July 26, 2020

Hal-Hal Sepele

Kemarin sore saat berolahraga di taman Dadap Merah. tiba-tiba melintas 4 orang dengan pakaian rapi. sangat mencolok dari pengunjung taman karena rata-rata orang yang ke taman tersebut berniat olaharaga. sepersekian detik, saya tidak terlalu memperhatikannya sampai pada saat mereka melintas di pos satpam, salah satu dari mereka, seorang cewek dengan dandanan rapi, bersitegang dengan tukang parkir taman. entah apa yang dipermasalahkan namun yang pasti si cewek mengomel dengan kata-kata yang tidak pantas sambil berlalu sedangkan tukang parkir dengan muka memerah, terus saja meneriakinya. akhirnya mereka menjadi tontotan bagi semua orang di sekitar taman.

Tadi pagi saat kembali berolahraga, saat hendak pulang dan menuju parkiran, saya menyodorkan uang parkir ke pemuda yang bersitegang dengan si cewek sehari sebelumnya. saya iseng menanyakan apa yang membuatnya begitu murka dengan cewek yang berdandan rapi kemarin sore.

Si Tukang parkir menjelaskan dengan detail bahwa sebenarnya si cewek tersebut berniat foto prewed di taman kemudian disarankan oleh si tukang parkir untuk meminta izin kepada pihak kelurahan karena regulasinya seperti itu. si cewek ternyata tidak terima bahkan dia sepertinya menantang si tukang parkir.

Begitulah, hidup di kota ini seakan terlalu berat. manusia-manusianya dihantam dengan berlipat masalah secara sporadis yang membuat urat-urat mereka tegang setiap saat. seringkali saya menemukan masalah yang sebenarnya sangat sederhana namun selalu diselesaikan dengan urat leher yang seharusnya bisa dibicarakan secara baik-baik.

Saya pun tidak mengingkari bahwa dalam beberapa kali momen, saya menjadi sangat temperamental, entah karena memang bawaan atau kota ini ikut menyeret saya dalam budaya adu urat leher. momen yang paling membuatku tidak bersabar ketika berada di jalan raya. saat ada kendaraan yang menghalangi jalan saya atau mungkin sedikit mengganggu saya maka dengan serta merta, saya merasa tergangggu tanpa berusaha untuk berusaha. saya benar-benar sudah tenggelam dalam budaya kota ini. budaya yang tidak melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya.

July 25, 2020

Keluarga

Tadi malam saya menelepon Ibu saya sebagai rutinitas ba'da maghrib. seperti biasa bercerita apa saja yang sedang terjadi di kampung dan menanyakan kabar tentang keluarga nun jauh di sana. Ibu bercerita tentang rumah saudara yang baru saja dibangun kembali dan diresmikan siang hari sebagai bentuk sukur dengan mengundang para tetangga untuk makan siang, dan berbagai cerita tentang pola cucu-cucunya yang ada di rumah.

Salah satu cerita sentimentil semalam adalah saudara sepupu yang berumur 40an tahun, diceraikan oleh isterinya karena dia menderita sakit stroke sehingga tidak bisa lagi bekerja. saudara sepupu saya tersebut akhirnya dirawat oleh adik perempuannya yang juga sudah berkeluarga. sebuah relasi hubungan suami isteri yang akhirnya harus kandas karena persoalan salah satu diantara mereka sakit. saya pun tidak sedang menjustifikasi siapa yang salah namun dari cerita yang saya dengar, saudara sepupu saya tersebut sempat dirawat oleh isterinya namun dalam rentang waktu setahun atau dua tahun, isterinya sudah menyerah dan akhirnya menyatakan kepada para iparnya bahwa dia sudah tidak kuat dan berniat untuk mengembalikan suaminya ke keluarga.

Satu pelajaran dari percakapan semalam bahwa apapun yang terjadai dalam perjalanan hidup kita, maka keluarga inti tetap akan menjadi pelarian akhir jika terjadi apa-apa. sejauh apapun langkah kaki kita melangkah dan dari kalangan manapun pasangan yang kita pilih namun pada akhirnya, ketika ada masalah pelik yang kita hadapi, whatever the kind of it, keluarga inti tetap yang akan menjadi benteng pertahanan bahkan seringkali kita harus kembali ke keluarga seperti halnya kasus saudara sepupu saya yang mengalami sakit stroke namun isterinya tidak mau merawat sehingga yang terjadi adalah dia akhirnya dirawat oleh adiknya sendiri.

Ibuku mengamini kesimpulanku tersebut dengan suara lirih. saya bisa merasakan bagaimana ibuku begitu menghawatirkan anak-anaknya jika saja sesuatu yang buruk terjadi.

July 24, 2020

Pengingat Waktu

Salah satu pengingat waktu yang paling mujarab adalah kematian orang yang dikenal atau paling tidak pernah berinteraksi dengan kita meski terkadang hanya beberapa waktu. kematian membuat kita berpikir bahwa waktu benar-benar tidak bisa ditarik ulur dan akan terus berlalu sampai pada titik yang entah sampai kapan.

Mengingat waktu dengan cara memperhatikan diri secara fisik sangat tidak efisien karena seringkali manusia selalu merasa sehat dan muda. manusia tidak pernah merasa menua entah karena sikap denial bahwa mereka fana atau bisa juga karena mereka ingin tetap menikmati waktu dengan cara mereka sendiri. 

Manusia memang mempunyai cara masing-masing dalam merayakan hidup namun tetap harus diingat bahwa merayakan hidup dengan menelan habis waktu untuk hal yang sifatnya sia-sia, akan menempatkan manusia suatu saat dalam penyelesan, bahkan untuk manusia yang sudah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya pun tetap akan merasa menyesal di suatu momen. 

Pagi ini saya mendengar lagi seorang yang saya kenal, sudah menggenapkan waktunya di bumi ini. beliau mangkat menuju keabadian yang sempurna dengan meninggalkan jejak yang baik. bagaimana tidak, mereka yang pernah beriteraksi dengan beliau, bersaksi bahwa beliau orang baik dan tidak pernah mengalami pengalaman yang kurang baik selama berinteraksi dengannya. saya pun yang pernah beriteraksi dengannya hanya sekitar dua bulan, juga menemui tebaran kebaikan yang disemai untuk orang-orang di dekatnya. 

Begitulah hidup, bagai memakan sambal pedas. ketika sedang mengunyah dan menikmatinya, tidak ada perasaan pedas yang menempel di lidah karena pikiran fokus pada sensasinya namun ketika kunyahan terakhir, bibir mulai merasakan panas, perut mulai beraksi dan akhirnya lidah bereaksi.

Masing-masing dari kita hanya sedang berjalan menggenapkan waktu yang diamanatkan kepada kita. entah sampai kapan namun itulah rahasia semesta. makanya dalam beberapa petuah sucir, kita hanya dianjutkan untuk melakukan hal-hal baik dalam rangka mengisi waktu yang dijalani.

July 23, 2020

Kurir Ekspedisi

Beberapa jam yang lalu seusai shalat Jum'at (27/7/2020) seorang kurir salah satu ekspedisi masuk ke gang rumah kami. tebakan saya dia akan mengantarkan pesanan namun dugaan saya meleset, dia menanyakan apakah ada paket yang tercecer di sekitar depan rumah kami. memang di pagi hari, dia datang mengantar paket di tetangga. saya kemudian berpikir bagaimana jika dia tidak menemukan paket yang merupakan tanggung jawabnya. 

Berbagai dugaan-dugaan buruk muncul di kepalaku. apakah dia akan dipecat? disuruh ganti rugi berkali lipat dari harga paket? atau sanksi lain yang tentunya tidak mengenakkan baginya apatahlagi di masa yang lumayan sulit seperti sekarang ini. risiko pekerjaan yang harus ditanggung dan terjadi tanpa diduga yang terkadang membuat kita berpikir, kenapa harus terjadi sedangkan di sisi lain, sudah berusaha secara maksimal.

Entahlah, namun semoga saja tidak terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat kondisi yang tidak bersahabat.

July 22, 2020

Doa

Saya sedang merenungi tentang hakekat doa. kenapa doa terucap yang tak terlalu diinginkan dan kadang spontan seringkali terkabul sedangkan doa yang benar-benar dipanjatkan sepenuh hati, terkadang literally tidak terpenuhi. 

Mungkin dari kita pernah berpikir bahwa hal-hal buruk yang tiba-tiba terbersit dalam pikiran kita seringkali diamini oleh semesta sedangkan beribu bait doa yang dipanjatkan dalam keheningan, seringkali meleset, meskipun dalam keyakinan agama yang saya anut bahwa semua doa terkabul meskipun dalam bentuk yang berbeda namun maksud saya di sini adalah doa yang terkabul sesuai dengan yang dipanjatkan. 

Rahasia semesta memang selalu menyisakan misteri yang manusia sendiri harus membuka tabirnya. jika tidak demikian, maka hidup ini akan semakin membosankan. itulah mengapa mungkin sebagian orang menganjurkan kita untuk tidak menyisakan ruang sedikitpun di otak kita untuk pikiran-pikiran dan energi negatif karena semesta akan mewujudkannya. 

Dulu, dulu sekali. saya pernah membaca buku yang judulnya the secret. sebuah buku tentang segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita berasal dari pikiran-pikiran kita maka buku tersebut menganjurkan jika menginginkan sesuatu maka pikirkan hal-hal tersebut dan tanamkan dalam pikiranmu sehingga suatu saat akan terwujud. 

Saya pribadi mengambil sikap yang tidak terlalu sepakat meskipun di beberapa bagian hidup saya, benar adanya bahwa ketika saya serius memikirkan sesuatu yang saya ingini maka terkadang terwujud namun ada juga potongan-potongan hidup saya yang sudah saya curahkan perhatian atas apa yang saya inginkan namun nyatanya nihil.

Saya berada pada posisi bahwa memang ada beberapa hal yang tidak terwujud dan ada yang bisa diwujudkan namun buka berarti hal tersebut membuat saya menjadi seorang fatalis.

July 21, 2020

Olahraga

Seminggu yang lalu, saya menyadari bahwa berat badan saya sudah tidak normal, hampir mencapai 75 kg. Saya memutuskan untuk olahraga dan mengurangi porsi makanan. sebuah usaha untuk tetap sehat di tengah kondisi kesehatan global yang sedang tidak menentu akibat pandemi yang tidak kunjung reda. olahraga dan menjaga pola makan adalah salah satu ikhtiar untuk tetap stay fit. olahraga yang masih memungkinkan untuk saya jalani sebatas jogging, push up, dan gerakan-gerakan lain yang tidak membutuhkan orang lain seperti olahraga beregu. 

Dulu, jenis olahraga yang benar-benar saya anggap olahraga adalah olahraga yang beregu khususnya sepakbola. bahkan dulu, saya tidak terlalu suka untuk melakukan olahraga yang hanya bergerak sendiri. jogging adalah salah satu olahraga yang paling membosankan menurut saya dan sama sekali tidak ada gairahnya. 

Kondisi sosial saya yang berubah 180 derajat, memaksa saya untuk mengikuti alur olahraga mainstream di kota ini. ikut jogging bersama rombongan kaum urban setiap sabtu dan minggu adalah satu satunya alternatif untuk tetap berkeringat selain di rumah melakukan push up. 

Kita memang harus work out dalam segala ha yang diinginkan tidak terkecuali untuk tetap berkeringat sehingga proses alamiah dalam tubuh tetap terjaga dan makanan-makanan yang setiap hari dimasukkan ke dalam tubuh tidak tertimbun menjadi penyakit.

July 20, 2020

Mudik

Lumayan menyiksa keadaan di masa pendemi Covid-19 seperti sekarang. saya sebagai perantau dari kampung yang sudah terlalu jauh melangkah dan harus menyimpan rindu selama setahun untuk menengok masa depan, harus terhalangi oleh pandemi yang entah sampai kapan. 

Lebaran idul fitri kemarin di bulan Mei, saya seharusnya mudik menengok serpihan masa lalu di kampung dan melepaskan semua sisa rindu yang tertimbun di ubun-ubun sambil menyerap energi kampung yang selalu menyisakan untuk perantau tanggung seperti saya, namun apa daya, semua sirna dengan keadaan yang tiba-tiba muncul tak diundang. rindu yang sudah disimpan rapi selama setahun semakin membuncah dan melepaskan energi negatif dalam kehidupan sehingga setiap hal yang dilakukan menjadi tidak maksimal. rutinitas mudik tahunan akhirnya batal dan hanya jiwa yang terbang jauh membawa beribu serpihan rindu yang tak pernah tuntas. 

Di pertengahan tahun ini, data pandemi ini tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan segera berakhir. meski demikian, masyarakat seakan sudah jenuh tinggal di rumah dengan berbagai alasan dan salah satu alasan yang mendominasi adalah faktor ekonomi. mereka harus keluar demi sesuap nasi karena tinggal di rumah dalam waktu yang tak menentu adalah sebuah hal yang tidak menyelesaikan masalah. ekonomi mikro sampai yang makro hancur berantakan. semua elemen masyarakat mengalami dampak dari pandemi ini dengan berbagai tingkat keparahan. 

Saya pribadi, meski tidak mengalami penurunan pendapatan dibandingkan sebelum pandemi ini, namun tetap saja bahwa tinggal di rumah bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. berbagai kebosanan menyerang sampai akhirnya harus memutar otak untuk mengantisipasi jika suatu waktu, kantor tempat saya bekerja juga memberlakukan pemotongan gaji. 

Selain mengkhawatirkan masalah pendapatan, saya juga sedang menimbang untuk tetap mudik di akhir tahun ini mengingat hari libur lebaran dipindahkan ke akhir tahun. meski demikian, saya juga masih tetap melihat perkembangan kondisi ini yang tidak benar-benar selesai. namun apa daya, rindu harus disalurkan dengan pulang kampung.

Dan semoga semesta mengamini rencana saya mudik di akhir tahun ini

July 19, 2020

Tulisan Lama

Selama pandemi ini, saya bersih-bersih blog dan menemukan begitu banyak tulisan lama di blog ini yang sangat menggelikan bahkan tidak membawa pesan apa-apa. blog ini sudah saya kreasi tepat 10 tahun yang lalu dan awalnya saya ingin memenuhinya dengan tulisan tulisan mengenai fenomena internasional. 

Setelah tidak berafiliasi dengan dunia akademik, saya kemudian membanting arah menjadikan blog ini sebagai tulisan-tulisan refleksi, namun entah kenapa di 5 atau 6 tahun yang lalu, blog ini saya penuhi dengan puisi-puisi menjijikkan. saya bahkan tidak sudi membacanya namun juga tidak menghapus karena saya jadikan sebagai histori untuk mengenang betapa saya tidak pernah berhasil menulis dengan baik.

July 18, 2020

Menyudahi Kebiasaan Buruk

Begitu sulitnya menyudahi kebiasaan buruk atau hal yang sia-sia seperti mengorek kuping dan menyia-nyiakan waktu dengan menonton youtube atau sekedar menghabiskan kuota internet dengan memelototi media sosial. saya tidak mengerti kenapa saya begitu rapuh di depan hal-hal remeh yang sering saya lakukan, namun mungkin ini adalah bukti bahwa kebiasaan yang terulang terus menerus akan menjadi habit yang susah dilepaskan dari hidup. 

Saya menyadari bahwa begitu banyak pekerjaan yang menunggu saya dan harus segera saya tuntaskan namun saya selalu terjatuh dalam absurditas yang melenakan. setiap kali ingin melakukan sesuatu, saya mengkompromikan diriku untuk sekedar membuka media sosial atau sekedar menonton youtube dengan alasan hanya beberapa menit namun sekian menit berlalu, saya sudah menyadari bahwa berjam-jam waktu sudah terbuang dalam kesia-siaan.

Rak buku saya dipenuhi dengan buku-buku yang saya beli untuk menambah kapasitas keilmuan saya sebagai salah seorang Mahasiswa namun selalu tidak berhasil saya tuntaskan. beberapa buku yang seharusnya sudah saya baca, masih tersusun rapi di rak sedangkan waktu terus berlari dan tugas akhir kuliah sudah menanti. sampai pada akhirnya nanti, saya baru menyadari bahwa saya menjebak diri saya sendiri dalam sebuah pemenuhan nafsu kepalsuan. memandangi media sosial dan berangan-angan yang tinggi tanpa melakukan tindakan nyata, setelah itu kosong.

Oh Tuhan. semoga saya bisa mengalahkan diri sendiri yang selalu ingin membuka youtube ketika berniat membaca buku atau keinginan memandangi sosial media ketika akan beranjak mengerjakan tugas. jika pada tahapan ini saya bisa menang maka saya yakin langkah-langkah selanjutnya akan semakin ringan.

July 17, 2020

Jangan Sok Tahu

Catatan ini saya sadur dari kajian ust. Fahruddin Faiz bahwa menjadi manusia itu jangan sok tahu. Jika tidak mengerti akan sesuatu maka katakan saya tidak tahu. Semua pesan yang menohok saya karena harus diakui bahwa saya dan mungkin banyak orang, selalu tidak ingin dikatakan tidak tahu jika ditanya sesuatu dan terkadang kita berusaha menjawab apa yang sebenarnya tidak diketahui sehingga kita jatuh dalam istilah yang sering disebut "sok tahu." 

Ust Fahruddin Faiz menuturkan kisah tentang Buya Hamka yang mengangkat sebuah cerita tentang Imam Malik bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 20 masalah yang butuh penyelesaian secara ijtihad. 

Masalah yang dapat dijawab oleh Imam Malik cuma 3 masalah dan yang 17 masalah dijawab oleh Beliau bahwa "saya belum tahu." Meskipun demikian, orang tetap memandang Imam Malik sebagai Mujtahid. Jadi diantara integritas seorang ulama, seorang Ilmuwan itu adalah kejujuran. 

Meskipun Mujtahid, meskipun ulama besar kalau mereka tidak tahu pasti bilang tidak tahu, jangan ngarang. Tidak perlu khawatir, jika memang tidak tahu maka jawablah bahwa saya tidak tahu. Masyarakat tidak akan hilang penghormatannya justru semakin mulia karena orang tahu kita jujur. Kita tidak akan kehilangan integritas dengan kejujuran. Ulama zaman dulu sangat tawaddu. Bicara apa saja diakhiri "wallahu alam bissawab." 

Itu pelaran Imam Malik yang dikutip oleh Buya Hamka.

Kisah tersebut di atas sangat relevan dengan kondisi sekarang khususnya diri saya sendiri. Seberapa sering saya ketika ditanya, selalu berusaha untuk menjawab bahkan ketika saya sendiri sama sekali tidak yakin bahwa masalah tersebut saya pahami. Ada rasa dalam diri semacam keinginan dianggap tahu segalanya yang sebenarnya hal tersebut adalah jebakan. 

Mungkin perasaan ini pula yang membuat saya terkadang tidak konsentrasi dalam mempelajari sebuah ilmu karena dorongan ingin menunjukkan bahwa saya tahu sebuah masalah. 

Apatahlagi saat ini saya sedang kuliah, tentunya rasa ingin dianggap pintar terlalu kuat dari dalam diri sehingga jika tidak bisa mengalahkan diri atas perasaan tersebut maka ketika saya belajar tentang suatu hal, maka yang muncul pertama dalam diri bahwa saya bisa menjawab ketika ditanya dosen kemudian orang lain menganggap saya pintar. Sebuah perasaan konyol yang harusnya saya eliminasi dari dalam diri saya sebagai seorang Pelajar. 

Tentunya, untuk menepis hal-hal semacam itu, langkah pertama adalah berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Ketika disuruh menanggapi, maka tanggapilah hal-hal yang memang dipahami. jangan menanggapi hal yang orang lain tidak menginginkannya.

begitulah kira-kira untuk belajar menjadi tidak sok tahu.

July 16, 2020

Relasi

Ada sebuah pola relasi yang saya pelajari selama ini. sebuah relasi sosial yang menurut saya seharusnya bisa saya terapkan dalam kehidupan untuk menjalani hidup lebih ringan dan tidak terbebani oleh pikiran-pikiran yang memberatkan. sebuah relasi pertemanan yang tidak sehat harus ditinggalkan dan dibiarkan menguap untuk membuat hati tetap terjaga. 

Jadi begini, di masa kuliah beberapa tahun yang lalu, saya mempunyai beberapa teman yang menurut saya sekedar teman namun diantara beberapa teman saya tersebut, adalah salah seorang teman yang menurut saya tidak terlalu suka berteman dengan saya. bukan tanpa alasan, karena di beberapa momen, dia tidak pernah menanggapi saya bahkan sekeras apapun saya mencoba untuk berinteraksi dengannya, dia tidak bergeming bahkan 2 tahun setelah kami tamat dan bertemu lagi di sebuah tempat, perlakuannya terhadap saya masih tetap saya. setiap kali saya mencoba untuk membuka percakapan, sama sekali tidak ada reaksi. akhirnya sejak saat itu, saya memutuskan untuk memilih tidak mencoba mengakrabinya dan sampai sekarang, hampir 8 tahun kami tidak bertemu, saya merasa tidak pernah bisa membuatnya merasa nyaman berbicara dengan saya. hingga akhirnya saya sudah melupakan relasi pertemanan seperti itu. 

Entah sejak kapan, setiap kali saya bertemu dan berinteraksi dengan seseorang yang memiliki pola yang sama, saya sudah mulai terbiasa untuk tidak memikirkan terlalu jauh dan bahkan menganggap hal tersebut lumrah. jika ada orang yang nampaknya tidak nyaman beriteraksi dengan saya maka saya tidak pernah lagi berusaha untuk mengakrabinya bahkan sebaliknya, saya memilih untuk tidak memikirkannya. saya selalu berpikir bahwa ada suatu masa ketika kita akan lepas dari interaksi semacam itu. 

Dulu, saya mungkin seorang yang sangat perasa dan jika ada orang yang nampaknya tidak menyukai kehadiran saya, hal yang pertama muncul dalam pikiran saya bahwa apa yang salah dalam diri saya padahal menurut saya bahwa dalam pola interaksi sosial, adalah hal yang lazim ketika seseorang tidak suka berinteraksi dengan salah satu orang karena berbagai alasan dan hal tersebut seharusnya tidak menjadi sebuah masalah besar karena masih banyak orang lain yang mau berinteraksi secara karib dengan kita. 

Begitulah kira-kira apa yang saya pelajari dari pola interaksi selama ini dan nampaknya saya tidak harus menjadi orang yang disukai oleh semua orang yang berinteraksi dengan saya karena pasti ada orang mengenal saya tidak suka terhadap saya dengan berbagai alasan yang tidak perlu saya ketahui

July 15, 2020

Penjual Mainan

Cerita ini dituturkan oleh mertua saya tadi malam. sebuah cerita tentang kejadian yang menurut saya begitu sangat ironi dan menyedihkan. kerasnya hidup di Jakarta benar-benar membuat banyak orang kehilanga arah dan welas kasih, bahkan bukan hanya untuk yang berbeda kelas namun bahkan dengan sesama kelas bawah, mereka saling menikam yang seharusnya saling menggenggam tangan untuk menguatkan hidup.

Cerita ini persis terjadi di samping kami dan tepat diperlihatkan di hadapan. ada seorang penjual mainan yang sering lewat di sekitar gang tempat kami tinggal. dia menjual berbagai aneka mainan murahan. penjual semacam itu sangat mudah dijumpai di ibu kota. berbekal gerobang yang dipenuhi dengan mainan dan benda-benda sederhana yang terkadang tidak dijual di swalayan. sangat mudah mengidentifikasi ketika penjual tersebut lewat karena dia membunyikan suara yang khas. setiap kali dia lewat, anak saya sudah hapal dan selalu merengek minta dibelikan mainan. menurut saya tidak jadi soal karena toh mainan yang dia jual bukan mainan mahal bahkan ada yang cuma harga dua ribu.

Kemarin saat dia lewat, mertua dan anak saya menghampirinya. seperti biasa membeli mainan yang tidak terlalu mahal, sekitar lima ribu. setelah melakukan transaksi, kemudian si penjual curhat tentang kejadian tidak mengenakkan yang dia alami. dia dimarahi oleh tetangga kami jika berjualan lagi di sekitar gang tempat tinggal kami karena cucu si tetangga kami selalu menangis minta dibelikan mainan. si penjual bercerita dengn lirih sambil mengatakan bahwa saya kan cuma menjual.

Mendengar cerita tersebut yang diceritakan kembali mertua saya, lumayan agak sedih. hidup begitu kerasnya di Ibu kota sampai harus melarang seseorang menjual untuk mencari nafkah. si tetangga kami seharusnya punya kedaulatan untuk memberitahu cucunya bahwa jangan terlalu sering membeli mainan ataupun jika mau, dia membelikan yang harga dua ribu sekedar membantu penjual mainan tersebut. namun apa daya, si tetangga kami yang seorang bapak paruh baya, memilih melakukan tindakan yang menurutku mendegradasi hubungan antar sesama. dia memarahi penjual mainan lewat di sekitaran rumahnya. 

Saya bukan orang yang bermoral-moral amat namun menurut pandangan saya bahwa dengan terang-terangan melarang orang lain berjualan untuk mencari nafkah keluarganya adalah sebuah tindakan yang amoral. seharusnya para penjual keliling seperti itu diapresiasi karena mau berusaha keras mencari nafkah dengan jalan yang benar apatahlagi saya perkirakan bahwa untungnya tidak terlalu besar. bayangkan jika mainan yang hanya seharga tiga ribu, berapa selisih untung yang dia ambil. jauh lebih banyak penghasilan para tukang parkir yang setiap motor harus membayar dua ribu tanpa ada modal selain modal kursi untuk duduk di parkiran dan modal rompi orange.

Satu hal yang paling menyedihkan saya adalah si bapak tetangga kami yang memarahi penjual pun bukan orang terlalu kaya bahkan mungkin hampir sederajat secara ekonomi dengan mayoritas penduduk yang tinggal di gang kami. jika rasa kasih pun tidak dimiliki, lalu apa yang harus ditawarkan dan dibanggakan.

Entahlah, mungkin hidup memang harus seperti ini untuk mengajarkan kita mana yang harus diikuti dan mana yang sebaiknya dicampakkan di tempat sampah. 

July 14, 2020

Status Sosial dan Fenomena Sepeda

Di masa saya bocah, sepeda adalah kemewahan tersendiri namun meskipun saya sadari bahwa zaman di kampung saya saat itu, sepeda adalah strata terbawah dalam kepemilikan kendaraan dalam masyarakat, namun memiliki sepeda sudah menjadi kemewahan tersendiri bagi saya yang terlahir dengan saudara enam orang dan dari orang tua yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuh primer dan sekunder sedangkan kebutuhan tersier jarang dimasukkan dalam list kebutuhan.

Saya ingat keluarga kami pernah memiliki speda merek BMX tapi seingat saya bahwa sepeda itu tidak dibelikan oleh orang tua namun diberikan secara percuma oleh saudara lain. Saya dan kakak saya yang beda umur 2 tahun dengan saya yang sering menggunakan sepeda tersebut. paling sering digunakan untuk mengantar beras yang akan digiling dan dibikin kue oleh ibu saya. jadi intinya bahwa sepeda saya tersebut bukan untuk bersenang-senang namun difungsikan untuk alat bekerja.

Beberapa tahun kemudian, Sepeda dikomodifikasi oleh para Pengusaha menjadi trend kalangan atas. meskipun trend sepeda sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya namun mencapai puncaknya ketika wabah Covid-19 menyerang. fenomena bersepeda menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat urban untuk meningkatkan imun dari serangan virus, namun yang terlihat di mata saya bukan tujuan berolahraganya tetapi bagaimana para Perusahaan sepeda berhasil mengkontruksi paradigma masyarakat untuk beralih ke gaya hidup sepeda alhasil, Perusahaan sepeda mendapat keuntungan yang tak terkira.

melihat fenomena sepeda yang semakin menjamur di masa pandemi saat ini, saya menyadari bahwa status sepeda tidak lagi berada pada strata paling bawah bahkan ada sepeda yang lebih mahal dari 1 unit mobil Agya maupun Ayla. untuk ukuran sepeda yang umum, butuh duit dengan digit jutaan untuk bisa membeli sepeda di saat sekarang. salah seorang teman kantor saya beberapa hari lalu menjual sepedanya seharga 8 jutaan yang sebelumnya dia membeli sepeda tersebut sebelum booming sekitar 4 jutaan. 

Kemudian apa yang harus dipelajari dari fenomena seperti ini? bahwasanya masyarakat begitu mudahnya digiring dalam sebuah trend yang biasanya diinisiasi oleh para Pengusaha besar dengan menggandalkan media-media untuk mempromosikan sesuatu dengan tampilan yang berbeda dengan hakekatnya, misalnya bersepada ditampilkan sebagai usaha untuk menjaga tubuh tetap kuat dan sehat meski pada akhirnya bahwa mereka tetap berusaha mengeruk keuntungan yang besar dari trend yang sedang menjamur. toh selain bersepada, banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat badan tetap berkeringat. 

Saya tidak sedang mendegradasi orang-orang yang memang hobi bersepeda namun lebih pada beberapa kalangan yang pada akhirnya mengeluarkan dana yang begitu besar hanya untuk menjadi terlihat keren dengan bersepeda.