December 23, 2017

Ibu

Entah kata apa lagi yang harus kuucap untuk menumpahkan rindu. Bahasa seperti bagaimana lagi yang harus kulisankan untuk menceritakan cintaku padanya.

Ibu, selalu saja sentimental ketika menulis tentangnya. Apa saja yang kuceritakan akan membuatku merindunya.

Saya bukanlah orang yang ikut-ikutan merayakan momen yang dikenal sebagai hari ibu namun setidaknya, momen ini mengingatkanku bahwa saya punya alasan untuk menuliskan lagi kata-kata untuknya.

Salah seorang guruku semasa SMA sangat dekat denganku bahkan ketika saya sudah tamat, kami masih sering komunikasi.

Nah si guru tersebut saban senin dan kamis sering ke pasar membeli keperluan dapur. Ibuku yang notabene penjual jajanan pasar sering melihatnya dan memberikan jualannya secara gratis kepada guruku karena ibuku tahu bahwa guru tersebut dekat dengan saya.

Begitu pedulinya ibu terhadapku bahkan orang-orang yang dekat denganku akan dimuliakan oleh ibu.

Selamat hari ibu. Semoga sehat lahir batin selalu ya bu. Umur yang berkah dan suatu saat bisa berkunjung ke tanah Mekah.

23 12 17

November 24, 2017

Panggung Terakhir untuk Si Tiang Gawang

Meskipun anda terlalu banyak berjasa bagi klub yang paling tidak keren di jagad sepakbola Italia atau bahkan dunia, klub dari Turin, Juventus, namun tidak lantas membuat saya membenci anda karena bagaimanapun, anda sudah banyak berjasa juga bagi Timnas Italia yang merupakan timnas andalanku di setiap edisi World Cup dan Euro Cup.

Bung Gigi,
Anda menjelaskan kepada dunia bahwa umur hanya sebuah hitungan angka yang sama sekali tidak ada korelasinya dengan kemampuan di lapangan. Usia yang sudah menjelang senja tidak lantas membuat anda begitu saja menyerah dan melemparkan kaos tangan pertanda undur diri bahkan libido bermainmu semakin bergairah. Siapa yang tidak kagum pada ketangguhanmu selain mereka yang tidak menyukaimu.

Barangkali akan banyak yang sinis bahwa kemampuanmu bertahan di level atas sepak bola dunia di usia 39 tahun karena posisimu yang hanya sebagai penjaga gawang. Mereka lupa bahwa penjaga gawang bukan berarti tidak menguras tenaga malah lebih dari sekedar fisik, penjaga gawang penuh dengan tekanan mental ketika timnya dibobol sehingga butuh konsentrasi penuh selama 90 menit pertandingan.

Bung Gigi,
Kesedihanku begitu besar melihatmu gagal membawa Italia lolos ke turnamen piala dunia. Sebuah kegagalan yang menyedihkan seluruh warga Italia bahkan sebagian besar pencinta sepak bola di seluruh dunia. Benar bahwa anda tidak kebobolan saat pertandingan play off di San siro melawan Swedia namun kekalahan pertandingan di leg I membuatmu harus mengubur mimpi berlaga piala dunia yang terakhir kalinya. 

Rencanamu buyar untuk pensiun setelah piala dunia. menurutku, biang kerok paling empuk untuk disalahkan pada kegagalan Italia adalah sang juru taktik, Giampiero Ventura. Sudah banyak ulasan dari banyak kalangan bahwa doi memang sama sekali tidak pantas melatih Italia.

Bung, 
Timnas Italia sekarang memang tidak sementereng Timnas Italia 2006 yang kala itu menjuarai piala dunia. Maka sedikit wajar menyadari kenyataan bahwa Italia mungkin memang tidak pantas untuk berlaga di piala dunia 2018. Anda sudah tidak didukung oleh dua bek tanggung, Cannavaro dan Nesta. Tidak ada lagi seniman lapangan tengah, Andrea Pirlo dengan muka datar yang mampu membius penonton saat menguasai bola. Tidak ada lagi penyerang sekelas Vieri dengan tubuh kekar mampu melepaskan tendangan keras dan sundulan yang akurat.  

Bung Gigi,
Sekedar saran dari saya sebagai penggemar Timnas Italia dan klub Inter Milan. Lebih baik anda pensiun karena Timnas Italia tidak berlaga di piala dunia. Jika karena alasan ingin membawa Juventus juara Champion sebelum memutuskan pensiun, saya kira anda lebih baik mengubur mimpi tersebut. Juventus hanya sebuah klub receh di hadapan para jagoan tim Eropa. 

Lagian, sampai sekarang kenapa anda bisa-bisanya bermain untuk klub yang jerseynya mirip marka jalan. Kalau mau tahu yang bung, Juventus itu sama sekali tidak ada keren-kerennya sedikit pun. 

Satu lagi pesanku ya bung sebelum anda menyesal. Lebih baik pensiun sekarang karena Juventus tidak pernah menghargai pemain yang sudah loyal bermain untuk klub tersebut. Anda ingat kan bagaimana Juventus memperlakukan Del Piero dengan sangat tidak elegan. Istilahnya habis manis sepah dibuang.

Coba bandingkan dengan klub paling keren, Inter Milan. Javier Zanetti sangat dihormati di sana sebagai salah satu legenda bahkan setelah menyatakan pensiun. Dia diberikan posisi strategi di jajaran pengurus klub. Keren kan bung. Ah sayang sekali dulu anda tidak memilih Inter Milan sebagai klub yang pantas dibela.

Sudah dulu yang bung. Coba direnungkan saran saya untuk cepat-cepat pensiun daripada menghabiskan tenaga hanya sekedar menjaga gawang Juventus dari kebobolan. biarkan saja Juventus dibobol, gawangnya tidak perlu dijaga.

24 11 17

November 21, 2017

Tentang "Makes" dan Dinamika Perjalanannya

Saya pertama kali bergabung di lembaga Makes sekitar bulan Januari 2006. bermula ketika saya kursus di lembaga Britania Raya yang berlokasi di Benteng Rotterdam. saya bertemu dengan salah seorang member Makes, kalau saya tidak salah ingat, namanya Kiki. belakang setelah aktif di Makes, saya tidak pernah bertemu dengannya.

Ketika hendak pulang dari Benteng Rotterdam, saya menyempatkan diri duduk di taman Benteng. Kiki duduk di sampingku yang entah bagaimana mulanya, kami bercakap-cakap tentang apa saja tentunya tentang tujuan saya ke Benteng Rotterdam dalam rangka kursus bahasa inggris. mengetahui hal tersebut, Kiki merekomendasikan lembaga Makes sebagai alternatif tempat mengasah kemampuan bahasa inggris. dia menyarankan saya ikut dengan segala informasi detail tentang Makes, tentang waktu meeting, no charge dan suasana dalam meeting. lembaga tersebut berlokasi di teras masjid Al Markaz Makassar.

Berbekal informasi dari Kiki, saya kemudian memberanikan diri ikut di lembaga Makes dan tekad yang kuat untuk belajar bahasa inggris. setibanya di Makes, saya ingat masih ingat Adnan yang pertama kali mengajak ngobrol, belakangan saya akrab dengannya, saya memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa saya ke Makes atas rekomendasi Kiki.

Pada permulaan meeting, member baru disuruh memperkenalkan diri di forum besar dalam bahasa inggris. meski perkenalan hanya seputar hal sederhana tentang diri namun keder juga di tengah orang yang belum dikenal apatahlagi menggunakan bahasa inggris.

Setidaknya kesan pertama saya lalui dengan sukses di Makes. saya punya pertalian yang kuat dan merasa akan betah belajar di tempat tersebut. tempat yang menurutku ideal untuk belajar banyak hal bahkan belajar tentang kehidupan.

Oh iya, rentang waktu tersebut, saya tidak punya kegiatan di Makassar karena pada tes SPMB 2015, saya tidak lulus dan memutuskan untuk mengikuti kursus sambil menunggu tes PT tahun berikutnya. hal tersebut pula yang membuat seringnya intesitas kedatangan saya di Makes.

Seringnya saya datang di Makes membuat saya semakin akrab dengan orang-orang yang aktif di lembaga tersebut. saya mengikuti banyak kegiatan di Makes selain diskusi rutin yang diadakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Tahun berikutnya ketika saya berhasil lulus masuk PTN di Makassar, saya selalu menyempatkan waktu untuk datang belajar di Makes. saya bahkan menjadi salah satu pengurus sejak tahun 2007 sampai 2011 dengan berbagai posisi yang berbeda. di tahun awal saya bergabung, sangat terasa iklim akademis yang terbentuk di lembaga tersebut. kajian bahasa inggris yang menjadi spirit awal ikut menjadi member kemudian hanya menjadi second spirit karena saya lebih bergairah mengikuti diskusi-diskusi rutin yang dilakukan dalam menambah wacana member Makes.

Dua atau tiga tahun di Makes, saya sudah akrab dengan para senior yang rata-rata sudah sukses. mayoritas dari mereka adalah berprofesi sebagai Dosen. saya tidak membuang kesempatan untuk berguru dari mereka. dari beberapa pengalaman, saya pernah berdiskusi panjang dengan salah seorang senior yang juga merupakan Dosen Universitas Bosowa. Saya pernah beberapa malam berkhidmat dengan Dosen Unhas yang juga lulusan Belanda. masih banyak dari senior yang pernah saya punguti ilmunya.

Dari sekian senior yang sering kujadikan referensi, sampai saat ini, hanya satu senior yang masih intens berinteraksi denganku dan beberapa hal prinsip yang membuatku harus meminta saran kepadanya sebelum memutuskan. Terakhir kali bertemu beliau di Jakarta dan memberiku banyak pesan tentang kegundahanku selama ini.
Saya mengikuti perjalanan beberapa anggota Makes yang awalnya sangat minim kemampuan bahasa inggrisnya namun beberapa tahun kemudian, mampu meraih beasiswa ke luar negeri. bukan hanya satu tetapi banyak dari mereka.

Salah satu hal yang kusesali adalah di tahun-tahun akhir ikut di Makes, saya tidak terlalu disiplin mengikuti kursus bahasa inggris termasuk latihan toefl yang diadakan di luar meeting rutin sehingga membuat kemampuan bahasa inggris saya jauh tertinggal dari teman-teman. ketika mereka sudah sibuk mengurus berkas mendaftar beasiswa S2, saya masih berkutat pada hal-hal remeh temeh. mungkin dari member Makes yang aktif sejak 2006, saya adalah satu dari sedikit yang tidak mampu memperoleh beasiswa S2. namun terlepas dari itu, saya tetap bangga menjadi bagian dari Makes.

Di tahun 2010, saya terpilih sebagai Daily Chairman. posisi yang mengurusi tetek bengek keseharian Makes karena di tataran konsep dan hubungannya dengan pihak eksternal, diemban oleh Chairman. di posisi ini, saya punya wewenang yang lebih dalam menentukan warna Makes seperti apa. meski tetap berada pada koridor yang sudah digariskan oleh para pendiri lembaga.

Warna Makes sering berubah tergantung bagaimana pengurus yang menjalankannya. Satu waktu Makes berubah menjadi forum kajian yang disiplin namun di lain waktu fokusnya hanya terkait wacana belajar bahasa inggris, sekali lagi tergantung mereka yang sedang menakhodai Makes.

Saya pun sudah melihat banyak friksi antar individu dalam tubuh Makes, dari yang mulai debat mulut sampai pada yang hampir kontak fisik. Perbedaan muncul lebih pada cara pandang yang berbeda dan tidak bisa diselesaikan dengan bijaksana.

Bulan Agustus lalu, saya seminggu tugas di Makassar membuat Saya punya tiga kali kesempatan mengunjungi lembaga Makes. organisasi yang sering dianggap punya daya tarik bagi Para Mahasiswa Makassar atau siapapun yang punya hasrat diskusi yang tinggi dengan menggunakan kanal bahasa Inggris.

saat bercerita dengan ketua Makes periode 2016, dia banyak bercerita tentang perkembangan Makes yang mutakhir. dia bercerita tentang banyak senior yang sudah enggan datang ke Makes karena merasa sudah tidak dikenal. menurut Narsul bahwa bagaimana mereka dikenal kalau tidak pernah datang silaturrahim.

Makes mungkin akan selalu berubah sesuai zamannya namun saya yakin lembaga ini akan tetap eksis sampai beberapa tahun ke depan selain anggapan mitos bahwa Makes ini terjaga karena kegiatannya di teras masjid.

Draft tulisan dua bulan yang lalu
21 11 17

October 30, 2017

Obrolan Kamis Malam

Satu hal yang selalu saya kangeni bertemu dengan teman-teman dari Makes, Kelompok kajian berbahasa Inggris di Masjid Al Markaz Makassar, adalah sharing ilmu dan diskusi panjang tentang apa saja. kelompok kajian yang dikulturkan sebagai organisasi Egaliter membuat para anggotanya, baik yang senior maupun yang junior seakan tidak memiliki sekat seperti yang tercipta di beberapa organisasi yang feodalistik.

Kamis siang kemarin, saya iseng membuka beranda whatsapp dan melihat chat dari salah seorang senior di Makes. beliau menanyakan kabarku dan tempat tinggal sekarang. sesaat setelah kujawab chatting wa nya, beliau menjelaskan bahwa dirinya sedang ada di Bogor dan hendak berangkat ke Jakarta. beliau ingin bertemu denganku jika ada kesempatan.

Jelas saja saya mengiyakan ajakannya. meski agak sore karena saya pulang kantor jam lima. beliau menginap di apartemen Cosmo Terrace dan kami janjian di sana selanjutnya bersama-sama ke bilangan Jatibening karena ada sejawatnya yang tinggal di daerah tersebut.

Saya meninggalkan kantor tepat jam lima sore ketika tanda pulang sudah berbunyi. mengarungi jalanan yang dipadati kendaraan menuju bilangan Thamrin City. lumayan butuh perjuangan berlipat untuk sampai di daerah tersebut karena sore hari bertepatan dengan momen kaum urban pulang kantor.

Saya dan salah seorang senior yang datang bertandang ke Jakarta, kemudian bergegas menuju Jatibening. tempat kediaman sejawat yang sudah lama menetap di Ibu Kota. butuh dua jam perjalanan untuk sampai di Jatibening dari kawasan Thamrin City karena saya tersesat. seharusnya lewat Kalimalang namun saya memutar lewat Jatimakmur.

Kami bertiga menghabiskan malam di sebuah kedai roti bakar. saya yang notabene junior hanya diam dan sesekali menimpali jika ditanya. saya banyak menyimpan pesan tentang kehidupan yang diperbincangkan oleh kedua sesepuh Makes yang sudah lama tidak bersua.

Kak A, senior yang sudah lama menetap di Jakarta lebih mendominasi permbicaraan dengan arah memberikan saya motivasi sambil bernostalgia tentang apa yang dulu dia peroleh di Makes kemudian diaplikasikan dalam dunia nyata.

Dia sudah punya perusahaan dengan omzet milliar. menangani proyek dari pemerintah maupun swasta.

Awal merintis usaha di Jakarta, dia berkarir sebagai karyawan swasta sebelum memutuskan untuk resign dan mencoba peruntungan di dunia usaha. satu prinsip yang dia pegang selama berusaha adalah dia mengharamkan dirinya menggunakan pinjaman bank. awal mula merintis memang terlihat sangat berat namun dia tidak putus asa sampai akhirnya, dia berhasil membeli mobil tiga unit secara cash dan rumah pun dengan cash keras.

Selain kekagumanku atas prinsipnya yang tidak kompromistis terhadap maslaah riba dan semua yang dimiliki dibeli dengan cash dan selebihnya, nasehat yang dia berikan mungkin menurutku klise namun memang pantas diucapkan oleh orang yang sudah meneguk materi.

Saya yang notabene masih berkutat di  perusahaan finance sudah was-was mendengarkan ceritanya karena khawatir dia akan ofensif mempertanyakan keputusanku tetap bertahan di perusahaan finance yang sangat rawan tercampur dengan unsur ribawi, namun sampai akhirnya saya pamit pulang, tidak satu pun kata yang seperti kucemaskan.

Saya pamit tepat jam sebelas malam.

Cerita yang seharusnya sudah kutulis sejak Jum'at pertengahan oktober sehari setelah perbincangan kami di kedai roti bakar Jl. kalimalang bersama dua senior Makes.

October 28, 2017

OTS #9

Perjalan dinas kali ini nampaknya tidak terlalu memuaskan karena sekedar menggugurkan tugas kantor. Ada banyak pikiran yang mengoyak kepalaku membuat fokus perjalanan tidak terlalu baik.

Kota kali ini pernah Saya kunjungi enam tahun yang lalu meski hanya dua hari sehingga yang tersisa diingatanku hanyalah cuaca yang sangat panas dan lumayan membuat badan serasa mendidih.

Satu hal yang membuatku merasa senang karena saya berkesempatan transit di kota asal meski nampaaknya hanya sebentar saja.

Saya berangkat dari Soetta jam setengah sepuluh dengan pesawat Sriwijaya. Entah kendala apa sehingga pesawat harus delay beberapa saat kemudian transit di kota asal hanya ganti pesawat. Saat transit, hujan turun dengan derasnya mengguyur. Meski hanya sesaat namun tetap saja saya merasa sangat senang menginjakkan kaki di kotaku.

Saya berganti pesawat yang lebih kecil. Terbang menuju kota tujuan yang berada di bagian tenggara pulau yang sama dengan kota asalku. Ternyata pesawat hanya menempuh waktu 45 menit dengan ketinggian pesawat 2000 kaki.

Tiba di kota tujuan, senja sudah menjelang dan nampaknya hujan belum jua mengunjungi kota itu. Tanaman kering dan jalanan berdebu. Saya menyewa taxi liar di bandara menuju kota dengan sewa seratus ribu. Jarak dari bandara ke kota lumayan jauh dengan jarak tempuh 45 menit.

Sebelum mencari hotel tempat menginap, saya menuju kantor dan sudah ditunggu kacab. Kami bersalaman membuka acara secara seremonial kemudian berbincang lepas. Menjelang maghrib, saya ditemani staff di kantor cabang mencari hotel, beberapa hotel full karena nampaknya ada acara partai hingga akhirnya kami tiba di hotel zahra dan masih banyak kamar yang lowong. Hotel dengan konsep syariah yang benar-benar menerapkan segala sesuatu dengan prinsip syariah.

Malamnya, saya tidak terlalu berminat menjelajahi kota karena sudah letih. Sekedar keluar mencari makanan kemudian kembali ke hotel untuk istirahat.

Esok hari, saya kemudian memulai aktivitas kantor untuk empat hari ke depan. Kota itu ternyata masih bersahabat dengan panas bahkan ketika di kantor, sepanjang waktu saya berkeringat karena ac sedang bermasalah. Hal tersebut membuatku tidak terlalu fokus menyelesaikan tugas.

Empat hari berjalan seperti biasa dan malam hari saya hanya keluar makan. Tidak ada momen yang istimewa di ots kali ini.

Jumat sore, saya bergegas ke bandara. Pesawat yang akan membawaku pulang ke rumah akan transit di kota asalku selama 17 jam. Lumayan lama yang membuatku berkesempatan tidur di rumah keluarga di kotaku. Mungkin hanya itu yang membuatku bahagia atas perjalanan kali ini.

16-20 Oktober 17

October 3, 2017

Tiga Oktober

tidak ada yang terlalu spesial di angka tiga Oktober sebelum Saya bertemu dengan Ibu dari anak-anak Saya. momen yang akan menjadi abadi setelah keputusan untuk menikah di tanggal tersebut meski seringkali Saya berujar bahwa Saya tidak pernah terlalu memperdulikan setiap momen yang Saya telah lalui entah itu ulang tahun, hari pernikahan atau momen apapun yang seringkali orang lain rayakan dengan euforia yang berlebihan.

Saya tidak tahu persis kenapa di momen tanggal tiga Oktober dua tahun yang lalu, dipilih oleh Mertua Saya tetapi yang jelas bahwa pada saat bertemu dengan keluarga besar Isteri, Saya hanya mengatakan bahwa untuk setahun ke depan, Saya belum bisa melangsungkan pernikahan karena masih terikat kontrak di Perusahaan tempat Saya bekerja.

Di momen dua tahun pernikahan Saya, ada kado yang kurang mengenakkan karena Damar demam lagi. Sedari kemarin siang, Damar sudah merasakan gejala demam namun belum terlalu parah sampai akhirnya tadi siang ketika Saya maupun Isteri Saya sudah di kantor, Saya dikabari bahwa Damar nampaknya harus dibawa periksa ke Dokter. Isteri Saya memberi pilihan apakah Saya yang izin pulang atau dia namun akhirnya Isteri Saya yang pulang duluan dan mengantar Damar ke Rumah Sakit. 

Saya seakan merasa sangat tidak berguna sebagai suami namun Saya benar-benar jengah berurusan dengan rumah sakit. Entah kenapa setiap kali Saya berdoa untuk tidak terlalu berinteraksi dengan urusan rumah sakit namun selalu saja ada yang mengharuskanku untuk itu. 

Setiba di rumah sore hari menjelang malam, kutatap wajah Isteri Saya yang nampaknya keletihan dan menanggung beban perasaan yang amat berat. Ingin kuucapkan selamat anniversary pernikahan namun kuurungkan. Saya tetap saja memandangnya dan merasa berdosa membiarkannya mengurus tetek bengek masalah anak. 

Terlintas di kepalaku bahwa dia lah yang pantas untuk apa saja tentang anak dan lebih pantas mendapat balasan suatu saat dari anak-anaknya. Saya hanya pelengkap tak berguna yang meracu tak jelas. Kenyataan ini menguatkan keyakinanku kenapa Kanjeng Nabi menyuruh seorang anak berbakti kepada Ibunya sebanyak tiga kali kemudian sekali berbakti kepada Bapaknya, jika ini dimaknai kontekstual. 

Menikah memang tidak mudah. Tidak seperti bayangan nirwana saat masih bujangan maupun tidak seindah lagu percintaan. Menikah adalah perjuangan untuk banyak hal. Berjuang mengalahkan ego demi keharmonisan rumah tangga.

Dua tahun berlalu masih sangat singkat untuk dijadikan tolak ukur tentang keberhasilan menghadirkan harmoni keluarga yang ada bahwa banyak hal remeh temeh yang masih menjadi batu sandungan. 

Perjalanan hari ke depan akan semakin menemui tantangannya. Saya sendiri sedang berjuang untuk melunakkan hati Saya atas setiap pilihan yang sudah digenggam tanpa harus kembali menganulirnya. Pernikahan ini akan terus berlangsung untuk waktu yang tak diketahui, Saya hanya butuh diri untuk berjuang dan membawa pernikahan ini ke cita-cita awal meski Saya sadari bahwa kehadiran seorang anak seringkali memutar arah pernikahan dan menjadikan anak sebagai sentrum perhatian yang butuh kasih sayang yang berlipat.

Untuk anakku Damar, Semoga cepat sembuh dari demammu nak dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Untuk Isteriku, selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-2.

3 Oktober 2017 21.30 wib

September 7, 2017

Ulang Tahun

Mendapat kado tas kecil dari Isteri oada momen ulang tahun merupakan kesyukuran tersendiri. Toh menurut penerawanganku, belum sekalipun Saya mendapat kado ulang tahun dari siapapun.

Hari ini Saya ulang tahun yang kesekian kalinya. Tidak ada perayaan sebagaimana mestinya karena memang Saya tidak pernah menganggap ulang tahun patut untuk dirayakan. jikalau harus diingat, tidak lebih hanya sebagai bahan renungan atas semua jejak yang sudah digoreskan.

Di umur yang sudah masuk dalam kategori tua, Saya merenungi beberapa hal yang menurutku sudah sepantasnya kuperbaiki ataupun kebiasaan yang harus kutinggalkan. Seharusnya proyeksi hidupku sudah jelas di umur yang sudah separuh jalan sesuai kalkulasi umur normal manusia.

Saya hanya berharap semoga saja di umur yang sudah matang, Saya bisa mengklasifikasi apa saja yang harus kukerjakan untuk perbaikan kualitas diri bukan hanya untuk mengerjakan duniawi namun lebih pada hakekat hidup.

7 9 17

August 29, 2017

Meremehkan Doa

Mengalami hambatan dalam perjalanan jauh seperti mobil mogok atau tiba-tiba acara agustusan membuat perjalananmu terhambat, sebenarnya hal yang biasa dan seringkali terjadi. Tidak perlu menjadi sesuatu yang wah.

Berbeda dengan perjalananku kali ini ke kampung halaman. Sejatinya, setiap kali akan melakukan perjalanan, Saya terbiasa merapalkan doa-doa keselamatan. Pulang kampung kemarin, entah apa yang merasukiku sehingga doa yang sering kujadikan jimat seakan sulit terucap. Saya berpikir bahwa toh semua akan berjalan semestinya.

Perjalanan dari rumah ke bandara masih lancar bahkan Pesawat tepat waktu sampai di kota tujuan. Masalah mulai muncul ketika Saya menunggu mobil jemputan di bandara. Sebelumnya sang Sopir sudah berjanji akan menjemput Saya pukul 08.00 namun Saya harus menunggu sejam lamanya.

Perjalanan ke Kampung tepat pukul 09.00 dan perkiraan Kami tiba di Kampung sekitar pukul 2 siang. Mobil sepertinya dalam kondisi yang prima namun memasuki kota Pangkep, mobil mengalami kendala pada gardan yang mengharuskan masuk bengkel. Butuh sekitar 1 jam lamanya sebelum si Sopir menemukan bengkel Mobil.

Belum berhenti di situ, ternyata perbaikan mobil tersebut memakan waktu lebih sejam. Setelah itu, perjalanan kemudian dilanjutkan dan nampaknya sudah tidak ada lagi hambatan. Saya sudah memperkirakan bisa tiba di kampung pukul 5 atau mulai sekitar 3 jam dari perkiraan awal.

Ternyata hambatan belum berakhir. Memasuki kota Rappang, jalan antar kota ditutup dalam rangka pawai HUT RI 72. Kami berhenti sekitar 1 jam lebih sebelum diperbolehkan melintas oleh petugas.

Alhasil, Saya baru tiba di kampung pukul 19.00 Wita. Molor sekitar 5 jam dari estimasi awal.

Lama Saya berpikir tentang apa penyebab dari kejadian ini sebelum akhirnya Saya menyadari bahwa sebelum berangkat, Saya tidak secara sungguh-sungguh memohon doa agar dilancarkan perjalanan. Malahan yang timbul dalam hati Saya sedikit keyakinan bahwa semua akan berjalan normal tanpa harus berdoa.

Kejadian tersebut menampar Saya tentang dampak meremehkan doa. Kalimat sakti yang seharusnya dirapalkan untuk mengiringi setiap langkah kita. Bahkan sebagai penanda bahwa kita berjalan atas kerja Tuhan.

27 8 17

August 24, 2017

#OTS 8

Tidak ada yang terlalu istimewa pada perjalanan ots kali ini. Tidak lebih hanya seperti napak tilas mengitari sudut kota yang pernah kutinggali beberapa tahun yang silam.

Mungkin perbedaan yang lebih terasa hanya pada beberapa hal seperti makanan. Dulu saat masih di kota ini, Saya jarang memyicipi makanan khas kota ini yang terbilang mewah karena harus menghemat uang bulanan bahkan untuk makan sebisa mungkin mencari warung paling murah di daerah kos-kosan dekat kampus.

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, Saya leluasa mencicipi makanan khas kota ini bahkan di daerah sekitar wisata kuliner yang dianggap mahal yang pada masa kuliah seakan mustahil untuk makan di sekitar tempat itu.

Saya menikmati kuliner ikan kaloa, konro bakar bahkan pisang ijo satu porsi seharga 25 ribu yang menurutku porsinya sangat sedikit namun harganya kelewat mahal.

Saya pun menikmati nostalgia di Makes, tempat nongkrong dulu yang selalu kurindukan. Menikmati hidangan sarabba dengan aneka gorengan.

Selebihnya, kota ini tidak banyak berubah. Setiap sisinya masih sama seperti dulu meski pembangunan terus dikebut.

Mks 24 8 17

August 15, 2017

Tentang Materi dan Ibu Kota

Tidak sedang berusaha menafikan kebutuhan akan uang dan tidak mendiskreditkan orang di Kota ini namun apa yang kualami akhir pekan lalu sedikit membuka mataku akan relasi hubungan orang-orang dan kalkulasi materi di Ibu Kota serta semoga tidak mengeneralisir.

Akhir pekan kemarin, toilet di rumah kontrakan mampet. Setelah ditelusuri ternyata rumah kontrakan yang sedang kami tempati tidak mempunyai septic tank alhasil karena yang empunya kontrakan tinggal di daerah Kemayoran dan beberapa kali dihubungi tidak terkoneksi maka Kami memutuskan untuk membuat Septic Tank.

di sini Saya tidak hendak bercerita tentang tetek bengek masalah toilet yang mampet ataupun bagaimana ribetnya membuat septic tank namun ada beberapa bagian yang ingin Saya ceritakan. 

Septic tank yang dalamnya 1,5 meter harus digali dan menjadi masalah di mana harus dibuang tanah galian yang banyaknya sekitar 20-30 gerobak. ternyata di Kota yang sumpek ini, semua harus dikalkulasi dengan uang. kami harus membayar 100 ribu untuk menumpuk tanah galian di sebuah kebun kecil yang ditumbuhi pohon pisang. jika dirasionalisasikan maka seharusnya yang punya kebun sudah mendapatkan keuntungan dari tanah hasil galian karena mengandung pupuk dan berguna untuk tanaman pisangnya namun karena butuh, maka suka tidak suka harus dibayar.

tidak berhenti sampai di situ. sesaat setelah membeli pasir dan batako, kami kesulitan menurunkannya di depan rumah karena jalanan di depan rumah tidak bisa dilewati mobil. pasir dan batako tersebut harus diturunkan di depan rumah salah seorang tetangga yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah kami. tidak ada yang aneh karena kami sudah minta izin namun kejanggalan memenuhi benakku ketika mengetahui bahwa untuk sekedar numpang menurunkan pasir dan batako tersebut, kami harus membayar 30 ribu kepada pemilik rumah padahal hanya sekedar diturunkan kemudian diangkut dengan gerobak.

Mungkin tidak jadi soal jika tukang yang mengerjakan septic tank tidak kenal dengan sang pemilik rumah namun pada kenyataannya, mereka sangat akrab.

Setiap kali menumpang untuk sekedar menurunkan pasir dan Batako, kami harus membayar 30 ribu karena esok hari ketika membeli kekurangan pasir, kami harus membayar lagi.

Sebenarnya ini bukan tentang nilai uang atau kalkulasi untung rugi namun lebih pada sebuah interaksi sosial di dalam Masyarakat yang benar-benar harus diukur dengan uang.

Saya tidak sedang menghakimi relasi sosial seperti itu karena mungkin sudah menjadi tradisi di Kota ini namun perlu Saya tegaskan bahwa hal seperti di atas sering kutemui di kota ini dalam bentuk yang lain, semua diukur dengan uang. Amat sangat sulit menemukan relasi sosial yang berdasar atas rasa saling tolong menolong.

15 8 17

August 14, 2017

Menakar Diri

Hal yang paling menakutkan dalam perjalanan hidup adalah momen di mana diri terjerembab dalam masa futur. klise untuk mengatakan hal tersebut manusiawi namun beranjak dari kefuturan sangat berat apatahlagi berhubungan dengan hal duniawi.

apalagi yang lebih mengerikan dari diri yang sedang berjalan jauh di luar koridor. menabrak semua tabu yang merusak hati dan mengamini tingkah yang menghitamkan jejak. itu sedang terjadi dan membuat diriku tidak sanggup melakukan perbaikan. kata-kata sudah meluncur dari lidah dan mustahil dipungut kembali.

Saya selalu berandai-andai tentang semua momen yang silih berganti datang menghampiri. berandai akan keindahan dan semua urusan yang dipermudah namun pada kenyataannya, hal tersebut jauh dari harapan. selalu ada kerikil yang menjegal. Saya mengukur diri mengenai unsur-unsur makanan yang masuk ke dalam diri, mungkin dominan unsur haram yang menjelma menjadi butir-butir makanan dan melebur dalam aliran darah.

dua minggu terakhir, Saya diperhadapkan dengan masalah yang menurutku sangat duniawi namun Saya gagal melewatinya. reaksi terhadap masalah terlalu berlebihan. Saya terlalu menggunakan rasionalisasi pikiran yang seringkali tidak seperti yang dipikirkan. 


kalkulasi material tentang hidup terlalu mendominasi pikiran yang membuat perasaan merasa was-was atau bahkan insecure di masa datang padahal kenyataannya semua akan berjalan baik-baik saja. Saya sudah berada pada beberapa momen yang menguatkanku bahwa tidak semua mesti dikalkulasi dengan pikiran karena sejatinya, tangan Tuhan bekerja melebihi apa yang kita pikirkan.

Langkah berikutnya, Saya harus menguatkan diri untuk kembali ke jalur yang seharusnya. menjalani hidup dengan mengurangi cara berpikir yang licik dan mengikuti cara kerja Tuhan. tidak mudah memang untuk kembali menstabilkan hati namun hal tersebut adalah sebuah keharusan, tidak ada tawar menawar.

14 8 17

July 20, 2017

# OTS 7

Sudah beberapa kali memandangi kota ini saat kereta yang kutumpangi singgah di stasiunnya namun tak sekalipun Saya menghangati udaranya. Kota ini hanya persinggahan saat Saya lalu lalang dari Ibu kota ke bagian timur pulau ini.

Kantorlah yang akhirnya menakdirkanku benar-benar menginjakkan kaki di kota ini. Melipur penasaran yang sedari dulu membayang di kepalaku bahwa seperti apa sebenarnya wajah kota ini.

Perjalanan via kereta ke kota yang sedang kujejak hanya sekitar 3 jam. Wilayahnya tidak terlalu jauh dijangkau.
Senin siang kemarin, saya tiba di stasiun, menikmati nasi gentong yang menurutku hampir sama dengan coto. Melepas dahaga dan rasa penat kemudian melanjutkan perjalanan ke bilangan jln. Kartini. Saya memilih memesan hotel tepat di persimpangan jalan, Hotel Tryas namanya.

Tiga malam sudah lamanya Saya di kota yang menurutku hawanya panas. Tidak terlalu jauh kakiku menjejak oleh karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Ada fenomena di sini yang menurutku sangat kontras dengan julukan kota santri. Di setiap awal malam saat berjalan kaki menyusuri trotoar, dengan begitu mudahnya kita menjumpai tukang becak yang menawarkan kenikmatan malam. Mereka seakan merangkap kerja sebagai broker para wanita pemberi nikmat.

Untuk ukuran biaya hidup, kota ini masih bersahabat untuk masyarakat yang berpenghasilan di bawah rata-rata.

Jangan ditanya masalah harga batik. Menurutku, harga batik di toko Trusmi amat sangat tidak masuk akal bahkan untuk ukuranku terlalu mahal dengan kualitas bahan yang tidak terlalu mewah. Akhirnya saya tidak membeli baju batik khas kota ini.

Malam ini menjadi momen terakhir menikmati kehangatan kota karena besok dinihari, saya harus bergegas kembali ke Ibu kota. Namun setidaknya, rasa penasaran atas setiap sudut kota ini sedikit terobati meski hanya sebagian sudutnya yang kesinggahi.

Cirebon, 20 7 17


July 18, 2017

Tentang Ulang Tahun

"Lagi sibuk mas? Ini tg brp? Ingat gak ya? Hehe"
Masih tentang ulang tahun yang sedari dulu tidak pernah menjadi sebuah momen yang menurutku wajib diingat apatahlagi harus dirayakan.

Hari ini, isteri saya telah menggenapi keberadaannya di kehidupan ini selama 27 tahun dan sama sekali saya tidak menyadarinya. Kalimat pertama di tulisan ini adalah pesan via whatsapp yang dikirim oleh mertua saya untuk momen hari ini.

Sebulan yang lalu, sehari sebelum idul fitri 1438 H. Anak saya menjalani hidupnya di tahun pertama. Memang ada kue tart atau bahkan lebih cocok disebut kue bolu buatan saudara saya. Kue tersebut dipotong lalu kami saling menyuapi namun sama sekali hal tersebut bukan usaha untuk membiasakannya dan menjadikan potong kue sebagai tradisi pengingat ulang tahun.

Saya selalu menghindari hal-hal yang nampaknya tidak prinsipil. Memang sih bisa jadi momen ulang tahun dijadikan tolak ukur mentafakkuri setiap langkah yang sudah terlewati namun kenyataannya, hal yang kemudian terjadi selama ini adalah merayakannya dengan sesuatu yang sungguh tidak bermakna.

Kalau hari ini saya melupakan momen ulang tahun isteri saya atau lebih tepatnya tidak berusaha mengingatnya, itu karena saya menganggap tidak terlalu urgent. Doa-doa semacam yang terucap saat momen ulang tahun bisa saja dipanjatkan kapan saja. Toh pada dasarnya, kita tidak boleh melepaskan sekian waktu sekalipun untuk merapal doa terbaik untuk setiap orang terkasih.

Karena saya sudah diingatkan akan hari ini, saya tetap harus secara formal mengamini doa khas ulang tahun.

Ini ulang tahun yang kedua selama kami berstatus sebagai pasangan resmi. Tahun-tahun awal pernikahan yang menurut saya lumayan berat dilalui karena menjaga komitmen pernikahan ternyata tidak seindah saat masih pacaran. Semua sisi dalam diri terkuak dan terkadang menyebabkan benturan-benturan antara dua kepala yang sama sekali tidak sama.

Pada akhirnya, menurutku pernikahan bukan tentang apa-apa tetapi lebih pada sikap yang kuat menjaga komitmen dan janji.

Oh iya kan ini tulisan ulang tahun, kenapa menjurus ke pernikahan?

Ya sudah, selamat ulang tahun buat isteriku. Jangan terlalu longgar dalam beragama. Saya merindukan kesungguhanmu menjalankan banyak amalan sunnah saat dulu ketika belum bekerja. Semoga pekerjaan tidak melalaikan dirimu.
Amin

Cirebon, 18 7 17