September 9, 2021

9 September

Saya tidak pernah membayangkan hidup yang seperti saya jalani. hidup di tengah rimba kota yang menyesakkan dan tidak memiliki teman yang menyenangkan. memang benar hidup yang paling mengerikan adalah hidup dalam kesepian.

sebenarnya saya tidak sepenuhnya kesepian karena memiliki isteri dan seorang anak. tetapi tidak memiliki sahabat menjadi masalah tersendiri. entah saya yang tidak mampu menemukan sahabat atau mungkin memang saya sendiri yang tidak membuka diri untuk mengakrabkan diri dengan orang lain.

Faktor lain mungkin karena saya merasa sangat sulit untuk menemukan seorang teman akrab di lingkungan pekerjaan karena seringkali relasinya adalah tentang kalkulasi untung rugi. sangat jauh berbeda saat dulu masih kuliah, cukup mudah memiliki kawan yang mau diajak berpikir tentang hidup tanpa harus memikirkan sesuatu yang sifatnya materi.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa hidupku sudah sangat mengecil dalam sebuah lingkaran pertemanan yang tidak terlalu intim. tidak ada teman diskusi yang bisa diajak untuk memimpikan dunia yang menyenangkan. jika ada, maka percakapan hanya seputar bagaimana memulai bisnis, bagaimana promosi di kantor dan percakapan lain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan materi. sesuatu yang menurutku sangat absurd karena jiwa manusia butuh siraman.

Bayangkan saja, saya hidup di ibu kota dengan lalu lintas yang menyeramkan, bekerja secara mekanis jam delapan pagi sampai jam lima sore. sampai di rumah setelah maghrib kemudian bercengkerama dengan anak, tidur lima sampai enam jam kemudian bangun pagi dan memulai rutinitas yang sama. 

Weekend dihabiskan untuk istirahat dan membalas lima hari yang sudah dihabiskan di kantor dan di jalanan. setelah senin datang, kembali memulai gerak yang sama. begitu terus sampai waktu tidak memberikan kesempatan untuk memikirkan hidup yang layak.

Bisa dibayangkan, betapa mengerikannya hidup yang sedang kujalani. tidak memiliki teman untuk sekedar menegakkan eksistensi sebagai manusia sosial.

Bisa dibayangkan saya sedang berada dalam jebakan hidup yang menyiksa jiwa. tidak ada gerak yang membuat pengembangan diri selain menunaikan tanggung jawab dan menunggu bayaran di akhir bulan. bayaran yang tidak berwujud karena habis digunakan untuk membayar cicilan. 

Ketika menyadari hal tersebut, saya seringkali merasa bahwa hidupku begitu absurd. bekerja untuk sesuatu yang tidak terlihat dan mengejar tujuan yang tak tercapai. sampai akhirnya raga sudah mulai menua, hidup yang menyenangkan tak jua nampak.

No comments: