October 3, 2021

3 Oktober

Saya selalu melupakan momen pada hari ini sedangkan tepat di 3/10 merupakan momen saya mengambil tanggung jawab lebih sebagai seorang lelaki. setiap kali melewati tanggal 3/10, saya selalu tidak menyadari bahwa ini sebuah momen yang patut diingat.

Seperti kemarin siang, pasangan saya mengingatkan bahwa esok adalah hari spesial kami. saya baru menyadarinya pada saat itu. untuk momen-momen tertentu, saya memang tidak pernah menjadikan sebuah momen apapun dalam hidupku sebagai sesuatu yang harus dirayakan.

Tadi siang, kami memilih untuk makan di mall sebagai upaya untuk merayakan kemampuan bertahan hidup bersama. makan siang yang tidak terlalu mewah karena hanya memesan burger dan kentang goreng yang dilengkapi dengan dua gelas milo. cukup sederhana bukan? namun itulah pilihan-pilihan hidup yang kami jalani.

Saya juga membelikan sebuah tas berwarna pink sebagai upaya bahwa ada kado di momen spesial, meskipun harganya tidak seberapa namun paling tidak tas tersebut bisa digunakan oleh pasangan saya.

Sekali lagi bahwa hanya harapan-harapan baik yang seringkali kami rapalkan untuk mampu menghadapi kenyataan hidup di masa mendatang. Setidaknya mampu bertahan untuk membuktikan kepada semesta tentang komitmen yang sudah dibangun. Selebihnya menyandarkan semua kenyataan kepada Sang Maha yang menentukan semuanya.

Hal yang perlu dilakukan kemudian hanyalah mengikuti hukum semesta. Jika jatuh, berdiri kembali. jika lelah, berhenti sementara untuk rehat. Jika ada lebih, sedikit berbagai kepada keluarga dan yang membutuhkan. Jika bahagia, ingat bahwa itu tidak abadi dan esok hari mungkin saja akan sedih, demikian pula jika sedih, ingat bahwa bahagia akan menghampiri. 

Tidak ada yang absolut dalam hidup. semua berganti sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Hidup adalah jalan yang dijejak setapak demi setapak sampai akhirnya giliran kita yang akan meninggalkan kehidupan. Sama halnya dengan pernihakan yang serupa perjalanan untuk tetap bertahan.

Wedding anniversary. 3 Okt 2022

October 1, 2021

1 Oktober

Sepertinya saya benar-benar penat beberapa bulan terakhir. gelombang kesibukan menerpa dan tidak memberikan ruang untuk sekedar menghela nafas, diperburuk dengan sikap menghabiskan waktu yang sia-sia ketika di rumah,

Tidak hanya fisik, psikis juga terkuras dengan pikiran yang bercabang. berbagai hal harus disolusikan dengan olah pikir yang tidak mudah bahkan seringkali membuat saya berada pada titik nadir keputusasaan. sebuah sikap yang tentunya tidak sehat untuk perkembangan diri karena putus asa adalah toxic bagi manusia yang ingin menembus batas kemampuan dirinya.

Entah kebetulan atau memang semesta sedang memberikan berbagai challange untuk melihat diriku apakah sudah sanggup untuk melangkah ke tahap berikutnya, namun yang jelas bahwa pekerjaan kantor benar-benar menumpuk, tugas akhir kuliah yang tidak ada titik terang dan sebuah impian yang harus saya hadapi di dua minggu ke depan. impian yang tentunya merupakan chance terakhir bagiku dan jika gagal maka mungkin sudah tertutup pintu untuk cita-cita tersebut, sialnya saya tidak pernah bisa memaksa diriku untuk mempersiapkan segalanya dengan baik karena pada dasarnya, keberhasilan adalah sebuah luck yang merupakan perwujudan dari persiapan yang maksimal dan doa yang khusyuk kemudian diamini semesta


September 26, 2021

26 September

Cerita hari ini hanya tentang pertemuan dengan seorang teman lama dari bagian timur pulau ini. teman yang pernah kerja bareng di salah satu perusahaan dan kami tergabung dalam bagian pemasaran. sebuah pekerjaan yang masih sangat asing bagiku saat itu. pekerjaan yang menuntut pencapaian target hari demi hari, bulan demi bulan dan puncaknya target tahunan

sebenarnya lumayan berat mengingat saya orangnya tidak terlalu menyenangi pekerjaan yang ditekan lagian bukan pekerjaan yang saya inginkan namun apa daya, kemampuan yang ala kadarnya dan takdir menyatu membawaku ke situasi pada saat itu apatahlagi saya sedang merantau dan jika tidak bekerja maka bisa dipastikan, saya harus pulang kampung.

Setahun kami tinggal bersama di kantor yang juga difungsikan sebagai tempat tinggal. dia tipe teman yang mudah akrab dengan orang lain dan dengan kelebihannya itu, sebenarnya dia punya potensi yang cukup besar untuk menjadi tenaga marketing yang sukses.

Setelah tinggal dan berkerja bersama selama beberapa bulan, saya menyadari bahwa meskipun dia punya kelebihan cepat akrab dengan orang asing, namun dia tipe orang yang tidak suka dalam tekanan dan sering bercerita bahwa dia lebih menyukai usaha sendiri. saya sudah menyadari itu hingga akhirnya, dia benar-benar resign setahun setelah kami kerja bareng.

setelah resign, praktis saya jarang bertemu dengannya hanya saja, saya selalu berkabar melalui pesan singkat dan dari ceritanya, saya mengetahui bahwa dia benar-benar mengikuti kata hatinya untuk membuka usaha mulai dari usaha jual nasi, sampai akhirnya, beberapa bulan lalu saya bertemu di ujung timur pulau ini. saya takjub pencapaiannya. dalam hal materi, dia sudah mampu membeli mobil sedangkan dari segi psikis, hatinya lebih merdeka karena tidak berada di bawah telunjuk orang.

Siang kemarin kami bertemu di sebuah mall di daerah selatan. tidak ada yang berubah dari dirinya dengan guyonannya yang khas. cara ngomong yang masih sama dan tawanya yang renyah. dia bertutur bahwa melihat kondisi jakarta, dia tidak bisa tahan hidup di kota ini. sesekali saya menimpali bahwa saya juga sebenarnya sudah jenuh dengan hiruk pikuk Ibu Kota namun saya sadari, saya bukan dia yang berani mengambil risiko. pertimbanganku terlalu banyak dan kekhawatiran yang tiada berujung.

Jika sudah seperti itu, hanya beberapa kalimat doa yang selalu terselip pada sisi terdalam hatiku bahwa suatu saat saya hidup di sebuah tempat yang tenang dengan lingkungan yang baik terhadap fisik dan psikisku dan tidak terlalu terjerat dalam kekhawatiran duniawi.

oh iya, teman saya sempat bertutur bahwa dia selalu ingat kata-kataku dulu bahwa "mungkin kita saat ini susah dalam pekerjaan namun akan lebih susah jika resign" saya lupa kalau pernah mengatakan itu kepadanya delapan tahun silam namun yang jelas, saya memang sudah sejak lama mengamini kalimat tersebut

September 22, 2021

22 September

Tragedi hotel Sapadia membayangiku di kota ini. 

Sejak hari pertama datang di kota ini, saya menyadari bahwa baju kemeja yang akan saya kenakan tiga hari pertama. menyadari akan hal itu, saya berinisiatif untuk meminjam setrika di  hotel. biasanya hotel akan memberikan pinjaman setrika untuk digunakan sementara waktu kemudian langsung dikembalikan.

Tragedi sore itu dimulai

Singkat cerita, tiga baju kemeja sudah selesai saya sertika. tanpa pikir panjang, setrika yang masih panas saya letakkan pada kursi sofa dan tidak terpikir bahwa setrika tersebut akan merusak sofa. sepersekian menit ketika saya hendak mengembalikan setrika, saya kaget melihat bekas setrika dengan jelas di sofa. 

Tanpa merasa bersalah, saya mengembalikan setrika ke bagian recepsionist, namun selama tiga hari, tragedi bekas setrika selalu terbayang di kepalaku.

Anehnya, petugas kebersihan hotel tidak menegur atau melakukan konfirmasi kepada saya sedangkan bekas tersebut tidak pernah saya tutupi.

hari rabu pagi, kami chek out dari hotel karena beberapa alasan termasuk pelayanan hotel yang tidak terlalu memadai. kebersihan hotel juga jauh dari standar yang baik. di kamar toilet tempat saya menginap, atapnya bocor dan showernya penuh dengan karat. air yang keluar dari shower berbau besi.

Setelah pindah hotel, saya masih tetapa kepikiran dengan bekas setrika. semoga saja memang tidak ada apa-apa.

September 19, 2021

19 September

Hampir tiga bulan tidak menjalani rutinitas keluar kota karena pandemi yang semakin parah. 

Pagi ini, rutinitas ke luar kota kembali dimulai setelah pandemi mereda. setengah 8 pagi, saya sudah sampai di terminal 2E. lumayan cepat karena tol lengang, mungkin karena belum terlalu banyak orang yang bepergian dengan Pesawat.

Saat memasuki bandara, saya melihat kondisi yang tidak seperti biasa. terminal satu terlihat kosong dan kemungkinan semua penerbangan dipindahkan. biasanya terminal satu cukup padat penumpang yang pergi dan datang.

Terminal dua juga terliha tidak terlalu padat meskipun di ruang tunggu, terlihat rombongan orang yang akan berangkat. saya mencari tempat duduk untuk menikmati suasana karena penerbangan saya jam sepuluh pagi artinya masih dua setengah jam lagi.

oh iya, semalam saya tidur jam setengah tiga dinihari kemudian bangun jam lima. pola tidur yang tidak biasanya karena tiap malam, saya tidur maksimal jam 12 malam, namun semalam saya ngebut kerja tugas akhir. saya sudah janji ke dosen untuk menyicil tugas dan seharusnya sudah dari minggu lalu. 

Terlalu banyak distraksi yang tidak bisa saya hindari dan parahnya selalu saja ada pembenaran atas distraksi tersebut yang ujung-ujungnya menjadi kebiasaan prokraktinasi. saya sudah berusaha keras menghindarinya namun selalu gagal.

oh iya, sebelum menyelesaikan tulisan ini, terminal dua sudah dipadati penumpang. saya menduga semua penerbangan dialihkan ke terminal dua.

setelah ini saya akan mencari sarapan sambil menunggu jadwal keberangkatan ke kualanamu.

September 18, 2021

18 September

Pagi ini saya terbangun dengan mimpi yang sangat jelas di kepala saya. entah karena semalam habis nongkrong dengan teman-teman kampus atau mimpi itu akumulasi dari keinginan di kepala saya yang tidak tertuangkan dalam bentuk cerita kepada orang lain

Mimpi yang menurut saya sangat aneh karena berhubungan dengan sebuah prinsip yang sudah beberapa tahun ini tertanam dalam pikiranku. mungkin juga karena sudah saya pendam lama sehingga tercurahkan dalam bentuk yang tidak bisa saya kontrol.

Saya terbangun dengan mimpi yang hampir nyata. sebuah percakapan yang hampir nyata dengan salah seorang senior di kampusku dulu.percakapan tentang pilihan kerja yang memang bukan pilihan idealku, entah karena faktor eksternal atau pun juga murni prinsipku.

Dalam mimpi itu, senior saya menyarankan untuk mencari pekerjaan lain yang sejalan dengan prinsipku. 

September 17, 2021

17 September

Malam ini saya tiba di rumah agak larut dari biasanya. saya menengok jam dinding yang tergantung di atas televisi ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. lumayan larut karena biasanya paling lambat saya tiba di rumah jam setengah 7 malam.

memang sepulang kantor, saya diajak nongkrong sama beberapa kawan kampus yang sering komunikasi. tidak ada hal yang penting sebenarnya namun kebiasaan kami adalah menyempatkan bertemu sekali dalam sebulan. pandemi memang membuat intentitas pertemuan kami tidak sesering dulu meskipun demikian kami sering berkomunikasi lewat hp.

awalnya kami nongkrong seperti biasa. bercerita apa saja dalam saling bertanya kabar. salah satu teman saya membawa vodka yang tentunya diminum bersama. saya yang notabene memang bukan penikmat alkohol, menolak minum meskipun tidak mempermasalahkan jika mereka minum sepanjang saya tidak ikut minum.

tidak ada yang aneh sebenarnya karena saya juga sudah biasa melihat teman-teman kampung dulu minum alkohol lokal, namun ketika beberapa gelas sudah tandas. salah satu teman saya sudah mulai bertingkah aneh. setiap ada percakapan, nadanya meninggi sambil teriak dan jika ditegur untuk menurunkan nada suara, dia bersikeras bahwa daerah itu tempat tinggalnya. saya mulai risih. 

sebenarnya sepanjang dia tidak bertingkah maka tidak ada masalah namun persoalannya, dia tidak bisa mengontrol dirinya ketika sudah terlalu banyak minum. beberapa kali saya menegurnya namun dibalas dengan ucapan yang lumayan keras yang dalam keadaan sadar, dia tidak pernah bereaksi sekeras itu. 

Saya mulai berpikir untuk pamit pulang karena sudah terlalu risih. akhirnya saya izin pamit dengan alasan besok pagi harus keluar kota meskipun sebenarnya, saya baru berangkat dua hari kemudian.

Sepanjang perjalanan pulang di atas motor. saya bersyukur tidak menjadi penikmat alkohol melihat orang-orang yang mabok selalu tidak berada dalam kontrol dirinya. dulu waktu di kampung, saya liat teman-teman kampung saya yang dalam keadaan mabok, juga bertindak hal yang sama bahkan ada yang berkelahi antara mereka padahal pada saat pesta alkohol, mereka duduk bersama.

saya tidak menjustifikasi orang penikmat alkohol sepanjang bisa mengontrol dirinya pada saat mabok. saya hanya risih melihat orang yang sudah out of control ketika jumlah kadar alkohol yang masuk dalam aliran daranya sudah berlebihan. 

Mungkin jika saya juga peminum alkohol, reaksi diri saya jauh lebih tidak terkontrol karena banyak hal-hal atau juga masalah yang saya mitigasi sendiri dalam diriku dan tentunya ketika tidak sadar, bisa saja terlampiaskan dalam bentuk yang merusak diriku sendiri.

sekali lagi saya tidak menjustifikasi para penikmat alkohol dan tidak menganggap mereka pendosa sebaliknya saya yang tidak minum alkohol juga tidak menganggap diriku suci namun sejauh ini, saya bersyukur tidak pernah menjadi penikmat alkohol. saya punya potensi menjadi peminum karena dulu di kampung saya, banyak teman-temanku yang menjadi pecandu alkohol.

September 10, 2021

10 September

Saat memulai tulisan ini, saya sedang menimbang hal apa yang menarik untuk diceritakan. aktivitas yang kujalani hari ini hanya pengulangan dari hari-hari sebelumnya atau lebih spesifiknya hanya pengulangan dari jumat kemarin. tidak ada yang terlalu menarik untuk diceritakan.

Mungkin yang beda hanya tentang sebuah acara perpisahan. namun tidakkah dalam sebuah lingkungan kerja, yang namanya perpindahan adalah hal yang biasa. oh tidak, bukan hanya di dalam dunia kerja namun di setiap potongan hidup yang dijalani. kita selama bertemu dan berpisah dengan apa saja dan di mana saja. itu sebuah keniscayaan dalam hukum semesta.

Jika terjadi perpisahan, kita seringkali sentimental kemudian bersedih dan mengingat apa yang telah dilalui. saya selalu berusaha untuk memahami, sebenarnya apa yang membuat seseorang sedih atas sebuah perpisahan?

apakah tentang kenangan-kenangan yang dilalui?

atau memang benar-benar perpisahan itu sendiri yang menyedihkan?

kemungkinan yang kedua bukan jawabannya karena seringkali, dalam hitungan hari kesedihan hilang yang kemudian menjadi normal kembali. 

lalu apa yang membuat kita sedih atas perpisahan?

Tidak lain hanya karena manusia terlalu cinta terhadap masa lalu, tentang apa saja. ketika berpisah, manusia memikirkan kenangan namun seandainya perpisahan sudah terjadi, sebuah akan biasa-biasa saja.

begitu pula dengan perpisahan yang hakiki, ya kematian. manusia berduka teramat dalam ketika terjadi kematian namun duka cita tersebut akan disapu oleh waktu demi waktu dan manusia akan kembali menjalani harinya seperti sediakala.

Setelah memaknai perpisahan, saya selalu menimbang-nimbang, apa yang seharusnya saya lakukan dalam hidup untuk tidak sekedar menjalani hidup secara mekanis. jikalaupun ternyata hidup seperti itu yang sedang kujalani, setidaknya saya tidak berbuat sesuatu yang meninggalkan kenangan buruk pada orang lain, bukankah yang diingat oleh manusia hanyalah kenangan.

Saya merenungi hari yang kujalani sejak pagi tadi sampai malam. mungkin satu hal yang harus dikurangi adalah bercanda yang berlebihan. 

Saya menakar diri bahwa saya terlalu banyak bercanda hari ini. meskipun bukan sesuatu yang dilarang namun saya orang yang meyakini bahwa terlalu banyak bercanda tidak baik untuk ketenangan jiwa apatahlagi jika ada orang lain yang merasa tersinggung. 

esok, lusa dan seterusnya, saya ingin lebih mengontrol diri dalam hal bercanda.

September 9, 2021

9 September

Saya tidak pernah membayangkan hidup yang seperti saya jalani. hidup di tengah rimba kota yang menyesakkan dan tidak memiliki teman yang menyenangkan. memang benar hidup yang paling mengerikan adalah hidup dalam kesepian.

sebenarnya saya tidak sepenuhnya kesepian karena memiliki isteri dan seorang anak. tetapi tidak memiliki sahabat menjadi masalah tersendiri. entah saya yang tidak mampu menemukan sahabat atau mungkin memang saya sendiri yang tidak membuka diri untuk mengakrabkan diri dengan orang lain.

Faktor lain mungkin karena saya merasa sangat sulit untuk menemukan seorang teman akrab di lingkungan pekerjaan karena seringkali relasinya adalah tentang kalkulasi untung rugi. sangat jauh berbeda saat dulu masih kuliah, cukup mudah memiliki kawan yang mau diajak berpikir tentang hidup tanpa harus memikirkan sesuatu yang sifatnya materi.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa hidupku sudah sangat mengecil dalam sebuah lingkaran pertemanan yang tidak terlalu intim. tidak ada teman diskusi yang bisa diajak untuk memimpikan dunia yang menyenangkan. jika ada, maka percakapan hanya seputar bagaimana memulai bisnis, bagaimana promosi di kantor dan percakapan lain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan materi. sesuatu yang menurutku sangat absurd karena jiwa manusia butuh siraman.

Bayangkan saja, saya hidup di ibu kota dengan lalu lintas yang menyeramkan, bekerja secara mekanis jam delapan pagi sampai jam lima sore. sampai di rumah setelah maghrib kemudian bercengkerama dengan anak, tidur lima sampai enam jam kemudian bangun pagi dan memulai rutinitas yang sama. 

Weekend dihabiskan untuk istirahat dan membalas lima hari yang sudah dihabiskan di kantor dan di jalanan. setelah senin datang, kembali memulai gerak yang sama. begitu terus sampai waktu tidak memberikan kesempatan untuk memikirkan hidup yang layak.

Bisa dibayangkan, betapa mengerikannya hidup yang sedang kujalani. tidak memiliki teman untuk sekedar menegakkan eksistensi sebagai manusia sosial.

Bisa dibayangkan saya sedang berada dalam jebakan hidup yang menyiksa jiwa. tidak ada gerak yang membuat pengembangan diri selain menunaikan tanggung jawab dan menunggu bayaran di akhir bulan. bayaran yang tidak berwujud karena habis digunakan untuk membayar cicilan. 

Ketika menyadari hal tersebut, saya seringkali merasa bahwa hidupku begitu absurd. bekerja untuk sesuatu yang tidak terlihat dan mengejar tujuan yang tak tercapai. sampai akhirnya raga sudah mulai menua, hidup yang menyenangkan tak jua nampak.

September 8, 2021

8 September

Iba nian melihat seorang ibu muda dengan tiga anak yang masih balita. harus menanggung persoalan yang cukup rumit. persoalan yang tentunya tidak semua orang bisa melalui dengan tegar. pasangannya terbelit tindakan yang cukup besar dampaknya secara finansial.

Saya bisa merasakan betapa beratnya menjadi seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak kecil yang fokus pada perkembangan anak namun ternyata pasangannya melakukan kesalahan fatal. 

Terlihat di wajahnya guratan kekecewaan atas apa yang menimpa pasangannya. sambil menggendong bayinya yang berusia 6 bulan, dia menjawab pertanyaan saat pemeriksaan sambil sesekali menahan butiran-butiran air yang hendak berhamburan dari sudut matanya. saya memandangi kacamatanya yang berembun karena tetesan air mata.

Ada kalimat yang menyisakan sebuah kepiluan dalam diri seorang isteri yang ingin hidup tenang tanpa permasalahan

"lebih baik tidak punya apa-apa daripada seperti ini"

Sebuah kalimat yang cukup klise namun diucapkan dengan hati yang pilu dari seorang isteri yang harus menanggung kesalahan suaminya.

Saya tidak tahu seperti apa suasana saat mereka di rumah namun saya bisa merasakan sebuah kekacauan yang menyiksa karena harus berhari-hari memikirkan masalah yang tidak terbayangkan. rumah akan menjadi sebuah kuburan jika tidak ada diantara mereka yang mampu mencairkan suasana atau sekedar berusaha berpikir jernih untuk tetap menyelesaikan masalah.

Ada berbagai kepiluan yang saya rasakan hari ini dari seorang isteri yang ingin merawat keutuhan keluarnya.

Si isteri memutuskan untuk resign dari sebuah bank dan fokus untuk mengurus tiga anak. setiap bulan tidak pernah menerima jatah uang bulanan. jika ingin membeli kebutuhan, hanya sekedarnya. 

dia memilih untuk tidak menuntut karena pesan dari orang tuanya, jangan pernah menekan suami terkait masalah keuangan. dia memilih diam dalam sebuah tanda tanya yang tak berujung. sampai akhirnya dia menemukan jawabannya. keraguan-keraguan yang menghantui benar-benar menjadi kenyataan. 

Saat menulis kisah ini, saya sedang duduk di depan anak saya yang asik main game dan isteri saya yang sedang melepaskan penat sehabis kerja. Saya tidak bisa membayangkan bagaiamana kacaunya hati anak isteri saya jika harus membawa mereka dalam masalah yang tidak bisa dipikul.

Hujan yang terus mengguyur kawasan tempat tinggal kami membuat atap rumah dekat pintu bocor. air hujan menetes ke lantai dan membasahi sebagai lantai depan pintu. sepersekian detik, saya tetap bersyukur daripada harus berteduh di sebuah rumah yang nyaman namun dari hasil yang bukan merupakan hak. setidaknya sampai detik ini, saya tidak pernah mencoba untuk mengambil yang bukan hakku karena saya yakin bahwa semesta bekerja dengan sistemnya. jika sesuatu yang bukan hak dipaksakan untuk dinikmati, maka semesta akan membalasnya dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Ya begitulah hidup. terlalu rumit untuk diurai dalam sebuah kalimat yang terbatas. begitu banyak realita yang tidak bisa dinalar oleh manusia itu sendiri. saya yang pasti bahwa semesta itu seimbang. ada aksi maka niscaya ada reaksi

September 7, 2021

7 September

 Hari yang tidak pernah saya anggap sebagai sebuah momen spesial kecuali hanya sekedar pengingat bahwa saya akan mentraktir makan siang teman-teman kantor. hari yang menurutku sama saja dengan hari biasanya, bukan karena saya menganggap tidak ada dalam ajaran agama namun lebih karena sejak kecil, momen ini tidak pernah menjadi spesial dalam budaya keluarga saya, sekali lagi bukan karena agamais namun karena keluarga saya masih mempunyai kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Apa yang akan kutuliskan setiap tahun di tanggal ini sebenarnya sama saja, bahwa momen ini biasa saja, tidak lebih dari hari-hari yang kujalani.

Mungkin jika ada hal yang sedikit berharga, tidak lain hanya sebagai pengingat bahwa langkah saya sudah terlalu banyak dan sebagian besar langkah itu berada pada jalur yang khilaf. jika demikian, saya harus sering-sering merenungi jejak langkah mana saja yang harus saya anulir dan langkah mana yang harus tetap saya lanjutkan.

Di perjalanan hidup dengan hitungan tahun yang sudah cukup banyak, saya masih tetap bisa menemukan diriku yang entah tersesat di mana. sepanjang saya belum menemukannya, maka hidup saya masih akan berjalan dalam kegelapan yang absurd. 

Saya sangat khawatir jika hidupku berjalan secara mekanis. sebuah hidup yang tentunya tidak lebih dari sebuah perjalanan menghabiskan waktu.

September 5, 2021

5 September

Saya selalu merencanakan hal-hal produktif di akhir pekan. pekerjaan-pekerjaan selain tugas kantor yang harus segera saya selesaikan termasuk tugas akhir kuliah. Seringkali akhir pekan saya hanya berakhir pada sekedar rencana. sikap prokraktinasi terlalu dalam meresap dalam nadi saya yang diafirmasi oleh kecanduan saya terhadap gadget.

Akhir pekan ini, saya kembali merencanakan untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah yang sudah tertunda berbulan-bulan. 

Seperti biasa tepat jam delapan pagi, saya menyedu kopi dan dua potong roti. duduk di depan laptop dan mulai membuka file tugas yang sudah jamuran. berhubungan hari sebelumnya saya sudah bimbingan dan diberikan beberapa poin-poin pembahasan yang harus saya lengkapi, maka saya awali tugas saya dengan mencari referensi baru. 

Situs andalan saya apa lagi kalau bukan google scholar. setelah mengetik keywords yang berhubungan dengan judul tugas saya dan berharap ada beberapa referensi yang muncul, hal yang membuatku gembira ketika membaca penelitian yang persis saya dengan judul namun sepersekian detik, reaksi saya berubah menjadi perasaan yang tidak karuan. bagaimana tidak, saya menemukan skripsi dari anak UH yang persis dengan judul tugasku.

Saya mencoba untuk tenang dan membayangkan kemungkinan terburuk yaitu harus mengulang dari awal. menurutku terlalu berat jika harus mulai dari awal karena harus membangun kerangka pemikiran dalam kepalaku.

Sejurus kemudian, saya mengirimkan pesan ke dosen pembimbing dan menanyakan apa masukannya untuk tugas akhir saya. beliau mengatakan bahwa penelitian tersebut memang sangat mirip dan tulisanku berpotensi plagiasi tujuh puluh persen jika tetap dilanjutkan dengan redaksi judul yang sama.

Saya mulai pasrah dan tetap berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik, paling tidak saya hanya mengubah redaksi judul tanpa harus mengubah tema penelitian.


September 4, 2021

4 September

Tadi sehabis maghrib, sebagaimana rutinitas saya sebelum-sebelumnya, terkadang saya menelon ibu saya meskipun sekedar menanyakan kabarnya dan kabar bapak serta kabar keluarga yang lain. tidak ada pembicaraan intim, hanya sesekali diselingi pertanyaan seputar makanan, keadaan kampung dan tema pembicaraan template lainnya yang selalu berulang

Ibu saya juga menanyakan kuliah saya yang tak kunjung kelar yang sudah berjalan lebih dari dua tahun. sedikit beban juga karena sampai sekarang, tugas akhir saya sama sekali belum menunjukkan progres yang menggembirakan, bahkan di bimbingan kemarin dengan dosen penguji, tugas akhirku sama sekali belum memenuhi standar yang layak bahkan teknis penulisan pun masih jauh dari kata ideal

Dalam beberapa kali keadaan, saya sering merenungi apakah saya bisa menyelesaikan ini dan pertanyaan yang lebih filosofi, sebenarnya saya sedang menjalani ini untuk apa dan akan saya kemanakan setelah selesai? namun satu prinsip yang selalu saya tanamkan dalam pikiran bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia.

Setelah pertanyaan kuliah, ibu menanyakan sesuatu yang tidak saya jawab karena selalu berulang setiap tahun. saya benar-benar tidak sanggup memberikan ibuku jawaban mengingat trauma tahun-tahun sebelumnya yang selalu berakhir dengan kecewa, meskipun demikian saya berharap tahun ini bisa memberikan kabar gembira untuknya. saya berharap semoga ibu selalu mendoakan yang terbaik untukku.

Entah mengapa, ketika membayangkan ibu dan semua suasana kampung, saya selalu menyadari bahwa betapa waktu sudah terlalu jauh membawaku pergi. nenek saya meninggal beberapa minggu lalu membuatku merasa bahwa ketika pulang kampung, ada potongan masa lalu yang hilang karena kebiasaan saya ketika mudik, saya pasti akan mengunjungi rumahnya yang berada di lereng bukit. menjumpainya di bale rumah sambil istirahat siang atau sekedar memberi makan ayam-ayamnya namun situasi seperti itu tidak akan lagi kujumpai. saya sudah semakin jauh berjalan dan waktu berlalu terlalu jauh.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa semua sedang berjalan ke penghujung waktu termasuk saya. apa yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan.

Untuk ibu yang saya tidak menjawab tadi pertanyaannya, saya hanya ingin memberikanmu jawaban menggembirakan tahun ini, entah itu apa. amin