June 1, 2022

1 Juni

Hari ini hari libur bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila. Tidak ada rencana liburan hari ini karena harus ke rumah tante yang meninggal hari minggu sebelumnya. Anak saya masih menginap di sana atas permintaan suami almarhumah karena rumahnya sudah sepi. Tentunya saya menyetujui karena berdamai dengan kepergian orang yang dicintai tentunya membutuhkan waktu dan salah satu kebaikan bagi keluarga yang ditinggalkan adalah kita menghiburnya dalam berbagai bentuk.

Untuk menghindari kemacetan Jakarta, kami berangkat agak pagi. biasanya di pagi hari ketika hari libur, jalanan tol masih sedikit agak lengang. Kami memesan transportasi online karena lebih praktis. Benar dugaan kami, jalan tol dari Jakarta ke Cibubur masih sedikit lengang dan kurang dari sejam, kami sudah tiba di kota wisata.

Rumah duka masih dipenuhi oleh teman anaknya yang datang bertamu. Mereka bercengkerama di depan teras untuk sekedar menghilangkan kesedihan yang berlarut. Saya masuk ke rumah dan menyalami suami almarhumah kemudian duduk di teras dengan kolam ikan. Saya memandang karangan bunga yang belum di

Saya mengingat saat kematian almarhumah hari minggu yang lalu. kehidupan kota yang benar-benar jauh dari kehidupan kampung. Bagaimana tidak, saya melihat salah satu tetangga persis sebelah rumah yang seperti biasa berangkat ke kantor dan tidak melayat, atau mungkin dia sudah melayat di malam hari. Saya tidak yakin karena alm dibawa dari RS ke rumah sudah agak malam.

Saya membayangkan ketika ada yang meninggal di kampung, oran-orang menyampaikan rasa empati yang cukup dalam termasuk melayat dan membantu berbagai kebutuhan untuk pemakaman, namun sekali lagi saya menyadari bahwa saya sedang tinggal di ibu kota yang tentunya, orang-orang mempunyai pertimbangan masing-masing dan terkadang tidak menganggap penting orang yang ada di samping mereka. Sekira jam 2 siang, kami memutuskan untuk pulang karena esok hari harus masuk kantor. 

Awal bulan Juni berlalu. Saya menarik nafas pelan dan semakin dalam kemudian menyadari bahwa waktu berputar dengan begitu cepat. Tidak ada tempat bagi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu

May 29, 2022

Kematian #3

Dua hari yang lalu tepatnya di hari Jum'at, Buya Syafii berpulang. Saya mengira bahwa berpulangnya Buya adalah berita kepulangan terakhir yang akan saya dengar di bulan Mei, namun ternyata kematian yang dianggap sangat dekat dengan manusia, benar adanya. Tadi sore sepulang dari Bogor saat masih di kereta, saya dikabari bahwa salah satu ipar mertua saya meninggal. Pagi hari saat di kereta menuju Bogor, saya sudah dikabari bahwa almarhumah sedang dirawat di ICU.

Saya tidak terlalu dekat dengan almarhumah namun setidaknya, intensitas pertemuan kami cukup sering beberapa tahun belakang. Setiap pertemuan arisan keluarga, alm yang selalu menanyakan kabar saya maupun kabar orang tua saya. sebagai salah satu orang yang masuk sebagai keluarga baru, tentunya perhatian-perhatian kecil seperti nanya kabar sangat berarti bagi saya apatahlagi mereka adalah keluarga besar yang secara ekonomi semuanya mapan.  Sekali waktu entah di tahun 2017 atau 2018, saya pernah nginap di rumahnya dan merayakan idul adha. setidaknya saya tidak merasa kesepian di tanah rantau.

Kepulangan seringkali menyedihkan bagi yang ditinggalkan. Alm meninggal tepat ketika anak bungsunya akan mengikuti ujian sekolah keesokan harinya. Apatahlagi anaknya masih SMA yang tentunya masih membutuhkan sosok ibu yang sering membelainya. Anaknya menunda ikut ujian sekolah dan ikut dalam prosesi pemakaman ibunya bahkan saat dimasukkan di liang lahat, dia ikut monopang mayat ibunya.

Sejatinya bahwa tidak pernah ada orang yang siap menerima kepulangan orang tersayang namun ditinggalkan saat masa remaja tentunya meninggalkan sedih yang cukup dalam ketika kita masih membutuhkan bahu seorang ibu untuk bersandar setiap kali lelah dihempas kenyataan hidup yang seringkali tidak menguntungkan. Ibu adalah seorang penopang kehidupan yang mampu memikul anak-anaknya betapa pun beratnya hari-hari yang dilalui.

Saat pemakamannya, saya baru tahu bahwa bapaknya berasal dari sebuah kabupaten yang dekat dengan kampungku. salah satu adiknya menceritakan bahwa bapak mereka berasal dari sebuah dari yang sangat dengan dekat kampung saya. Saat mereka masih kecil, mereka sering diajak mudik ke sana oleh bapaknya. Saya juga lupa menanyakan apakah mereka masih punya sanak keluarga di sana.

29 Mei 2022

May 27, 2022

Kematian #2

Pagi kemarin sebagaimana biasanya, saya duduk di depan komputer sebelum memulai rutinitas kantor sambil memegang hp dan melihat satu persatu update status wa teman-teman. setelah beberapa status teman terlewati, samar-samar saya melihat status teman kampus yang mengcapture tulisan twitter, setelah saya baca dengan seksama, hati saya langsung terkesiap. dia mengupdate status tentang wafatnya mantan ketua Muhammadiyah sekaligus seorang bapak bangsa yang terkenal dengan kesederhanaannya, Buya Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif

Perlahan serasa ada butiran air yang mengalir dari sudut mata saya. Saya terisak dalam diam mendengar wafatnya salah satu tokoh yang akhir-akhir ini saya ikut perjalanan hidupnya, seingat saya ketika kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok, beliau mengeluarkan statement yang intinya menganggap bahwa Ahok tidak sedang melakukan penistaan agama. kelompok keagamaan yang tidak sepakat dengan pandangan beliau kemudian melancarkan berbagai cacian yang saya sendiri tidak mampu membaca maupun mendengarkan bahkan yang lebih sedih karena beberapa teman saya di kantor pun melakukan hal yang sama.

Bagaimana rasanya mendengar seorang figur Buya Syafii yang dicaci setiap hari oleh teman yang harus ketemu tiap harinya. Saat itu saya sama sekali tidak berarguman bahkan cenderung diam sekalipun diam saya juga dianggap sebagai partisipan yang tidak pro terhadap mereka. Teman-teman saya yang dulu ikut merisak Buya Syafii tidak pernah benar-benar menjadi teman ideologi saya, bahkan hanya sekedarnya sebagai teman biasa untuk menyambung silaturrahim. 

Begitulah caci maki yang diterima oleh Buya Syafii karena berpendapat sesuai kapasitas keilmuannya sedangkan orang-orang yang mencaci pun mungkin sama sekali tidak konsisten dalam mencari landasan ilmu untuk sekedar menyanggah apa yang disampaikan oleh Buya.

Seiring berjalannya waktu, kasus tersebut kemudian mereda dan sorotan terhadap Buya Syafii perlahan ikut mereda namun demikian, Buya Syafii tetaplah menjadi seorang panutan. Beberapa kali dia diberitakan naik KRL tanpa dibantu oleh siapapun, mengendarai sepeda ontel, dan rutinitas harian beliau yang sama sekali jauh dari kebiasaan manusia yang mempunyai privilege sedangkan kita ketahui bahwa sebagai mantan pemimpin tertinggi Muhammadiyah, tentunya beliau bisa mendapatkan kemudahan dalam hal apapun, namun beliau memilih untuk menjadi manusia pada umumnya dan mencampakkan semua privilege yang bisa diperoleh.

Saya tidak terlalu banyak membaca karya beliau namun satu buku karangan beliau yang sangat berkesan adalah buku yang berjudul "Krisis Arab dan Masa Depan Islam." selain karena tentunya buku tersebuat memberikan pengetahuan tentang pertanyaan orang-orang tentang geopolitik Timur Tengah, buku tersebut juga menjadi rujukan primer saya dalam menyusun tugas akhir tahun lalu. Salah satu argumen beliau dalam bukunya yang saya kutip dalam tugas akhir saya adalah;

"Ada tiga bentuk malapetaka yang pernah dan sedang menimpa dunia Arab; perang saudara, serbuan pasukan luar dan gabungan antara keduanya"

Beberapa tahun belakang, saya seringkali mengkhawatirkan jika para bapak bangsa sudah berpulang. ada kekhawatiran yang tersimpan di benak saya bahwa akan muncul banyak orang yang merisak kedamaian karena tidak ada lagi figur yang disegani. Tokoh yang masih tersisa di benak saya seperti Prof Quraish Shihab, Gus Mus, Cak Nun dan mungkin adalah tokoh bapak bangsa lain yang tidak saya ikuti perjalanan hidupnya.

Buya Syafii telah berpulang, kesahajaan yang bernama Buya telah pergi meninggalkan serpihan memori bagi semua orang. Tidak terlihat lagi seorang mantan pimpinan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang naik KRL sendirian, naik ontel dan rutinitas harian yang umum dilakukan oleh masyarakat. Tidak ada lagi tokoh besar yang tetap mengajar pada tingkat S1 sementara professor lain gengsi untuk melakukannya. Buya pulang di hari Jum'at yang umumnya dikenal sebagai hari baik oleh umat Islam.

Demikianlah kematian yang tentu saja menghampiri siapa pun. Kematian yang tentunya bukan sebagai sebuah kepunahan namun sebuah perjalanan pulang setelah bergelut dengan duniawi yang melenakan.

27 Mei 2022 

May 20, 2022

Kematian #1

Hari kamis tanggal 19 Mei, kantor mengadakan acara halal bihalal di salah satu hotel di bilangan blok M yang diikuti seluruh karyawan yang ada di wilayah jabodetabek. Kegiatan seperti ini tentunya sangat dinantikan karena sudah 2 kali tidak pernah terlaksana akibat pandemi. Biasanya pada kegiatan halal bihalal, semacam reuni bagi kolega yang sudah lama tidak bertemu yang dulunya pernah satu kantor namun kemudian dimutasi. 

Saya termasuk orang yang suka acara seperti ini karena nantinya akan bertemu dengan rekan yang pernah satu kantor. Cerita masa lalu biasanya memang sering menjadi sesuatu yang menarik karena membayangkan diri yang dulu dan perjalanan karir yang sudah dilewati.

Acara dimulai jam setengah 12 siang namun kami baru berangkat ke hotel setelah salat dhuhur karena jarak dari kantor ke hotel hanya sekitar 10 menit dengan kendaraan. Pertimbangan yang lain bahwa akan repot salat di hotel karena tentunya ramai oleh karyawan.

Acara belum dimulai ketika kami tiba di hotel tempat acara dilaksanakan. Beberapa karyawan bercengkerama dengan kawan lama, ada juga yang sedang makan siang sambil menunggu acara dimulai. saya dan beberapa teman yang tiba agak telat kemudian langsung menuju tempat makan untuk menunaikan makan siang. tempat makan sudah tidak terlalu ramai karena sebagian karyawan sudah makan terlebih dulu.

Saya mengambil makanan dan makan di ruangan sambil memandang karyawan dengan berbagai aktivitas, sebagian besar karyawan saya kenal, selain karena memang saya auditor yang tentunya sering beriteraksi dengan semua karyawan, saya juga pernah ditempatkan di salah satu kantor di wilayah jakarta timur sehingga saya mengenal dengan baik semua karyawan di kantor cabang tersebut yang aktif sekitar tahun 2015.

Salah satu karyawan yang tentunya saya akrabi adalah kepala cabang yang sudah dimutasi di daerah jakarta selatan. Beliau adalah pimpinan pertama yang menerima saya di Perusahaan ini. Saya satu tim dengannya dalam waktu singkat hanya sekitar setahun namun menurutku cukup berkesan. 

Saat di acara halal bihalal, saya tidak sempat menyalaminya karena beliau duduk paling belakang sedangkan saya berada di tengah, apatahlagi pada saat acara, banyak manager yang datang dan tentunya beliau sibuk bercengkerama dengan koleganya. Saya hanya melihatnya dari jauh dengan peci hitam motif kuning. Beliau tersenyum dengan khas.

Acara selesai tepat waktu sekitar setengah 4 sore. Saya langsung pulang ke rumah setelah acara setelah sebelumnya menjemput isteri di kantornya.

Malam hari karena penat dengan aktivitas seharian, saya tidur agak cepat. Saya memutus jaringan internet handphone supaya tidak terganggu dengan berbagai notifikasi. saya bangun dinihari namun hp tetap saya matikan. Saya menjalani rutinitas sebagaimana mestinya.

Menjelang berangkat ke kantor, saya menyalakan internet hp. puluhan wa masuk di grup kantor dan beberapa teman memasang status duka cita. Saya coba buka satu persatu. dada saya berdebar ketika melihat status teman bahwa mantan bos saya yang masih saya lihat kemarin siang, sudah kembali. Satu hal yang terlintas dalam kepala saya bahwa mungkin saya beliau kecelakaan namun perkiraan saya ternyata meleset. Beliau meninggal karena serangan jantung.

Jadi cerita, ketika selesai acara halal bihalal kemarin siang, beliau langsung pulang ke kantor. beliau menonton sepakbola di tv kantor sebelum pulang ke rumah. sehabis maghrib, beliau pulang namun sesampai di bilangan antasari, kemungkinan beliau merasa tidak enak sehingga mobilnya diparkir di pinggir jalan lalu memesan taxi ke RS Fatmawati. beberapa jam kemudian, ajal menjemput. pihak rumah sakit menelepon ke kantor karena beliau membawa ID card. Proses kematian yang cukup cepat dan satu hal bahwa dia sama sekali tidak merepotkan orang lain, bahkan keluarganya pun belum mengetahui sebelum meninggal.

Saya mengenal beliau sebagai seorang yang tidak pernah mau merepotkan orang. selama menjadi bawahannya, saya tidak pernah mendengar beliau absen karena sakit. beliau tidak manja untuk banyak hal dan tidak pernah mau merepotkan orang lain. 

Mungkin benar bahwa kematian seseorang tersebut ditentukan oleh kebiasaannya selama hidup. sebagaimana yang beliau jalani selama ini.

Hidup memang sangat singkat. kita sama sekali tidak pernah mengerti apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. satu hal yang pasti bahwa kita hanya bisa mengontrol apa yang harus kita lakukan saat ini. masa depan adalah sebuah misteri yang sangat gelap.

Dia menulis di status WA nya yang masih terpasang sampai saat ajal menjemput dengan kalimat "berbuat baik ajalah. apapun tantangannya. Ya Allah, matikanlah aku jika sudah tidak berguna untukMu dan sesama"

Selamat jalan. semoga keselamatan selalu menaungi perjalananmu, beh.

20 Mei 2022

April 28, 2022

Mudik

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan saya mudik dengan anak saya. sebuah pertimbangan yang sulit karena harus lebaran terpisah dengan istri yang harus menemani mertua lebaran di Jakarta. saya sendiri mau tidak mau harus lebaran dengan orang tua karena sudah 2 tahun tidak pernah bersama lebaran sejak pandemi. 2 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk tidak lebaran bersama orang tua sejak saya merantau 10 tahun silam. 

Keputusan untuk mudik sangat mendadak karena mengikuti keputusan pemerintah yang akhirnya menetapkan liburan idul fitri dengan pertimbangan pandemi sudah mulai mereda. Pemerintah menetapkan libur idul fitri dua minggu sebelumnya. bersamaan dengan keputusan pemerintah, harga tiket pesawat serta merta melambung tinggi. sebuah dilema bagi perantau seperti saya dengan pemasukan yang pas-pasan, mau pulang dompet menipis, tidak pulang rindu membuncah. Setelah menimbang banyak hal terutama persoalan dana, saya akhirnya memantapkan hati untuk mudik tanggal 27 April. Saya membeli tiket pesawat yang paling murah meskipun jam berangkat pukul 04.00 wib dini hari. 

Sejatinya cuti bersama tanggal 29 April namun untuk menghindari peak mudik dan tiket pesawat yang terlalu mahal, saya akhirnya memutuskan untuk cuti dua hari sebelumnya. 

Pada tanggal 27 April, kami berangkat ke bandara jam 1 dini hari. Saya berangkat lebih awal karena mengantisipasi macet di tol ternyata ketika melintasi sepanjang tol jor, sama sekali tidak terlihat kepadatan kendaraan, mungkin karena kami mudik lebih awal dan juga masih dini hari.

Jalan tol yang lengang membuat kami tiba di bandara lebih awal. saya memutuskan untuk chek in lebih cepat supaya bisa istirahat di ruang tunggu. anak saya terlihat masih ngantuk dan saya pun sedikit agak sempoyongan karena harus membawa dua tas besar. 

Sebelum boarding, saya menyempatkan sahur dengan sepotong roti dan sebotol air mineral. untungnya pesawat tidak delay sehingga pertimbangan waktu tepat. Perjalanan kami ke bandara Hasanuddin cukup lancar karena cuaca juga sangat baik. Kami tiba sesuai jadwal pada pukul 07.30 Wita.

Persoalan berikutnya adalah travel ke kampung karena jam segitu, semua travel sudah berangkat. kami dibantu oleh salah seorang sepupu yang berprofesi sebagai polisi di wilayah bandara. Dia mengantar kami mencari travel yang menuju arah Toraja.

Perjalanan ke kampung pun lancar meskipun ketika memasuki kampung, hujan deras mengguyur dan kami harus menumpang mobil lain menuju rumah.

Akhirnya tiba di kampung dengan selamat.

April 2, 2022

Ramadan 1443 H

Hari ini adalah hari pertama puasa yang ditetapkan oleh Muhammadiyah sedangkan NU dan Pemerintah menetapkan 1 ramadan jatuh pada esok hari. Sebuah dilema bagi saya yang berasal dari kultur Muhammadiyah namun hidup di tengah mayoritas warga NU. Pada dasarnya, tidak ada persoalan bagi saya karena perbedaan adalah sebuah hal yang seharusnya disikapi dengan bijak namun kebingungan muncul ketika membayangkan bahwa kemungkinan saya akan mudik dan tentu saja, idul fitri di kampungku mengikuti penetapan Muhammadiyah sedangkan saya sendiri memulai puasa mengikuti penetapan NU.

Kebingungan tersebut hanya sekadar membayangkan apakah saya boleh ikut idul fitri yang ditetapkan oleh Muhammadiyah atau kah saya harus berpuasa sehari lagi mengikuti NU di tengah keluarga saya yang tentunya sudah merayakan lebaran. Seingat saya, setelah sekian lama merantau, baru kali ini saya agak merisaukan perbedaan ini karena persoalan teknis mengenai idul fitri.

March 29, 2022

Bandara Hasanuddin

Saya tiba di bandara dari kampung pukul 02.00 wita. jam yang cukup krusial karena biasnya saya masih pulas di jam segitu, apalagi tidak ada space yang nyaman untuk istirahat di bandara. Saya akhirnya memilih bersandar di dinding loket Lion parcel yang masih tutup.

Saya harus menempuh perjalanan di waktu subuh dinihari karena jam 8 harus terbang kembali ke ibu kota. 

Kepulangan saya kali ini sebenarnya tidak direncanakan. hanya saja ada urusan yang saya kerjakan di sini sehingga menyempatkan pulang kampung. seingat saya, hal seperti ini sudah beberapa kali saya lakukan untuk sekadar menengok orang tua yang semakin renta.

Setelah menunggu dua setengah jam di lobi bandara, saya kemudian memilih untuk chek in sekaligus shalat subuh di ruang tunggu. Di bandara kota ini, penumpang chek in selalu antri panjang, maklum karena bandara ini tempat transit para pejalan dari barat ke timur dan sebaliknya.

Saya shalat di musala gate 1 kemudian memilih untuk menikmati secangkir karamel dan sepotong kue di Gloria Jean's karena cukup dekat dengan gate 1 tempat boarding pesawat tumpangan saya.

Sedikit agak kaget melihat harga yang harus saya bayar sebesar seratus dua ribu dengan hidangan secangkir karamel dan sepotong kue. Namun kemudian saya menyadari bahwa bisnis di bandara memang mahal kemudian saya berpura-pura untuk menikmati suasana.

Sebentar lagi saya harus boarding.

Gate 1 Bandara st Hasanuddin, 29.3.2022

February 28, 2022

Dinamika Februari

Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan melewati bulan Februari dengan perasaan yang sangat fluktuatif. Bulan yang katanya bulan kasih sayang ini, benar-benar menguras emosiku. Saya baru bisa menertawakan kemudian bersyukur atas semua, tentunya setelah dilewati kemudian diingat kembali. Sejatinya memang hidup seperti itu, semenyeramkan apapun hidup yang dialami, ketika sudah dilewati maka seringkali menjadi masa lalu yang lucu untuk diceritakan. Begitulah Februari yang mencampakkanku kemudian menyelamatkanku dari kubangan masalah.

Bagaimana tidak, di minggu pertama Februari tepatnya tanggal 7 Februari, badan saya rasanya remuk dan bola mata saya pegal setiap saat. Gejala yang sama pada hampir semua penderita Covid varian omicron. Atas dasar diagnosa pribadi dan mencoba untuk melindungi keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan tes PCR. Saya harus menunggu sehari sebelum tes PCR keluar. 

Esok hari sekitar jam 12 siang, hasil PCR saya keluar di aplikasi Halodoc. Perkiraan saya tidak meleset, ternyata saya terpapar Covid Omicron. Saya kemudian melakukan isoman di dalam kamar karena ada keluarga di rumah. Saya mendapat seabrek obat dari kemenkes yang pada akhirnya tidak saya minum semua.

Dua hari setelah saya dinyatakan positif, anak, isteri dan mertua PCR untuk mengantisipasi terpapar. Malam hari hasil tes mereka keluar dan ternyata memang semua terpapar. namun untungnya, tidak ada gejala berarti yang mereka rasakan sebagaimana yang saya alami.

Menjalani isoman membuat saya sedikit agak frustasi karena pada saat itu, saya juga sedang menunggu jadwal sidang ujian akhir. di hari ketiga isoman, pihak kampus memberikan saya informasi bahwa sidang ujian akhir saya akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari, artinya bahwa saya mempunyai empat hari untuk belajar dan mempersiapkan diri ujian.

Terpapar Covid di masa sedang menunggu ujian memang menjadi dilema. Di satu sisi membuat saya agak frustasi karena tidak bisa konsentrasi penuh untuk belajar namun di sisi lain, saya mengucapkan syukur karena mempunyai waktu lebih untuk fokus pada ujian akhir. Artinya saya tidak terdistraksi dengan pekerjaan kantor karena orang kantor sadar bahwa saya sedang isoman dan tidak diberikan tugas tambahan.

Tepat tanggal 14 Februari pukul 19.00 WIb, ujian akhir saya berlangsung meskipun tidak maksimal. Saya merasa bahwa seharusnya saya bisa melakukan hal yang lebih di sidang misalnya menjawab pertanyaan penguji dengan baik namun apa daya, saya seperti kehilangan ide untuk kemudian bertarung kata dengan penguji. 

Sidang berlangsung dua jam dan berakhir dengan baik meskipun tidak maksimal. Saya dinyatakan lulus dengan catatan harus melakukan revisi tesis khususnya operasionalisasi teori maksimal sebulan setelah sidang.

Esok harinya, saya mencoba melakukan tes antigen untuk sekedar mengetahui hasil tes saya setelah seminggu isoman. Hal ini juga saya maksudkan agar saya bisa ke kampus mencari referensi tambahan saat revisi tesis. Hasil antigen saya ternyata sudah negatif dan esok harinya, saya ke kampus untuk mencari referensi tambahan.

Saya berkutat dengan revisi tesi selama dua minggu yang akhirnya disetujui oleh seluruh penguji tepat di tanggal 28 Februari 2022. sebuah perasaan senang karena Februari terlewati dengan perasaan lega.

Sekarang Maret dan semoga semua hal yang dihadapkan bagi saya di bulan ini bisa saya lewati dengan maksimal.

28.2.2022

January 16, 2022

Merenungi Impian

 

Di umur yang setua ini, saya merasa bahwa kapasitas intektual saya semakin menurun dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Saya tidak menyalahkan takdir saya yang menempatkan saya sebagai karyawan Perusahaan yang profit oriented namun saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan membawa saya dalam kondisi yang tidak mampu merenungkan hal-hal prinsipil dalam hidup saya, bahkan saya merasa bahwa beberapa poin prinsip yang dulunya kupegang erat, mulai runtuh satu demi satu dan harus menjustifikasi tindakan saya sebagai seorang pekerja.

Di umur sekian, saya sama sekali tidak mengetahui apakah saya masih bisa punya peluang untuk kembali ke diri saya bergelut dengan dunia yang membuat saya senang. saya tidak tahu pasti jika suatu saat nanti takdir membawaku ke dunia yang berhubungan dengan pendidikan saya, apakah saya akan menyenanginya namun setidaknya sampai detik ini, saya memimpikan dunia tersebut, kondisi yang membuat saya mampu meramu dunia ideal dalam pikiran saya tanpa direduksi oleh kepentingan duniawi.

Bukannya saya tidak berani untuk mendeklarasikan apa yang saya impikan namun saya takut kepada Sang Semesta. Saya khawatir menjadi manusia yang kufur nikmat ketika diberikan sesuatu namun tidak menyukainya.

Semalam, saya membuka beberapa lembaran impian saya yang pernah ditulis dan ternyata beberapa impian tersebut terwujud. Lalu apa yang saya rasakan? Ternyata tidak sesuai dengan rasaku. Saya selalu menginginkan yang lain. Misalnya saya bermimpi untuk bekerja dan mempunyai rumah di kota ini namun ternyata impian tersebut tidak sesuai dengan apa yang menjadi kenyataan.

Memang saya menyicil rumah di kota ini namun hati tidak benar-benar tinggal di rumah itu. Bagaimana tidak, takdir membawaku di sebuah lingkungan yang tidak sehat untuk psikis. Rumah saya diapit oleh beberapa rumah tetangga dan setiap masuk keluar rumah, harus melalui berada tetangga yang sama sekali tidak mengenakkan. Apatahlagi satpam depan rumah yang benar-benar sangat tidak bersahabat.

Memang saya bekerja di kota ini sesuai dengan impianku. Bukannya tidak bersyukur bahkan saya menikmati setiap takdirku, namun pekerjaanku jauh dari kondisi yang memungkinkanku untuk memeluk beberapa prinsip dasar dalam nuraniku. Saya harus selalu menjustifikasi beberapa nilai yang sebenarnya menurutku bisa dihindari, namun ternyata tidak semudah dengan khayalan-khayalan masa lalu.

Setelah sekian lama, saya berpikir bahwa Sang Maha Pemilik benar-benar satu-satunya yang mengetahui apa yang baik untuk manusia seperti saya. Impian-impian yang penuh nafsu hanya akan menggiring kita ke kondisi yang menyiksa batin. Setelah itu, Nurani mati sedangkan tubuh masih bergerak secara mekanik.

Mengerikan membayangkan apa yang saya khawatirkan terjadi padaku. Hidup secara mekanik yang tidak lebih baik dari robot yang bergerak tanpa tujuan.

 16 1 22

January 15, 2022

Gempa

Seingat saya, selama berada di ibu kota, sudah dua kali saya merasakan gempa yang benar-benar mengkhawatirkan. pertama sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. ketika itu maghrib baru saja berlalu sedangkan waktu isya belum tiba. di rentang waktu antara maghrib dan isya, keluarga biasanya melepas penat sambil bercengkerama, begitupun dengan kami yang sedang menghabiskan waktu untuk bercerita dan makan malam.

Tiba-tiba saja saya merasa pusing dan tembok rumah seakan runtuh. sesaat kemudian saya belum menyadari bahwa telah terjadi gempa. maklum karena seumur hidup saya, jarang sekali saya merasakan gempa. setelah sepersekian detik, goncangan makin keras kemudian terdengar orang-orang yang berhamburan keluar rumah. seketika itu saya menyadari bahwa telah terjadi gempa. 

Tanpa pikir panjang, saya menggendong anak saya dan mengajak keluar rumah isteri dan mertua. di jalan depan rumah, sudah dipenuhi oleh orang-orang yang keluar dari rumahnya. saya merasakan kepalaku masih sangat pusing dengan gempa yang barusan terjadi. untunglah setelah itu, tidak ada lagi gempa susulan yang dirasakan. kami kembali ke rumah dengan perasaan was-was

Gempa kedua yang saya rasakan di kota ini terjadi kemarin sore. ketika itu saya sedang di lantai tiga kantor yang terletak di monginsidi. saya sebenarnya tidak terlalu merasakan goncangan yang keras namun kepala saya terasa amat pusing. semua karyawan berhamburan keluar kantor dan memadati pinggir jalan. saya meraih dompet dan hp yang tergeletak di laci meja saya kemudian keluar kantor.

Satu hal yang langsung terpikir di benak saya adalah anak isteri yang hanya berdua di rumah. saya segera menelon mereka untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. seperti dugaanku, dia mengabari bahwa gempa sudah berlalu beberapa menit yang lalu dan sekarang sudah aman. perasaanku sedikit tenang namun tetap merasa was-was karena gempa biasanya terjadi tidak hanya sekali namun seringkali diikuti gempa susulan.

Jam 5 sore saya bergegas pulang. memastikan untuk segera tiba di rumah, setidaknya jika terjadi lagi gempa, isteri saya tidak terlalu panik karena ada saya. untunglah sampai malam tidak ada getaran yang terasa. 

Saya menelepon ibu di kampung dan berpesan untuk berjaga di malam hari. saya tidak jam satu kurang. sampai pagi tidak terjadi lagi gempa.

semoga selalu dilindungi dari bencana


15 1 2022

January 3, 2022

Trip 1 2022

Perjalanan pertama di tahun 2022. menuju negeri minang yang sempat saya singgahi di tahun 2018. biasanya kalau saya sudah pernah mengunjungi suatu tempat maka tidak terlalu bergairah. namun harus dijalani karena tugas.

Satu hal yang membuat perjalanan kali ini sedikit mengesankan karena di hari ketiga tahun 2022, selain itu maka semua sama saja, dalam artian gairah untuk melihat sesuatu yang indrawi namun sejatinya bahwa perjalanan selalu berada di situasi bersamaan dengan hikmah yang inheren, hanya saja bagaimana kita untuk memetik hikmah yang berserakan. sebuah kota yang dikunjungi dua kali selalu menawarkan pelajaran yang berbeda.

Saya sudah lupa berapa kali saya melakukan perjalanan ke seantero nusantara sejak 2016 bahkan ada beberapa tempat yang sudah saya kunjungi dua bahkan tiga kali dan selalu saja pelajaran hikmah yang saya dapat berbeda dalam ruang dan waktu yang berbeda juga.

Saya masih duduk di ruang tunggu E4 terminal 2. belum ada tanda tanda panggilan untuk boarding. saya sengaja berangkat lebih pagi dari rumah karena khawatir macet di jalan mengingat hari ini adalah hari pertama kerja setelah liburan tahun baru.

Di Bandara, tidak terlalu ramai hiruk pikuk penumpang. saya menduga mungkin liburan mereka belum usai. bandara benar benar sepi dari biasanya.

Saya duduk terpaku. menerawang tahun 2022 yang akan saya hadapi. Saya mengira-ngira apa yang akan terjadi di tahun ini. Apakah akan ada progress atas target atau kembali meleset seperti sebelumnya.

Entahlah, hidup hanya butuh untuk dijalani dengan sebenar-benarnya, selebihnya biarkan Sang Maha Pemilik Semesta yang menentukan.

Saya hanya butuh merapalkan doa doa terbaik.

Mungkin sebentar lagi ada panggilan boarding. Saya sudahi tulisan ini dengan harapan semua baik baik saja di tahun ini

3 Januari 2022

January 2, 2022

Latihan Diri

Tips ini saya salin dari instagram "successparty"

do these for 30 days straight (no cheating)

  1. turn off your phone before going to bed
  2. take one hour to do deep work (no distraction) before turning on your phone
  3. read at least 10 pages a day (self help books, business etc)
  4. workout at least 3 times a week
  5. track your progress

January 1, 2022

1 Januari 2022

Setahun yang lalu atau sehari sebelumnya, saya sudah menuliskan beberapa hal yang ingin kulakukan di tahun ini yang merupakan refleksi atas kekurangan di tahun-tahun sebelumnya.

di hari pertama ini, tidak banyak yang saya lakukan. semua rutinitas seperti biasa hanya saja saya menguatkan diri untuk tidak terlalu banyak melakukan hal yang sia-sia, nonton youtube atau scroll sosial media. mungkin tidak langsung bisa saya tinggalkan namun setidaknya mengurangi day by day.

Saya masih bangun terlalu pagi tadi, kemudian meninggalkan rutinitas olahraga. setelah itu sedikit belajar dan keluar membeli keperluan sehari-hari. rutinitas yang sama sebenarnya saya lakukan tahun sebelumnya.

kalau ada yang kurang, mungkin tugas kuliah yang tidak kunjung kelar. rasanya agak berat namun bagaimana lagi, tetap harus diselesaikan dengan berbagai distraksi yang selalu menghantui. ketika distraksi teratasi, otak tidak kunjung menemukan ide yang akan ditulis. 

Memang, semua hal punya tantangannya masing-masing. 

Hidup berjalan seperti biasanya dengan berbagai dinamika