin bercengkerama tanpa obrolan pekerjaan.

Selain itu, saya ingin menghormati teman saya yang lain karena dia tidak terlalu nyaman jika kami mengobrol masalah pekerjaan. Tujuan kami hanya ingin melepas penat dan mengingat kembali masa lalu yang pernah dijalani bersama-sama.

Dia sama sekali tidak peka sehingga akhirnya teman yang saya datangi hanya diam mendengarkan kami berdua berbincang.

#30 2023

No comments: