Iba nian melihat seorang ibu muda dengan tiga anak yang masih balita. harus menanggung persoalan yang cukup rumit. persoalan yang tentunya tidak semua orang bisa melalui dengan tegar. pasangannya terbelit tindakan yang cukup besar dampaknya secara finansial.
Saya bisa merasakan betapa beratnya menjadi seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak kecil yang fokus pada perkembangan anak namun ternyata pasangannya melakukan kesalahan fatal.
Terlihat di wajahnya guratan kekecewaan atas apa yang menimpa pasangannya. sambil menggendong bayinya yang berusia 6 bulan, dia menjawab pertanyaan saat pemeriksaan sambil sesekali menahan butiran-butiran air yang hendak berhamburan dari sudut matanya. saya memandangi kacamatanya yang berembun karena tetesan air mata.
Ada kalimat yang menyisakan sebuah kepiluan dalam diri seorang isteri yang ingin hidup tenang tanpa permasalahan
"lebih baik tidak punya apa-apa daripada seperti ini"
Sebuah kalimat yang cukup klise namun diucapkan dengan hati yang pilu dari seorang isteri yang harus menanggung kesalahan suaminya.
Saya tidak tahu seperti apa suasana saat mereka di rumah namun saya bisa merasakan sebuah kekacauan yang menyiksa karena harus berhari-hari memikirkan masalah yang tidak terbayangkan. rumah akan menjadi sebuah kuburan jika tidak ada diantara mereka yang mampu mencairkan suasana atau sekedar berusaha berpikir jernih untuk tetap menyelesaikan masalah.
Ada berbagai kepiluan yang saya rasakan hari ini dari seorang isteri yang ingin merawat keutuhan keluarnya.
Si isteri memutuskan untuk resign dari sebuah bank dan fokus untuk mengurus tiga anak. setiap bulan tidak pernah menerima jatah uang bulanan. jika ingin membeli kebutuhan, hanya sekedarnya.
dia memilih untuk tidak menuntut karena pesan dari orang tuanya, jangan pernah menekan suami terkait masalah keuangan. dia memilih diam dalam sebuah tanda tanya yang tak berujung. sampai akhirnya dia menemukan jawabannya. keraguan-keraguan yang menghantui benar-benar menjadi kenyataan.
Saat menulis kisah ini, saya sedang duduk di depan anak saya yang asik main game dan isteri saya yang sedang melepaskan penat sehabis kerja. Saya tidak bisa membayangkan bagaiamana kacaunya hati anak isteri saya jika harus membawa mereka dalam masalah yang tidak bisa dipikul.
Hujan yang terus mengguyur kawasan tempat tinggal kami membuat atap rumah dekat pintu bocor. air hujan menetes ke lantai dan membasahi sebagai lantai depan pintu. sepersekian detik, saya tetap bersyukur daripada harus berteduh di sebuah rumah yang nyaman namun dari hasil yang bukan merupakan hak. setidaknya sampai detik ini, saya tidak pernah mencoba untuk mengambil yang bukan hakku karena saya yakin bahwa semesta bekerja dengan sistemnya. jika sesuatu yang bukan hak dipaksakan untuk dinikmati, maka semesta akan membalasnya dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka.
Ya begitulah hidup. terlalu rumit untuk diurai dalam sebuah kalimat yang terbatas. begitu banyak realita yang tidak bisa dinalar oleh manusia itu sendiri. saya yang pasti bahwa semesta itu seimbang. ada aksi maka niscaya ada reaksi
No comments:
Post a Comment