Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan saya mudik dengan anak saya. sebuah pertimbangan yang sulit karena harus lebaran terpisah dengan istri yang harus menemani mertua lebaran di Jakarta. saya sendiri mau tidak mau harus lebaran dengan orang tua karena sudah 2 tahun tidak pernah bersama lebaran sejak pandemi. 2 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk tidak lebaran bersama orang tua sejak saya merantau 10 tahun silam.
Keputusan untuk mudik sangat mendadak karena mengikuti keputusan pemerintah yang akhirnya menetapkan liburan idul fitri dengan pertimbangan pandemi sudah mulai mereda. Pemerintah menetapkan libur idul fitri dua minggu sebelumnya. bersamaan dengan keputusan pemerintah, harga tiket pesawat serta merta melambung tinggi. sebuah dilema bagi perantau seperti saya dengan pemasukan yang pas-pasan, mau pulang dompet menipis, tidak pulang rindu membuncah. Setelah menimbang banyak hal terutama persoalan dana, saya akhirnya memantapkan hati untuk mudik tanggal 27 April. Saya membeli tiket pesawat yang paling murah meskipun jam berangkat pukul 04.00 wib dini hari.
Sejatinya cuti bersama tanggal 29 April namun untuk menghindari peak mudik dan tiket pesawat yang terlalu mahal, saya akhirnya memutuskan untuk cuti dua hari sebelumnya.
Pada tanggal 27 April, kami berangkat ke bandara jam 1 dini hari. Saya berangkat lebih awal karena mengantisipasi macet di tol ternyata ketika melintasi sepanjang tol jor, sama sekali tidak terlihat kepadatan kendaraan, mungkin karena kami mudik lebih awal dan juga masih dini hari.
Jalan tol yang lengang membuat kami tiba di bandara lebih awal. saya memutuskan untuk chek in lebih cepat supaya bisa istirahat di ruang tunggu. anak saya terlihat masih ngantuk dan saya pun sedikit agak sempoyongan karena harus membawa dua tas besar.
Sebelum boarding, saya menyempatkan sahur dengan sepotong roti dan sebotol air mineral. untungnya pesawat tidak delay sehingga pertimbangan waktu tepat. Perjalanan kami ke bandara Hasanuddin cukup lancar karena cuaca juga sangat baik. Kami tiba sesuai jadwal pada pukul 07.30 Wita.
Persoalan berikutnya adalah travel ke kampung karena jam segitu, semua travel sudah berangkat. kami dibantu oleh salah seorang sepupu yang berprofesi sebagai polisi di wilayah bandara. Dia mengantar kami mencari travel yang menuju arah Toraja.
Perjalanan ke kampung pun lancar meskipun ketika memasuki kampung, hujan deras mengguyur dan kami harus menumpang mobil lain menuju rumah.
Akhirnya tiba di kampung dengan selamat.
No comments:
Post a Comment