July 14, 2019

Zalim

Tadi siang saya ke Transmart bersama Isteri dan Anak. saya memarkir motor di tempat parkiran samping yang sudah dipenuhi dengan pengunjung. saya mencari space yang cukup untuk memarkir motor. setelah beberapa saat mencari parkiran yang kosong, saya melihat tempat kosong yang sedikit sempit karena di samping kiri dan kanan sudah ada motor terparkir. saya memaksa memarkir motor di tempat tersebut. sialnya, motor beat samping kiri terlalu mepet sehingga roda depan motor saya tersangkut di motor beat tersebut. saya melihat bagian bawah knalpot motor tersebut pecah sekitar 5 cm. 

Saya merasa bersalah namun tidak tahu harus berbuat apa. saya memungut pecahan bagian plastik knalpot dan memasangnya. ada rasa bersalah yang terus menggelayut manja di sanubari karena telah berbuat zalim kepada orang yang tidak menyadarinya. saya terus berpikir apa yang kemudian akan terjadi kepadaku atau apa yang harus kulakukan untuk menyesali kesalahan yang tidak disengaja namun berhubungan dengan orang lain.

setengah 3, kami kemudian pulang ke rumah. tidak berselang lama, anak saya agak demam, entah karena terlalu banyak minum air dingin dan cuaca memang sedang panas-panasnya namun dalam hatiku berpikir bahwa mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian sebelumnya di parkiran Transmart. saya memang selalu berpikir bahwa setiap kali saya berdosa baik yang saya sengaja maupun tidak, maka akan ada hal kurang baik terjadi padaku. banyak sekali kejadian seperti itu namun kenapa kali ini kesalahanku tertimpa pada anakku, semoga bukan.

Anakku masih demam dan baru saja minum obat, semoga saja dia cepat pulih dan kembali bermain. saya selalu kalut jika anak saya sedang tidak baik-baik saja.

14 Juli 2019

#OTS 19

Perjalanan padat sejak saya di Divisi ini. hanya seminggu berselang sejak pulang dari Lombok, saya harus kembali mengadakan perjalanan ke ujung utara pulau Sumatera. konsekuensi sebagai pekerja mengharuskan saya harus siap selalu meski dalam keadaan bagaimana pun. agak berat meninggalkan anak saya yang berumur 3 tahun karena sedang lucu-lucunya namun menurutku, ada kebahagiaan tersendiri menjelajahi kota-kota di nusantara, mengamati banyak hal dan belajar kearifan dari apa saja yang dijumpai. 

Jika biasanya saya berangkat di senin pagi, namun kali ini saya mengambil penerbangan minggu malam dengan pertimbangan bahwa perjalanan kali ini memakan cukup banyak waktu dan tenaga ekstra. saya berangkat pukul 20.00 WIB dengan masakapai Batik Air. dua jam perjalanan saya tempuh melalui udara kemudian tiba di Kualanamu pukul 22.00 WIB. saya menimbang-nimbang bahwa mode transportasi apa yang harus saya gunakan untuk sampai ke pusat kota mengingat jarak dari Bandara ke kota lumayan jauh, sekitar satu jam perjalanan apalagi ini pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini. 

Setelah beberapa saat, saya memutuskan untuk memesan taxi online. tidak butuh lama taxi yang saya pesan sudah tiba di kedatangan. saya duduk di belakang sambil bersandar kemudian menghela nafas. membayangkan bahwa akhirnya saya tiba di kota ini yang merupakan kota terbesar di Sumatera. sekitar setengah dua belas malam, saya tiba di Hotel Cordela. sebelum berangkat, saya memang sudah booking kamar di hotel ini karena tiba di kota yang belum pernah dikunjungi di malam hari akan membutuhkan energi jika harus mencari hotel. 

Hotel Cordela tidak sesuai dengan ekspektasi saya. meskipun pada dasarnya bahwa saya sejatinya bisa dimana saja menginap apatahlagi jika hanya sekedar hotel namun mengingat perjalanan ini bukan untuk liburan tetapi pekerjaan sehingga saya membutuhkan setidaknya penginapan yang nyaman untuk menyelesaikan pekerjaan. 

Saya putuskan untuk pindah hotel di Grand Sakura. jarak dari Hotel Cordela ke Grand Sakura hanya sekitar 30 meter. hotel Grand Sakura menurut saya murah dengan haraga sekitar 400an, kita sudah bisa menginap di hotel dengan kamar yang luas dan nyaman dengan sarapan yang bervariasi. 

Tidak banyak yang saya kunjungi di kota ini. saya hanya berangkat ke kantor kemudian pulang ke hotel di sore hari. energi saya hanya digunakan di kantor untuk sebuah pekerjaan. di malam ketiga, saya menyempatkan makan durian di salah satu kedai durian paling terkenal di kota ini atau bahkan di seluruh Nusantara. rasa duriannya tidak terlalu istimewa meski juga harganya tidak terlalu mahal namun pengunjung yang datang sangat ramai. konon katanya, omzet per hari 700 durian habis terjual, fantastis. 

Hal lain yang saya amati di kota ini adalah perilaku pengguna jalan. saya tidak menyangka betapa bar-barnya orang di sini saat berkendara di jalan raya. lampu lalu lintas tidak pernah dipedulikan bahkan pejalann kaki pun seakan tidak mempunyai hak di jalan kota ini. semua seperti terburu-buru dan tidak mematuhi aturan. 

Sebelum menginjakkan kaki di kota ini, saya mengira bahwa mayoritas orang di negeri ini adalah Nasarani, ternyata dugaan saya keliru. bahkan ras yang ada di kota ini didominasi Melayu, Jawa, India, dan Cina.

12 Juli 2019

June 30, 2019

#OTS 18

Setahun yang lalu, bencana gempa bumi melanda sebagian besar wilayah Lombok. gempa yang meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi warga yang terkena dampak bencana. lebih dari tiga bulan, warga tinggal di tenda selain karena trauma juga karena tempat berteduh sudah tidak layak dihuni. bantuan dari Pemerintah tidak tersebar dengan baik, namun banyaknya lembaga sosial yang datang sedikit meringankan beban mereka. bencana memang selalu meninggalkan pedih yang akan tinggal di relung para korban namun yang lebih menyedihkan karena, beberapa diantara anggota Dewan di daerah tersebut ditangkap karena menggelapkan bantuan untuk para korban. ironi yang menyobek kemanusiaan. entahlah, mungkin nurani mereka dicampakkan oleh bencana dan hanya nafsu mereka yang tertinggal bersama raga yang sudah tidak berbentuk manusia secara hakiki. 

Setahun berlalu, saya memiliki kesempatan mengunjungi daerah tersebut. meski dalam rangka dinas kantor namun setidaknya, saya bisa menyaksikan secara kasat mata sisa-sisa dari pedihnya akibat dari sebuah bencana. tanggal 

24 Juni, saya berangkat dari Bandara Soetta ke Bandara Praya. durasi penerbangan hampir sama lamanya ketika saya pulang kampung, kurang lebih dua jam. sekitar jam 11 siang, Pesawat yang saya tumpangi landing di Lombok. Bandara baru yang jauh dari kota dan sedang dalam pembangunan. terhampar tanah kosong di sekitar Bandara yang sedang dalam masa pembangunan. nampaknya Bandara ini akan menjadi salah satu bandara yang luas di kawasan Indonesia timur. tidak mengherankan karena wilayah ini sedang giat-giatnya mempromosikan banyak sekali spot wisata alam, apalagi sirkuit GP sedang dalam proses pembangunan di dekat wilayah pantai Kuta Mandalika. tidak terkira ramainya kota ini jika sirkuit GP sudah difungsikan. 

Bandara menuju kota memakan waktu sekitar sejam dengan jarak tempuh yang cukup jauh. di sepanjang perjalanan, pemukiman warga tidak terlalu padat. sangat mudah menjumpai kelapa di setiap daerah. 

Sesampai di kota, saya memperhatikan suasana kota ini semacam kota-kota kecil di pulau Jawa. tidak terlalu padat selain pada jam berangkat dan pulang kantor. cuaca di kota ini sedang bersahabat. meski Matahari bersinar terik namun udara yang berhembus mendinginkan tubuh dan menyejukkan perasaan. 

Kami mampir di sebuah tempat makan yang bernuansa alam. rumah makan persis di samping hamparan sawah dan tempat makan yang didesain dengan model saung. angin sepoi-sepoi membuat para pengunjung semakin lahap menyantap makan yang disiapkan. Ayam taliwang adalah makanan khas di kota ini. setiap orang merekomendasikan makanan khas tersebut meski saya sendiri tidak terlalu excited. maklumlah saya bukan orang yang mengagungkan makanan sebagai sebuah prestise. saya lebih menghargai makanan dari proses awal sampai makanan tersaji di depan kita. semua makanan menurutku sama saja dan banyak keringat bercucuran yang berkontribusi atas makanan yang kita santap.


Kami melanjutkan perjalanan ke hotel Santika. sepanjang perjalanan, bekas gempa tahun lalu tidak terlalu terlihat karena memang pusat kota tidak terlalu terkena dampak bencana. Hotel tempat kami menginap tidak terlalu jauh dari kantor, mungkin hanya sekitar lima ratus meter. 

Hari pertama di Kantor, kami dikagetkan dengan momen ketika suara orang berteriak ada gempa. sontak saja kami berhamburan keluar dari kantor. saya yang sedang berada di lantai dua segera turun tanpa mempedulikan lagi barang-barang. setelah sekian detik di luar kantor, kami baru menyadari bahwa getaran tadi bukan gempa.


Seperti layaknya ketika saya dinas Kantor, saya tidak bisa mengeksplorasi sebuah daerah sebelum closing. saya hanya mengunjungi tempat makan khas ketika istirahat siang. seperti itu pula yang saya lakukan ketika di wilayah ini.

Hari Jum'at, semua tugas saya sudah selesai. saya memutuskan untuk berangkat ke sebuah pulau yang sangat populer di wilayah ini. pulau yang mayoritas dikunjungi oleh turis asing bahkan ada idiom yang menyatakan bahwa orang Indonesia akan menjadi asing ketika mengunjungi pulau tersebut.

sekitar 45 menit perjalanan menuju pelabuhan Bangsal. nah perjalanan dari kota ke Pelabuhan ini membuat saya bisa merasakan betapa mengerikannya gempa yang menimpa daerah ini tahun lalu. sepanjang daerah yang dilalui adalah daerah terparah yang terkena Gempa bahkan sampai saat ini, masih banyak tersisa puing-puing bangunan yang belum dibersihkan. sopir yang menemani kami bercerita banyak tentang gempa tahun lalu sampai pada kesimpulan bahwa masih banyak korban yang terlantar. menurutnya Pemerintah lamban dalam penanganan bencana dan diperparah lagi dengan banyaknya oknum pemerintah yang mengeruk keuntungan dari bantuan bencana. 

Sesampai di pulau, saya mengamini bahwa orang Indonesia menjadi asing di tanah sendiri. wilayah di sekitaran pantai dipenuhi oleh mayoritas turis asing. berbusana layaknya di negara mereka. saya hanya sebentar di pulau ini sebelum kembali menyeberang ke kota karena esok hari saya harus pulang. saya sempat shalat Jum'at ini pulau tersebut dengan fenomena yang unik. jadi setelah bubaran Jum'at saya langsung berada di tepian pantai dengan pemandangan turis yang hanya mengenakan bikini sambil berjemur di pantai. mungkin begitulah hidup, selalu menawarkan dua hal yang paradoks dan pilihan ada di tangan kita, mau memilih yang mana.

24-28 juni 19

June 5, 2019

Happy Eid Mubarak 1440 H

Waktu meluncur begitu cepat bagai roket yang lepas landas. seperti baru kemarin Ramadan menyapa namun hari ini, gema takbir sudah berkumandang yang menandakan bahwa sudah sebulan puasa dilewati. perasaan menyeruak dari dalam diri tentang kenangan masa kecil, tentang rutinitas tahunan yang selalu dilewati dengan perasaan yang sama. 

Di umur yang sudah tidak muda ini, saya seharusnya mampu menakar diri tentang Ramadan yang kulalui. sejauh mana saya bisa memaksimalkan bulan suci ini sebagai momen perbaikan diri bukan lantas menjadikan bulan ini sebagai euforia pupang kampung semata yang hanya berakhir pada perasaan senang yang semu karena kembali menyusuri kenangan masa lalu. seharusnya saya mempertebal mental dalam bulan ini untuk persiapan menghadapi sebelas bulan yang akan datang. 

Ramadan kali ini menurutku tidak cukup berhasil menggembleng mentalku untuk menjadi lebih baik. saya hanya mampu bertahan di setengah bulan dengan rutinitas yang cukup baik namun rusak di pertengahan setelah itu. 

Saya berniat mentadabburi Al Quran namun gagal hanya sampai pada 10 lembar pertama. saya meneguhkan hati untuk bangun di sepertiga malam namun lagi lagi gagal meskipun sudah dibantu dengan alarm ynag kemudian saya matikan dan melanjutkan tidur. saya berniat itiqaf di malam ganjil sepuluh hari terakhir tapi gagal juga. hanya satu malam yang berhasil itupun tidak maksimal karena saya melewati malam di masjid dengan tidur sambil duduk. saya ingin memaksimalkan bersedeqah namun niat itu juga gagal. jika tahun lalu saya masih sempat membeli sesuatu untuk keluarga namun tahun ini minim dan masih banyak lagi kegagalan perbaikan diri di Ramadan kali ini. 

Saat duduk di masjid sambil mendengarkan takbir, saya menyesali banyak hal dan bertanya, akankah saya menjumpai Ramadan tahun depan dan kembali merencanakan niat perbaikan diri. semoga...

Happy Eid Mubarak 1440 H

1 syawal 1440 H

May 30, 2019

Teman

Di masjid Al Markaz, sayup-sayup terdengar lantunan jamaah sedang tadarrus sehabis salat asar. saya duduk di emperan masjid lantai bawah menikmati nuansa sore seperti 10 tahun yang lalu. biasanya di kamis sore setelah salat asar, ada diskusi berbahasa inggris namun kamis sore ini, hanya terlihat 2 anggota makes yang sedang asik berdiskusi, saya tidak ikut nimbrung karena tidak mengenal mereka. 

Sengaja saya ke sini hanya sekedar kembali merasakan masa yang pernah kulalui di kota ini dan berharap ada teman lama yang datang namun sampai detik ini, tak satu pun yang nongol bahkan satu diantara mereka kukirimi pesan via wa namun jawabannya sangat formal padahal menurutku saya dan dia cukup akrab. 

Pertemanan, mungkin kata yang klise menggambarkan hubungan antara manusia yang cukup akrab, lebih dari sekedar hanya saling mengenal namun menurutku, relasi pertemanan sedikit terkikis ketika masing-masing sudah memiliki keluarga.  

Ya, setidaknya saya harus mengerti bahwa pada akhirnya semua dari kita akan berubah prioritasnya. waktu tak mempunyai hati untuk membawa kembali ke masa silam yang selalu dikenang dengan cerita indah.

30 5 19

May 5, 2019

Ramadan 1440 H

Waktu bergulir begitu cepat tanpa bisa dihentikan sedikit pun, sebuah keniscayaan. jika kita tidak awas atas setiap detik waktu yang dijalani maka kita akan dihempaskan oleh zaman ke jurang kesia-siaan. harus ada pola terukur untuk mengendalikan waktu yang tak pernah berhenti berputar. 

Waktu jua lah yang kemudian menggiring kembali Ramadan tahun ini menghampiri kita semua. seakan Ramadan tahun kemarin baru usai kemarin namun tak disangka, sudah setahun kita mengitari perjalanan waktu. Ramadan datang tiap tahunnya untuk memberikan kita begitu banyak kesempatan memperbaiki diri termasuk juga merenungi perjalanan hidup yang setiap hari dijalani tanpa ada visi yang jelas tentang apa sebenarnya hakekat hidup yang harus dijalani. 

Ramadan hanya seakan penanda bahwa kita sebagai perantau mengingat bahwa sebentar lagi perayaan mudik akan tiba dan semua perantau pulang kampung dengan segala gaya yang dipertontonkan. 

Ramadan kali ini seharusnya bukan menjadi penanda bahwa sebulan lagi saya akan mudik namun seharusnya momen Ramadan ini momentum untuk mengais kembali ingatanku tentang tujuan hidup yang kurangkai beberapa tahun yang lalu. visi yang mengendap dalam raga karena tertimbun keinginan-keinginan duniawi semu yang tak berbatas. saya harus menemukan kembali visi itu. 

Oh ya, Ramadan kali ini juga sebagai Ramadan perdana kami melewatinya di rumah yang beberapa waktu lalu kami beli. semua bisa membawa berkah meski sebenarnya masih menyisakan banyak utang atas kenekatan membeli rumah kecil di pinggir ibu kota. 

Semoga Ramadan kali ini berkah buat kita semua, sehat wal afiat menjalani ibadah puasa dan amalan sunah lainnya di dalam momen Ramadan.

Marhaban Ya Ramadan
Kebagusan, 1 Ramadan 1440 22.08 wib

April 20, 2019

Bandara Hananjoeddin

Keberangkatan pesawat yang akan membawa saya pulang ke Jakarta masih sejam lagi namun saya sudah tiba di bandara bersama rombongan. perjalanan 3 hari di kota kecil yang terkenal karena film Laskar pelangi, benar-benar membuat tubuhku remuk.
Setelah chek in, saya mencari toilet untuk buat hajat yang sudah saya tahan di atas mobil. selesai urusan hajat, saya menuju ruang tunggu dan memilih kursi di sudut yang masih kosong. ada seorang ibu di samping kiri dan temanku di sebelah kanan. kali ini saya tidak terlalu memperhatikan ekspresi penumpang karena penat. saya hanya ingin menenangkan pikiran dan sejenak meredakan lelah tubuh yang mendera.

Penumpang lumayan padat di ruang tunggu meski pesawat yang akan berangkat hanya tiga flight namun tidak heran karena ruang tunggu bandara ini sempit untuk ukuran bandara yang sering saya kunjungi. Sebentar lagi pesawat akan terbang. 

saya harus bergegas.

20 4 19 15.15 wib

April 18, 2019

Bandara Soetta

Menunggu flight yang masih dua jam lagi. duduk di ruang tunggu terminal dua bersama tujuh teman kantor. beberapa TNI dan Polisi hilir mudik menjaga keamanan pasca pemilu kemarin. 

Ruang tunggu lumayan ramai. banyak dari mereka yang duduk bersama namun masing-masing larut dalam layar ponsel, tidak ada pembicaraan diantara mereka meski sangat dekat, termasuk saya. 

Seorang anak mungkin berumur 10 tahun sedang bermain robot, sedangkan bapaknya menunggu di belakangnya. mungkin mereka sebentar lagi akan berangkat. 

Ada keriuhan, ada pelukan dan segala ekspresi dari manusia di bandara yang akan melepas keluarga mereka bepergian atau mungkin juga baru bertemu dengan keluarga mereka yang lama tak bersua. satu ekspresi yang mengartikan dua kondisi.

Di gate F4, agak susah mencari tempat duduk. sangat ramai. sepasang suami isteri yang saya taksir orang arab duduk di depan saya bersama dua puteranya. saya menyukai pemandangan seperti itu, melihat keluarga dengan style kekeluargaannya. ada juga beberapa turis mancanegara, mungkin mereka juga akan berlibur ke Belitung. saya yang tak kuat menahan ngantuk, berusaha memejamkan mata sekian detik namun tak berhasil karena posisi yang nyaman. panggilan untuk boarding belum juga terdengar sedangkan para penumpang diam tak bersuara ditelan layar handphone.

Saya seringkali bepergian dengan pesawat namun lupa mengeja momen seperti ini. terlalu sibuk atau mungkin kepekaan saya sudah tergerus oleh pikiran yang materialis. 

Saya hanya bepergian dua hari ke belitung. sekedar melepas penat yang semu. lusa saya akan pulang ke rumah, membawa pesanan anak saya yang sudah ditunggu, memang setiap kali saya pergi, hal yang paling saya nikmati adalah momen pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh buat anak saya. saya menikmati ekspresinya ketika menerima buah tangan.

18 April 19. 14.00 Wib

April 17, 2019

Tujuh Belas April

Saat orang-orang bergerombolan ke TPS menyalurkan hak mereka memlih calon presiden, saya memilih menghabiskan waktu di kamar sambil menikmati film dokumenter "Sexy Killers." film yang diinisiasi oleh Dendy dwi laksono  dkk mengenai kondisi miris bumi nusantara yang dieksploitasi secara massif oleh kapital birokrat negeri ini. 

Saya memang memutuskan untuk kembali tidak memilih siapa-siapa di pilpres kali ini. harapan saya akan negeri ini membaik tidak tampak pada kedua calon, atau mungkin juga ekspektasi saya yang terlalu tinggi. saya harus akui bahwa lima tahun lalu, saya menaruh harapan besar kepada petahana namun seiring berjalannya waktu, banyak hal yang ternyata tidak terwujud meski saya tidak memungkiri bahwa ada perubahan lima tahun terakhir.

Istri dan mertua saya berangkat ke TPS dan saya di rumah menjaga anak. isteri sudah berkali-kali membujuk untuk ikut dengan alasan tidak enak hati jika ditanya ibu RT. dugaannya tidak meleset, dia ditanya kenapa saya tidak ikut. untungnya dia menjawab diplomatis, saya di rumah menjaga anak. 

Saya sama sekali tidak membanggakan diri karena tidak mencoblos bahkan ada sedikit rasa bersalah saat isteri saya dan mertua saya berangkat tanpa saya temani, atau juga saat mengingat Cak Nun yang mengatakan bahwa beliau setiap pemilu tetap ke TPS karena menghargai mereka yang sudah bekerja keras, atau nasehat dari uztad yang selalu menjadi referensiku yang kutanya kemarin terkait suatu hal tentang pemilih. bahkan saya malu melihat banyak dari mereka yang tetap datang ke TPS dengan berbagai keterbatasan, saya benar-benar malu atas beberapa hal tersebut, namun kenapa saya tetap bersikeras untuk tidak mendatangi TPS hari ini?

Saya tidak tertarik mencoblos bukan berarti saya apatis namun landasan sikap saya adalah melihat realitas sosial yang ada. pilpres benar-benar sudah membunuh akal waras sebagian dari kita yang terlalu fanatik. semua sampah pikiran dihamburkan di mana-mana atas dasar membela junjungan yang sesungguhnya tidak benar adanya. kebangsaan kita terkoyak hanya karena pertaruhan elit politik yang menjadikan kita jualan mereka, lalu dimana kita meletakkan rasionalitas.

Dalam berbagai kesempatan sejak momen kampanye, saya sudah muak dengan model kampanye yang hanya menyerang rival tanpa mengedukasi voters terkait visi misi calon yang diusung, lalu apa alasan saya memilih jika kenyataannya tidak ada harapan yang diberikan? bahkan sesungguhnya jika mereka memberikan harapan pun seringkali diingkari apatahlagi mereka tidak memberikan harapan. hanya ketakutan yang ditebar di setiap kampanye. jangan memilih si A karena jika menang komunis akan bangkit. jangan memilih si B karena jika menang, khilafah berkibar. kampanye model apa ini, memuakkan...!!!!

Berangkat dari kekecewaan proses demokrasi yang tidak pernah dewasa membuat saya memilih untuk menempuh jalan sendiri, tidur di hari pemilihan.!!!

Saya memimpikan negeri ini berdemokrasi dengan sehat. proses yang tercipta mendidik rakyatnya menjadi pemilih yang cerdas. menjatuhkan pilihannya dengan pertimbangan rasional bukan karena ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh elit politik. jika iklim seperti itu sudah tercipta maka saya akan dengan senang hati memilih siapa yang menurutku mampu membawa negara ini menjadi negara yang diimpikan.

Saat tulisan ini saya posting, quick count sementara adalah petahana unggul dengan selisih suara sekitar 8-9% dari beberapa lembaga survey. semoga saja tidak terjadi sengketa atas hasil pilpres ini dan sebagai pemilih yang tidak ikut mencoblos, harapan saya hanyalah sebatas pada keamanan negeri ini dan semoga rakyat kecil tidak menjadi lebih susah dalam segala aspek dari hari ini. semoga, semoga dan semoga...!!!

semoga saya diampuni karena tidak memilih yang berarti tidak menghargai keringat mereka yang sudah bersusah payah menyiapkan proses pemilihan bahkan jauh hari sebelum hari ini. semoga kerja mereka dihitung sebagai amal ibadah.

Aaamiiin!!!

17 April 2019 23.18 wib

Gus Mus dan Perilaku Memaafkan

Beberapa waktu lalu saat video Gus Mus yang diedit. Beliau dan puterinya harus melakukan klarifikasi di beberapa akun sosial media. Gus Mus yang dicintai banyak umat jelas mendapat simpati atas hoaks dirinya yang seakan menyelisih KH. Ma'ruf Amin.

Entah karena mendapat tekanan yang massif atau merasa bersalah atas perbuatannya memproduksi dan menyebarkan hoaks, pelaku yang merupakan remaja berasal dari Batam, sowan ke Gus Mus di Rembang. dalam video tersebut, Gus Mus memberikan nasehat kepada si pelaku dengan sangat santun meski di beberapa momen, Beliau seakan menahan amarah, meski saya yakin bahwa amarah bukan karena dirinya namun mungkin lebih pada rasa iba kepada pelaku yang masih remaja dengan masa depan yang masih panjang.

Kejadian yang menimpa Gus Mus bukan pertama kali, suatu waktu saat momen kasus Ahok mencuat, Gus Mus juga mendapat perlakuan yang sangat tidak elok dari netijen twitter. saya tidak ingat persis apa twit beliau tapi kalau tidak salah tentang shalat jumat di jalanan yang kemudian dibalas oleh netijen yang salah satu kata ditulis "nd*smu." kalimat umpatan dalam bahasa jawa yang sangat kasar apalagi ditujukan pada orang tua dan paling parah kepada seorang Gus Mus yang seharusnya dihormati.

Gus Mus juga memaafkan orang tersebut yang ternyata karyawan Adhi Karya bahkan ketika si pelaku akan dipecat dari kantornya, Gus Mus yang melarang supaya dia tidak dipecat.

Hal yang membuatku sedih pada saat itu karena salah seorang teman baikku di kantor yang notabene juga tumbuh dalam keluarga islami sempat berceloteh bahwa fenomena tersebut disengaja supaya Ahok juga dimaafkan. memang pada saat itu sedang ramai atas tindakan dugaan penistaan agama. teman saya berpendapat bahwa Gus Mus mendukung Ahok.

Ada perasaan sedih saat itu karena melihat sepak terjang Gus Mus yang disepelekan oleh teman yang seharusnya mampu menelaah siapa Gus Mus apalagi dia besar dalam keluarga islami. untungnya Gus Mus sudah berkomitmen dalam hidupnya bahwa dia akan memaafkan semua orang yang dzalim kepadanya.


April 13, 2019

Relasi

Seminggu ini, saya tugas di kantor cabang yang menjadi kantor awal saya bertugas sebagai karyawan di Perusahaan ini. kembali ke kantor tersebut seperti membuka perjalanan waktu lima tahun lalu saat pertama kali diterima di Perusahaan ini. sebagai mantan staff di kantor tersebut, saya mengenal hampir semua karyawan apalagi hanya beberapa penambahan karyawan baru.

Saya menikmati lima hari kemarin karena merasakan sensasi mengulik semua kenangan. setiap sudut kantor tersebut nampaknya tidak terlalu banyak berubah bahkan meski sedikit pun. saya menghabiskan banyak waktu bercanda dengan mereka yang merupakan teman lama.

Salah seorang agen yang lumayan dekat denganku sering menjadi bahan candaan karena dia belum menikah. saban sore sebelum pulang kantor, saya naik ke lantai tiga berkumpul dengan beberapa teman lain dan menjadikan dia sebagai bahan candaan masalah pernikahan. saya tahu bahwa dia sama sekali tidak masalah dijadikan bahan lelucon karena sudah sejak lama kenal denganku meski terkadang dia salah tingkah saat dibercandai tentang perempuan.

Sampai akhirnya di hari jum'at kemarin, kami kembali melancarkan aksi gurauan dan entah ada yang berlebihan atau dia sudah terlalu penat menjadi bahan guyonan, dia bereaksi dengan cara lain. saya dan salah seorang teman yang terlalu sering menggodanya mulai dihindari. saya mengajaknya bersama-sama shalat Jum'at namun reaksinya dingin bahkan saat makan siang, tak ada percakapan yang keluar dari mulutnya. pada akhirnya saya tahu bahwa dia terganggu dan merasa insecure dijadikan bahan guyonan sampai akhirnya diam dan memilih untuk mendamaikan diri.

Pertemanan memang sering seperti itu. saya terutama selalu mengukur diri dalam setiap pertemenan dan sampai dimana batasan yang seharusnya tidak boleh dilewati, namun saya akui bahwa saya terlalu berlebihan menjadikan objek candaan teman saya tersebut karena saking dekatnya padahal seharusnya, semua harus diukur bahkan siapapun jangan sampai loss of control. pertemanan memang mengasikkan namun ketika salah satu insecure dengan apa yang kita lakukan maka seharusnya jangan dilanggar karena toh semua ada batasannya. 

Pada akhirnya, relasi entah dengan siapapun harus diukur dengan akurat dan membuat sebuah komitmen untuk tetap menjaganya.
13 April 219

April 6, 2019

Lalu Lintas

Cerita tentang lalu lintas di Jakarta tidak pernah habis dan selalu saja ada hal yang bisa dikisahkan dari perjalanan di setiap sudut Jakarta. fenomena yang bertebaran di setiap ruang Jakarta terlalu luas dengan berbagai kejadian yang seringkali tidak disangka bahkan terjadi pada diri kita. semua kembali pada sikap masing-masing pribadi dalam menghadapi kejadian yang seringkali tidak mengenakkan di hati.

Senin siang, saya keluar dari kampus UGM di daerah Saharjo setelah melewati ujian yang melelahkan karena minim persiapan. hati yang gundah gulana dan prasangka buruk bahwa kali ini saya tidak akan lulus lagi setelah subjek yang sama sudah saya ikuti selama dua kali dan belum berhasil lulus. bayang-bayang kegagalan tersebut terngiang-ngiang di kepalaku sehingga konsentrasi mengendarai motor sedikit terganggu.

Sesaat setelah keluar dari parkiran dan sudah berada di jalan protokol, saya tidak menyadari ada motor dari belakang yang melaju kencang dan hampir menabrak motorku dari belakang. saya yang menyadari bahwa hal tersebut karena kecerobohanku memotong jalan tanpa memperhatikan kendaraan di belakang, dengan refleks mengangkat tangan sebagai bentuk permintaan maaf. saya kemudian melaju dengan tenang karena sudah menunaikan tugasku sebagai pengendara yang ceroboh paling tidak sudah minta maaf.

Baru beberapa detik kejadian tersebut berlangsung, saya menyadari bahwa pengendara tersebut membuntutiku kemudian tepat saat berada di sampingku, dia memainkan gas motornya sebagai reaksi kekesalan atas kesalahanku sebelumnya. saya yang menyadari hal tersebut kemudian memepetnya dan mengajaknya berbicara. kepala saya yang penat membuat emosiku meluap karena merasa sudah minta maaf namun dibalas dengan tindakan yang tidak menyenangkan.

Saya mencecarnya dengan beberapa pernyataan bahwa saya sudah minta maaf, kenapa dia masih merasa tersinggung. dia membalas dengan retorika yang membuatku semakin muak 
"sebelum berkendara, seharusnya prepare dulu supaya tidak membahayakan orang lain."

Nasehatnya tersebut semakin menyulut emosiku untuk berdebat dengannya sambil tetap berkendara. saya menepuk pundaknya dan berkata bahwa dalam setiap kehidupan jalanan di Jakarta, pasti ada gesekan.
Pada akhirnya, dia mengalah dan dengan nada sedikit kesal memaksaku untuk mendahuluinya "sudah, sudaahhh, silahkan jalan." katanya sambil menutup perdebatan kami.

Meski menerima tawarannya untuk mendahuluinya namun saya tetap mengendarai motor dengan sangat pelan sambil berharap dia menyusulku. saya masih sangat penasaran dengan ekspresinya. sampai pada akhirnya, setelah beberapa jauh ternyata dia tidak jua mencoba menyalipku dan akhirnya saya pulang dengan hati yang tidak karuan.

Entah dari mana keberanian yang muncul dari dalam diriku untuk bersikap agresif di jalanan namun saya khawatir bahwa Ibu kota benar-benar telah menggiringku ke dalam kerumuman masyarakat individualis nan emosional. hal remeh temeh yang seharusnya tidak menjadi masalah besar ternyata harus diselesaikan dengan urat leher.

Ah, saya semakin menua di kota ini sedangkan jiwaku tidak ikut menjadi bijaksana. umurku bertambah dan jiwa raga semakin terbelenggu dalam kehidupan kota yang palsu. mengejar sesuatu yang fatamorgana dan meninggalkan jauh di belakang prinsip yang seharusnya tetap mengiringi langkahku.

25 April 2019

Pilihan Politik

Sebenarnya diskusi politik tidak terlalu menarik perhatian saya bahkan sikap saya selama ini lebih cenderung pada sikap tidak peduli karena sejatinya pilihan politik seharusnya menjadi pilihan masing-masing yang hanya diri sendiri yang tahu tanpa harus mendeklarasikan kepada orang lain atau ikut-ikutan menjadi juru kampanye amatiran hanya sekedar ingin dikatakan melek politik atau tidak ingin disebut kuper politik. sistem demokrasi yang dianut Indonesia mengharuskan kita memilih pemimpin yang diusung oleh partai politik. maka kesimpulan awal saya bahwa pilihan yang ada adalah hasil analisa dari segerombolan partai politik untuk kepentingan mereka tanpa benar-benar ingin bekerja demi rakyat.

Pemilihan Presiden yang sebentar lagi akan dihelat di pertengahan April menjadi fenomena tersendiri. di satu sisi sering membuat saya tersenyum melihat tingkah kedua belah pihak pendukung calon Presiden tetapi di sisi lain membuat saya sering jijik dengan cara mereka mendiskusikan pilihan yang mereka anggap paling baik. seharusnya wacana tentang Pilpres mampu menggiring masyarakat ke arah yang lebih baik dengan terbukanya informasi maupun referensi pembelajaran politik namun harapan selalu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, realitas yang terjadi di tengah masyarakat seakan mundur berpuluh-puluh tahun ke belakang. mereka berdiskusi dengan menyanjung pilihan mereka dan menjatuhkan lawan. tidak ada esensi dari diskusi yang diangkat di hampir semua forum politik baik dari forum politik tingkat atas sebagai politikus maupun kalangan masyarakat umum yang mendiskusikan politik ke setiap sudut Kota bahkan di Desa. perdebatan yang muncul hanya seputar tentang pilihan mereka yang baik dan calon yang lain tidak baik. benar-benar menjijikkan...!!!

Hal yang sama dan membuat saya seringkali muak setiap hari yang kutemui teman-teman saya yang doyan membuka forum politik tentang Pilpres namun argumen yang keluar dari mulut mereka hanya seputar pilihan mereka yang tanpa dosa dan calon yang lain bergelimang dosa. seingat saya, tidak pernah sekalipun saya serius meladeni mereka dalam berdebat meski selalu berusaha mempengaruhi dengan cara apapun hingga suatu waktu di sore hari menjelang jam kantor usai, saya yang sudah penat akhirnya mengeluarkan semua sikap politik yang saya percayai untuk Pilpres kali ini. saya mendeklarasikan bahwa saya tidak akan memilih, bukan karena terpaksa namun dari perenungan panjang tentang iklim politik di Negeri ini yang sama sekali tidak membaik. saya juga mengatakan kepada mereka bahwa biaya politik dalam proses Demokrasi Indonesia sangat besar dan hal tersebut sebagai indikasi bahwa "jarang" sekali politikus yang serius mewujudkan gombal-gombal politik mereka yang dikampanyekan menjelang pemilu.

Argumen saya tentang biaya politik bukan tanpa bukti. pengalaman yang akan saya paparkan di sini juga sebagai pengakuan dosa bahwa saya pernah mengotori proses Demokrasi yang berlangsung di Indonesia dalam skali Pilkada. 

Sebelas tahun yang lalu tepatnya di tahun 2008, Pilkada di daerah saya dilangsungkan. seingat saya adalah Pilkada pertama yang dipilih langsung oleh Rakyat. calon yang maju seorang Petahana didampingi oleh salah satu mantan kepala BKD yang "kebenaran" adalah keluarga dekat saya, nenek saya dan neneknya masih saudara kandung sehingga silsilah keluarga kami adalah "sepupu dua kali"

Saya tidak ingat persis bagaimana awalnya saya masuk dalam lingkaran tim sukses namun yang masih segar di pikiran saya tentang proses menjelang pemilu. saya yang berada di Ibu Kota Provinsi sering berkoordinasi dengan salah seorang Dosen saya yang juga tergabung dalam tim sukses dan berperan sebagai Koordinator. saya beberapa kali harus pergi-pulang ke kampung hanya sekedar mengurus kampanye. Suatu waktu menjelang pemilu sudah dekat. saya dan beberapa tim sukses di panggil ke rumah pemenangan di kota Kabupaten dalam rangka merapatkan konsolidasi. 

Saya menyesal saat menyadari bahwa saya pernah menjadi bagian dari proses Demokrasi yang tidak ideal menurut saya namun setidaknya pengalaman tersebut juga mengajarkan saya di setiap Pemilu bahwa apa yang ada di depanmu, apa yang ditulis oleh para calon di setiap spanduk yang dipasang di pinggir jalan, bukan realitas. jargon tersebut hanya sebagai pemanis yang nantinya akan dicampakkan di comberan setelah mereka terpilih atau jika sial dan gagal, spanduk mereka akan menjadi selimut di rumah sakit jiwa.

Kembali ke wacana Pilpres kali ini bahwa belum tidak ada bedanya dengan perhelatan dari Pemilu sebelumnya yang hanya menjadi rutinitas 5 tahunan dan mengeksploitasi hak suara rakyat kemudian akan diabaikan sesaat setelah pemilihan namun yang membuat saya ikut kasihan karena adanya potensi perpecahan sesama masyarakat. mereka yang sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, telah termakan propoganda politikus sehingga mereka dengan segala energi menjunjung tinggi pilihan mereka bahkan sampai mengorbankan banyak hal termasuk persaudaraan yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Sekali lagi pada Pilpres kali ini, saya tidak akan memilih siapa-siapa. saya akan berdiam diri di rumah sambil menikmati kopi tanpa terpengaruh siapa yang akan terpilih namun dengan sebaris doa yang akan saya ucapkan bahwa semoga hasil dari Pilpres tidak membuat masyarakat Indonesia tercerai-berai. semoga mereka kembali bersenda gurau dan menyambung silaturrahim diantara mereka yang berbeda pilihan.

April 2019, dua minggu menjelang tanggal 18 April 2019.