Cerita hari ini hanya tentang pertemuan dengan seorang teman lama dari bagian timur pulau ini. teman yang pernah kerja bareng di salah satu perusahaan dan kami tergabung dalam bagian pemasaran. sebuah pekerjaan yang masih sangat asing bagiku saat itu. pekerjaan yang menuntut pencapaian target hari demi hari, bulan demi bulan dan puncaknya target tahunan
sebenarnya lumayan berat mengingat saya orangnya tidak terlalu menyenangi pekerjaan yang ditekan lagian bukan pekerjaan yang saya inginkan namun apa daya, kemampuan yang ala kadarnya dan takdir menyatu membawaku ke situasi pada saat itu apatahlagi saya sedang merantau dan jika tidak bekerja maka bisa dipastikan, saya harus pulang kampung.
Setahun kami tinggal bersama di kantor yang juga difungsikan sebagai tempat tinggal. dia tipe teman yang mudah akrab dengan orang lain dan dengan kelebihannya itu, sebenarnya dia punya potensi yang cukup besar untuk menjadi tenaga marketing yang sukses.
Setelah tinggal dan berkerja bersama selama beberapa bulan, saya menyadari bahwa meskipun dia punya kelebihan cepat akrab dengan orang asing, namun dia tipe orang yang tidak suka dalam tekanan dan sering bercerita bahwa dia lebih menyukai usaha sendiri. saya sudah menyadari itu hingga akhirnya, dia benar-benar resign setahun setelah kami kerja bareng.
setelah resign, praktis saya jarang bertemu dengannya hanya saja, saya selalu berkabar melalui pesan singkat dan dari ceritanya, saya mengetahui bahwa dia benar-benar mengikuti kata hatinya untuk membuka usaha mulai dari usaha jual nasi, sampai akhirnya, beberapa bulan lalu saya bertemu di ujung timur pulau ini. saya takjub pencapaiannya. dalam hal materi, dia sudah mampu membeli mobil sedangkan dari segi psikis, hatinya lebih merdeka karena tidak berada di bawah telunjuk orang.
Siang kemarin kami bertemu di sebuah mall di daerah selatan. tidak ada yang berubah dari dirinya dengan guyonannya yang khas. cara ngomong yang masih sama dan tawanya yang renyah. dia bertutur bahwa melihat kondisi jakarta, dia tidak bisa tahan hidup di kota ini. sesekali saya menimpali bahwa saya juga sebenarnya sudah jenuh dengan hiruk pikuk Ibu Kota namun saya sadari, saya bukan dia yang berani mengambil risiko. pertimbanganku terlalu banyak dan kekhawatiran yang tiada berujung.
Jika sudah seperti itu, hanya beberapa kalimat doa yang selalu terselip pada sisi terdalam hatiku bahwa suatu saat saya hidup di sebuah tempat yang tenang dengan lingkungan yang baik terhadap fisik dan psikisku dan tidak terlalu terjerat dalam kekhawatiran duniawi.
oh iya, teman saya sempat bertutur bahwa dia selalu ingat kata-kataku dulu bahwa "mungkin kita saat ini susah dalam pekerjaan namun akan lebih susah jika resign" saya lupa kalau pernah mengatakan itu kepadanya delapan tahun silam namun yang jelas, saya memang sudah sejak lama mengamini kalimat tersebut
No comments:
Post a Comment