November 29, 2022
Perkara Makanan
October 9, 2022
Bandara Kulon Progo
Saya sedang duduk di ruang tunggu kereta bandara di Kulon Progo. Kereta yang akan membawa saya ke Tugu masih sejam lagi sehingga saya punya banyak waktu untuk memandangi tanah kosong di depan saya yang masih dalam proses pembangunan.
Bandara ini cukup luas namun nampaknya belum selesai karena masih terlihat jejak pembangunan.
Setiap kali ada pembangunan bandara atau fasilitas umum dengan luas tanah yang besar, saya selalu membayangkan, apakah ada hak hak masyarakat yang belum ditunaikan atas pembebasan lahan?
Tanah menjadi hak dasar bagi bangsa yang hidup dalam negeri yang agraris. Akan menjadi persoalan jika akses terhadap tanah terbatasi dan dirampas oleh otoritas yang seharusnya menyediakan tanah untuk memenuhi hak dasar masyarakatnya.
Di kampung saya, Pemda dan PTPN merampas tanah masyarakat untuk lahan kelapa sawit.
Negeri ini memang seringkali menyisakan sejarah yang cukup kelam atas land grabbing dan itu sangat memilukan karena tanah adalah hak yang cukup mendasar apalagi bagi negeri yang mayoritas penduduknya adalah petani.
Oh iya, perjalanan saya kali ini ke kota pelajar karena ada tugas dari kantor. Terakhir kali saya keluar kota untuk tugas kantor pada Juni empat bulan yang lalu.
Perjalanan seperti ini sudah saya jalani sejak enam tahun yang lalu. Saya seringkali memikirkan, kapan waktunya saya kemudian harus melangkah?
Hidup memang adalah usaha untuk mensyukuri banyak hal.
September 5, 2022
Being Sane
Awal pekan lalu tepatnya hari senin (29/8/2022), sesaat setelah jam kantor dimulai mungkin sekitar jam setengah 9, saya dipanggil pimpinan ke ruangannya. Saya mengira bahwa panggilan tersebut hanya sekadar mendiskusikan soal pekerjaan harian yang masih pending dan menanyakan seputar progress pekerjaan yang akan dilakukan karena mengingat saat itu akhir bulan dan biasanya, 5 hari di akhir bulan, lumayan banyak laporan yang harus diselesaikan.
Perkiraan saya salah karena sepersekian detik setelah duduk di depannya, pertanyaannya menjurus ke persoalan kesiapan saya untuk dimutasi ke daerah lain. Sebuah persoalan yang pada dasarnya sangat umum dalam dunia pekerjaan dan tentunya semua karyawan pernah merasakan hal yang sama.
Mengapa saya menulis ini kalau ternyata merupakan fenomena lazim? oleh sebab ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan setidaknya menurutku dan sudah sejak lama saya pikirkan.
Pertama saya ditanya keluarga berdomisili di mana dan apakah isteri saya bekerja? saya menjawab dengan sedikit diplomatis namun menurutku jawaban yang memang seharusnya saya lontarkan.
"Isteri saya bekerja di kota yang sama dengan saya namun tentunya saya sama sekali tidak pernah menjadikan keluarga sebagai alasan untuk menolak kebijakan Perusahaan untuk melakukan mutasi, pertimbangan keluarga murni pertimbangan pribadi saya dan seharusnya bukan merupakan pertimbangan Perusahaan untuk menerapkan kebijakan mutasi" Saya benar-benar mengatakan hal tersebut di depan pimpinan tanpa rasa khawatir.
Kemudian pimpinan saya melanjutkan dengan menarik kesimpulan "berarti saya menyimpulkan sampeyan siap? katanya secara singkat
"pernyataan saya bukan sebagai jawaban kesiapan namun sebuah sikap bahwa Perusahaan punya pertimbangan sendiri namun saya juga punya preferensi pribadi dalam keputusan saya. siap tidaknya saya akan saya pertimbangan ketika sudah ada keputusan dari Perusahaan di mana saya ditempatkan. saya sama sekali tidak mau mengintervensi keputusan Perusahaan karena toh dulu waktu saya mendaftar di Perusahaan ini, tidak ada yang menyuruh saya."
Saya lumayan sedikit lebih lebih karena telah mengungkap prinsip saya yang selama ini saya dianggap menolak karena pertimbangan keluarga.
setelah itu, pimpinan saya kemudian melanjutkan dengan motivasi yang umum nan klise karena sudah sangat sering didengar misalnya untuk mencapai sesuatu harus berubah dan pada dasarnya perubahan itu seringkali tidak mengenakkan.
Saya mengamini pernyataannya namun dalam hati saya juga berkata bahwa semua orang punya preferensi masing-masing dan persepsi terhadap perubahan tersebut. ada banyak prefensi untuk menyetujui keputusan Perusahaan, mungkin salah satunya adalah keluarga namun selain itu, ada banyak prinsip yang setiap orang anut.
Pada dasarnya, saya prefer pada prinsip Perusahaan yang tidak terlalu banyak pertimbangan personal karyawannya untuk menerapkan keputusan. Lebih baik menganut sistem "take it or leave it.
Mengapa demikian?
Karena saya percaya bahwa basa basi tentang sebuah perusahaan yang menerapkan sistem kekeluargaan adalah sebuah slogan yang usang dan terkadang melenakan karena saya hakkul yakin bahwa setiap Perusahaan itu punya tujuan akhir yaitu profit. budaya perusahaan atau etika dan segala tetek bengek yang dibangun di dalamnya semuanya bermuara pada satu kata,
"PROFIT."
Saya mengenal banyak karyawan di Perusahaan ini yang awalnya saya anggap mereka punya kapasitas kecerdasaan di atas karyawan yang lain dan loyal terhadap Perusahaan namun pada akhirnya mereka juga resign karena berbagai alasan dan salah satunya karena prinsip, tidak setuju dengan manajemen yang dianggap tidak mendengar aspirasi mereka.
Jika mereka yang sudah punya posisi dan dikenal cerdas, bahkan tidak didengar oleh Manajemen, apalagi dengan saya yang cuma karyawan tingkat paling rendah. itulah mengapa saya lebih suka dengan kebijakan take it or leave it. Perusahaan mungkin memperhatikanmu namun tidak benar-benar memperhatikanmu sebagai seorang pribadi namun sebagai seorang yang dianggap mungkin bisa menjadi tools untuk mencapai goals yaitu profit.
Tidak salah memang karena logika Perusahaan itu dalam sistem kapitalisme memang mencapai keuntungan dan menekan biaya. semua source termasuk SDM hanyalah merupakan instrumen untuk mencapai tujuan. Tidak heran jika sebagai instrumen, karyawan diharuskan untuk menunduk dan patuh terhadap otoritas Perusahaan dan harus patuh apapun keputusan Perusahaan termasuk mutasi bahkan ke daerah yang cukup jauh. Jika instrumen itu dianggap tidak jalan, maka akan dikeluarkan dari lingkup organisasi.
Kemudian pertanyaannya, siapa yang punya pengaruh dalam Perusahaan?
Tentunya manajemen yaitu karyawan yang menduduki jabatan tertentu misalnya kepala divisi dan struktur di atasnya. kenapa saya tidak menyebut kepala bagian? karena posisi tersebut masih lemah dan terkadang tidak cukup kuat untuk mempengaruhi keputusan Perusahaan.
Hakekat Perusahaan menurut persepsi saya tersebut menjadi dasar bagi saya untuk belajar memegang prinsip bahwa keputusan tetap ada di tangan saya. Perusahaan adalah lembaga yang diset up untuk mengejar profit sehingga jika memang tidak sejalan maka saya punya kuasa untuk hidupku.
Kenapa saya masih ada di sini? jawaban klisenya adalah karena pertimbangan finansial. Saya masih butuh pendapatan sebagai sebuah wujud tanggung jawab saya bagi keluarga namun sekali lagi saya berharap bahwa ini tidak menjadikan saya kerdil di dunia yang hanya memikirkan profit.
Saya selalu menolak ditempatkan di bidang penjualan karena saya selalu membayangkan, betapa mengerikannya hidup yang hanya dihabiskan untuk memikirkan target penjualan hari demi hari bahkan mungkin tidak tersisa waktu untuk memikirkan hidup ini sebenarnya untuk apa?
Materi memang sangat penting namun saya tidak membayangkan sebuah hidup yang didominasi oleh pikiran terhadap materi. semua energi dihabiskan untuk memenuhi pencapaian materi.
Sangat mengerikan bagiku namun entah bagi orang lain.
5 Sept 2022
August 28, 2022
Agustus
Agustus terlalu cepat berlalu, sebentar lagi menjelang September yang artinya bahwa ada momentum berarti yang akan saya lewati. saya semakin menyadari bahwa saya sudah setua ini dan masih kebingungan dalam rimba ketidakpastian. masih terlalu banyak yang harus kubuktikan dan entah dibuktikan kepada siapa?
Saya mengingat-ingat apa saja yang sudah saya lakukan di bulan agustus selain rutinitas mekanis yang saban hari saya jalani. nampaknya tidak ada pergerakan yang berarti selain mengais rezeki sebagaimana biasanya.
Saya sedang berusaha mengubah haluan hidup pada bidang akademisi dengan segala konsekuensi yang akan saya hadapi namun sepertinya belum ada sinyal positif dari semesta, semua masih kabur dalam pandangan dan stagnan dalam kondisi yang sudah saya jalani hampir 8 tahun.
Saya terkadang berpikir mengerikan menjalani rutinitas yang menjemukan dan melelahkan karena motif gaji semata. hidup dalam kekeringan jiwa yang membuat hidup itu sendiri seperti ruang yang tak memiliki pintu keluar.
Selain itu, terlalu banyak distraksi yang tidak mampu saya singkirkan dan kedisiplinan diri yang kurang keras. Akhirnya di beberapa bulan belakangan, saya merasa bahwa hidup ini memang absurd dan dijalani apa adanya karena tidak ada lagi pilihan.
Sekeras apapun bermimpi dan mengejar mimpi ketika semesta tidak mengizinkan maka semua hanya akan berakhir pada kekecewaan. Saya teringat tulisan Morgan Housel bahwa luck and risk are siblings dan sialnya ada bagian tertentu yang diluar kuasa kita dalam menentukan apakah kita dekat dengan luck atau risk, hal yang bisa kita lakukan mungkin hanya usaha namun tetap saja semesta yang akhirnya menentukan apakah kita berhak pada luck atau risk.
Aneh memang jika memikirkan betapa hidup ini memang seringkali absurd.
July 16, 2022
Renungan #1
Akhir-akhir ini saya sedang menimbang dalam alam pikiran saya tentang apa yang harus kulakukan di sepanjang hidupku. Apa yang seharusnya kutekuni sebagai sebuah profesi yang tentunya akan saya habiskan di sisa hidupku. Saya membayangkan aktivitas di dunia pendidikan dan sedang berusaha untuk menggapainya. namun apakah benar saya menginginkannya dan apakah benar itu adalah sebuah pilihan bijak untuk menjalani hidupku.
Dalam kalkulasi yang kubayangkan, hal tersebut tentunya sesuatu yang baik karena keberpihakan nilai yang menurutku tidak hanya terbatas pada pengejaran gaji namun ada nilai yang ingin saya sampaikan. namun sekali lagi apakah saya telah bersiap untuk itu, mempersiapkan remeh temeh dan meneguhkan niat yang benar untuk menjalaninya, atau jangan sampai itu hanya menjadi jalan lain sebagai sebuah eksistensi untuk kebanggaan diri, bukan sejatinya untuk niat yang ingin hidup yang lebih bernilai.
Permenungan tersebut mengitari pikiranku ketika saya masih terjebak dalam dunia industri. Dunia yang mengharuskanku untuk terus berproduksi secara materi jika ingin dihargai dan atau jika ingin diberikan imbalan setiap bulan, imbalan materi tentunya.
Hati saya mengatakan bahwa hidup tidak harus terlalu keras terhadap diri untuk hal-hal yang indrawi karena ada aspek transenden yang seharusnya lebih bernilai atau ada sesuatu metafisik yang seharusnya lebih bernilai.
Beberapa kali saya menjumpai dan mengobrol dengan hatiku bahwa di sisa hidupku yang entah berapa lama ini, saya harus hidup dalam kondisi seperti apa dan apa yang seharunya saya lakukan, selain tentunya alasan klise berjuang untuk anak isteri.
Jika saya tetap dalam dunia industri yang berproduksi hari demi hari, satu hal yang kudapatkan hanya sebatas imbalan setiap bulan yang juga terkadang tidak terlihat. Sejatinya kekhawatiran terhadap hal duniawi yang membuat saya tidak benar-benar melangkah lebih jauh lagi.
Saya mencoba memantapkan diri bahwa ilmu adalah bagian terpenting dalam hidup dan meskipun sudah begitu terlambat, ilmu akan tetap menjadi prioritasku.
Begitulah ke depannya saya akan menjalani hidupku dalam lingkungan yang haus ilmu dan nilai serta prinsip yang tetap ditempatkan di depan.
16 7 22
July 15, 2022
Ketika Berjalan di depan Kampus
June 21, 2022
Bagaimana Menjalani Hidup
"Jika sampai umur 35 kamu masih bekerja, berarti ada yang salah dengan hidupmu." Mbah Tedjo.
Saya sedang menimbang apa yang salah dalam hidupku karena saya menyadari pekerjaan yang saya jalani sekarang masih sebatas untuk mendapatkan gaji bulanan.
It makes me weird being a human living at more 30 years old but nothing special. I just live in a common like everyone do. I never ever try to be the best or help the others, I have no a special like be a part of social community or maybe.
life isn't just earn money or life style but life must be useful for every single human.
June 19, 2022
Somewhere in Lombok
This my routine activity in a month. going around the whole country because of working. being an auditor means that ready to go somewhere without any objection. sometimes it enjoyable but sometimes it hard.
I'm in the waiting room of soetta port. looking around and thinking about where all the passenger go ahead. most of them are adult, I dont see some kids eventhough the school has already done in this semester. I think the break time has come.
In a few minute later, the plane will bring me to Praya. one of the most populer destination for a year because there is sirkuit GP located in th8at city.
for any reason, I'been trying to calm down and being chill out in this journey because I'm going there in order to do my work. I dont post my journey even in my wa status.
now, I'm in the air flying with batik air. just now, the schedule delayed almost 30 minute, I dont know why. sitting in the plane is like giving the fate. We cant do anything at all.
the plane full of passenger who will be go to lombok. they are going to vacation, I guest. lombok is one of the foremost destination for now. there are some place located there like sirkuit GP, beach, mountain and any tourist destination.
Actually, I ever came to there 4 years ago. I went to gili but just a day. I saw a effect of earthquake that happened there in several years before.
in the plane, I'm writing this note while listening a music from lobo. one of my favourite singer since I was school at second grade.
If there is nothing to go, we will arrive at Praya 2 hours ahead.
I'm posting this writing when I just aarrive at aston hotel while enjoying sunset.
Lombok, 19 June 2022
June 18, 2022
Jakarta adalah Benci yang Dirindukan
I have been staying in this city for almost ten years. it means that I have known well how stay alive in this city and then I've been through every single good and bad things in this place. traffic jam, loneliness, stay away from my family etc.
I have never even thought before that I would move to this capital city, living here, getting married and getting job here. I come from a rural village far away from south sulawesi, being a urban community here. so far, my life is running well here without obstacles, everything is fine but there are things that I can't deal with this city are traffic jam, neighbour life and the individualistic.
I'm still thinking move to another city in this island like maybe central java eventhough, Jakarta is like the city that I hate but I miss it. I love this city for every single things here. wherever I go, this city has become my home because I have a literally home here and my family. my kid getting grow and taking school here, so there's no reason for me to hate this city at all.
Perhaps, one day I move from this city but for all the memories here, I will keep this city deep in my heart and I will never really forget it. if I stay in another city, I will visit this city regularly. This city has given me a lot blessing and my bodies being united with the land and the water here.
In this year, I don't really know whether I'm still live in this city or not. probably my office will mutation me to the branch office in another city. it is a big possible but I'm trying to find a chance to be a lecturer in one of campus around this city, hopely it dream come true.
Getting job which linear with our major is enjoyable and the rest of life will getting desirable. I'm working in the field which don't really has connected with my major at all. I feel like my skill can't grow very well.
but anyway, Jakarta is part of my life. live or not here, I'm gonna put it down in my bottom heart.
June 5, 2022
5 June
Nothing special today. I spent my whole day as usual. after jogging at ragunan, back to home and enjoy a cup of coffee with 3 pieces of cake while watch a youtube video. that my morning routine in weekend. it's like a habit to refresh my energy.
After that, I accompanied my spouse go to the mall to buy some daily need. when we arrived in the parking lot, one of the employee who are in the working allow me to park my vehicle in front of it. his senior ask me to park in the other area then mourn to his junior because of giving me permit to park in front. I didn't complain him because I think, it will make him more bad mood otherwise, maybe he has to running his work in a rush.
Sometimes, when we meet unpleasant condition, more better that we think out the consequence before doing something bad. life is a journey, it means that in a long journey, we will find some stories like a bad or good stories. we have to embrace all of it without ignoring and blaming the condition. we just try to make sure ourselves to be a more wise in facing some bad condition.
Like what I feel right now at office. I realize that when I want to step to the other level, I must move to the other city because it's like a common things in my office. I have 2 option, pursuing my carrier while long distance relationship with my spouse or not doing LDR but my carrier will be stagnant. normally, everyone want to get a good carrier without stay away from their family but it's almost impossible happen in my office.
I'm still thinking it until now. do I prefer pursue my carrier or just like this without being LDR.
4 Juni
Today is my graduation as a student of Parmad. since I decide to took place at this campus, I convince mysef to finish my studies on time, but it didn't works. My study finished completely 2,6 years but it's okay because despite of studying, I also working 6 days a weeks that's why, I just 2 days in focusing study.
Studying in strata 2 IR study absolutely hard. I realize that IR study has a main keys likely, master in english, politics, history and the other subject that engage with social subject. I know that I have to read more literatures but in fact, mostly I spent much time in gadget. I always do some procractinate until the exam days come.
I'm still regret why I didn't effort all out when writing my thesis. even that thesis done but I think, some argument still poor and it should be more than it. I always think how the way to change my bad habit and more focus in studying because I'm still keep in my mind to be a lecturer. if I don't spend my time in studying, impossible to make it come true. as a lecturer, has to be a maniac reading, whatsoever.
But today, I'm going to celebrate my graduation as a master even the days ahead, it will so many challenges come and I have to set my mind that as a master, I have a good mindset in facing all the challenges. I'm still hope that I can work at education field as a lecturer or researcher, I don't even sure that it's easy to do but I think, if I dont try it, impossible to know my limit.
One of the hard thing is moving from financial work to education field, all the more, there is no connection between education with my work at now, maybe just public speaking.
From now, I have to immerse myself in studying anything about my subject. try to be a good speaker in fron of public and applying in some campus. hopely I can make dream come true as soon as possible because I'm 30an, it mean that I dont have much time to achieve it.
keep finger up to God
June 1, 2022
1 Juni
Hari ini hari libur bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila. Tidak ada rencana liburan hari ini karena harus ke rumah tante yang meninggal hari minggu sebelumnya. Anak saya masih menginap di sana atas permintaan suami almarhumah karena rumahnya sudah sepi. Tentunya saya menyetujui karena berdamai dengan kepergian orang yang dicintai tentunya membutuhkan waktu dan salah satu kebaikan bagi keluarga yang ditinggalkan adalah kita menghiburnya dalam berbagai bentuk.
Untuk menghindari kemacetan Jakarta, kami berangkat agak pagi. biasanya di pagi hari ketika hari libur, jalanan tol masih sedikit agak lengang. Kami memesan transportasi online karena lebih praktis. Benar dugaan kami, jalan tol dari Jakarta ke Cibubur masih sedikit lengang dan kurang dari sejam, kami sudah tiba di kota wisata.
Rumah duka masih dipenuhi oleh teman anaknya yang datang bertamu. Mereka bercengkerama di depan teras untuk sekedar menghilangkan kesedihan yang berlarut. Saya masuk ke rumah dan menyalami suami almarhumah kemudian duduk di teras dengan kolam ikan. Saya memandang karangan bunga yang belum di
Saya mengingat saat kematian almarhumah hari minggu yang lalu. kehidupan kota yang benar-benar jauh dari kehidupan kampung. Bagaimana tidak, saya melihat salah satu tetangga persis sebelah rumah yang seperti biasa berangkat ke kantor dan tidak melayat, atau mungkin dia sudah melayat di malam hari. Saya tidak yakin karena alm dibawa dari RS ke rumah sudah agak malam.
Saya membayangkan ketika ada yang meninggal di kampung, oran-orang menyampaikan rasa empati yang cukup dalam termasuk melayat dan membantu berbagai kebutuhan untuk pemakaman, namun sekali lagi saya menyadari bahwa saya sedang tinggal di ibu kota yang tentunya, orang-orang mempunyai pertimbangan masing-masing dan terkadang tidak menganggap penting orang yang ada di samping mereka. Sekira jam 2 siang, kami memutuskan untuk pulang karena esok hari harus masuk kantor.
Awal bulan Juni berlalu. Saya menarik nafas pelan dan semakin dalam kemudian menyadari bahwa waktu berputar dengan begitu cepat. Tidak ada tempat bagi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu