June 15, 2018

Ironi Perantau Saat Musim Mudik

Merantau seperti menghitung hari dalam setahun untuk mudik, menandai hari libur dan hari berburu tiket. Bukan tak mungkin bahwa momen mudik inilah yang menjadi kekuatan bagi para perantau untuk tetap bertahan di tanah rantau. Bagaimana tidak, hidup di kampung halaman beribu kali lipat menyenangkan dibandingkan dengan harus hidup di rantau namun urusan perut seringkali memaksa seseorang untuk tetap bertahanan.  

Saya dan keluarga sudah berburu tiket 4 bulan sebelum momen mudik. ini harus dilakukan untuk mengantisipasi melonjaknya harga tiket menjelang mudik. dugaan kami benar. saat membeli tiket pesawat 4 bulan lalu, kami masih bisa mendapatkan tiket seharga 700 ribu an namun beberapa hari menjelang mudik, harga tiket pesawat yang sama sudah mencapai 2 juta. 

Mudik serupa oase bagi perantau. dia datang sekali dalam setahun membasuh dahaga perantau untuk memulihkan energi yang habis dimakan duniawi. 

Terlalu banyak cerita di luar nalar tentang mudik. bagaimana pemudik berdesak-desakan di kapal laut, di mobil maupun di pesawat dengan biaya yang tidak murah. namun apakah itu mengurungkan niat para pemudik? Tidak, sama sekali tidak malah bahkan sebaliknya, semua kisah tersebut menjadi lelucon di kemudian hari. 

Mudik memang secara indrawi hanya layaknya para perantau yang pulang kampung melepas kangen, melintasi kembali serpihan masa lalu, namun lebih dari itu, mudik punya sisi spritual. pulang memeluk orang tua, melepas energi negatif dan mengganti dengan energi positif untuk selanjutnya mengarungi kembali kehidupan rantau yang durjana.

June 14, 2018

Random tentang Ramadan

Ramadan menyisakan satu hari lagi namun belum ada satu pun renungan yang kusisakan di ruang ini. momen yang sebenarnya menyisakan banyak hikmah terlewatkan yang sudah seharusnya cukup menjadi sedikit dari banyak perenungan yang ada. 

Ramadan yang datang sekali dalam setahun dan dalam rentang waktu tersebut, akan banyak hal yang akan dilewati bahkan belum tentu Ramadan tahun depan akan menjumpai kita namun demikian, kita tetap disunnahkan untuk berdoa semoga  masih bisa dipertemukan dengan Ramadan tahun depan. 

Secara random, ada beberapa nasehat yang ingin kucatat tentang hal yang ingin kujadikan sedikit dari beberapa referensi untuk mengarungi jalan kedepan. 

Hidup adalah dosis. rumusan teori yang disampaikan oleh Cak Nun namun sejatinya saya sudah lama memikirkan hal seperti ini namun belum mampu menemukan kata yang pas dan penyampaian Cak Nun menegaskan apa yang selama ini kurenungkan. jadi seperti ini, hidup adalah takaran, apapun ini semuanya punya dosis yang kita sendiri mengetahui seberapa banyak yang seharusnya. kita mengetahui takaran makanan yang kita makanan dan harus mengukur makanan tersebut tanpa melebihi dosis. bahkan berdoa pun punya dosis. kita sadar diri terhadap apa yang akan kita minta kepada Tuhan dan bukan karena nafsu untuk meminta semuanya meski sebenarnya tidak salah. 

Sebagai suami isteri, kita tahu batasan maksimal berhubungan yang tidak berlebihan. kita tahu seberapa banyak dosis yang dibutuhkan dalam bekerja maupun istirahat bahkan semuanya punya dosis yang jika over dari dosis maka tidak baik untuk diri.

Tafsir Al Misbah dari Prof Quraish Shibab mengeksplorasi tentang perlunya bersikap sabar ketika kita teraniaya. tingkatannya seperti ini, jika kita diperlakukan buruk, tidak jadi soal jika membalas namun tidak melebihi keburukan yang diterima namun lebih baik lagi jika kita bersabar atas keburukan yang diterima. langkah ketiga dan yang paling terbaik adalah membalas keburukan yang diterima dengan perbuatan baik. itulah tingkatan yang sebaik-baiknya untuk mendapatkan ganjaran yang baik dari Allah. 

Menurut Buya Hamkah yang dikisahkan kembali Prof Quraish bahwa shalat ini laksana mencari gelombang pada radio. sedikit demi sedikit kita memutar tombol untuk mendapatkan salurna yang jernih. begitu pun dengan shalat, jangan pernah lelah menunaikan shalat untuk menemukan kenikmatan bersama Tuhan. 

Berdoa pasti akan dikabulkan namun ingat bahwa bagaimana mungkin Tuhan akan mengabulkan doa jika makanan kita masih haram, pakaian masih haram.

29 Ramadan 1439 H

April 30, 2018

Sesal

aku menghakimi diriku dengan berbagai macam kekhawatiran yang tak seharusnya. aku menuduh diriku gagal dalam menjalani hidup dan mencapai banyak impian di masa lalu hingga akhirnya aku terdampar di tempat ini. merana, sungguh merana hati yang tak berbesar atas setiap yang sudah terjadi.

aku bersedih atas duniawi yang terlewati. bersedih mengingat diriku yang masih berkutat pada tempat seperti ini di mana mereka yang seusiaku sudah fokus pada kehidupan masing-masing bahkan pada tujuan yang bukan duniawi lagi. tetapi aku..? ah ironi.

aku bersedih pada beberapa keputusanku yang menurutku tidak seharusnya kupilih. mungkin pada hal yang paling pribadi sekali pun. menyesal tidak terlalu keras pada diri untuk menjadi lebih baik dan yang lebih parah, tidak keras pada diri untuk memeluk prinsip sehingga apa yang kujalani sekarang adalah sesuatu yang sangat kontras dengan prinsipku. lalu apa..? ingin berlari jauh namun banyak pertimbangan yang membuatku berkubang dalam kondisi yang tidak mengenakkan.

kemana saja diriku selama ini. membuang begitu banyak kesempatan yang berseliweran di depanku kemudian berlarut-larut dan berakhir pada penyesalan.

tapi,

aku tidak mau kalah. aku masih punya Tuhan yang berjanji akan membantuku dalam setiap masalah yang kutemui. akan kubisiki Tuhan dengan bujukanku di setiap helaan nafasku untuk membuat kondisi menjadi lebih baik. kurayu Tuhan untuk mempertemukanku dengan harapan-harapanku yang tertunda dan yang lebih penting lagi, kuberserah kepada Tuhanku untuk menjauhkanku dari apa yang Dia haramkan dan disyubhatkan dari setiap makanan dan harta yang harus kuberikan kepada keluargaku.

paling tidak,

aku lepas dari sesuai yang masih abu-abu. sesuatu yang menguras pikiran dan tenagaku sedangkan hatiku sudah ingin berlepas. 

Tuhan. kau lebih tahu apa yang kubutuhkan dan kau tahu bahwa ada prinsip yang melekat dalam diriku. apa yang kukerjakan sekarang mungkin tidak terlalu menentramkan jiwaku dan semoga Engkau mendengar bujukanku di setiap sadarku.
Amin.

Awal Mei 18

March 28, 2018

OTS #11

Sebenarnya cerita tentang kota selanjutnya yang kujejaki seharusnya sudah selesai di dua minggu lalu namun karena handphone saya hilang dan akun Blogger saya sempat terhapus atas kecerobohan yang seharusnya tidak terjadi, alhasil cerita ini mengendap dan belum kutuliskan.

Saya mulai dari musibah kehilangan hp. jadi hari minggu, sehari sebelum berangkat ke Kota Kembang dalam rangka #OTS, saya bertandang ke tempat salah seorang teman yang datang dari Makassar. dia menginap di Apartemen Sudirman Park, tempat kakaknya. sebenarnya sih kami hanya mengobrol di Lobby namun ketika hendak pulang, saya sadar bahwa hp saya sudah tidak ada di tas, saya balik ke Lobby namun nihil, tidak ada juga di sofa tempat saya duduk sebelumnya. saya bertanya ke Resepsionis tetapi belum ada yang melapor menemukan hp. saya akhirnya pulang dan pasrah. saya dan isteri membeli hp baru di mall Ambassador. 

Esok hari, saya berangkat ke Bandung. biasanya menjelang pulang atau sehari setelah pulang, saya sudah menuliskan perjalanan menjejak tanah yang asing namun kehilangan hp benar-benar membuat moodku tidak terlalu baik untuk bercerita.

Kasus kedua yang semakin memperparah moodku ketika saya salah menghapus akun gmail. tadinya mertua saya meminta untuk menghapus akun google ku dari hpnya namun ternyata saya salah mengikuti instruksi, saya bahkan menghapus permanen akun googleku. hal ini berimbas pada hilangnya akun gmail dan blog. lebih parah lagi karena pada saat mencoba memulihkan akun tersebut, nomor hp yang kudaftar saat membuat akun gmail adalah nomor hp yang sudah lama tidak kugunakan dan entah sudah dimana rimbanya.

Tiga hari lamanya saya mendiamkan hal ini terjadi. jalan satu-satunya adalah mengurus kembali nomorku yang kugunakan untuk memulihkan akun. akhirnya saya ke gerai tempat mengurus kartu yang sudah hilang. saya was-was apakah kartu tersebut masih digunakan atau tidak. ternyata Semesta masih memberkati. nomor tersebut masih bisa digunakan dan saya hanya perlu membayar 25 ribu sebagai biaya administrasi penggantian kartu. setelah aktif, saya mencoba memulihkan akun google ku dan tralalala, DONE....!!! akun google ku aktif kembali.

Mulai cerita tentang Kota Bandung.

***
Saya bersama dua orang tim dari kantor berangkat ke Bandung via kereta Argo Parahayangan. kereta membawa kami dari Gambir pukul 07.15 WIB membelah kota Jakarta menuju Jawa Barat. penumpang lumayan padat padahal hari itu adalah awal hari ngantor, mungkin sebagian dari mereka juga melakukan perjalanan tugas sama sepertiku. seingat saya, kereta hanya berhenti di dua stasiun, Cimahi dan Bandung.

Kami tiba di Bandung jam setengah 11 siang. rencana awal ingin menikmati kuliner di sekitar stasiun Bandung namun ternyata warung sate yang merupakan usulan dari temanku ternyata sudah pindah tempat. kami memutuskan untuk langsung ke kantor Cabang via mobil online. butuh sekitar 40 menit dari Stasiun Bandung ke Jl. Amir Machmud Cimahi.

Sore harinya, kami memesan kamar di Hotel Vio di bilangan Pasteur, hotel yang menurutku tidak terlalu mewah namun lumayan untuk ukuran karyawan kelas teri seperti saya.

dari hari Selasa sampai Jumat, rutinitas berlangsung seperti biasa. jam tujuh pagi sarapan di hotel, bersiap ke tempat aktivitas, kemudian sehabis Maghrib pulang ke hotel istirahat. saya tidak benar-benar menikmati kota Bandung karena tempat berkegiatan kami masih berada di wilayah Cimahi.

Waktu kami tersita oleh masalah di tempat aktivitas. ada beberapa hal yang harus diselesaikan sehingga tidak ada waktu untuk menikmati malam dengan mengitari kota seperti yang biasa saya lakukan ketika sedang kegiatan #OTS. akhirnya sampai jumat malam, saya benar-benar hanya fokus pada kegiatan utama yang harus saya selesaikan.

oleh sebab kami hanya booking kamar di Vio hotel sampai jumat siang dan ternyata kegiatan baru selesai di jumat malam jam 11, akhirnya kami menginap secara mendadak di Hotel Tjimahi. pengalaman menginap di sebuah hotel tua yang menurutku lebih mirip dengan wisma. kamar tanpa AC maupun kipas angin dan ada tiga buah ranjang tua dengan banderol harga 350 ribu per malam.

Esok hari, saya ke kawasan Pasirleutik via ojek online. saya sudah janji dengan salah seorang teman yang menetap di kota ini. Saya mengingat-ingat kota ini yang kujejak tiga tahun yang lalu. tidak ada yang bersisa selain ketika masuk di kawasan Dago. ingatan saya mulai pulih karena di tiga tahun yang lalu, saya menginap di kontrakan belakang kantor Telkom di depan gedung sate.

Saya sampai di rumah teman setelah menyusuri jalanan dari Cimahi sekitar 40 menit. sejatinya saya sama sekali belum puas menikmati udara di kota Kembang karena hujan yang tak berhenti mengguyur. malam harinya, saya harus kembali ke Ibu Kota.

kapan-kapan plesiran lagi ke kota itu.
28 3 18

March 26, 2018

Gagal

Saya menjadi begitu inferior beberapa tahun belakangan atas pencapaian yang sudah saya dapatkan, oh iya kalau pun itu dianggap sebuah pencapaian. Pilihan hidup yang sama sekali tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku 10 tahun yang lalu. namun bukan berarti bahwa saya tidak mensyukuri seperti apa saya sekarang namun penekanannya lebih pada pilihan.

Bukan, sama sekali bukan karena materi sehingga saya terkadang menyesali pilihan ini namun lebih pada sebuah tanggung jawab moral atas apa yang sudah kupelajari selama ini, Setidaknya ada faktor dominan yang menegasikan pilihan hidup ini. faktor yang menurutku sulit untuk kuhindari atau bahkan kunaifkan untuk sekedar tetap memperoleh setiap bulannya pembeli sesuap nasi.

Pertama, pertengahan 2000-an, setahun sebelum masuk bangku kuliah, saya sudah ikut di sebuah organisasi yang kegiatannya di lingkungan masjid. organisasi yang menekankan pada nilai moral. dalam setiap dimensi kehidupan yang dijalani termasuk pula dalam sumber penghidupan. baik dari sumbernya, dzatnya atau apapun yang harus dinilai dari sisi moral. 

Nah, saya terjebak dalam sebuah lingkup pekerjaan yang menurutku bertentangan dengan apa yang sudah kupelajari. pekerjaan yang masih debatable secara hukum sharia, apakah masuk dalam kategori haram atau halal meski pada kenyataannnya, mayoritas ulama menganggapnya haram dan sebagian menghalalkan dengan beberapa catatan dalam hal ini, jika mau ambil jalan tengahnya, berarti jenis pekerjaan ini syubhat, hal yang seharusnya kutinggalkan. mungkin hanya satu hal yang membuatku bertahan adalah nasehat dari salah seorang guruku yang menyarankan untuk tidak gegabah, tetap bertahan sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena lebih dzalim jika saya keluar dan tidak mampu memberi nafkah kepada keluarga.

kedua, saya pernah belajar tentang varian ilmu ekonomi yang seharusnya dijalani. mungkin sedikit geli mengatakan tentang sistem ekonomi yang adil dan tidak semata berpatron pada profit namun lebih luas berguna bagi masyarakat. namun apa yang kujalani sekarang alih-alih untuk masyarakat, semua hanya untuk profit yang menguntungkan Perusahaan. bahkan terkadang banyak hal yang menurutku memang sepantasnya saya harus mencari pekerjaan yang lebih menentramkan hati. 

Saya menghabiskan sebagian besar waktuku memikirkan hal ini bahkan benar-benar bekerja hanya menggugurkan kewajiban. pikiranku benar-benar sudah mentok pada strategi apa yang harus kulakukan untuk melepaskan diri dari penjara pikiran, rasa bersalah atas nurani dan hal semacamnya yang sifatnya tak bisa diindrawi.

Saya memutar memoriku ke tahun-tahun yang sudah berlalu.entah kenapa, setiap pekerjaan yang memang kuidamkan begitu sulit kuraih dan selalu saja keadaan sepertinya menarikku masuk dalam ruang yang tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan namun hanya demi kebutuhan perut, hal tersebut tetap kujalani meski demikian isi kepala berontak. 

atau kah saya yang tidak bersetia pada nurani? melawan bisikan nurani demi sebuah prestise. merasa mampu menjadi diri sendiri dan menafkahi orang lain. menganggap bahwa hal tersebut bisa dikompromikan meski ternyata berakhir dengan ironi. hidup sungguh tidak menyenangkan dan tidak membanggakan apa yang sedang dijalani. harus bersusah payah untuk tetap bersembunyi dari keadaan bahkan lebih parah jika harus selalu berdusta demi sebuah prestise.

entahlah, satu hal yang pasti bahwa saya akan tetap berusaha untuk melangkahkan kaki menjauh dari tempat yang tidak membuat nuraniku tidur nyenyak, dan lebih cepat mungkin lebih baik namun dengan pertimbangan yang matang dan tetap punya pegangan untuk memberi nafkah keluargaku.

kapan? sekali lagi entah kapan, biarkan tangan Sang Pemilik Semesta yang bekerja.

26 3 18

March 5, 2018

Islam Tuhan, Islam Manusia


Judul:           Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis:        Haidar Bagir
Penerbit:       Mizan
Tahun terbit: 20
Tebal:           288

Haidar Bagir adalah salah seorang cendikiawan muslim di Indonesia yang tidak perlu diragukan lagi kedalaman ilmunya dan juga tebaran pengetahuan yang beliau pupuk selama ini. Selain mengurus sebuah penerbitan beliau juga sibuk mengelolah yayasan pendidikan, dimana salah seorang kawan saya mengajar di salah satu sekolahnya.

Tak terkira berapa buku yang sudah dihasilkan dari olah pikirnya salah satunya buku "Islam Tuhan Islam Manusia." bagian belakang buku ini dihiasi testimoni orang-orang besar di negeri ini. K.H Ahmad Mustofa Bisri, Goenawan Muhammad, Mochtar Pabottingi dan Franz Magnis-Suseno.

Pada bagian awal buku ini pada tulisan "Aku dan Islamku" Haidar Bagir menjelaskan dengan runut seperti apa beliau mengenali dirinya terlepas dari tudingan-tudingan orang yang tidak bersepakat dengannya. Entah berapa kali beliau mengklarifikasi secara langsung maupun tidak langsung atas tuduhan bahwa dirinya penganut Syiah namun klarifikasi tersebut tidak menyurutkan tuduhan dari orang-orang yang tidak bersepakat dengan dirinya.

Beliau meyakini bahwa akal ada anugerah Tuhan meski di lain sisi, beliau juga menyadari bahwa akal memiliki keterbatasannya sendiri. Dalam pencarian opini yang benar, fokusnya terletak pada kebenaran bukan pada popularitas. Sebelum mengkritik, kita harus memahami pendapat yang akan kita kritik seperti pemahaman penganutnya. Beliau melakukan pendekatan terhadap teks Al-Qur'an, sunnah dan tradisi Islam bersifat hermeneutika. Meski di lain sisi, beliau percaya bahwa pendekatan hermenutika memiliki jebakan-jebakannya tersendiri.

Isi buku ini sendiri terbagi ke dalam 5 bagian: Masalah, "Islam di zaman kacau. Khazanah Pemikiran Islam. Pendekatan, "Dialog Intra Islam". Pendekatan, " Dialog Islam, Budaya dan Peradaban".dan Solusi, "Islam,Cinta dan Spritualitas".

Pada bagian pertama, beliau mengelaborasi tentang masalah yang sedang dihadapi umat Islam secara spesifik. Tentang radikalisme, asal usul takfirisme dan negara yang disebutnya sebagai tuna budaya.

Saya akan menuliskan ulang beberapa inti pemikiran beliau dari setiap lembar tulisannya yang dijelaskan secara runut di buku ini.

Budaya adalah soal menjadi manusia secara komprehensif. Manusia spritual, bermoral, berestetika, sadar dan berpikir.berakar dari concern kemanusiaan paling dalam sebagai pengejawantahan dari Ketuhanan yang cirinya memiliki fitrah cinta kebenaran, kebaikan dan keindahan. Selain dari hal tersebut adalah antibudaya. Negara ini sudah lama menanggalkan budayanya dan menjadi santapan hegemoni ekonomi, komersialisasi cukong kapital besar berkolaborasi dengan politik busuk untuk menyerap seluruh saripati negara ini tanpa sisa. Meski demikian, budaya juga tidak seharusnya statis tetapi harus berkembang secara organis. Peran Pemerintah dalam revitalisasi kesadaran kolektif bangsa dalam meletakkan budaya sebagai persemaian seluruh aspek kehidupan.

"Information spill over" telah membuat orang mengalami diorientasi. Terlalu banyak informasi justru membuat orang kebingungan, hilangnya kedalaman dan lahirnya generasi baru pengguna internet, "orang-orang dangkal" (The shallows) menuruut Nicholas Carr. Orang-orang yang terbiasa menyantap informasi instan tanpa kedalaman.

Situasi yang mengkhawatirkan ini masih ditambah dengan perilaku tidak kritis masyarakat yang dengan mudahnya menggandakan dan menyebarluaskan apa saja yang dibacanya, ke ruang publik baik via WA, Twitter, Facebook dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, sebagian media mendasarkan informasi dari sumber yang tidak dipertanggungjawabkan ini.

Keberlimpahan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya dianggap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup, justru meninggalkan kehampaan psikologis dan spritual karena hanya menegaskan kenyataan bahwa setelah semua keberlimpahan itu tercapai, kebahagiaan hidup tidak ditemukan di sana.

Maka menjadi tugas para agamawan dan pemikir keagamaan moderat untuk menawarkan suatu paham atau penafsiran keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit kaum fundamentalis dan radikal. Haidar Bagir merasa bahwa sejenis pemahaman keagamaan yang bersifat mistik (sufistik) merupakan alternatif paling efektif.

Mengenai Hermeneutika, Haidar Bagir mengutip pemikiran Friederich Schleimermacher yang mengandung dua langkah. Pertama, pemahaman teks melalui penguasaan aturan-aturan sintaksis bahasa komunitas si pengarang. kedua, penangkapan muatan emosianal dan batiniah pengarang secara intuinitif dengan jalan menempatkan diri subjek dalam benak pengarang.

Tentang Takwil, Haidar Bagir mengutip pahaman Ibn' Arabi dalam futuhat menyatakan bahwa "sesungguhnya setiap orang punya akses kepada pemahaman atas teks Al-Qur'an selama bersifat terbuka, tulus yakni dengan pemikiran sehat dan hati bersih yang tak tercampuri nafsu. Baik pemahaman yang bersifat 'ardhi (horizontal/tafsir) maupun thuli (Vertikal/Takwil).

Naql dipahami dengan aql, karena aql bisa keliru, dicek lagi dengan naql begitu seterusnya. Persis ketika kita membaca maknanya kita bisa simpulkan dari konteks kalimat tetapi untuk mendapatkan terjemahan yang pas, kita cek kesimpulan kita dengan membuka kamus, makna kamus pun pada gilirannya akan kita pahami dengan pas dalam konteks kalimat, begitu prosesnya terus menerus.

Dalam sebuah konfrensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ilmuwan ditanya mengenai sebab kemunduran Sains di wilayah ini. Prof. Osman mengatakan bahwa permusuhan terhadap filsafat di negara Islam selama beberapa abad menjadi sebab utama persoalan ini.

Manusia modern mengalami kehampaan spritual, krisis makna, legitimasi hidup serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan terhadap dirinya sendiri. Seyyed Hossein Nasr dalam the Plight of Modern Man mengatakan bahwa krisis eksistensial berawal dari pemberontakan manusia modern terhadap Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan masa depan seperti yang dijanjikan Renaisans.

Dalam sebuah wawancara, Haidar Bagir menjelaskan bahwa dalam berbicara ekonomi yang ideal itu apakah kapitalistik atau sosialistik atau yang bersifat lain, mau tidak mau kita diskusi defenisi tentang keadilan. Ketika membedah politik. apakah yang bagus itu demokrasi atau otoritarianisme maka mesti kita diskusi tentang tujuan politik itu apa?

Tentang Mazhab. Imam Syafii secara luas diriwayatkan pernah berkata, "pendapatku benar, namun sangat potensial keliru sementara pendapat orang selainku keliru namun sangat mungkin benar." di lain waktu  Beliau berkata "jika suatu Hadist itu sahih,  maka itulah mazhabku."

Pada prinsipnya setiap perbuatan bersifat netral nilai. Tindakan baikdan buruk dinilai berbeda bergantung pada penerapannya. Mencuri bisa dinilai terlarang tetapi bisa juga sunnah bahkan wajib. Ibn Hazn al-Zhahiri dalam bukunya yang berjudul al-Muhalla pernah mengatakan bahwa seorang pencuri yang mengambil harta dari seorang kaya dikarenakan haknya tidak diberikan kemudian tertangkap dan terbunuh,maka dipercaya mati syahid.

Tentang fenomena Sunni-Syiah. ada dua sebab yang memperkeruh konflik antara Sunni-Syiah. Pertama, sejak revolusi Iran, ada sekelompok di dalam negeri Iran yang ingin mengekspor Revolusi Islam ke negara lain. Kedua, ada ketakukan dari negara teluk monarki kalau revolusi yang terjadi di Iran akan merembet ke negara mereka. Harus diingat bahwa Iran menjadi negara Islam bukan karena revolusi tetapi lewat referendum.

Di masing-masing kubu Sunni-Syiah, ada kelompok ekstrim, mereka inilah yang memanas-manasi keadaan akibatnya timbul ketegangan yang terus menguat.

Tentang pembahasan Kafir.

Abu Sufyan tetap bertahan dengan agama arab jahiliah bukan karena percaya dan mengimaninya sebagai sebuah kebenaran, namun lebih karena sistem purba itu menguntungkannya secara politik dan sosial. Doktrin Islam terkait reformasi sosial yang memberatkan orang semacam Abu Sufyan untuk memeluk Islam bukan soal pengakuan dan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, artinya faktor ekonomi dan politik bukan faktor teologis yang menjadi dasar penyangkalan terhadap Islam.

Sebuah perkataan Nabi Ibrahim seperti yang disitir Al-Qur'an, kebencian dan permusuhan diarahkan kepada sifat/perbuatan buruk orang, bukan kepada orang/pelakunya sendiri (QS. Mumtahanah 60:4).

Beragama, betapa pun melibatkan fisik dalam menjalankan ritual-ritualnya, adalah urusan "rumah", urusan hati yang ada di dalam diri. urusan rohani. Ritual, seberapa pun pentingnya dalam kehidupan beragama, adalah simbol. baik agama maupun politik dan hukum, kesemuanya itu dimaksudkan untuk membantu manusia agar dapat meraih kehidupan yang baik/bahagia.

Ketika ditanya tentang apakah beliau Syiah atau Sunni, inilah jawabannya. "Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga."


5 3 18

 

February 28, 2018

Auditor dan Jurnalis

Ada banyak bidang kerja yang butuh ketekunan ekstra untuk mendapatkan hasil. Mulai dari hal remeh temeh sebelum memasuki ruang yang lebih besar. Jika pola kerja seperti itu tidak dilaksanakan maka hasilnya akan mengecewakan bahkan tergolong gagal.

Menjadi seorang Jurnalis adalah mengenai pekerjaan verifikasi. Harus ada bukti rinci dari setiap berita yang akan diangkat ke permukaan. Bahkan seharusnya dari sumber primer. Kemajuan teknologi saat ini bukan memudahkan cara kerja seorang Jurnalis namun malah sebaliknya, semakin memberikan tantangan bagi para Jurnalis yang seaungguhnya untuk memberitakan sesuatu fenomena yang benar-benar sudah diverifikasi kebenarannya. Kebanyakaan saat ini, berita yang kita konsumsi hanya dari sumber kesekian bahkan mungkin menggunakan metode googling.

Kemudian bidang kerja audit. Pekerjaan ini juga adalah bidang yang paling menyenangkan karena butuh ketekunan yang lebih untuk memverifikasi data temuan. Auditor yang gagal bukanlah Auditor yang kurang pintar namun auditor gagal adalah mereka yang gagal menguatkan ketekunan dalam mempelajari suatu kasus. Mulai dari temuan, mempelajari pola kasus, memverifikasi ke pihak terkait, menemukan bukti valid sebagai penunjang sebelum akhirnya menyimpulkan suatu kasus yang sedang dikerjakan. 

Saya yang sudah lebih dari setahun di divisi audit benar-benar menyadari bahwa pekerjaan seperti ini tidak akan pernah berhasil untuk orang yang gampang bosan dan tidak menyukai sesuatu yang remeh temeh. 

Auditor dan Jurnalis memiliki pola kerja yang hampir sama.

28 2 18

January 30, 2018

OTS #10

Perjalanan kali ini terasa spesial. pertama  kalinya menjejak langkah di tanah paling timur negeri ini. Tanah bagi mereka yang sering "dianggap" primitif oleh mereka yang sok modern, pun sering mengalami diskriminasi dari banyak faktor.

Perjalanan yang cukup melelahkan dari Cengkareng ke Sentani. Enam jam lamanya berkutat dengan rapalan doa di atas Pesawat yang menantang cuaca ekstrim. Tak henti-hentinya mulut melafalkan doa untuk keselamatan.

Jam 11.55 tengah malam, Pesawat Batik mulai menerbangkan kami ke udara menuju pulau paling Timur. Angin malam seakan menusuk sekujur tubuh menambah kebekuan malam.

Sejam, dua jam perjalanan masih mulus dilalui. Pesawat seakan tidak mengalami hambatan berarti. Namun menjelang daerah tujuan, beberapa kali pemberitahuan dari pihak Pesawat untuk mengencangkan safety belt. Pesawat bergoyang layaknya mobil yang sedang berjalan di atas jalanan berlubang. Cuaca di luar berkabut. Saya mencoba untuk memejamkan mata dan meyakinkan diri bahwa semesta menjaga Pesawat yang sedang melaju.

Akhirnya saat pagi sudah mulai menua, tanah pulau itu sudah nampak. Cuaca juga sepertinya bersahabat. Saat pesawat akan mendarat, hamparan bukit, hutan dan danau menyambut. Lumayan mengobati perjalanan yang melelahkan. Pesawat mendarat dengan mulus.

Jarak bandara menuju pusat ibukota provinsi masih ditempuh sejam lamanya. Jalanan berkelok mengikuti lereng gunung di samping kiri dan danau di samping kanan.

Menjelang siang, akhirnya tiba di pusat kota. Ada yang aneh karena saya jarang menjumpai suku asli di pulau ini. Bahkan saya seperti pulang kampung karena pusat kota dipenuhi perantau dari daerah asalku.

Seminggu di kota ini. Saya tidak banyak menjelajah ke beberapa spot yang indah. Meski begitu lumayan mengikis inginku untuk melihat luasnya negeri ini.

Oh iya, di kota ini, sangat umum menjumpai pedagang pinang dan di sepanjang tempat, kita seringkali melihat bekas pinang yang tersebar di mana-mana.

Semoga ada kesempatan di lain waktu untuk kembali menuntaskan keinginan menapaki banyak tempat yang belum disinggahi.

30 1 18

December 31, 2017

Sensasi ikut Lomba Menulis (2)

Masih terngiang dengan jelas sensasi di kepalaku ketika namaku disebut oleh panitia sebagai Juara I lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Perusahaan tempatku bekerja dalam rangka memperingati HUT yang ke-50 tahun. 

Meski pada periode sebelumnya, saya juga mampu keluar sebagai juara III namun periode tahun ini lebih spesial karena disamping juara I, lomba tahun ini juga diikuti oleh seluruh karyawan Perusahaan tempatku bekerja se-Indonesia, sedangkan lomba tahun lalu hanya diikuti oleh seluruh karyawan se-Jabodetabek.

Ada yang lucu karena pada tahun lalu, lomba diadakan tidak terlalu meriah dan hanya diikuti segelintir Karyawan namun hadianya lebih besar dari tahun ini yang melibatkan seluruh karyawan seluruh Indonesia, namun sekali lagi, ini bukan masalah hadiah, ini tentang kepuasan batin atas impian kecil bisa mempublikasikan karya.

Paling tidak, pengalaman tersebut melecut semangatku bahwa ada sedikit harapan untuk bisa lebih baik dan lebih keras lagi belajar menulis. Tidak untuk dipamerkan namun demi menjaga diri tetap berkarya atas setiap kesempatan yang ada.

#latepost 31 12 17. Lombanya 8 12 17

Harapan

Salah satu tulisan absurd yang selalu kuulangi di setiap akhir tahun adalah ikut arus menulis semacam resolusi. Namun entah kenapa, semakin saya sadari bahwa hal itu sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa ketika tidak ada tekad yang kuat dalam mewujudkan apa yang diimpikan, semakin saya keranjingan membuat list apa saja yang kuinginkan.

Momen akhir tahun 2017 kali ini kembali memaksaku menulis apa yang ingin kugapai di tahun 2018.

Sebelumnya saya membaca ulang tulisan semacam ini tahun lalu namun ternyata tidak ada yang terwujud. Atau mungkin juga Tuhan merealisasikannya dalam bentuk yang lain, entah seperti apa. Ada juga yang hampir tergapai namun kembali memudar. 

Saya berharap, tahun 2018 lebih sedikit bersahabat meski pada dasarnya, setiap waktu baik hanya manusia yang menyia-nyiakannya.

Tahun 2018, saya membayangkan bekerja di tempat kerja yang baru nan settle di hatiku. Bekerja yang sesuai dengan passion dan misi yang diembankan oleh Allah Swt. Tidak lagi bekerja pada bidang finance yang masih debatable hukumnya secara fiqih Islam. 

Bekerja di kota di Jawa Timur atau mungkin Jawa Tengah. Menetap dan membeli rumah tempat berteduh anak isteri dan keluarga lainnya.

Lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara dan mengukur setiap kata yang dilisankan. Lebih banyak membaca dan menulis yang sistematis dan berbobot.

Lebih intens mengunjungi orang tua di kampung. Anak Isteri beserta keluarga dalam keadaan sehat lahir batin. 

Cilandak. 31 12 17.  21.27

December 29, 2017

Peralihan

Saya sudah melewati usia 20-an dan memasui gerbang usia 30-an. Perjalanan waktu yang tidak disadari tiba-tiba sudah berada pada angka yang lumayan banyak. Hampir setengah dari usia Nabi Muhammad.

Sedikit gemetaran menyadari bahwa sudah begitu panjang perjalanan yang saya lewati namun kualitas diri belum juga berada pada level yang memuaskan. Hidup masih terombang-ambing oleh angan yang tak berujung bahkan ketika orang seusiaku sudah berada pada jalur passionnya untuk menjalani hidup, saya masih saja terus meraba jalan.

Malu. Rasa yang terkadang muncul saat menyadari kehidupan saya yang tidak beranjak ke tingkatan yang lebih baik. 

Tiga tahun di awal usia 20an saya habiskan sebagai Mahasiswa. Masa yang menurutku sangat berkesan meski meninggalkan penyesalan atas banyaknya kesempatan belajar yang kulewatkan pada masa itu. 

Dua tahun berikutnya, saya habiskan sebagai pengangguran yang tak tahu arah. Kemana kaki melangkah, maka diri ikut layaknya layang-layang yang nurut pada sang empunya. Dua tahun yang benar-benar terbuang sia-sia. 

Pertengahan usia 20an, saya mulai memasuki dunia kerja. Dunia yang kemudian menghanyutkanku pada rutinitas harian. Pagi berangkat dari kos ke kantor, pulang menjelang senja kemudian libur pada saat weekend lalu menerima gaji bulanan pada setiap akhir bulan. 

Akhirnya terjebak dalam dunia ini dan terjun bebas dalam arusnya yang deras. Menghantam idealisme, kepedulian dan rasa sosial yang hanya menyisahkan pikiran tentang besarnya gaji atau berapa bonus yang akan diterima. 

Di awal usia 30an, saya nampaknya mulai menyederhanakan impian. Angan tidak harus dilambungkan jauh ke langit namun sekedar mencari apa yang membuat hati tetap tenang dan berada pada koridornya. 

Anak dan isteri mungkin salah satu faktor yang membuatku berfikir bahwa hidup hanyalah tentang bagaimana mengasihi tanpa harus berusaha mengejar semua impian pada titik batas nilai kemanusian. 

Di awal usia yang sudah mulai menua, saya hanya berharap tetap sehat lahir batin dalam menemani anak isteri menjalani hari, mampu memberikan kebutuhan primer kepada mereka dan punya tempat layak untuk dihuni, sebagai tempat istirahat dan bercengkerama. Tempat segala hal untuk memulai hal-hal baik. 

Untuk selanjutnya, menetap di sebuah kota di luar keruwetan ibu kota. Bekerja pada tempat yang tidak mengganggu prinsip nurani. 

Ah, awal usia tua ini memang berat. Di kala mereka sudah mapan di usia seperti ini, saya bahkan harus memulai dari nol untuk banyak hal. Untuk hal-hal duniawi maupun nutrisi rohani yang mulai kosong dihantam angan-angan.

Begitulah peralihan angka dari 20 ke 30

29 12 17

December 23, 2017

Ibu

Entah kata apa lagi yang harus kuucap untuk menumpahkan rindu. Bahasa seperti bagaimana lagi yang harus kulisankan untuk menceritakan cintaku padanya.

Ibu, selalu saja sentimental ketika menulis tentangnya. Apa saja yang kuceritakan akan membuatku merindunya.

Saya bukanlah orang yang ikut-ikutan merayakan momen yang dikenal sebagai hari ibu namun setidaknya, momen ini mengingatkanku bahwa saya punya alasan untuk menuliskan lagi kata-kata untuknya.

Salah seorang guruku semasa SMA sangat dekat denganku bahkan ketika saya sudah tamat, kami masih sering komunikasi.

Nah si guru tersebut saban senin dan kamis sering ke pasar membeli keperluan dapur. Ibuku yang notabene penjual jajanan pasar sering melihatnya dan memberikan jualannya secara gratis kepada guruku karena ibuku tahu bahwa guru tersebut dekat dengan saya.

Begitu pedulinya ibu terhadapku bahkan orang-orang yang dekat denganku akan dimuliakan oleh ibu.

Selamat hari ibu. Semoga sehat lahir batin selalu ya bu. Umur yang berkah dan suatu saat bisa berkunjung ke tanah Mekah.

23 12 17

November 24, 2017

Panggung Terakhir untuk Si Tiang Gawang

Meskipun anda terlalu banyak berjasa bagi klub yang paling tidak keren di jagad sepakbola Italia atau bahkan dunia, klub dari Turin, Juventus, namun tidak lantas membuat saya membenci anda karena bagaimanapun, anda sudah banyak berjasa juga bagi Timnas Italia yang merupakan timnas andalanku di setiap edisi World Cup dan Euro Cup.

Bung Gigi,
Anda menjelaskan kepada dunia bahwa umur hanya sebuah hitungan angka yang sama sekali tidak ada korelasinya dengan kemampuan di lapangan. Usia yang sudah menjelang senja tidak lantas membuat anda begitu saja menyerah dan melemparkan kaos tangan pertanda undur diri bahkan libido bermainmu semakin bergairah. Siapa yang tidak kagum pada ketangguhanmu selain mereka yang tidak menyukaimu.

Barangkali akan banyak yang sinis bahwa kemampuanmu bertahan di level atas sepak bola dunia di usia 39 tahun karena posisimu yang hanya sebagai penjaga gawang. Mereka lupa bahwa penjaga gawang bukan berarti tidak menguras tenaga malah lebih dari sekedar fisik, penjaga gawang penuh dengan tekanan mental ketika timnya dibobol sehingga butuh konsentrasi penuh selama 90 menit pertandingan.

Bung Gigi,
Kesedihanku begitu besar melihatmu gagal membawa Italia lolos ke turnamen piala dunia. Sebuah kegagalan yang menyedihkan seluruh warga Italia bahkan sebagian besar pencinta sepak bola di seluruh dunia. Benar bahwa anda tidak kebobolan saat pertandingan play off di San siro melawan Swedia namun kekalahan pertandingan di leg I membuatmu harus mengubur mimpi berlaga piala dunia yang terakhir kalinya. 

Rencanamu buyar untuk pensiun setelah piala dunia. menurutku, biang kerok paling empuk untuk disalahkan pada kegagalan Italia adalah sang juru taktik, Giampiero Ventura. Sudah banyak ulasan dari banyak kalangan bahwa doi memang sama sekali tidak pantas melatih Italia.

Bung, 
Timnas Italia sekarang memang tidak sementereng Timnas Italia 2006 yang kala itu menjuarai piala dunia. Maka sedikit wajar menyadari kenyataan bahwa Italia mungkin memang tidak pantas untuk berlaga di piala dunia 2018. Anda sudah tidak didukung oleh dua bek tanggung, Cannavaro dan Nesta. Tidak ada lagi seniman lapangan tengah, Andrea Pirlo dengan muka datar yang mampu membius penonton saat menguasai bola. Tidak ada lagi penyerang sekelas Vieri dengan tubuh kekar mampu melepaskan tendangan keras dan sundulan yang akurat.  

Bung Gigi,
Sekedar saran dari saya sebagai penggemar Timnas Italia dan klub Inter Milan. Lebih baik anda pensiun karena Timnas Italia tidak berlaga di piala dunia. Jika karena alasan ingin membawa Juventus juara Champion sebelum memutuskan pensiun, saya kira anda lebih baik mengubur mimpi tersebut. Juventus hanya sebuah klub receh di hadapan para jagoan tim Eropa. 

Lagian, sampai sekarang kenapa anda bisa-bisanya bermain untuk klub yang jerseynya mirip marka jalan. Kalau mau tahu yang bung, Juventus itu sama sekali tidak ada keren-kerennya sedikit pun. 

Satu lagi pesanku ya bung sebelum anda menyesal. Lebih baik pensiun sekarang karena Juventus tidak pernah menghargai pemain yang sudah loyal bermain untuk klub tersebut. Anda ingat kan bagaimana Juventus memperlakukan Del Piero dengan sangat tidak elegan. Istilahnya habis manis sepah dibuang.

Coba bandingkan dengan klub paling keren, Inter Milan. Javier Zanetti sangat dihormati di sana sebagai salah satu legenda bahkan setelah menyatakan pensiun. Dia diberikan posisi strategi di jajaran pengurus klub. Keren kan bung. Ah sayang sekali dulu anda tidak memilih Inter Milan sebagai klub yang pantas dibela.

Sudah dulu yang bung. Coba direnungkan saran saya untuk cepat-cepat pensiun daripada menghabiskan tenaga hanya sekedar menjaga gawang Juventus dari kebobolan. biarkan saja Juventus dibobol, gawangnya tidak perlu dijaga.

24 11 17