Malam ini saya tiba di rumah agak larut dari biasanya. saya menengok jam dinding yang tergantung di atas televisi ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. lumayan larut karena biasanya paling lambat saya tiba di rumah jam setengah 7 malam.
memang sepulang kantor, saya diajak nongkrong sama beberapa kawan kampus yang sering komunikasi. tidak ada hal yang penting sebenarnya namun kebiasaan kami adalah menyempatkan bertemu sekali dalam sebulan. pandemi memang membuat intentitas pertemuan kami tidak sesering dulu meskipun demikian kami sering berkomunikasi lewat hp.
awalnya kami nongkrong seperti biasa. bercerita apa saja dalam saling bertanya kabar. salah satu teman saya membawa vodka yang tentunya diminum bersama. saya yang notabene memang bukan penikmat alkohol, menolak minum meskipun tidak mempermasalahkan jika mereka minum sepanjang saya tidak ikut minum.
tidak ada yang aneh sebenarnya karena saya juga sudah biasa melihat teman-teman kampung dulu minum alkohol lokal, namun ketika beberapa gelas sudah tandas. salah satu teman saya sudah mulai bertingkah aneh. setiap ada percakapan, nadanya meninggi sambil teriak dan jika ditegur untuk menurunkan nada suara, dia bersikeras bahwa daerah itu tempat tinggalnya. saya mulai risih.
sebenarnya sepanjang dia tidak bertingkah maka tidak ada masalah namun persoalannya, dia tidak bisa mengontrol dirinya ketika sudah terlalu banyak minum. beberapa kali saya menegurnya namun dibalas dengan ucapan yang lumayan keras yang dalam keadaan sadar, dia tidak pernah bereaksi sekeras itu.
Saya mulai berpikir untuk pamit pulang karena sudah terlalu risih. akhirnya saya izin pamit dengan alasan besok pagi harus keluar kota meskipun sebenarnya, saya baru berangkat dua hari kemudian.
Sepanjang perjalanan pulang di atas motor. saya bersyukur tidak menjadi penikmat alkohol melihat orang-orang yang mabok selalu tidak berada dalam kontrol dirinya. dulu waktu di kampung, saya liat teman-teman kampung saya yang dalam keadaan mabok, juga bertindak hal yang sama bahkan ada yang berkelahi antara mereka padahal pada saat pesta alkohol, mereka duduk bersama.
saya tidak menjustifikasi orang penikmat alkohol sepanjang bisa mengontrol dirinya pada saat mabok. saya hanya risih melihat orang yang sudah out of control ketika jumlah kadar alkohol yang masuk dalam aliran daranya sudah berlebihan.
Mungkin jika saya juga peminum alkohol, reaksi diri saya jauh lebih tidak terkontrol karena banyak hal-hal atau juga masalah yang saya mitigasi sendiri dalam diriku dan tentunya ketika tidak sadar, bisa saja terlampiaskan dalam bentuk yang merusak diriku sendiri.
sekali lagi saya tidak menjustifikasi para penikmat alkohol dan tidak menganggap mereka pendosa sebaliknya saya yang tidak minum alkohol juga tidak menganggap diriku suci namun sejauh ini, saya bersyukur tidak pernah menjadi penikmat alkohol. saya punya potensi menjadi peminum karena dulu di kampung saya, banyak teman-temanku yang menjadi pecandu alkohol.