January 16, 2022

Merenungi Impian

 

Di umur yang setua ini, saya merasa bahwa kapasitas intektual saya semakin menurun dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Saya tidak menyalahkan takdir saya yang menempatkan saya sebagai karyawan Perusahaan yang profit oriented namun saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan membawa saya dalam kondisi yang tidak mampu merenungkan hal-hal prinsipil dalam hidup saya, bahkan saya merasa bahwa beberapa poin prinsip yang dulunya kupegang erat, mulai runtuh satu demi satu dan harus menjustifikasi tindakan saya sebagai seorang pekerja.

Di umur sekian, saya sama sekali tidak mengetahui apakah saya masih bisa punya peluang untuk kembali ke diri saya bergelut dengan dunia yang membuat saya senang. saya tidak tahu pasti jika suatu saat nanti takdir membawaku ke dunia yang berhubungan dengan pendidikan saya, apakah saya akan menyenanginya namun setidaknya sampai detik ini, saya memimpikan dunia tersebut, kondisi yang membuat saya mampu meramu dunia ideal dalam pikiran saya tanpa direduksi oleh kepentingan duniawi.

Bukannya saya tidak berani untuk mendeklarasikan apa yang saya impikan namun saya takut kepada Sang Semesta. Saya khawatir menjadi manusia yang kufur nikmat ketika diberikan sesuatu namun tidak menyukainya.

Semalam, saya membuka beberapa lembaran impian saya yang pernah ditulis dan ternyata beberapa impian tersebut terwujud. Lalu apa yang saya rasakan? Ternyata tidak sesuai dengan rasaku. Saya selalu menginginkan yang lain. Misalnya saya bermimpi untuk bekerja dan mempunyai rumah di kota ini namun ternyata impian tersebut tidak sesuai dengan apa yang menjadi kenyataan.

Memang saya menyicil rumah di kota ini namun hati tidak benar-benar tinggal di rumah itu. Bagaimana tidak, takdir membawaku di sebuah lingkungan yang tidak sehat untuk psikis. Rumah saya diapit oleh beberapa rumah tetangga dan setiap masuk keluar rumah, harus melalui berada tetangga yang sama sekali tidak mengenakkan. Apatahlagi satpam depan rumah yang benar-benar sangat tidak bersahabat.

Memang saya bekerja di kota ini sesuai dengan impianku. Bukannya tidak bersyukur bahkan saya menikmati setiap takdirku, namun pekerjaanku jauh dari kondisi yang memungkinkanku untuk memeluk beberapa prinsip dasar dalam nuraniku. Saya harus selalu menjustifikasi beberapa nilai yang sebenarnya menurutku bisa dihindari, namun ternyata tidak semudah dengan khayalan-khayalan masa lalu.

Setelah sekian lama, saya berpikir bahwa Sang Maha Pemilik benar-benar satu-satunya yang mengetahui apa yang baik untuk manusia seperti saya. Impian-impian yang penuh nafsu hanya akan menggiring kita ke kondisi yang menyiksa batin. Setelah itu, Nurani mati sedangkan tubuh masih bergerak secara mekanik.

Mengerikan membayangkan apa yang saya khawatirkan terjadi padaku. Hidup secara mekanik yang tidak lebih baik dari robot yang bergerak tanpa tujuan.

 16 1 22

No comments: