June 14, 2018
Random tentang Ramadan
April 30, 2018
Sesal
March 28, 2018
OTS #11
March 26, 2018
Gagal
Nah, saya terjebak dalam sebuah lingkup pekerjaan yang menurutku bertentangan dengan apa yang sudah kupelajari. pekerjaan yang masih debatable secara hukum sharia, apakah masuk dalam kategori haram atau halal meski pada kenyataannnya, mayoritas ulama menganggapnya haram dan sebagian menghalalkan dengan beberapa catatan dalam hal ini, jika mau ambil jalan tengahnya, berarti jenis pekerjaan ini syubhat, hal yang seharusnya kutinggalkan. mungkin hanya satu hal yang membuatku bertahan adalah nasehat dari salah seorang guruku yang menyarankan untuk tidak gegabah, tetap bertahan sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena lebih dzalim jika saya keluar dan tidak mampu memberi nafkah kepada keluarga.
kedua, saya pernah belajar tentang varian ilmu ekonomi yang seharusnya dijalani. mungkin sedikit geli mengatakan tentang sistem ekonomi yang adil dan tidak semata berpatron pada profit namun lebih luas berguna bagi masyarakat. namun apa yang kujalani sekarang alih-alih untuk masyarakat, semua hanya untuk profit yang menguntungkan Perusahaan. bahkan terkadang banyak hal yang menurutku memang sepantasnya saya harus mencari pekerjaan yang lebih menentramkan hati.
Saya menghabiskan sebagian besar waktuku memikirkan hal ini bahkan benar-benar bekerja hanya menggugurkan kewajiban. pikiranku benar-benar sudah mentok pada strategi apa yang harus kulakukan untuk melepaskan diri dari penjara pikiran, rasa bersalah atas nurani dan hal semacamnya yang sifatnya tak bisa diindrawi.
Saya memutar memoriku ke tahun-tahun yang sudah berlalu.entah kenapa, setiap pekerjaan yang memang kuidamkan begitu sulit kuraih dan selalu saja keadaan sepertinya menarikku masuk dalam ruang yang tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan namun hanya demi kebutuhan perut, hal tersebut tetap kujalani meski demikian isi kepala berontak.
atau kah saya yang tidak bersetia pada nurani? melawan bisikan nurani demi sebuah prestise. merasa mampu menjadi diri sendiri dan menafkahi orang lain. menganggap bahwa hal tersebut bisa dikompromikan meski ternyata berakhir dengan ironi. hidup sungguh tidak menyenangkan dan tidak membanggakan apa yang sedang dijalani. harus bersusah payah untuk tetap bersembunyi dari keadaan bahkan lebih parah jika harus selalu berdusta demi sebuah prestise.
entahlah, satu hal yang pasti bahwa saya akan tetap berusaha untuk melangkahkan kaki menjauh dari tempat yang tidak membuat nuraniku tidur nyenyak, dan lebih cepat mungkin lebih baik namun dengan pertimbangan yang matang dan tetap punya pegangan untuk memberi nafkah keluargaku.
kapan? sekali lagi entah kapan, biarkan tangan Sang Pemilik Semesta yang bekerja.
26 3 18
March 5, 2018
Islam Tuhan, Islam Manusia
Judul: Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 20
Tebal: 288
Haidar Bagir adalah salah seorang cendikiawan muslim di Indonesia yang
tidak perlu diragukan lagi kedalaman ilmunya dan juga tebaran pengetahuan yang
beliau pupuk selama ini. Selain mengurus sebuah penerbitan beliau juga sibuk
mengelolah yayasan pendidikan, dimana salah seorang kawan saya mengajar di
salah satu sekolahnya.
Tak terkira berapa buku yang sudah dihasilkan dari olah pikirnya salah satunya buku "Islam Tuhan Islam Manusia." bagian belakang buku ini dihiasi testimoni orang-orang besar di negeri ini. K.H Ahmad Mustofa Bisri, Goenawan Muhammad, Mochtar Pabottingi dan Franz Magnis-Suseno.
Pada bagian awal buku ini pada tulisan "Aku dan Islamku" Haidar Bagir menjelaskan dengan runut seperti apa beliau mengenali dirinya terlepas dari tudingan-tudingan orang yang tidak bersepakat dengannya. Entah berapa kali beliau mengklarifikasi secara langsung maupun tidak langsung atas tuduhan bahwa dirinya penganut Syiah namun klarifikasi tersebut tidak menyurutkan tuduhan dari orang-orang yang tidak bersepakat dengan dirinya.
Beliau meyakini bahwa akal ada anugerah Tuhan meski di lain sisi, beliau juga menyadari bahwa akal memiliki keterbatasannya sendiri. Dalam pencarian opini yang benar, fokusnya terletak pada kebenaran bukan pada popularitas. Sebelum mengkritik, kita harus memahami pendapat yang akan kita kritik seperti pemahaman penganutnya. Beliau melakukan pendekatan terhadap teks Al-Qur'an, sunnah dan tradisi Islam bersifat hermeneutika. Meski di lain sisi, beliau percaya bahwa pendekatan hermenutika memiliki jebakan-jebakannya tersendiri.
Isi buku ini sendiri terbagi ke dalam 5 bagian: Masalah, "Islam di
zaman kacau. Khazanah Pemikiran Islam. Pendekatan, "Dialog Intra
Islam". Pendekatan, " Dialog Islam, Budaya dan Peradaban".dan
Solusi, "Islam,Cinta dan Spritualitas".
Pada bagian pertama, beliau mengelaborasi tentang masalah yang sedang dihadapi umat Islam secara spesifik. Tentang radikalisme, asal usul takfirisme dan negara yang disebutnya sebagai tuna budaya.
Saya akan menuliskan ulang beberapa inti pemikiran beliau dari setiap lembar tulisannya yang dijelaskan secara runut di buku ini.
Budaya adalah soal menjadi manusia secara komprehensif. Manusia spritual, bermoral, berestetika, sadar dan berpikir.berakar dari concern kemanusiaan paling dalam sebagai pengejawantahan dari Ketuhanan yang cirinya memiliki fitrah cinta kebenaran, kebaikan dan keindahan. Selain dari hal tersebut adalah antibudaya. Negara ini sudah lama menanggalkan budayanya dan menjadi santapan hegemoni ekonomi, komersialisasi cukong kapital besar berkolaborasi dengan politik busuk untuk menyerap seluruh saripati negara ini tanpa sisa. Meski demikian, budaya juga tidak seharusnya statis tetapi harus berkembang secara organis. Peran Pemerintah dalam revitalisasi kesadaran kolektif bangsa dalam meletakkan budaya sebagai persemaian seluruh aspek kehidupan.
"Information spill over" telah membuat orang mengalami diorientasi. Terlalu banyak informasi justru membuat orang kebingungan, hilangnya kedalaman dan lahirnya generasi baru pengguna internet, "orang-orang dangkal" (The shallows) menuruut Nicholas Carr. Orang-orang yang terbiasa menyantap informasi instan tanpa kedalaman.
Situasi yang mengkhawatirkan ini masih ditambah dengan perilaku tidak kritis masyarakat yang dengan mudahnya menggandakan dan menyebarluaskan apa saja yang dibacanya, ke ruang publik baik via WA, Twitter, Facebook dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, sebagian media mendasarkan informasi dari sumber yang tidak dipertanggungjawabkan ini.
Keberlimpahan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya dianggap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup, justru meninggalkan kehampaan psikologis dan spritual karena hanya menegaskan kenyataan bahwa setelah semua keberlimpahan itu tercapai, kebahagiaan hidup tidak ditemukan di sana.
Maka menjadi tugas para agamawan dan pemikir keagamaan moderat untuk menawarkan suatu paham atau penafsiran keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit kaum fundamentalis dan radikal. Haidar Bagir merasa bahwa sejenis pemahaman keagamaan yang bersifat mistik (sufistik) merupakan alternatif paling efektif.
Mengenai Hermeneutika, Haidar Bagir mengutip pemikiran Friederich Schleimermacher yang mengandung dua langkah. Pertama, pemahaman teks melalui penguasaan aturan-aturan sintaksis bahasa komunitas si pengarang. kedua, penangkapan muatan emosianal dan batiniah pengarang secara intuinitif dengan jalan menempatkan diri subjek dalam benak pengarang.
Tentang Takwil, Haidar Bagir mengutip pahaman Ibn' Arabi dalam futuhat menyatakan bahwa "sesungguhnya setiap orang punya akses kepada pemahaman atas teks Al-Qur'an selama bersifat terbuka, tulus yakni dengan pemikiran sehat dan hati bersih yang tak tercampuri nafsu. Baik pemahaman yang bersifat 'ardhi (horizontal/tafsir) maupun thuli (Vertikal/Takwil).
Naql dipahami dengan aql, karena aql bisa keliru, dicek lagi dengan naql begitu seterusnya. Persis ketika kita membaca maknanya kita bisa simpulkan dari konteks kalimat tetapi untuk mendapatkan terjemahan yang pas, kita cek kesimpulan kita dengan membuka kamus, makna kamus pun pada gilirannya akan kita pahami dengan pas dalam konteks kalimat, begitu prosesnya terus menerus.
Dalam sebuah konfrensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ilmuwan ditanya mengenai sebab kemunduran Sains di wilayah ini. Prof. Osman mengatakan bahwa permusuhan terhadap filsafat di negara Islam selama beberapa abad menjadi sebab utama persoalan ini.
Manusia modern mengalami kehampaan spritual, krisis makna, legitimasi hidup serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan terhadap dirinya sendiri. Seyyed Hossein Nasr dalam the Plight of Modern Man mengatakan bahwa krisis eksistensial berawal dari pemberontakan manusia modern terhadap Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan masa depan seperti yang dijanjikan Renaisans.
Dalam sebuah wawancara, Haidar Bagir menjelaskan bahwa dalam berbicara ekonomi yang ideal itu apakah kapitalistik atau sosialistik atau yang bersifat lain, mau tidak mau kita diskusi defenisi tentang keadilan. Ketika membedah politik. apakah yang bagus itu demokrasi atau otoritarianisme maka mesti kita diskusi tentang tujuan politik itu apa?
Tentang Mazhab. Imam Syafii secara luas diriwayatkan pernah berkata, "pendapatku benar, namun sangat potensial keliru sementara pendapat orang selainku keliru namun sangat mungkin benar." di lain waktu Beliau berkata "jika suatu Hadist itu sahih, maka itulah mazhabku."
Pada prinsipnya setiap perbuatan bersifat netral nilai. Tindakan baikdan buruk dinilai berbeda bergantung pada penerapannya. Mencuri bisa dinilai terlarang tetapi bisa juga sunnah bahkan wajib. Ibn Hazn al-Zhahiri dalam bukunya yang berjudul al-Muhalla pernah mengatakan bahwa seorang pencuri yang mengambil harta dari seorang kaya dikarenakan haknya tidak diberikan kemudian tertangkap dan terbunuh,maka dipercaya mati syahid.
Tentang fenomena Sunni-Syiah. ada dua sebab yang memperkeruh konflik antara Sunni-Syiah. Pertama, sejak revolusi Iran, ada sekelompok di dalam negeri Iran yang ingin mengekspor Revolusi Islam ke negara lain. Kedua, ada ketakukan dari negara teluk monarki kalau revolusi yang terjadi di Iran akan merembet ke negara mereka. Harus diingat bahwa Iran menjadi negara Islam bukan karena revolusi tetapi lewat referendum.
Di masing-masing kubu Sunni-Syiah, ada kelompok ekstrim, mereka inilah yang memanas-manasi keadaan akibatnya timbul ketegangan yang terus menguat.
Tentang pembahasan Kafir.
Abu Sufyan tetap bertahan dengan agama arab jahiliah bukan karena percaya
dan mengimaninya sebagai sebuah kebenaran, namun lebih karena sistem purba itu
menguntungkannya secara politik dan sosial. Doktrin Islam terkait reformasi
sosial yang memberatkan orang semacam Abu Sufyan untuk memeluk Islam bukan soal
pengakuan dan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, artinya faktor ekonomi
dan politik bukan faktor teologis yang menjadi dasar penyangkalan terhadap
Islam.
Sebuah perkataan Nabi Ibrahim seperti yang disitir Al-Qur'an, kebencian dan permusuhan diarahkan kepada sifat/perbuatan buruk orang, bukan kepada orang/pelakunya sendiri (QS. Mumtahanah 60:4).
Beragama, betapa pun melibatkan fisik dalam menjalankan ritual-ritualnya, adalah urusan "rumah", urusan hati yang ada di dalam diri. urusan rohani. Ritual, seberapa pun pentingnya dalam kehidupan beragama, adalah simbol. baik agama maupun politik dan hukum, kesemuanya itu dimaksudkan untuk membantu manusia agar dapat meraih kehidupan yang baik/bahagia.
Ketika ditanya tentang apakah beliau Syiah atau Sunni, inilah jawabannya. "Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga."
5 3 18
February 28, 2018
Auditor dan Jurnalis
January 30, 2018
OTS #10
Akhirnya saat pagi sudah mulai menua, tanah pulau itu sudah nampak. Cuaca juga sepertinya bersahabat. Saat pesawat akan mendarat, hamparan bukit, hutan dan danau menyambut. Lumayan mengobati perjalanan yang melelahkan. Pesawat mendarat dengan mulus.
Jarak bandara menuju pusat ibukota provinsi masih ditempuh sejam lamanya. Jalanan berkelok mengikuti lereng gunung di samping kiri dan danau di samping kanan.
Menjelang siang, akhirnya tiba di pusat kota. Ada yang aneh karena saya jarang menjumpai suku asli di pulau ini. Bahkan saya seperti pulang kampung karena pusat kota dipenuhi perantau dari daerah asalku.
Seminggu di kota ini. Saya tidak banyak menjelajah ke beberapa spot yang indah. Meski begitu lumayan mengikis inginku untuk melihat luasnya negeri ini.
Oh iya, di kota ini, sangat umum menjumpai pedagang pinang dan di sepanjang tempat, kita seringkali melihat bekas pinang yang tersebar di mana-mana.
Semoga ada kesempatan di lain waktu untuk kembali menuntaskan keinginan menapaki banyak tempat yang belum disinggahi.
30 1 18
December 31, 2017
Sensasi ikut Lomba Menulis (2)
Paling tidak, pengalaman tersebut melecut semangatku bahwa ada sedikit harapan untuk bisa lebih baik dan lebih keras lagi belajar menulis. Tidak untuk dipamerkan namun demi menjaga diri tetap berkarya atas setiap kesempatan yang ada.
#latepost 31 12 17. Lombanya 8 12 17
Harapan
December 29, 2017
Peralihan
December 23, 2017
Ibu
Ibu, selalu saja sentimental ketika menulis tentangnya. Apa saja yang kuceritakan akan membuatku merindunya.
Saya bukanlah orang yang ikut-ikutan merayakan momen yang dikenal sebagai hari ibu namun setidaknya, momen ini mengingatkanku bahwa saya punya alasan untuk menuliskan lagi kata-kata untuknya.
Salah seorang guruku semasa SMA sangat dekat denganku bahkan ketika saya sudah tamat, kami masih sering komunikasi.
Nah si guru tersebut saban senin dan kamis sering ke pasar membeli keperluan dapur. Ibuku yang notabene penjual jajanan pasar sering melihatnya dan memberikan jualannya secara gratis kepada guruku karena ibuku tahu bahwa guru tersebut dekat dengan saya.
Begitu pedulinya ibu terhadapku bahkan orang-orang yang dekat denganku akan dimuliakan oleh ibu.
Selamat hari ibu. Semoga sehat lahir batin selalu ya bu. Umur yang berkah dan suatu saat bisa berkunjung ke tanah Mekah.
23 12 17
November 24, 2017
Panggung Terakhir untuk Si Tiang Gawang
November 21, 2017
Tentang "Makes" dan Dinamika Perjalanannya
Tahun berikutnya ketika saya berhasil lulus masuk PTN di Makassar, saya selalu menyempatkan waktu untuk datang belajar di Makes. saya bahkan menjadi salah satu pengurus sejak tahun 2007 sampai 2011 dengan berbagai posisi yang berbeda. di tahun awal saya bergabung, sangat terasa iklim akademis yang terbentuk di lembaga tersebut. kajian bahasa inggris yang menjadi spirit awal ikut menjadi member kemudian hanya menjadi second spirit karena saya lebih bergairah mengikuti diskusi-diskusi rutin yang dilakukan dalam menambah wacana member Makes.
Dari sekian senior yang sering kujadikan referensi, sampai saat ini, hanya satu senior yang masih intens berinteraksi denganku dan beberapa hal prinsip yang membuatku harus meminta saran kepadanya sebelum memutuskan. Terakhir kali bertemu beliau di Jakarta dan memberiku banyak pesan tentang kegundahanku selama ini.
Warna Makes sering berubah tergantung bagaimana pengurus yang menjalankannya. Satu waktu Makes berubah menjadi forum kajian yang disiplin namun di lain waktu fokusnya hanya terkait wacana belajar bahasa inggris, sekali lagi tergantung mereka yang sedang menakhodai Makes.
Saya pun sudah melihat banyak friksi antar individu dalam tubuh Makes, dari yang mulai debat mulut sampai pada yang hampir kontak fisik. Perbedaan muncul lebih pada cara pandang yang berbeda dan tidak bisa diselesaikan dengan bijaksana.
Bulan Agustus lalu, saya seminggu tugas di Makassar membuat Saya punya tiga kali kesempatan mengunjungi lembaga Makes. organisasi yang sering dianggap punya daya tarik bagi Para Mahasiswa Makassar atau siapapun yang punya hasrat diskusi yang tinggi dengan menggunakan kanal bahasa Inggris.
