Di umur yang
setua ini, saya merasa bahwa kapasitas intektual saya semakin menurun
dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Saya tidak menyalahkan takdir
saya yang menempatkan saya sebagai karyawan Perusahaan yang profit oriented namun
saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan membawa saya dalam kondisi yang
tidak mampu merenungkan hal-hal prinsipil dalam hidup saya, bahkan saya merasa
bahwa beberapa poin prinsip yang dulunya kupegang erat, mulai runtuh satu demi
satu dan harus menjustifikasi tindakan saya sebagai seorang pekerja.
Di umur sekian,
saya sama sekali tidak mengetahui apakah saya masih bisa punya peluang untuk kembali
ke diri saya bergelut dengan dunia yang membuat saya senang. saya tidak tahu
pasti jika suatu saat nanti takdir membawaku ke dunia yang berhubungan dengan
pendidikan saya, apakah saya akan menyenanginya namun setidaknya sampai detik
ini, saya memimpikan dunia tersebut, kondisi yang membuat saya mampu meramu
dunia ideal dalam pikiran saya tanpa direduksi oleh kepentingan duniawi.
Bukannya saya
tidak berani untuk mendeklarasikan apa yang saya impikan namun saya takut
kepada Sang Semesta. Saya khawatir menjadi manusia yang kufur nikmat ketika
diberikan sesuatu namun tidak menyukainya.
Semalam, saya
membuka beberapa lembaran impian saya yang pernah ditulis dan ternyata beberapa
impian tersebut terwujud. Lalu apa yang saya rasakan? Ternyata tidak sesuai
dengan rasaku. Saya selalu menginginkan yang lain. Misalnya saya bermimpi untuk
bekerja dan mempunyai rumah di kota ini namun ternyata impian tersebut tidak
sesuai dengan apa yang menjadi kenyataan.
Memang saya
menyicil rumah di kota ini namun hati tidak benar-benar tinggal di rumah itu. Bagaimana
tidak, takdir membawaku di sebuah lingkungan yang tidak sehat untuk psikis. Rumah
saya diapit oleh beberapa rumah tetangga dan setiap masuk keluar rumah, harus
melalui berada tetangga yang sama sekali tidak mengenakkan. Apatahlagi satpam
depan rumah yang benar-benar sangat tidak bersahabat.
Memang saya
bekerja di kota ini sesuai dengan impianku. Bukannya tidak bersyukur bahkan
saya menikmati setiap takdirku, namun pekerjaanku jauh dari kondisi yang
memungkinkanku untuk memeluk beberapa prinsip dasar dalam nuraniku. Saya harus
selalu menjustifikasi beberapa nilai yang sebenarnya menurutku bisa dihindari,
namun ternyata tidak semudah dengan khayalan-khayalan masa lalu.
Setelah sekian
lama, saya berpikir bahwa Sang Maha Pemilik benar-benar satu-satunya yang
mengetahui apa yang baik untuk manusia seperti saya. Impian-impian yang penuh
nafsu hanya akan menggiring kita ke kondisi yang menyiksa batin. Setelah itu, Nurani
mati sedangkan tubuh masih bergerak secara mekanik.
Mengerikan membayangkan
apa yang saya khawatirkan terjadi padaku. Hidup secara mekanik yang tidak lebih
baik dari robot yang bergerak tanpa tujuan.
No comments:
Post a Comment