January 13, 2023

Tujuan (13)

Baru genap tiga hari saya beraktivitas di tempat yang baru dengan bidang yang sama sekali masih baru. Semua hal-hal idealis di kepala saya seketika mulai tenggelam dengan proses yang akan saya lalui. Salah satu tantangan terbesar adalah latar belakang pendidikan saya yang tidak persis sama dengan jurusan tempat saya bernaung. 

Hal ini sangat mengganggu proses adaptasi saya apalagi di hari pertama, saya sudah diberikan bocoran bahwa akan mengampu bidang tentang ekonomi. Sebuah bidang yang tentunya tidak asing namun bukan spesialisasi saya yang lebih pada bidang politik. Berkali-kali saya memastikan diri bahwa saya bisa melewatinya namun setiap kali membaca beberapa bahan terkait subjek yang harus saya kerjakan, terbayang kesulitan karena teori dasarnya pun saya tidak kuasai.

Pada dasarnya, masih ada keterkaitan antara spesialisasi saya dengan bidang yang sekarang diamanahkan kepada saya namun lebih banyak ketidaksesuaiannya. Entahlah mungkin karena saya terlalu terburu-buru untuk memutuskan mengambil kesempatan ini. Namun di sisi lain, jika saya mengabaikannya maka tentunya saya khawatir kesempatan kedua tidak akan menghampiri lagi.

Kemudian apa yang menguatkan saya untuk menjalani proses yang sedang saya jalani meskipun nampaknya cukup berat? Tentunya ada pada kata "niat."

Saya memiliki beberapa alasan sehingga memilih untuk putar haluan dari pekerjaan sebelumnya ke bidang yang sekarang saya geluti meskipun masih sangat baru. Namun alasan utama adalah sebuah nilai yang saya yakini. Life values itulah yang kemudian akan selalu menguatkan saya setiap kali saya merasa tidak bisa dan ingin mundur.

Saya sudah menguatkan hati bahwa apapun tantangannya, saya harus menerobos saya pada kemampuan maksimal saya karena jika saya balik arah, konsekuensinya cukup berat, saya hanya akan ngendon di rumah sedangkan isteri saya yang memikul beban. Saya sama sekali tidak mau hal tersebut terjadi karena tulang belulang isteri saya sudah cukup lelah secara fisik maupun psikis menemani hidup saya. Minimal saya punya sedikit andil untuk menyenangkan hatinya dengan melihat saya tetap berdiri di tempat ini dengan segala beban yang ada.

Kembali lagi ke niat bahwa tujuan saya bekerja adalah bagaimana fokus pada tujuan jangka panjang untuk meningkatkan kualitas diri termasuk nilai ibadah. Saya sedang berusaha untuk mengukur diri dari setiap hal yang saya lakukan termasuk pada hal-hal terkecil apalagi jenis pekerjaan yang harus saya tekuni selama hidup.

Saya meyakinkan diri bahwa bidang yang saya jalani sekarang bisa membawa saya ke arah yang lebih baik dan tidak ragu atas setiap apa yang saya dapat dari sini sepanjang saya benar-benar melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.

#13 2023

January 12, 2023

Rapat (12)

Hari ini, pertama kalinya saya ikut rapat fakultas yang membuka cakrawala berpikir saya bahwa bekerja di tempat dan bidang apapun pada dasarnya sama saja. Saya sudah menyadari hal tersebut sebelum memutuskan untuk pindah kerja, namun keputusan tetap saya ambil bukan karena menghindari pekerjaan sebelumnya namun berkali-kali saya sampaikan bahwa ada nilai yang coba saya perjuangkan. 

Jika seandainya pada kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran saya, maka setidaknya saya tidak mati penasaran karena sudah menjalani dan masuk di dalamnya. Namun jika sesuai dengan target yang saya impikan, maka apa yang saya kerjakan mengarahkan saya pada hidup yang saya jalani dengan tenang.

Rapat fakultas membahas tentang segala hal teknis bukan hanya tentang kegiatan belajar mengajar namun juga tentang faktor pendukung. Ada begitu banyak deadline yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, sehingga tentunya akan menyita waktu para pengajar untuk melakukan penelitian yang berkualitas.

Saya baru menyadari bahwa keluhan sebagian besar tenaga pengajar tentang banyaknya tugas administrasi, benar adanya. Mereka seringkali terdistraksi namun melakukan penelitian yang berkualitas karena tugas tambahan yang tidak ada habisnya. Tentunya ada yang tetap survive dengan keadaan seperti itu namun sebagian besar menyerah dan hanya sekadar mengikuti pola yang ada.

Bayangan saya di dunia akademisi adalah adanya iklim dialektika yang berlangsung terus menerus untuk melahirkan berbagai karya demi kemanusiaan dalam bidang apapun, namun ternyata mereka yang seharusnya melahirkan ide-ide segar ternyata sudah tidak punya energi karena kehabisan bensin mengerjakan tugas administrasi.

Saya menyadari bahwa apa yang akan saya lalui tidak lebih mudah dari proses yang saya lalui di perusahaan sebelumnya. Bayang-bayang tentang dunia yang penuh dengan dialektika samar-samar meredup diganti dengan kesibukan mengurusi semua persoalan administrasi dan teknik lainnya yang hanya bersifat pendukung dalam dunia pendidikan.

Hambatan terakhir mungkin seperti yang dikeluhkan sebagian orang yang berkecimpung di dalam bidang ini bahwa finansial tidak terlalu besar sebagaimana kita bekerja di korporasi. Namun begitulah konsekuensi dari semua pilihan sehingga saya selalu meyakinkan diri bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan materi khususnya uang. Ada nilai yang tidak bisa terbeli dengan uang dan itu sangat besar implikasinya terhadap hidup seseorang jika digadaikan begitu saja. Namun kembali ke masing-masing pribadi. Semua orang punya prioritas hidup  yang tidak bisa saling diperbandingkan. Tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya hanya dengan menilai hal-hal yang empirik.

Saya mencoba untuk meraba strategi apa yang harus saya gunakan untuk tetap produktif ke depannya tanpa mengabaikan tugas tambahan.

#12 2023

January 11, 2023

Tinggal di Kos (11)

Setelah sekian lama sekitar 8 tahun yang lalu, terakhir kalinya saya tinggal di kos di daerah Jakarta Timur. Tahun ini, kemungkinan saya akan merasakan suasana kos di kota lain. Sebuah siklus kehidupan yang berulang. Jika bedanya dulu saya masih bujang dan harus tinggal di kos, sekarang saya sudah punya keluarga dan terpaksa tinggal di kos karena bekerja di kota yang berbeda dengan keluarga.

Cukup berat untuk ukuran saya dengan kondisi sekarang untuk memulai hal yang baru bahkan dengan pendapatan yang tidak sebesar sebelumnya namun saya paham bahwa ini konsekuensi dan saya keputusan ini saya ambil secara pribadi tanpa ada paksaan sama sekali dari siapa pun.

Perkara mencari kos semacam mencari jodoh, terkadang bagus namun tidak jodoh. Seringkali sudah diincar dalam waktu lama tetapi tidak berjodoh namun kadangkala hanya sekali liat dan langsung cocok.

Untuk sementara, kos yang saya sewa tempati saat ini cukup layak untuk ukuran saya sebagai pemula di kota ini. Letak kos tepat berada di belakang kampus sehingga tidak butuh waktu untuk berangkat ke kampus. Bangunan kos masih baru namun hanya terdapat empat kamar. Hal tersebut karena bangunan tersebut hanya merupakan sisi luar dari rumah sang pemilik yang tidak digunakan sebagai tempat tinggal, alhasil, si pemilik memutuskan untuk merenovasi sebagai rumah kos.

Awalnya ibu kos agak berat menerima saya karena kos tersebut ditujukan untuk perempuan. Ibu kos berpandangan bahwa alangkah baiknya untuk perempuan saja karena risiko lebih kecil apalagi dia jarang di rumah karena masih bekerja di salah satu instansi pemerintah. Namun setelah saya menjelaskan bahwa aktivitas saya di kampus dan sudah berkeluarga, maka dengan sedikit berat hati, si ibu kos menerima saya menempati kamar nomor dua.

Ibu kos sangat ketat sebelum menerima saya. Awalnya saya hanya berkomunikasi lewat telepon namun dia tidak mau menerima saya jika tidak bertemu langsung. Akhirnya saya harus menunggu sore hari karena dia biasanya pulang kantor jam 4 sore. Setelah bertemu, banyak pertanyaan dan kekhawatiran yang disampaikan kepada saya. Salah satunya adalah mewanti-wanti saya untuk tidak membawa perempuan ke kamar.

Setelah semalam tidur di kos, saya cukup merasa aman dengan berbagai kondisi yang ada. Lingkungannya cukup aman dan tidak berisik. Kondisi bangunannya cukup bersih karena masih baru dan hawanya tidak panas sehingga di malam hari, saya tidak harus menggunakan kipas angin.

#11 2023

January 10, 2023

Anak Saya Sudah Mengerti (10)

Pagi tadi sekitar jam sepuluh, tiba-tiba saja istri saya mengirimi sebuah pesan yang berhasil meruntuhkan pertahanan diri saya sebagai seorang pejuang LDR. Pesan singkat melalui wa yang mengiris lubuk hati terdalam. Istri saya mengirimi pesan dengan redaksi seperti ini:

"Damar teko omah iso omong aq setiap tahu motor ingat papa."

Hati saya runtuh dan bulir-bulir air di sudut mata berhamburan. Perih rasanya menyadari bahwa anak saya satu-satunya ternyata sudah mendemonstrasikan perasaannya tentang ketidakberadaan saya di rumah. Memang sejak dia lahir sampai di saat umurnya yang sudah menginjak lebih dari enam tahun, saya tidak pernah meninggalkannya terlalu lama. Maksimal seminggu dalam sebulan ketika saya sedang ada tugas audit di luar kota.

Namun kali ini, saya benar-benar pergi untuk sebuah pekerjaan yang mengharuskan saya tinggal di kota yang berbeda. Meskipun saya masih bisa pulang setiap weekend karena jarak kota tempat saya tinggal hanya sekitar 3 jam, namun tetap saja bahwa ada sesuatu yang hilang. Dia sudah terbiasa menyambut saya setiap kali pulang kantor dan sekarang tidak bisa lagi dia lakukan setiap sore menjelang malam.

Saya menyadari bahwa saya terlalu mengabaikan perasaannya. Saya tidak mencoba untuk mengerti apa yang dia rasakan selama saya harus pergi di minggu sore dan baru pulang ke rumah di malam sabtu. Mungkin saya adalah seorang ayah yang egois karena mementingkan karir namun apa daya, pilihan sudah ditetapkan dan harus dijalani karena mudharatnya lebih besar jika saya meninggalkan pekerjaan dan harus di rumah tanpa ada kegiatan apa-apa.

Saya terlalu menggampangkan persoalan LDR karena melihat teman-teman saya banyak yang LDR bahkan mereka tidak sempat pulang seminggu sekali karena jarak yang cukup jauh dan biaya yang mahal. Ternyata jauh dari anak bukan persoalan mudah yang bisa dinarasikan dalam sebuah komitmen dan tidak semudah ketika diucapkan. Jauh dari anak merupakan pekerjaan berhari-hari untuk menguatkan hati dan perasaan mendalam atas kerinduan terhadap seorang anak.

Ada banyak cerita tentang seorang ayah yang jauh dari anak istri namun di lain sisi, ada juga cerita tentang seorang ayah yang memutuskan untuk bekerja apa saja untuk tetap bersama dengan anak istri. Cerita kedua datang dari teman saya yang memilih sikap untuk tidak akan pernah jauh dari anak istrinya. Dia akan memutuskan untuk resign dari perusahaan jika seandainya dia dimutasi keluar kota yang mengharuskan tinggal jauh dari anak istrinya.

Saya mengapresiasi sikapnya yang mampu menjaga komitmen untuk tetap dekat dengan anak istrinya sementara saya memutuskan untuk bekerja di kota lain karena tidak ingin membebani istri saya sebagai pencari nafkah.

Hidup adalah jalan sunyi masing-masing manusia dengan segala dinamikanya. Saya yakin bahwa semua manusia punya strategi hidup masing-masing dengan segala pertimbangannya, saya pun demikian. Salah satu pertimbangan terbesar saya dalam menjalani hidup adalah menjaga apa yang masuk ke dalam perut. Saya sekuat tenaga untuk menjaga kebersihan nafkah yang akan kami makan sekeluarga sekalipun harus jauh dari anak istri.

Ini baru permulaan dan saya sudah mengeluarkan energi yang cukup besar untuk menahan rindu saya terhadap anak. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa ke depannya karena perjuangan baru saja dimulai.

Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana awal.

#10 2023

January 9, 2023

A Day in My Life (9)

Hari saya akan memulai hari yang baru. Subuh dini hari, saya sudah bangun dan menenangkan diri sambil merapalkan berbagai doa semoga Sang Maha menemani dan memampukan saya melewati semua proses hari ini. Salah satu fungsi doa ada untuk meyakinkan diri bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.

Selepas subuh, saya melanjutkan tidur karena badan masih terasa penat. Saya baru terjaga sekitar pukul tujuh kurang 10 menit. Ada pesan wa dari isteri memastikan bahwa apakah saya sudah memberitahukan pihak kampus bahwa saya sudah di kota ini.

Berhubung karena saya belum memberitahukan pihak SDI, saya kemudian mengirimi kabag SDI pesan via wa bahwa saya sudah di lokasi. Pihak SDI menyampaikan bahwa jam sembilan saya melapor ke kampus I.

Berhubung penginapan ke kampus tidak terlalu jauh, maka saya memutuskan untuk jalan kaki sambil menikmati suasana baru. Hanya butuh sekitar 7 menit untuk tiba di kampus. Setelah menunggu beberapa saat, saya bertemu dengan bagian SDI dan menandatangani kontrak. Setelah itu saya diperkenalkan dengan semua staf administrasi di rektorat kemudian selanjutnya diantar ke kampus 2.

Di kampus 2 ini terdapat beberapa ruang kelas dan juga ruang untuk staf pendidik. Saya hanya menemui satpam kampus karena perkuliahan sedang libur. Ruangan saya di lantai 3 dan rekan yang lain belum ada yang masuk. Beberapa menit setelah menunggu di ruangan, salah seorang rekan datang dan ruangannya persis di samping saya.

Saya kemudian ditelepon oleh pimpinan fakultas dan diarahkan ke kampus 3 untuk perkenalan. Jaraknya tidak terlalu jauh namun tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki. Saya menumpang mobil ibu rektor yang juga akan berkunjung ke kampus 3. 

Setiba di sana, saya melihat kampus yang hanya 1 bangunan dan berada di dalam kompleks perumahan. Saya bertemu dengan dekan yang sedang duduk di bawah kemudian diajak mengobrol seputar pekerjaan.

Salah satu hal yang menjadi kekhawatiranku adalah beberapa subjek benar-benar tidak sama persis dengan latar belakang pendidikanku. Saya mulai berpikir, strategi apa yang harus kugunakan untuk tetap survive karena saya sudah memilih untuk di sini dan tidak ada jalan lagi untuk pindah. Artinya bahwa apapun harus saya lakukan untuk membuktikan kapasitas diri saya dalam bidang yang akan saya tekuni.

Bukan untuk mencoba memaksakan diri namun lebih pada sebuah adaptasi di dunia yang baru. Dunia yang saya pilih untuk fase hidup selanjutnya. Bidang ini merupakan pilihan sadar saya dari berbagai macam pilihan yang ada maka dari itu, saya pantang untuk mundur hanya karena mendapat tantangan.

 #9 2023

January 8, 2023

Mulai Dari Titik O (8)

Sampailah akhirnya di kota ini seorang ini untuk memulai hal-hal baru, meninggalkan keluarga di rumah dan mengikhlaskan diri untuk kembali menjadi anak kos demi sebuah harapan yang berusaha untuk diwujudkan. Berat memang namun saya rasa hidup seharusnya seperti itu, memicu percikan yang tak terduga sehingga kita selalu berharap pada Sang Maha Segala.

Saya tiba di kota ini tadi sore sekitar setengah lima dengan menggunakan mode transportasi kereta. Kepala saya lumayan pusing karena tempat duduk saya berlawanan arah. Saya seringkali pusing jika naik kereta yang tempat duduknya menghadap berlawanan dengan laju kereta. 

Saya kemudian menggunakan transportasi online menuju penginapan yang sudah saya booking secara online sehari sebelumnya. Penginapan tersebut tidak terlalu jauh dari kampus. Kondisi penginapan sangat standar karena sesuai dengan harganya yang lumayan murah. Tidak ada air mineral maupun pemanas air di kamar. Saya harus ke warung jika ingin menikmati secangkir kopi.

Besok pagi saya sudah memulai aktivitas yang baru. Bidang yang benar-benar baru bagi saya dan menyisakan kekhawatiran dalam pikiran. Apakah saya mampu menjalani proses yang tentunya penuh dengan tantangan yang tentunya tidak ringan. Salah satu kekhawatiran yang memenuhi kepala saya bahwa apakah saya bisa mengajar dengan baik sedangkan pengalaman mengajar saya hanya ketika ikut menjadi tutor beberapa kali sebuah program english day beberapa tahun yang lalu.

Selain itu, jurusan ini tidak persis sama dengan latar belakang pendidikan saya. Tentunya juga akan cukup menyulitkan karena harus memulai dari awal. Kenapa saya mendaftar di kampus ini jika tidak sesuai dengan jurusan saya? Alasan pragmatisnya karena pihak kampus menerima lulusan dari jurusan saya.

Momen awal yang seringkali menentukan dalam setiap peristiwa yang selanjutnya akan dilalui jadi saya pikir bahwa besok adalah penentuan apakah langkah saya akan mulus untuk hari ke depannya. Meskipun mungkin masih dalam proses perkenalan namun setidaknya bahwa saya harus menampilkan kesan pertama, bukan untuk pencitraan namun lebih pada sebuah penerimaan di tempat yang baru.

saya punya rencana jangka panjang jika proses yang akan saya jalani berjalan dengan baik. Saya rencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya maksimal dua tahun untuk meniti karir dan menegaskan otoritas keilmuan saya di bidang yang saya tekuni. Tentunya tidak mudah karena banyak proses administrasi yang harus dijalani, namun saya harus merencakan dari awal sehingga waktu tidak terbuang dengan sia-sia mengingat usia saya sudah tidak muda lagi untuk memulai bidang yang baru.

Lihat bagaimana prosesnya besok. Semoga berjalan dengan lancar.

 #8 2023

January 7, 2023

Sehari Menjelang Keberangkatan (7)

Saya benar-benar akan meninggalkan rumah untuk waktu "mungkin" lama. Perasaan seperti ini terakhir saya rasakan ketika tamat SMA dan akan melanjutkan kuliah di ibu kota provinsi. Ketika itu, ada rasa berat untuk meninggalkan rumah bukan hanya dalam artian bangunan, namun rumah dalam arti sebenarnya yaitu orang tua dan keluarga lain. Saya kira mayoritas orang yang akan merantau mengalami perasaan seperti yang saya rasakan.

Kali ini, momen seperti itu kembali berulang dengan konteks yang sedikit berbeda. Jika dulu saya sebagai anak yang harus meninggalkan orang tua, maka situasinya sekarang berbalik, saya sebagai seorang ayah harus meninggalkan putra saya yang baru berumur enam tahun. Paling cepat saya balik seminggu sekali sehingga momen ini menjadi salah satu momen tersulit dalam hidup saya sejak menikah.

Hari ini saya manfaatkan untuk menghabiskan waktu dengan anak isteri dengan makan di luar. Merayakan momen yang sebentar lagi akan tiba. Momen di mana kami harus berpisah selama seminggu dan hanya memungkinkan bertemu di akhir pekan atau bahkan mungkin bisa jadi sekali dalam dua minggu.

#7 2023

January 6, 2023

Pisah Sambut (6)

Setelah dua bulan lamanya memikirkan momen ini, akhirnya tiba juga dengan segala perasaan yang campur aduk. Hari ini benar-benar menjadi hari terakhir di tempat yang sudah mewadahi aktualisasi saya selama hampir 9 tahun. Cukup lama rasanya berada di tempat ini di mana ada banyak sekali pengalaman yang tentunya tidak bisa saya lupakan begitu saja.

Ada pernyataan yang cukup unik dari pimpinan saya saat memberikan pesan dan kesan. Pernyataan yang mungkin dianggap klise dalam ada yang menurut saya luput dari pernyataan tersebut. Pimpinan menyatakan dengan retoris bahwa "jika memang tidak ada masalah dan sudah senang dengan pekerjaan sekarang, kenapa harus resign?"

Memang hal yang lumrah ketika seseorang resign kemudian ditanya kesan terhadap suasana selama di pekerjaan sebelumnya, tentunya mereka akan mengatakan kesan yang baik karena bagaimana pun, perusahaan telah menjadi salah satu dari cerita hidup yang tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja.

Resign dan kesan yang baik adalah persoalan berbeda. Setiap orang resign punya alasan yang tentunya itu tergantung terhadap prefensi pribadi. Ada yang resign karena gaji, lokasi kerja, bahkan nilai hidup yang diyakini. Begitulah lika-liku orang yang resign dengan berbagai alasannya, maka logikanya sedikit keliru ketika orang memberikan kesan yang baik terhadap perusahaan sebelumnya kemudian ditanya kenapa resign jika tidak ada masalah dan sudah senang di tempat sebelumnya.

Balik lagi ke cerita saya tentang hari terakhir menjadi bagian dari perusahaan ini. Saya menjumpai begitu banyak orang baik di perusahaan ini dengan berbagai ceritanya. Saya yang berasal dari kota nun jauh di sana dengan segala perbedaannya, selalu merasa inferior karena merasa berbeda namun orang-orang ini menerima saya dengan apa adanya. 

Salah satu persoalan yang sampai sekarang membuat saya merasa inferior adalah dialek yang tidak bisa saya samarkan. Saya tidak tahu pasti kenapa saya sangat sulit untuk sekedar menyamarkan dialek saya yang sangat kental. Namun ternyata perbedaan itu tidak menjadi persoalan berarti karena saya tetap diterima dengan baik.


#6 2023

January 5, 2023

Divorce (5)

Saya masih kaget mendengar cerita perceraian salah seorang teman lama yang berdomisili di Kota asal. Saya mengenalnya dengan cukup baik dan lumayan dekat sehingga saya tahu bagaimana kepribadiannya. Saya pun mengenal isterinya karena sebelumnya kami tergabung dalam sebuah organisasi. Keduanya dikenal sebagai orang baik yang kemudian menikah dan memiliki anak-anak yang lucu. 

Ternyata mereka sudah berpisah cukup lama, bahkan sebelum pandemi. Saya merasa bersalah karena dalam beberapa kali kesempatan saat teleponan, saya tidak sempat menanyakan kabar anak isterinya. Saya baru mengetahui kabar perpisahannya dari salah seorang teman yang lain.

Pada dasarnya, perceraian adalah hal yang seringkali terjadi dalam sebuah relasi pernikahan dengan berbagai alasan. Setiap orang punya strateginya untuk berdamai dengan relasi pernikahannya namun ada yang berhasil tetapi ada juga yang gagal dan berakhir perceraian.

Saya sendiri masih dalam proses berjuang untuk menjalani rumah tangga. Sebuah perjuangan abadi sampai pada titik akhir karena masalah akan selalu saja menghantui. Untuk saat ini, mungkin masalah ekonomi yang menjadi salah satu isu yang cukup signifikan dalam pernikahan saya meskipun masih dalam batas wajar. Apalagi bulan ini saya memutuskan untuk pindah kerja yang belum jelas bagaimana kondisinya dengan gaji yang tentunya turun dari gaji sebelumnya di perusahaan yang lama.

Hidup memang sangat misterius. Sesuatu yang terlihat tidak selalu sebagaimana adanya. Ada sisi yang tidak bisa dilihat dari setiap manusia. Mereka menyimpan banyak misteri tentang hidup ini. Maka benar adanya bahwa setiap manusia mempunyai masalahnya masing-masing. Kita tidak bisa menempatkan diri kita pada posisi orang lain dan itulah juga kita tidak boleh iri terhadap keberhasilan orang lain dan tidak merendahkan kegagalan orang lain.

Tetapi apapun itu, hidup terus berjalan dan kita dipaksa untuk tetap ikut dalam perjalanan itu. Apapun alasannya dan seberat apapun masalahnya, hidup terus mengalir dan menyeret semua orang di dalamnya.

I am still shocked to hear the divorce story of my friend who lives in our hometown. I know him well enough and close enough that I know what his personalities is like. I also know his wife because long time before, we joined in the same organization. Both of them are known as good people who later married and had cute children.

Turns out they had been apart for quite some time, even before the pandemic. I feel guilty because on several interaction when I called, I didn't have time to ask him what about his wife and children. I just found out the news of his separation from one of my other friends.

Basically, divorce is something that often happens in a marriage relationship for various reasons. Everyone has their own strategy for making peace with their marriage relationship, but some are successful but some fail and end in divorce.

I myself still in the process of struggling to live the household. An eternal struggle to the end because problems will always haunt. For now, maybe the financial aspect is one of the significant issues in my marriage even though it's still within reasonable limits. Moreover, this month I decided to resign from my previous job and start career in the new place where it is still mysterious how the conditions especially about the salary. The real fact about the salary that I will take home pay of course, less than the previous company.

Life is indeed very mysterious. Something that is seen is not always what it is. There is a side that cannot be seen from every human being. They keep many mysteries about this life. So it is true that every human being has their own problems. We cannot put ourselves in other people's positions and that is also why we must not be jealous of other people's successes and not despise other people's failures.

But whatever it is, life goes on and we are forced to stay along for the ride. Whatever the reason and no matter how serious the problem, life continues to flow and drags everyone in it.

 #5 2023

January 4, 2023

Kantin Kampus (4)

Hari ini saya memutuskan untuk mengambil cuti karena sisa jatah cuti tahunan masih sekitar lima belas hari. Sebenarnya saya memutuskan cuti karena ada janji dengan teman kuliah yang akan mengajukan jadwal sidang. Dia teman yang lumayan banyak membantu ketika saya menghadapi ujian akhir sehingga salah satu bentuk balas budi saya adalah menemaninya menghadap dosen pembimbing.

Selain itu, saya juga janjian dengan seorang teman dari pulau yang sama. Saya belum pernah bertatap muka dengannya karena interaksi kami selama ini melalui diskusi buku online. Dia salah satu anggota organisasi yang dulunya saya pernah menjadi ketua harian namun dia bergabung setelah satu sudah merantau, alhasil kami belum sempat bertatap muka.

Saya berangkat ke kampus setelah menikmati segelas kopi hitam dan beberapa potong kue. Selayaknya kebiasaan di pagi hari, saya lumayan sulit beraktivitas jika belum menyeruput segelas kopi hitam. Saya tiba di kampus lebih dulu karena teman saya masih harus mengurus dokumen untuk urusan sidang. 

Perpustakaan adalah spot paling asik untuk membunuh waktu di kampus jika tidak ada kegiatan. Selain bisa menikmati aneka buku, juga bisa menenangkan diri karena suasana perpustakaan pada umumnya hening. Semua pengunjung larut dalam samudera ide yang tertara dalam setiap lembaran buku.

Ternyata saya menunggu cukup lama karena teman saya baru tiba dua jam kemudian. Kami memutuskan untuk mengobrol di kantin samping fakultas. Obrolan kami tenggelam dalam suara obrolan mahasiswa lain yang sedang bercengkerama di kampus karena sedang jam istirahat. Kami bertiga karena salah seorang teman yang juga sudah wisuda, datang memberikan motivasi. 

Saya selalu menikmati suasana di kampus bahkan sejak kuliah di kampus terdahulu. Entah kenapa setiap berada di lingkungan kampus, ada perasaan bahagia dan tenang memandang semua sudut kampus  baik gerembolan mahasiswa maupun gedung-gedung kampus, entah itu perpustakaan, ruang kelas, fakultas bahkan kantin sekalipun.

Butuh waktu sekitar sejam kemudian dosen pembimbing teman saya muncul di kantin. Dia disuruh menunggu sampai selesai makan siang. Setelah agak lama menunggu, kami menyusulnya ke ruang fakultas, ternyata dia sedang bercengkerama dengan koleganya. Teman saya disuruh masuk ruangan kemudian saya juga pamit karena sudah janjian dengan teman lain yang dari kampung.

Saya menembus hujan deras menuju cikini karena sudah terlanjur janjian dengan teman yang dari kampung dan dia sudah menunggu di sana. Hujan yang cukup deras memaksaku mencopot sepatu supaya tidak basah. Tas kecil saya simpan di dalam baju karena berhubungan saya hanya punya jas hujan plastik tanpa celana.

Setiba di cikini, saya mengiriminya pesan melalui wa untuk janjian di perpustakaan. Meskipun kami belum pernah bertemu langsung namun tidak ada perasaan canggung karena kami sudah terbiasa mengobrol via zoom.

Ada banyak hal yang kami perbincangkan termasuk pekerjaan, pendidikan, dan hal-hal lain yang remeh namun saya baru mengetahui dari ceritanya bahwa salah satu teman karib saya di kota asal, ternyata sudah cerai dengan isterinya empat tahun lalu. Dia cerai tidak lama setelah anak bungsunya lahir. 

Saya benar-benar kaget mendengar beritanya karena sepengetahuan saya, dia salah seorang kawan yang sangat baik dan rendah hati meskipun dikenal sebagai salah satu orang yang cerdas. Saya ingat sepuluh tahun lalu ketika anak sulungnya lahir, dia sedang berada di luar negeri bahkan kelahiran anaknya saya abadikan di blog ini.

Mendengar cerita perceraian teman saya, sejurus kemudian muncul berbagai kesimpulan di kepala saya bahwa memang hidup tidak bisa diukur secara kalkulatif pada setiap orang. Semua orang punya persoalan masing-masing. Ada orang yang mampu menyimpan masalahnya namun ada pula orang yang sangat ekspresif ketika punya masalah. Hidup adalah pertarungan masing-masing manusia untuk mencapai garis finis. Kita tidak bisa memaksakan standar kita dengan kehidupan orang lain.

#4 2023

January 3, 2023

Sentimental (3)

This week is going to be one of the most sentimental weeks of my life. How could be, early next week, I will start my new job as lecturer and move to the other cities which require me to be away from my wife and child. A condition that was previously unimaginable would leave my son, who was going through his childhood. I can only go home on weekend.

This decision must have gone through careful and long consideration. The decision I made with the consent of my wife for the sake of a dream and a better possible future. There is no result of life that is not fought for and no struggle that does not result in at least some.

This afternoon while at the office, my wife sent me a photo of my son who was at school. His innocent face is able to make my heart touched because imagining that soon I can only kiss him once a week. It very a sentimental moment. I came in to rest room and started crying.

These challenges did not make me down but on the contrary, strengthened my desire to be even more active for them. It's a cliché to say that but that's how it is, they are the reason to survive in the hustle and bustle of this city, in the crazy world.

While on the motorbike from my office to home, my wife confirmed that she intended to move to a city that was a little quieter. He named two cities that he thought were pretty peaceful and they weren't cities I would be going to any minute. This means that I must have a big picture for the future to make my dreams come true, at least I have tried.

Arriving home, I found my son who was crying for some reason. I took him out to buy ice cream. I really want to leave a good impression before I leave him for another city.

I ask him a more times to know what his thinking about my decision. He said okay give me a permission move to another city for the future. He is trying to understand my decision even I don't really know that he understand what will happen or not in the next.

#3 2023

January 2, 2023

Senin Terakhir (2)

Hari ini adalah senin terakhir saya berkantor ini perusahaan ini. Ada perasaan sentimental yang merasuk di relung jiwaku. Perasaan yang menurut saya lazim terjadi pada semua orang yang akan meninggalkan sebuah tempat yang sudah lama ditinggali. Rasa haru yang saya rasakan tentunya bukan semacam penyesalan karena keputusan ini sudah saya pikirkan secara matang dan dengan pertimbangan yang prinsipil. Hanya sekadar rasa yang tersisa pada kebiasaan yang sudah dijalani bertahun-tahun.

Pagi ini seperti biasa, saya dan isteri berangkat berboncengan. Saya terus memikirkan momen yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Di sepanjang jalan, saya mengamati semua detail yang saya lewati. Menghirup aroma sudah tidak lagi segar karena sedari subuh sudah dicemari oleh kendaraan. 

Pagi ini tidak terlalu padat sebagaimana hari senin pada umumnya. Mungkin karena sebagian karyawan masih mengambil cuti awal tahun dan juga anak sekolah belum masuk. Jalan yang tidak terlalu padat membuat perjalanan kali ini cukup lancar meskipun di beberapa titik, terdapat kemacetan karena jalanan yang sedang diperbaiki.

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di kantor isteri. Mengantarnya sampai di parkiran kemudian saya melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya sedikit mengalami hambatan ketika tiba di jalan Tendean. Entah karena saya terlalu di tengah jalan dengan laju yang pelan, sebuah motor dari belakang menggedor gas yang menandakan bahwa jalanannya terhalangi oleh laju kendaraan saya yang pelan.
 
Saya sedikit terpengaruh dan mengamatinya dari belakang, namun kemudian saya sadar dan seketika mengingat cerita Buya Hamka saat beliau dipenjara. Di pengantar buku Tasawuf Modern, Buya Hamka menceritakan kisahnya di penjara yang dibentak oleh aparat dan dituduh menjual negara ini ke Malaysia. Hatinya mendidih namun kemudian beliau sadar bahwa dengan kemarahannya yang tak terkendali, hanya akan membuat aparat menang dan dirinya kalah. Jika beliau menyerang aparat karena emosi, maka aparat mempunyai alasan untuk membunuhnya kemudian menyebarkan berita bahwa Buya Hamka ditembak karena berniat melarikan diri. Buya Hamka kemudian mengendalikan emosinya.

Cerita buya Hamka menjadi pegangan saya ketika dalam situasi marah. Pengendalian emosi cukup penting untuk mengalahkan diri dalam rangka memenangkan pertarungan yang lebih besar.

saya tiba di kantor dengan selamat. Sesampai di kantor, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tersisa. Saya berniat untuk merapikan semua pekerjaan seminggu ini sebelum meninggalkan perusahaan ini. Saya akan merampungkan setiap detail pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab saya.

Saat waktu azan dhuhur, saya memutuskan untuk salat di masjid. Ketika sedang dalam perjalanan ke masjid, saya berpapasan dengan satpam kompleks yang sedang memegang handphone. Secara tidak sengaja, tangannya menyenggol pinggangku sehingga handphonenya jatuh. Saya melihat dia memungut hp nya sambil saya sampaikan permintaan maaf. Mungkin dia juga merasa bersalah karena ketika berpapasan, dia sedang menengok ke arah yang berbeda.

Sepulang dari masjid, isteri saya menyampaikan bahwa dia diberikan uang dinas sebesar 2 juta. Saya bersepakat dengan isteri agar uang itu tidak diterima dan disumbangkan ke masjid karena pada saat kegiatan di Bandung, isteri saya sedang sakit dan tidak mengikuti kegiatan namun namanya sudah terlanjut dalam daftar pegawai yang berangkat.

Kami tidak memungkiri butuh uang namun minimal kami bisa mengukur mana yang bukan merupakan hak milik. Apalah artinya uang 2 juta jika bukan hak sehingga akan merusak prinsip yang sudah dipegang dengan kuat.

#2 2023

January 1, 2023

First Step (1)

I woke up in early morning exactly 02.30. I went to pick up my mother-in-law. She arrived from village by train and get off at senen. There was something trouble because of rain so that the train came late. 

I had to wait about an hour before the train came. The time for the dawn prayer was approaching when my mother-in-laws got off the station, so we decided to took a pray before going home. Shortly before finishing the prayer, it rained quite heavily, forcing us to wait a while on the mosque's porch. Several train passengers who had just arrived were seen taking a rest in the mosque.

It's about 15 minutes passed, we decided to go home because the rain started to let up even though there was still a drizzle that was quite wet. There was a raincoat on the motorbike seat but because there was only one so my mother-in-law wore it while I was wearing a jacket made of thick material so that it held the rain water pretty well if it was just a drizzle.

The chilly dawn wind blows to the bone with the weather that is cold because of the drizzle that doesn't stop. Along the way, I put close attention to see if there were any potholes because the roads were quite slippery, especially because I was riding with my mother-in-law who are so old already. Several times it was hit by water splashes from speeding vehicles.

It took about an hour to get home. The distance from the house to Senen Station is quite far. The distance is one hour in quiet conditions, for example at night, but if it is during the day when the roads are busy, it is likely that the distance can take about 2 hours.

When I got home, I decided to continue sleeping because it was still raining. In my opinion, the most pleasant sleep is in the morning when it is raining. Such as like romantic condition that accompanies and makes sleep more soundly. I woke up about two hours later to continue drinking my coffee with some slices of toast.

At noon, we went out to deliver packages as well as buy the food for lunch. When passing through the road in front of the Ragunan Zoo, We can see vehicles waiting in line for quite a long time, maybe because today is the last day of school holidays, that's why most of the parents took their children spending time in public sphere like Ragunan. Some views that attract attention are seen passing by parents carrying their children or holding their hands towards the entrance to Ragunan.

The first day of the year, there is nothing special other than repeating the routines of the previous days. The euphoria of humans celebrating the new year is over with all the stories then returning to normal thinking about each strategy to continue life. There are many who write down their resolutions this year even though in the end, humans just need to survive and live life happily. Dreams are just tomorrow that hasn't happened yet so it becomes a mystery that shouldn't ruin today's happiness.

I myself have high hopes for this year. Unlike previous years, this year has become a momentum to determine my steps forward because at the beginning of the year, I decided to change jobs that required greater attention and effort. Of course there are two possibilities, whether I succeed or fail to live it.

That's why at this New Year's moment, I full attention keep my finger up for a prayer by bowing my head with hope, the Almighty accompanies my steps and strengthens me through the process that I will go through. The process is still a mystery because it is really a new thing for my life journey.

That's it, I can only try my best and will see the results a few months later.


#1 2023