Saya bersama rombongan keluarga ke Palopo untuk menghadiri hajatan pernikahan salah satu saudara sepupu yang selama ini tinggal di Sorong namun menemukan jodohnya di Palopo. Perjalanan dari kampung saya ke Palopo membutuhkan energi yang besar karena perjalanan yang cukup melelahkan dengan kondisi jalan berbelok. Untungnya aspal jalan mulus sehingga tidak terlalu menyiksa perjalanan panjang.
Sebelum memasuki Palopo, mobil melewati sepanjang jalan protokol di Toraja. Daerah yang terkenal karena wisatanya sehingga seringkali dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing. Selain pemandangan alamnya, budayanya juga yang menjadi daya tarik para wisatawan.
Setelah melewati Toraja maka perjalanan sesungguhnya dimulai saat berada di puncak turun ke kota Palopo. Mobil harus melewati lereng bukit yang cukup curam dan beberapa titik yang rawan longsor. Saat belok kiri, badan belum lurus namun harus belok kanan lagi. Kondisi demikian yang membuat sebagian orang tidak kuat menahan mabok perjalanan.
Namun yang ingin saya ceritakan di sini bukan tentang perjalanan tadi namun tentang daerah Toraja unik. Penduduk Toraja dikenal mayoritas menganut agama Kristiani sementara wilayah di sekitarnya seperti Palopo dan Enrekang, mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Hal itu yang menjadi salah satu tanda tanya besar bagaimana sejarah panjang ajaran Kristiani tersebar di Toraja yang diapit oleh daerah dengan penduduk yang menganut Islam.
Konon kabarnya bahwa persinggungannya dengan suku Batak sangat kuat. Entah mungkin ada misionaris dari Batak yang kemudian bermukim di Toraja atau seperti apa namun kisah ini belum tervalidasi. Ciri-ciri fisik orang Toraja tidak jauh berbeda dengan penduduk asli Palopo dan Enrekang.
Keunikan lainnya bahwa meskipun diapit oleh wilayah dengan penganut Islam mayoritas, sejak saya lahir sampai sekarang, saya tidak pernah mendengar ada konflik agama antara wilayah tetangga dengan Toraja. Toleransi yang dianut sangat tinggi sehingga penghargaan terhadap pemeluk agama berbeda sangat dihargai.
Warga Toraja sangat menghargai penganut agama Islam. Mereka menyiapkan alat makan khusus untuk tamu Muslim demi menjaga agar makanan yang diharamkan oleh Islam tidak tercampur dengan makanan mereka seperti Babi. Penghargaan seperti itu mungkin yang kemudian membuat mereka rukun dengan wilayah lain.
Orang Toraja juga dikenal sangat baik terhadap sesama mereka bahkan terhadap kami orang Enrekang. Saya salah satu saksi hidup bagaimana baiknya teman-teman saya yang berasal dari Toraja. Bahkan saat pertama kali merantau ke Jakarta, saya menginap di kos teman saya yang dari Toraja. Saya beberapa minggu di sana dan sikap tidak pernah berubah bahkan dia menyiapkan makanan untuk saya. Sampai saat ini pun, hubungan pertemanan kami masih tetap baik.
Orang Toraja dikenal sangat mendukung kesuksesan sesama mereka. Di beberapa instansi maupun Perusahaan, selalu ditemukan beberapa orang Toraja yang sudah sukses. Prinsip mereka, jika ada yang sukses maka dia harus menjadi jembatan bagi yang lainnya untuk meniti kesuksesan.
Begitulah bagaimana mereka memberikan saya hikmah tentang kebaikan kepada sesama.
#27 2023
No comments:
Post a Comment