October 12, 2019

Minggu Ke-IV Kuliah di UP

 Seperti minggu-minggu sebelumnya, saya agak terburu-buru berangkat ke kampus pagi ini. Bagaimana tidak, jam 7 kurang 15 menit yang berarti bahwa saya hanya butuh maksimal 15 menit menempuh perjalanan dari rumah ke kampus dengan jarak sekitar kurang lebih 10 km. Untungnya, sepanjang jalan dari Buncit ke Mampang agak longgar di hari Sabtu.


Saya mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kencang. Tidak ada hambatan yang berarti sehingga saya tiba di parkiran kampus tepat jam 7 lebih 1 menit. Ini berarti bahwa kemungkinan besar dosen belum masuk kelas. benar saja, ketika saya masuk di ruangan A.207 lantai 2, Bu Direktur sebagai dosen pengampu belum datang, saya hanya menjumpai beberapa teman yang sedang bercengkerama di kelas sambil mengakrabkan diri dengan yang lain. Memang kelas ini sangat unik karena di pertemuan ke-4, kelas ini serasa belum cair bahkan saya sendiri belum mengenal semua teman sekelas bahkan di antara semua teman perempuan, hanya 1 yang saya kenal namanya karena dia ketua kelas, yang lain hanya kenal muka. haha.

Sekitar 15 menit kemudian, dosen Pengampu mata kuliah nongol di kelas dengan menenteng laptop. Sambil tergopoh-gopoh, dia minta maaf karena sedikit terlambat. Dia berdalih bahwa sudah datang sebelum jam 7 namun karena kebiasaan ngopi di pagi hari membuatnya harus menuntaskan rutinitasnya sebelum masuk kelas. Dia lulusan S3 Jerman, sudah 2 pertemuan menggantikan Pak Freddy sebagai dosen di mata kuliah Diplomasi.

Kali ini, dia menjelaskan tentang paradigma Liberalisme dan Konstruktivisme. saya belum pernah membaca tulisan-tulisannya di media namun menurut bisik-bisik dari teman bahwa si dosen sangat Konstruktivis dalam berbagai banyak hal. Entahlah, saya harus membaca tulisannya sebelum memahami bagaimana dia dikenal sebagai seorang Konstruktivis.

Di pertengahan kuliah, saya bertanya sedikit tentang bagaimana posisi kita sebagai individu memandang fenomena melalui kacamata paradigma. Apakah kita hanya sebagai pengamat yang memandang isu dengan kesesuaian paradigma yang ada ataukah kita harus menarik garis untuk berpihak pada salah satu paradigma sebagai tanggung jawab moral untuk memandang fenomana, karena jika kita hanya memandang fenomana sebagai seorang pengamat maka ilmu seakan sangat bebas nilai? 
Dia menjelaskan bahwa paradigma digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi sesuai dengan pandangan paradigma yang ada. Contohnya paradigma Liberalisme sulit menjelaskan peristiwa ketika USA menginvasi Irak karena menurut Liberalisme bahwa negara harus bekerja sama namun kenapa masih ada perang.

Setengah 10, dia menyelesaikan kelas hari ini. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk istirahat yang akan dilanjutkan dengan mata kuliah Metode Penelitian dalam HI yang dipandu oleh mas Ben di ruang A201.

Tepat jam 10, dia sudah masuk di kelas. Kali ini dia tidak terlalu banyak menjelaskan tentang paradigma sebagaimana pertemuan sebelumnya. Dia lebih banyak mengeksplorasi Reading Skill. Dia menjelaskan banyak hal tentang membaca bukan sebagai sebuah kesenangan namun sebagai sebuah passion.

Kelas mas Ben juga bubar lebih cepat dari biasanya sehingga kami punya banyak waktu isitirahat sebelum dilanjutkan dengan mata kuliah Ekonomi Pasar yang dipandu oleh pak T.

Jam 1 siang, kuliah si dosen sudah dimulai. Sebenarnya beliau tidak terlalu membosankan dalam proses belajar namun saya selalu tidak berhasil mengalahkan rasa kantuk yang menyerang di jam tidur siang. Beberapa kali saya menguap untuk tetap menahan mata agar tidak tertidur.

Pak T sering menjelaskan mekanisme ekonomi yang dipengaruhi oleh politik dari hal-hal kecil. Beliau menarik kita ke dalam logika sederhana bagaimana menahan laju kapitalisasi ekonomi yang sangat pesat. Misalnya saran untuk menanam apa saja yang bisa ditanam di dekat rumah, memelihara ayam atau hal sederhana lainnya yang membuat kita berdaulat atas diri sendiri.

Pak T mengakhiri kuliahnya setengah 4 kurang 15 menit, ini berarti pertarungan saya dengan rasa kantuk berakhir.

Universitas Paramadina, 12 Oktober 2019

September 24, 2019

Persoalan Moral di Kantor

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi panjang lebar dengan salah seorang kolega di kantor. permasalahan sederhana sebenarnya dan sudah sering digaungkan namun tidak pernah saya tanggapi. hanya saja momen saat itu tepat dengan keadaan sehingga saya butuh meresponnya dengan berbagai alasan yang menurutku rasional dan saya bisa pertanggungjawabkan berdasarkan regulasi di kantor dan secara moral yang saya yakini.

Jadi awalnya, saya berniat mengajukan surat over time dan pada saat yang sama, rekan saya tersebut bersuara, entah serius atau bercanda, bahwa dia tidak masalah siapapun yang lembur sepanjang bisa dipertanggungjawabkan di hari kemudian. track recordnya, dia memang menjadi rekan yang paling menentang over time entah dengan alasan apa.

Saya yang sedang dalam mood yang ingin berdiskusi langsung menyambar perkataannya. saya mengeluarkan semua isi kepala yang selama ini saya yakini. dengan detail saya katakan padanya tentang sikap saya terkait over time:
  1. Saya tidak ada urusan dan tidak akan campur tangan siapa pun yang ingin mengajukan over time sepanjang dia mengikuti alur regulasi yang berlaku di Perusahaan ini. misalnya surat pengajuan Over time ditandatangani oleh Kepala Bagian maka hal tersebut sudah tidak ada masalah.
  2. Terkait asumsinya yang yang menjurus ke arah moralitas bahwa terkadang di jam kerja tidak dimanfaatkan oleh si karyawan namun di luar jam kantor mengajukan over time. menurut saya bahwa hal tersebut tidak relevan diurusi oleh sesama staf karena fungsi kontrol ada di Kepala bagian.
  3. Terkaik klaimnya bahwa dia khawatir jika di akherat dihisab atas over time yang tidak pantas. saya menimpali bahwa wilayah moralitas sama sekali bukan wilayah kontrol sesama staf. semua karyawan sudah punya pengendalian dirinya terkait wilayah moral apa yang pantas atau tidak pantas.
  4. Jika ingin melakukan masuk pada wilayah moral maka seharusnya dibuat regulasi yang bisa diukur, sehingga jatuhnya tidak subjektif, misalnya dia merasa bahwa ada staf yang pada jam kerja mengerjakan kepentingan pribadi namun di jam kantor mengajukan over time maka seharusnya jika ingin mengukur hal tersebut, ada regulasi bahwa staf harus melaporkan apa yang dikerjakan pada jam kerja.
Main Game

Tidak, saya tidak sedang mengerdilkan seseorang yang ingin menjadikan wilayah moral sebagai alat kontrol di kantor namun menurut saya bahwa lebih bijak jika pegangan kita dalam melakukan kontrol adalah regulasi yang bisa ditakar dan bisa dipertanggungjawabkan secara tertulis. di regulasi dijelaskan apa yang harus dikerjakan dan sanksi apa yang diberikan jika tidak dikerjakan bukan memvonis niat seseorang dengan nilai yang sangat subjektif.

Persoalan moralitas seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing dan dijadikan kontrol bagi di sendiri.

Dunia pekerjaan adalah dunia tempat manusia yang sudah mempunyai kehendak bebas dan tidak sudi diperlakukan seperti manusia yang baru belajar nilai. saya yakin bahwa setiap orang di dunia kerja membawa nilai diri masing-masing dan tidak perlu dipersinggungkan dengan nilai orang lain.

Self reminder agar lebih bijak dalam menegur seseorang.
24 September 2019

September 7, 2019

Menua

Tidak ada omong kosong kali ini. semua sudah menghilang oleh harapan-harapan yang tidak terwujud karena ulah sendiri. masih banyak harapan sebelumnya yang harus diwujudkan tanpa harus menata harapan yang baru. saya khawatir membuat harapan baru kemudian mengingkarinya lagi seperti sebelumnya. lebih baik saya berdoa atas apa-apa yang terbaik yang sedang saya jalani sekarang. 

Umur yang sudah semakin menua namun kualitas diri tak kunjung berkembang. masih berkutat pada hal bendawi yang sesungguhnya bukan tujuan akhir namun melawan nafsu sungguh berliku, kadang memenangkan perlawanan nafsu namun seringkali tunduk akan iming-iming nafsu duniawi yang melenakan. meski sesungguhnya sudah paham bahwa khayalan akan duniawi layaknya fatamorgana yang ketika didatangi sesungguhnya tidak ada. jadi seperti apa sesungguhnya yang harus dijalani? 

Saya akan berusaha menjalani sesederhana apa yang ada di depanku. kuliah lagi yang akan dimulai minggu depan dan tetap berharap semoga berjalan lancar dan baik. meski secara spesifik, subjek yang saya pilih bukan merupakan ilmu agama namun saya tetap percaya bahwa semua ilmu itu akan bermuara pada satu, "Tiada Tuhan Selain Allah."  

Pekerjaan yang sedang saya jalani akan saya tekuni dengan sebaik-baiknya. jika memang pada akhirnya pekerjaan ini masih mengandung sesuatu yang syubhat atau bahkan haram dari sisi mana pun maka saya sangat berharap Allah swt akan menuntun saya pada satu titik di mana saya bekerja untuk sesuatu yang halal menurutNya. toh terlalu lelah untuk mengejar sesuatu yang bukan karena Dia.

Seringkali kita membaca atau mendengar kisah seorang yang sebelumnya ateis, agnostik atau siapa pun yang menafikan adanya Tuhan namun kemudian pada akhirnya menemukan Hidayah dari Allah swt. saya yakin bahwa mereka itu tetap belajar dengan tujuan ingin tahu kebenaran. sebaliknya, mungkin kita pernah mendengar maupun membaca kisah seorang yang sudah menghabiskan sebagian hidupnya untuk belajar ilmu agama namun pada akhirnya jauh dari Allah. perkiraan saya, selama proses belajar, mereka tidak sedang mencari kebenaran hakiki, entah mungkin tujuannya bukan Allah. 

Hidup yang semakin menua dan di umur yang seharusnya sudah matang dalam banyak hal, saya berharap Allah memberikan saya kekuatan hati untuk konsisten dalam kebaikan-kebaikan kecil bertujuan mencari ridhaNya. 

Sekali lagi, saya tidak berharap banyak untuk hal-hal apa pun selain harapan semoga Allah menemani saya dalam setiap menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah, selain itu, hanya harapan kesehatan lahir dan batin untuk anak isteri dan orang tua dan mertua.

7 sep 2019

July 20, 2019

Tentang Batasan

Saya mulai membiasakan diri untuk selalu berada di dalam garis, dalam bidang apapun itu namun saya selalu menarik garis sebagai batasan untuk setiap apa yang boleh atau tidak bileh saya lakukan bahkan untuk hal-hal yang remeh sekalipun. misalnya dalam hal makan. sejak dua bulan belakang, saya membatasi diri untuk menyantap makanan yang mungkin sebelumnya menjadi kegemaranku bahkan saya selalu berusaha menakar perut saya untuk urusan makanan. isteri saya terkadang mengingatkan untuk makan namun selalu saya timpali bahwa ukuran makan ada di perutku dan batasannya pun sudah saya gariskan. ini bukan perkara diet sekedar untuk menurunkan berat badan namun lebih dari hal itu bahwa batasan itu saya coba diterapkan dari hadist:.

"Cukuplah bagi bani Adam makanan yang dapat menegakkan tulang rusuknya kalau tidak boleh tidak (harus memenuhi perutnya) hendaklah 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk nafasnya"

Bukan sebuah kebanggaan namun di beberapa doa yang kulafalkan, saya sering menyelipkan permintaan agar Allah swt menjaga saya, anak isteri dan keluarga lainnya dari makanan yang subhat dan haram. agak klise karena sering memang karena sudah sangat sering kita mendengar ceramah tentang makanan yang haram akan merusak sendi kehidupan namun saya sangat percaya akan hal tersebut. makanan adalah salah sebagian faktor dan pertumbuhan fisik dan batiniah manusia sehingga makanan menjadi elemen penting untuk diperhatikan.

Pekerjaan sebagai karyawan swasta membuat saya harus ekstra hati-hati untuk memilah mana menjadi hak saya dan yang bukan hak apatahlagi saya sebagai Auditor yang saban bulan harus melakukan perjalanan dinas dengan sistem reimbursment. sebelum berangkat, saya dibekali uang kas sebagai bon yang dipergunakan selama perjalanan sampai selesai tugas dengan batasan yang sudah diatur di regulasi. 

Beberapa hal yang mungkin sebisa mungkin saya hindari dari penggunaan bon tersebut misalnya belanja makanan ringan termasuk kopi kemasan dalam jumlah banyak dengan niat setelah selesai audit, kopi atau jajanan lain masih tersisa dan dibawa pulang. menyelipkan biaya yang seharusnya tidak diperbolehkan seperti laundering. membeli oleh-oleh menggunakan bon. uang dinas yang dilebihkan dari yang seharusnya dan sederet hal remeh teme yang sering luput dari pengamatan.

Selain yang tersebut di atas, saya juga menakar diri tentang uang over time. sejatinya saya bisa dengan leluasa menambah penghasilan dari over time namun kesadaran diri terkadang membuat saya harus menakar kembali bahwa sejauh mana tanggung jawab moral terhadap isteri dan anak yang harus saya nafkahi. apakah memang benar bahwa over time adalah sebuah kebutuhan atau sudah menjadi kebutuhan demi tambahan penghasilan. kembali lagi bahwa seharusnya saya bisa merevisi apa yang saya lakukan di kantor sebagai sebuah karya. jika tujuannya adalah karya maka akan saya jalani namun jika tujuan utama adalah uang maka saya harus berani untuk bersikap, siapapun yang akan menjadi benturan saya.

Saat ini yang menjadi soal bagaimana mengekspresikan itu semua untuk menghindari stigma dari teman sejawat bahkan dari Supervisor sendiri yang nampaknya terkadang mengamini hal seperti itu dengan pengalaman yang sudah saya alami. celakanya, saya menjadi korban cerita dari ketidakhati-hatian tersebut sehingga mengganggu komitmen saya untuk menjaga integritas. hal yang saya agung-agungkan dalam memulai pekerjaan sebagai karyawan.

semoga diberikan jalan terbaik menurut Sang Pemberi Solusi.

20 Juli 2019. 09.56 WIB

July 14, 2019

Zalim

Tadi siang saya ke Transmart bersama Isteri dan Anak. saya memarkir motor di tempat parkiran samping yang sudah dipenuhi dengan pengunjung. saya mencari space yang cukup untuk memarkir motor. setelah beberapa saat mencari parkiran yang kosong, saya melihat tempat kosong yang sedikit sempit karena di samping kiri dan kanan sudah ada motor terparkir. saya memaksa memarkir motor di tempat tersebut. sialnya, motor beat samping kiri terlalu mepet sehingga roda depan motor saya tersangkut di motor beat tersebut. saya melihat bagian bawah knalpot motor tersebut pecah sekitar 5 cm. 

Saya merasa bersalah namun tidak tahu harus berbuat apa. saya memungut pecahan bagian plastik knalpot dan memasangnya. ada rasa bersalah yang terus menggelayut manja di sanubari karena telah berbuat zalim kepada orang yang tidak menyadarinya. saya terus berpikir apa yang kemudian akan terjadi kepadaku atau apa yang harus kulakukan untuk menyesali kesalahan yang tidak disengaja namun berhubungan dengan orang lain.

setengah 3, kami kemudian pulang ke rumah. tidak berselang lama, anak saya agak demam, entah karena terlalu banyak minum air dingin dan cuaca memang sedang panas-panasnya namun dalam hatiku berpikir bahwa mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian sebelumnya di parkiran Transmart. saya memang selalu berpikir bahwa setiap kali saya berdosa baik yang saya sengaja maupun tidak, maka akan ada hal kurang baik terjadi padaku. banyak sekali kejadian seperti itu namun kenapa kali ini kesalahanku tertimpa pada anakku, semoga bukan.

Anakku masih demam dan baru saja minum obat, semoga saja dia cepat pulih dan kembali bermain. saya selalu kalut jika anak saya sedang tidak baik-baik saja.

14 Juli 2019

#OTS 19

Perjalanan padat sejak saya di Divisi ini. hanya seminggu berselang sejak pulang dari Lombok, saya harus kembali mengadakan perjalanan ke ujung utara pulau Sumatera. konsekuensi sebagai pekerja mengharuskan saya harus siap selalu meski dalam keadaan bagaimana pun. agak berat meninggalkan anak saya yang berumur 3 tahun karena sedang lucu-lucunya namun menurutku, ada kebahagiaan tersendiri menjelajahi kota-kota di nusantara, mengamati banyak hal dan belajar kearifan dari apa saja yang dijumpai. 

Jika biasanya saya berangkat di senin pagi, namun kali ini saya mengambil penerbangan minggu malam dengan pertimbangan bahwa perjalanan kali ini memakan cukup banyak waktu dan tenaga ekstra. saya berangkat pukul 20.00 WIB dengan masakapai Batik Air. dua jam perjalanan saya tempuh melalui udara kemudian tiba di Kualanamu pukul 22.00 WIB. saya menimbang-nimbang bahwa mode transportasi apa yang harus saya gunakan untuk sampai ke pusat kota mengingat jarak dari Bandara ke kota lumayan jauh, sekitar satu jam perjalanan apalagi ini pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini. 

Setelah beberapa saat, saya memutuskan untuk memesan taxi online. tidak butuh lama taxi yang saya pesan sudah tiba di kedatangan. saya duduk di belakang sambil bersandar kemudian menghela nafas. membayangkan bahwa akhirnya saya tiba di kota ini yang merupakan kota terbesar di Sumatera. sekitar setengah dua belas malam, saya tiba di Hotel Cordela. sebelum berangkat, saya memang sudah booking kamar di hotel ini karena tiba di kota yang belum pernah dikunjungi di malam hari akan membutuhkan energi jika harus mencari hotel. 

Hotel Cordela tidak sesuai dengan ekspektasi saya. meskipun pada dasarnya bahwa saya sejatinya bisa dimana saja menginap apatahlagi jika hanya sekedar hotel namun mengingat perjalanan ini bukan untuk liburan tetapi pekerjaan sehingga saya membutuhkan setidaknya penginapan yang nyaman untuk menyelesaikan pekerjaan. 

Saya putuskan untuk pindah hotel di Grand Sakura. jarak dari Hotel Cordela ke Grand Sakura hanya sekitar 30 meter. hotel Grand Sakura menurut saya murah dengan haraga sekitar 400an, kita sudah bisa menginap di hotel dengan kamar yang luas dan nyaman dengan sarapan yang bervariasi. 

Tidak banyak yang saya kunjungi di kota ini. saya hanya berangkat ke kantor kemudian pulang ke hotel di sore hari. energi saya hanya digunakan di kantor untuk sebuah pekerjaan. di malam ketiga, saya menyempatkan makan durian di salah satu kedai durian paling terkenal di kota ini atau bahkan di seluruh Nusantara. rasa duriannya tidak terlalu istimewa meski juga harganya tidak terlalu mahal namun pengunjung yang datang sangat ramai. konon katanya, omzet per hari 700 durian habis terjual, fantastis. 

Hal lain yang saya amati di kota ini adalah perilaku pengguna jalan. saya tidak menyangka betapa bar-barnya orang di sini saat berkendara di jalan raya. lampu lalu lintas tidak pernah dipedulikan bahkan pejalann kaki pun seakan tidak mempunyai hak di jalan kota ini. semua seperti terburu-buru dan tidak mematuhi aturan. 

Sebelum menginjakkan kaki di kota ini, saya mengira bahwa mayoritas orang di negeri ini adalah Nasarani, ternyata dugaan saya keliru. bahkan ras yang ada di kota ini didominasi Melayu, Jawa, India, dan Cina.

12 Juli 2019

June 30, 2019

#OTS 18

Setahun yang lalu, bencana gempa bumi melanda sebagian besar wilayah Lombok. gempa yang meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi warga yang terkena dampak bencana. lebih dari tiga bulan, warga tinggal di tenda selain karena trauma juga karena tempat berteduh sudah tidak layak dihuni. bantuan dari Pemerintah tidak tersebar dengan baik, namun banyaknya lembaga sosial yang datang sedikit meringankan beban mereka. bencana memang selalu meninggalkan pedih yang akan tinggal di relung para korban namun yang lebih menyedihkan karena, beberapa diantara anggota Dewan di daerah tersebut ditangkap karena menggelapkan bantuan untuk para korban. ironi yang menyobek kemanusiaan. entahlah, mungkin nurani mereka dicampakkan oleh bencana dan hanya nafsu mereka yang tertinggal bersama raga yang sudah tidak berbentuk manusia secara hakiki. 

Setahun berlalu, saya memiliki kesempatan mengunjungi daerah tersebut. meski dalam rangka dinas kantor namun setidaknya, saya bisa menyaksikan secara kasat mata sisa-sisa dari pedihnya akibat dari sebuah bencana. tanggal 

24 Juni, saya berangkat dari Bandara Soetta ke Bandara Praya. durasi penerbangan hampir sama lamanya ketika saya pulang kampung, kurang lebih dua jam. sekitar jam 11 siang, Pesawat yang saya tumpangi landing di Lombok. Bandara baru yang jauh dari kota dan sedang dalam pembangunan. terhampar tanah kosong di sekitar Bandara yang sedang dalam masa pembangunan. nampaknya Bandara ini akan menjadi salah satu bandara yang luas di kawasan Indonesia timur. tidak mengherankan karena wilayah ini sedang giat-giatnya mempromosikan banyak sekali spot wisata alam, apalagi sirkuit GP sedang dalam proses pembangunan di dekat wilayah pantai Kuta Mandalika. tidak terkira ramainya kota ini jika sirkuit GP sudah difungsikan. 

Bandara menuju kota memakan waktu sekitar sejam dengan jarak tempuh yang cukup jauh. di sepanjang perjalanan, pemukiman warga tidak terlalu padat. sangat mudah menjumpai kelapa di setiap daerah. 

Sesampai di kota, saya memperhatikan suasana kota ini semacam kota-kota kecil di pulau Jawa. tidak terlalu padat selain pada jam berangkat dan pulang kantor. cuaca di kota ini sedang bersahabat. meski Matahari bersinar terik namun udara yang berhembus mendinginkan tubuh dan menyejukkan perasaan. 

Kami mampir di sebuah tempat makan yang bernuansa alam. rumah makan persis di samping hamparan sawah dan tempat makan yang didesain dengan model saung. angin sepoi-sepoi membuat para pengunjung semakin lahap menyantap makan yang disiapkan. Ayam taliwang adalah makanan khas di kota ini. setiap orang merekomendasikan makanan khas tersebut meski saya sendiri tidak terlalu excited. maklumlah saya bukan orang yang mengagungkan makanan sebagai sebuah prestise. saya lebih menghargai makanan dari proses awal sampai makanan tersaji di depan kita. semua makanan menurutku sama saja dan banyak keringat bercucuran yang berkontribusi atas makanan yang kita santap.


Kami melanjutkan perjalanan ke hotel Santika. sepanjang perjalanan, bekas gempa tahun lalu tidak terlalu terlihat karena memang pusat kota tidak terlalu terkena dampak bencana. Hotel tempat kami menginap tidak terlalu jauh dari kantor, mungkin hanya sekitar lima ratus meter. 

Hari pertama di Kantor, kami dikagetkan dengan momen ketika suara orang berteriak ada gempa. sontak saja kami berhamburan keluar dari kantor. saya yang sedang berada di lantai dua segera turun tanpa mempedulikan lagi barang-barang. setelah sekian detik di luar kantor, kami baru menyadari bahwa getaran tadi bukan gempa.


Seperti layaknya ketika saya dinas Kantor, saya tidak bisa mengeksplorasi sebuah daerah sebelum closing. saya hanya mengunjungi tempat makan khas ketika istirahat siang. seperti itu pula yang saya lakukan ketika di wilayah ini.

Hari Jum'at, semua tugas saya sudah selesai. saya memutuskan untuk berangkat ke sebuah pulau yang sangat populer di wilayah ini. pulau yang mayoritas dikunjungi oleh turis asing bahkan ada idiom yang menyatakan bahwa orang Indonesia akan menjadi asing ketika mengunjungi pulau tersebut.

sekitar 45 menit perjalanan menuju pelabuhan Bangsal. nah perjalanan dari kota ke Pelabuhan ini membuat saya bisa merasakan betapa mengerikannya gempa yang menimpa daerah ini tahun lalu. sepanjang daerah yang dilalui adalah daerah terparah yang terkena Gempa bahkan sampai saat ini, masih banyak tersisa puing-puing bangunan yang belum dibersihkan. sopir yang menemani kami bercerita banyak tentang gempa tahun lalu sampai pada kesimpulan bahwa masih banyak korban yang terlantar. menurutnya Pemerintah lamban dalam penanganan bencana dan diperparah lagi dengan banyaknya oknum pemerintah yang mengeruk keuntungan dari bantuan bencana. 

Sesampai di pulau, saya mengamini bahwa orang Indonesia menjadi asing di tanah sendiri. wilayah di sekitaran pantai dipenuhi oleh mayoritas turis asing. berbusana layaknya di negara mereka. saya hanya sebentar di pulau ini sebelum kembali menyeberang ke kota karena esok hari saya harus pulang. saya sempat shalat Jum'at ini pulau tersebut dengan fenomena yang unik. jadi setelah bubaran Jum'at saya langsung berada di tepian pantai dengan pemandangan turis yang hanya mengenakan bikini sambil berjemur di pantai. mungkin begitulah hidup, selalu menawarkan dua hal yang paradoks dan pilihan ada di tangan kita, mau memilih yang mana.

24-28 juni 19

June 5, 2019

Happy Eid Mubarak 1440 H

Waktu meluncur begitu cepat bagai roket yang lepas landas. seperti baru kemarin Ramadan menyapa namun hari ini, gema takbir sudah berkumandang yang menandakan bahwa sudah sebulan puasa dilewati. perasaan menyeruak dari dalam diri tentang kenangan masa kecil, tentang rutinitas tahunan yang selalu dilewati dengan perasaan yang sama. 

Di umur yang sudah tidak muda ini, saya seharusnya mampu menakar diri tentang Ramadan yang kulalui. sejauh mana saya bisa memaksimalkan bulan suci ini sebagai momen perbaikan diri bukan lantas menjadikan bulan ini sebagai euforia pupang kampung semata yang hanya berakhir pada perasaan senang yang semu karena kembali menyusuri kenangan masa lalu. seharusnya saya mempertebal mental dalam bulan ini untuk persiapan menghadapi sebelas bulan yang akan datang. 

Ramadan kali ini menurutku tidak cukup berhasil menggembleng mentalku untuk menjadi lebih baik. saya hanya mampu bertahan di setengah bulan dengan rutinitas yang cukup baik namun rusak di pertengahan setelah itu. 

Saya berniat mentadabburi Al Quran namun gagal hanya sampai pada 10 lembar pertama. saya meneguhkan hati untuk bangun di sepertiga malam namun lagi lagi gagal meskipun sudah dibantu dengan alarm ynag kemudian saya matikan dan melanjutkan tidur. saya berniat itiqaf di malam ganjil sepuluh hari terakhir tapi gagal juga. hanya satu malam yang berhasil itupun tidak maksimal karena saya melewati malam di masjid dengan tidur sambil duduk. saya ingin memaksimalkan bersedeqah namun niat itu juga gagal. jika tahun lalu saya masih sempat membeli sesuatu untuk keluarga namun tahun ini minim dan masih banyak lagi kegagalan perbaikan diri di Ramadan kali ini. 

Saat duduk di masjid sambil mendengarkan takbir, saya menyesali banyak hal dan bertanya, akankah saya menjumpai Ramadan tahun depan dan kembali merencanakan niat perbaikan diri. semoga...

Happy Eid Mubarak 1440 H

1 syawal 1440 H

May 30, 2019

Teman

Di masjid Al Markaz, sayup-sayup terdengar lantunan jamaah sedang tadarrus sehabis salat asar. saya duduk di emperan masjid lantai bawah menikmati nuansa sore seperti 10 tahun yang lalu. biasanya di kamis sore setelah salat asar, ada diskusi berbahasa inggris namun kamis sore ini, hanya terlihat 2 anggota makes yang sedang asik berdiskusi, saya tidak ikut nimbrung karena tidak mengenal mereka. 

Sengaja saya ke sini hanya sekedar kembali merasakan masa yang pernah kulalui di kota ini dan berharap ada teman lama yang datang namun sampai detik ini, tak satu pun yang nongol bahkan satu diantara mereka kukirimi pesan via wa namun jawabannya sangat formal padahal menurutku saya dan dia cukup akrab. 

Pertemanan, mungkin kata yang klise menggambarkan hubungan antara manusia yang cukup akrab, lebih dari sekedar hanya saling mengenal namun menurutku, relasi pertemanan sedikit terkikis ketika masing-masing sudah memiliki keluarga.  

Ya, setidaknya saya harus mengerti bahwa pada akhirnya semua dari kita akan berubah prioritasnya. waktu tak mempunyai hati untuk membawa kembali ke masa silam yang selalu dikenang dengan cerita indah.

30 5 19

May 5, 2019

Ramadan 1440 H

Waktu bergulir begitu cepat tanpa bisa dihentikan sedikit pun, sebuah keniscayaan. jika kita tidak awas atas setiap detik waktu yang dijalani maka kita akan dihempaskan oleh zaman ke jurang kesia-siaan. harus ada pola terukur untuk mengendalikan waktu yang tak pernah berhenti berputar. 

Waktu jua lah yang kemudian menggiring kembali Ramadan tahun ini menghampiri kita semua. seakan Ramadan tahun kemarin baru usai kemarin namun tak disangka, sudah setahun kita mengitari perjalanan waktu. Ramadan datang tiap tahunnya untuk memberikan kita begitu banyak kesempatan memperbaiki diri termasuk juga merenungi perjalanan hidup yang setiap hari dijalani tanpa ada visi yang jelas tentang apa sebenarnya hakekat hidup yang harus dijalani. 

Ramadan hanya seakan penanda bahwa kita sebagai perantau mengingat bahwa sebentar lagi perayaan mudik akan tiba dan semua perantau pulang kampung dengan segala gaya yang dipertontonkan. 

Ramadan kali ini seharusnya bukan menjadi penanda bahwa sebulan lagi saya akan mudik namun seharusnya momen Ramadan ini momentum untuk mengais kembali ingatanku tentang tujuan hidup yang kurangkai beberapa tahun yang lalu. visi yang mengendap dalam raga karena tertimbun keinginan-keinginan duniawi semu yang tak berbatas. saya harus menemukan kembali visi itu. 

Oh ya, Ramadan kali ini juga sebagai Ramadan perdana kami melewatinya di rumah yang beberapa waktu lalu kami beli. semua bisa membawa berkah meski sebenarnya masih menyisakan banyak utang atas kenekatan membeli rumah kecil di pinggir ibu kota. 

Semoga Ramadan kali ini berkah buat kita semua, sehat wal afiat menjalani ibadah puasa dan amalan sunah lainnya di dalam momen Ramadan.

Marhaban Ya Ramadan
Kebagusan, 1 Ramadan 1440 22.08 wib

April 20, 2019

Bandara Hananjoeddin

Keberangkatan pesawat yang akan membawa saya pulang ke Jakarta masih sejam lagi namun saya sudah tiba di bandara bersama rombongan. perjalanan 3 hari di kota kecil yang terkenal karena film Laskar pelangi, benar-benar membuat tubuhku remuk.
Setelah chek in, saya mencari toilet untuk buat hajat yang sudah saya tahan di atas mobil. selesai urusan hajat, saya menuju ruang tunggu dan memilih kursi di sudut yang masih kosong. ada seorang ibu di samping kiri dan temanku di sebelah kanan. kali ini saya tidak terlalu memperhatikan ekspresi penumpang karena penat. saya hanya ingin menenangkan pikiran dan sejenak meredakan lelah tubuh yang mendera.

Penumpang lumayan padat di ruang tunggu meski pesawat yang akan berangkat hanya tiga flight namun tidak heran karena ruang tunggu bandara ini sempit untuk ukuran bandara yang sering saya kunjungi. Sebentar lagi pesawat akan terbang. 

saya harus bergegas.

20 4 19 15.15 wib

April 18, 2019

Bandara Soetta

Menunggu flight yang masih dua jam lagi. duduk di ruang tunggu terminal dua bersama tujuh teman kantor. beberapa TNI dan Polisi hilir mudik menjaga keamanan pasca pemilu kemarin. 

Ruang tunggu lumayan ramai. banyak dari mereka yang duduk bersama namun masing-masing larut dalam layar ponsel, tidak ada pembicaraan diantara mereka meski sangat dekat, termasuk saya. 

Seorang anak mungkin berumur 10 tahun sedang bermain robot, sedangkan bapaknya menunggu di belakangnya. mungkin mereka sebentar lagi akan berangkat. 

Ada keriuhan, ada pelukan dan segala ekspresi dari manusia di bandara yang akan melepas keluarga mereka bepergian atau mungkin juga baru bertemu dengan keluarga mereka yang lama tak bersua. satu ekspresi yang mengartikan dua kondisi.

Di gate F4, agak susah mencari tempat duduk. sangat ramai. sepasang suami isteri yang saya taksir orang arab duduk di depan saya bersama dua puteranya. saya menyukai pemandangan seperti itu, melihat keluarga dengan style kekeluargaannya. ada juga beberapa turis mancanegara, mungkin mereka juga akan berlibur ke Belitung. saya yang tak kuat menahan ngantuk, berusaha memejamkan mata sekian detik namun tak berhasil karena posisi yang nyaman. panggilan untuk boarding belum juga terdengar sedangkan para penumpang diam tak bersuara ditelan layar handphone.

Saya seringkali bepergian dengan pesawat namun lupa mengeja momen seperti ini. terlalu sibuk atau mungkin kepekaan saya sudah tergerus oleh pikiran yang materialis. 

Saya hanya bepergian dua hari ke belitung. sekedar melepas penat yang semu. lusa saya akan pulang ke rumah, membawa pesanan anak saya yang sudah ditunggu, memang setiap kali saya pergi, hal yang paling saya nikmati adalah momen pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh buat anak saya. saya menikmati ekspresinya ketika menerima buah tangan.

18 April 19. 14.00 Wib

April 17, 2019

Tujuh Belas April

Saat orang-orang bergerombolan ke TPS menyalurkan hak mereka memlih calon presiden, saya memilih menghabiskan waktu di kamar sambil menikmati film dokumenter "Sexy Killers." film yang diinisiasi oleh Dendy dwi laksono  dkk mengenai kondisi miris bumi nusantara yang dieksploitasi secara massif oleh kapital birokrat negeri ini. 

Saya memang memutuskan untuk kembali tidak memilih siapa-siapa di pilpres kali ini. harapan saya akan negeri ini membaik tidak tampak pada kedua calon, atau mungkin juga ekspektasi saya yang terlalu tinggi. saya harus akui bahwa lima tahun lalu, saya menaruh harapan besar kepada petahana namun seiring berjalannya waktu, banyak hal yang ternyata tidak terwujud meski saya tidak memungkiri bahwa ada perubahan lima tahun terakhir.

Istri dan mertua saya berangkat ke TPS dan saya di rumah menjaga anak. isteri sudah berkali-kali membujuk untuk ikut dengan alasan tidak enak hati jika ditanya ibu RT. dugaannya tidak meleset, dia ditanya kenapa saya tidak ikut. untungnya dia menjawab diplomatis, saya di rumah menjaga anak. 

Saya sama sekali tidak membanggakan diri karena tidak mencoblos bahkan ada sedikit rasa bersalah saat isteri saya dan mertua saya berangkat tanpa saya temani, atau juga saat mengingat Cak Nun yang mengatakan bahwa beliau setiap pemilu tetap ke TPS karena menghargai mereka yang sudah bekerja keras, atau nasehat dari uztad yang selalu menjadi referensiku yang kutanya kemarin terkait suatu hal tentang pemilih. bahkan saya malu melihat banyak dari mereka yang tetap datang ke TPS dengan berbagai keterbatasan, saya benar-benar malu atas beberapa hal tersebut, namun kenapa saya tetap bersikeras untuk tidak mendatangi TPS hari ini?

Saya tidak tertarik mencoblos bukan berarti saya apatis namun landasan sikap saya adalah melihat realitas sosial yang ada. pilpres benar-benar sudah membunuh akal waras sebagian dari kita yang terlalu fanatik. semua sampah pikiran dihamburkan di mana-mana atas dasar membela junjungan yang sesungguhnya tidak benar adanya. kebangsaan kita terkoyak hanya karena pertaruhan elit politik yang menjadikan kita jualan mereka, lalu dimana kita meletakkan rasionalitas.

Dalam berbagai kesempatan sejak momen kampanye, saya sudah muak dengan model kampanye yang hanya menyerang rival tanpa mengedukasi voters terkait visi misi calon yang diusung, lalu apa alasan saya memilih jika kenyataannya tidak ada harapan yang diberikan? bahkan sesungguhnya jika mereka memberikan harapan pun seringkali diingkari apatahlagi mereka tidak memberikan harapan. hanya ketakutan yang ditebar di setiap kampanye. jangan memilih si A karena jika menang komunis akan bangkit. jangan memilih si B karena jika menang, khilafah berkibar. kampanye model apa ini, memuakkan...!!!!

Berangkat dari kekecewaan proses demokrasi yang tidak pernah dewasa membuat saya memilih untuk menempuh jalan sendiri, tidur di hari pemilihan.!!!

Saya memimpikan negeri ini berdemokrasi dengan sehat. proses yang tercipta mendidik rakyatnya menjadi pemilih yang cerdas. menjatuhkan pilihannya dengan pertimbangan rasional bukan karena ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh elit politik. jika iklim seperti itu sudah tercipta maka saya akan dengan senang hati memilih siapa yang menurutku mampu membawa negara ini menjadi negara yang diimpikan.

Saat tulisan ini saya posting, quick count sementara adalah petahana unggul dengan selisih suara sekitar 8-9% dari beberapa lembaga survey. semoga saja tidak terjadi sengketa atas hasil pilpres ini dan sebagai pemilih yang tidak ikut mencoblos, harapan saya hanyalah sebatas pada keamanan negeri ini dan semoga rakyat kecil tidak menjadi lebih susah dalam segala aspek dari hari ini. semoga, semoga dan semoga...!!!

semoga saya diampuni karena tidak memilih yang berarti tidak menghargai keringat mereka yang sudah bersusah payah menyiapkan proses pemilihan bahkan jauh hari sebelum hari ini. semoga kerja mereka dihitung sebagai amal ibadah.

Aaamiiin!!!

17 April 2019 23.18 wib