Pagi tadi sekitar jam sepuluh, tiba-tiba saja istri saya mengirimi sebuah pesan yang berhasil meruntuhkan pertahanan diri saya sebagai seorang pejuang LDR. Pesan singkat melalui wa yang mengiris lubuk hati terdalam. Istri saya mengirimi pesan dengan redaksi seperti ini:
"Damar teko omah iso omong aq setiap tahu motor ingat papa."
Hati saya runtuh dan bulir-bulir air di sudut mata berhamburan. Perih rasanya menyadari bahwa anak saya satu-satunya ternyata sudah mendemonstrasikan perasaannya tentang ketidakberadaan saya di rumah. Memang sejak dia lahir sampai di saat umurnya yang sudah menginjak lebih dari enam tahun, saya tidak pernah meninggalkannya terlalu lama. Maksimal seminggu dalam sebulan ketika saya sedang ada tugas audit di luar kota.
Namun kali ini, saya benar-benar pergi untuk sebuah pekerjaan yang mengharuskan saya tinggal di kota yang berbeda. Meskipun saya masih bisa pulang setiap weekend karena jarak kota tempat saya tinggal hanya sekitar 3 jam, namun tetap saja bahwa ada sesuatu yang hilang. Dia sudah terbiasa menyambut saya setiap kali pulang kantor dan sekarang tidak bisa lagi dia lakukan setiap sore menjelang malam.
Saya menyadari bahwa saya terlalu mengabaikan perasaannya. Saya tidak mencoba untuk mengerti apa yang dia rasakan selama saya harus pergi di minggu sore dan baru pulang ke rumah di malam sabtu. Mungkin saya adalah seorang ayah yang egois karena mementingkan karir namun apa daya, pilihan sudah ditetapkan dan harus dijalani karena mudharatnya lebih besar jika saya meninggalkan pekerjaan dan harus di rumah tanpa ada kegiatan apa-apa.
Saya terlalu menggampangkan persoalan LDR karena melihat teman-teman saya banyak yang LDR bahkan mereka tidak sempat pulang seminggu sekali karena jarak yang cukup jauh dan biaya yang mahal. Ternyata jauh dari anak bukan persoalan mudah yang bisa dinarasikan dalam sebuah komitmen dan tidak semudah ketika diucapkan. Jauh dari anak merupakan pekerjaan berhari-hari untuk menguatkan hati dan perasaan mendalam atas kerinduan terhadap seorang anak.
Ada banyak cerita tentang seorang ayah yang jauh dari anak istri namun di lain sisi, ada juga cerita tentang seorang ayah yang memutuskan untuk bekerja apa saja untuk tetap bersama dengan anak istri. Cerita kedua datang dari teman saya yang memilih sikap untuk tidak akan pernah jauh dari anak istrinya. Dia akan memutuskan untuk resign dari perusahaan jika seandainya dia dimutasi keluar kota yang mengharuskan tinggal jauh dari anak istrinya.
Saya mengapresiasi sikapnya yang mampu menjaga komitmen untuk tetap dekat dengan anak istrinya sementara saya memutuskan untuk bekerja di kota lain karena tidak ingin membebani istri saya sebagai pencari nafkah.
Hidup adalah jalan sunyi masing-masing manusia dengan segala dinamikanya. Saya yakin bahwa semua manusia punya strategi hidup masing-masing dengan segala pertimbangannya, saya pun demikian. Salah satu pertimbangan terbesar saya dalam menjalani hidup adalah menjaga apa yang masuk ke dalam perut. Saya sekuat tenaga untuk menjaga kebersihan nafkah yang akan kami makan sekeluarga sekalipun harus jauh dari anak istri.
Ini baru permulaan dan saya sudah mengeluarkan energi yang cukup besar untuk menahan rindu saya terhadap anak. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa ke depannya karena perjuangan baru saja dimulai.
Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana awal.
#10 2023
No comments:
Post a Comment