October 28, 2017

OTS #9

Perjalan dinas kali ini nampaknya tidak terlalu memuaskan karena sekedar menggugurkan tugas kantor. Ada banyak pikiran yang mengoyak kepalaku membuat fokus perjalanan tidak terlalu baik.

Kota kali ini pernah Saya kunjungi enam tahun yang lalu meski hanya dua hari sehingga yang tersisa diingatanku hanyalah cuaca yang sangat panas dan lumayan membuat badan serasa mendidih.

Satu hal yang membuatku merasa senang karena saya berkesempatan transit di kota asal meski nampaaknya hanya sebentar saja.

Saya berangkat dari Soetta jam setengah sepuluh dengan pesawat Sriwijaya. Entah kendala apa sehingga pesawat harus delay beberapa saat kemudian transit di kota asal hanya ganti pesawat. Saat transit, hujan turun dengan derasnya mengguyur. Meski hanya sesaat namun tetap saja saya merasa sangat senang menginjakkan kaki di kotaku.

Saya berganti pesawat yang lebih kecil. Terbang menuju kota tujuan yang berada di bagian tenggara pulau yang sama dengan kota asalku. Ternyata pesawat hanya menempuh waktu 45 menit dengan ketinggian pesawat 2000 kaki.

Tiba di kota tujuan, senja sudah menjelang dan nampaknya hujan belum jua mengunjungi kota itu. Tanaman kering dan jalanan berdebu. Saya menyewa taxi liar di bandara menuju kota dengan sewa seratus ribu. Jarak dari bandara ke kota lumayan jauh dengan jarak tempuh 45 menit.

Sebelum mencari hotel tempat menginap, saya menuju kantor dan sudah ditunggu kacab. Kami bersalaman membuka acara secara seremonial kemudian berbincang lepas. Menjelang maghrib, saya ditemani staff di kantor cabang mencari hotel, beberapa hotel full karena nampaknya ada acara partai hingga akhirnya kami tiba di hotel zahra dan masih banyak kamar yang lowong. Hotel dengan konsep syariah yang benar-benar menerapkan segala sesuatu dengan prinsip syariah.

Malamnya, saya tidak terlalu berminat menjelajahi kota karena sudah letih. Sekedar keluar mencari makanan kemudian kembali ke hotel untuk istirahat.

Esok hari, saya kemudian memulai aktivitas kantor untuk empat hari ke depan. Kota itu ternyata masih bersahabat dengan panas bahkan ketika di kantor, sepanjang waktu saya berkeringat karena ac sedang bermasalah. Hal tersebut membuatku tidak terlalu fokus menyelesaikan tugas.

Empat hari berjalan seperti biasa dan malam hari saya hanya keluar makan. Tidak ada momen yang istimewa di ots kali ini.

Jumat sore, saya bergegas ke bandara. Pesawat yang akan membawaku pulang ke rumah akan transit di kota asalku selama 17 jam. Lumayan lama yang membuatku berkesempatan tidur di rumah keluarga di kotaku. Mungkin hanya itu yang membuatku bahagia atas perjalanan kali ini.

16-20 Oktober 17

October 3, 2017

Tiga Oktober

tidak ada yang terlalu spesial di angka tiga Oktober sebelum Saya bertemu dengan Ibu dari anak-anak Saya. momen yang akan menjadi abadi setelah keputusan untuk menikah di tanggal tersebut meski seringkali Saya berujar bahwa Saya tidak pernah terlalu memperdulikan setiap momen yang Saya telah lalui entah itu ulang tahun, hari pernikahan atau momen apapun yang seringkali orang lain rayakan dengan euforia yang berlebihan.

Saya tidak tahu persis kenapa di momen tanggal tiga Oktober dua tahun yang lalu, dipilih oleh Mertua Saya tetapi yang jelas bahwa pada saat bertemu dengan keluarga besar Isteri, Saya hanya mengatakan bahwa untuk setahun ke depan, Saya belum bisa melangsungkan pernikahan karena masih terikat kontrak di Perusahaan tempat Saya bekerja.

Di momen dua tahun pernikahan Saya, ada kado yang kurang mengenakkan karena Damar demam lagi. Sedari kemarin siang, Damar sudah merasakan gejala demam namun belum terlalu parah sampai akhirnya tadi siang ketika Saya maupun Isteri Saya sudah di kantor, Saya dikabari bahwa Damar nampaknya harus dibawa periksa ke Dokter. Isteri Saya memberi pilihan apakah Saya yang izin pulang atau dia namun akhirnya Isteri Saya yang pulang duluan dan mengantar Damar ke Rumah Sakit. 

Saya seakan merasa sangat tidak berguna sebagai suami namun Saya benar-benar jengah berurusan dengan rumah sakit. Entah kenapa setiap kali Saya berdoa untuk tidak terlalu berinteraksi dengan urusan rumah sakit namun selalu saja ada yang mengharuskanku untuk itu. 

Setiba di rumah sore hari menjelang malam, kutatap wajah Isteri Saya yang nampaknya keletihan dan menanggung beban perasaan yang amat berat. Ingin kuucapkan selamat anniversary pernikahan namun kuurungkan. Saya tetap saja memandangnya dan merasa berdosa membiarkannya mengurus tetek bengek masalah anak. 

Terlintas di kepalaku bahwa dia lah yang pantas untuk apa saja tentang anak dan lebih pantas mendapat balasan suatu saat dari anak-anaknya. Saya hanya pelengkap tak berguna yang meracu tak jelas. Kenyataan ini menguatkan keyakinanku kenapa Kanjeng Nabi menyuruh seorang anak berbakti kepada Ibunya sebanyak tiga kali kemudian sekali berbakti kepada Bapaknya, jika ini dimaknai kontekstual. 

Menikah memang tidak mudah. Tidak seperti bayangan nirwana saat masih bujangan maupun tidak seindah lagu percintaan. Menikah adalah perjuangan untuk banyak hal. Berjuang mengalahkan ego demi keharmonisan rumah tangga.

Dua tahun berlalu masih sangat singkat untuk dijadikan tolak ukur tentang keberhasilan menghadirkan harmoni keluarga yang ada bahwa banyak hal remeh temeh yang masih menjadi batu sandungan. 

Perjalanan hari ke depan akan semakin menemui tantangannya. Saya sendiri sedang berjuang untuk melunakkan hati Saya atas setiap pilihan yang sudah digenggam tanpa harus kembali menganulirnya. Pernikahan ini akan terus berlangsung untuk waktu yang tak diketahui, Saya hanya butuh diri untuk berjuang dan membawa pernikahan ini ke cita-cita awal meski Saya sadari bahwa kehadiran seorang anak seringkali memutar arah pernikahan dan menjadikan anak sebagai sentrum perhatian yang butuh kasih sayang yang berlipat.

Untuk anakku Damar, Semoga cepat sembuh dari demammu nak dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Untuk Isteriku, selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-2.

3 Oktober 2017 21.30 wib

September 7, 2017

Ulang Tahun

Mendapat kado tas kecil dari Isteri oada momen ulang tahun merupakan kesyukuran tersendiri. Toh menurut penerawanganku, belum sekalipun Saya mendapat kado ulang tahun dari siapapun.

Hari ini Saya ulang tahun yang kesekian kalinya. Tidak ada perayaan sebagaimana mestinya karena memang Saya tidak pernah menganggap ulang tahun patut untuk dirayakan. jikalau harus diingat, tidak lebih hanya sebagai bahan renungan atas semua jejak yang sudah digoreskan.

Di umur yang sudah masuk dalam kategori tua, Saya merenungi beberapa hal yang menurutku sudah sepantasnya kuperbaiki ataupun kebiasaan yang harus kutinggalkan. Seharusnya proyeksi hidupku sudah jelas di umur yang sudah separuh jalan sesuai kalkulasi umur normal manusia.

Saya hanya berharap semoga saja di umur yang sudah matang, Saya bisa mengklasifikasi apa saja yang harus kukerjakan untuk perbaikan kualitas diri bukan hanya untuk mengerjakan duniawi namun lebih pada hakekat hidup.

7 9 17

August 29, 2017

Meremehkan Doa

Mengalami hambatan dalam perjalanan jauh seperti mobil mogok atau tiba-tiba acara agustusan membuat perjalananmu terhambat, sebenarnya hal yang biasa dan seringkali terjadi. Tidak perlu menjadi sesuatu yang wah.

Berbeda dengan perjalananku kali ini ke kampung halaman. Sejatinya, setiap kali akan melakukan perjalanan, Saya terbiasa merapalkan doa-doa keselamatan. Pulang kampung kemarin, entah apa yang merasukiku sehingga doa yang sering kujadikan jimat seakan sulit terucap. Saya berpikir bahwa toh semua akan berjalan semestinya.

Perjalanan dari rumah ke bandara masih lancar bahkan Pesawat tepat waktu sampai di kota tujuan. Masalah mulai muncul ketika Saya menunggu mobil jemputan di bandara. Sebelumnya sang Sopir sudah berjanji akan menjemput Saya pukul 08.00 namun Saya harus menunggu sejam lamanya.

Perjalanan ke Kampung tepat pukul 09.00 dan perkiraan Kami tiba di Kampung sekitar pukul 2 siang. Mobil sepertinya dalam kondisi yang prima namun memasuki kota Pangkep, mobil mengalami kendala pada gardan yang mengharuskan masuk bengkel. Butuh sekitar 1 jam lamanya sebelum si Sopir menemukan bengkel Mobil.

Belum berhenti di situ, ternyata perbaikan mobil tersebut memakan waktu lebih sejam. Setelah itu, perjalanan kemudian dilanjutkan dan nampaknya sudah tidak ada lagi hambatan. Saya sudah memperkirakan bisa tiba di kampung pukul 5 atau mulai sekitar 3 jam dari perkiraan awal.

Ternyata hambatan belum berakhir. Memasuki kota Rappang, jalan antar kota ditutup dalam rangka pawai HUT RI 72. Kami berhenti sekitar 1 jam lebih sebelum diperbolehkan melintas oleh petugas.

Alhasil, Saya baru tiba di kampung pukul 19.00 Wita. Molor sekitar 5 jam dari estimasi awal.

Lama Saya berpikir tentang apa penyebab dari kejadian ini sebelum akhirnya Saya menyadari bahwa sebelum berangkat, Saya tidak secara sungguh-sungguh memohon doa agar dilancarkan perjalanan. Malahan yang timbul dalam hati Saya sedikit keyakinan bahwa semua akan berjalan normal tanpa harus berdoa.

Kejadian tersebut menampar Saya tentang dampak meremehkan doa. Kalimat sakti yang seharusnya dirapalkan untuk mengiringi setiap langkah kita. Bahkan sebagai penanda bahwa kita berjalan atas kerja Tuhan.

27 8 17

August 24, 2017

#OTS 8

Tidak ada yang terlalu istimewa pada perjalanan ots kali ini. Tidak lebih hanya seperti napak tilas mengitari sudut kota yang pernah kutinggali beberapa tahun yang silam.

Mungkin perbedaan yang lebih terasa hanya pada beberapa hal seperti makanan. Dulu saat masih di kota ini, Saya jarang memyicipi makanan khas kota ini yang terbilang mewah karena harus menghemat uang bulanan bahkan untuk makan sebisa mungkin mencari warung paling murah di daerah kos-kosan dekat kampus.

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, Saya leluasa mencicipi makanan khas kota ini bahkan di daerah sekitar wisata kuliner yang dianggap mahal yang pada masa kuliah seakan mustahil untuk makan di sekitar tempat itu.

Saya menikmati kuliner ikan kaloa, konro bakar bahkan pisang ijo satu porsi seharga 25 ribu yang menurutku porsinya sangat sedikit namun harganya kelewat mahal.

Saya pun menikmati nostalgia di Makes, tempat nongkrong dulu yang selalu kurindukan. Menikmati hidangan sarabba dengan aneka gorengan.

Selebihnya, kota ini tidak banyak berubah. Setiap sisinya masih sama seperti dulu meski pembangunan terus dikebut.

Mks 24 8 17

August 15, 2017

Tentang Materi dan Ibu Kota

Tidak sedang berusaha menafikan kebutuhan akan uang dan tidak mendiskreditkan orang di Kota ini namun apa yang kualami akhir pekan lalu sedikit membuka mataku akan relasi hubungan orang-orang dan kalkulasi materi di Ibu Kota serta semoga tidak mengeneralisir.

Akhir pekan kemarin, toilet di rumah kontrakan mampet. Setelah ditelusuri ternyata rumah kontrakan yang sedang kami tempati tidak mempunyai septic tank alhasil karena yang empunya kontrakan tinggal di daerah Kemayoran dan beberapa kali dihubungi tidak terkoneksi maka Kami memutuskan untuk membuat Septic Tank.

di sini Saya tidak hendak bercerita tentang tetek bengek masalah toilet yang mampet ataupun bagaimana ribetnya membuat septic tank namun ada beberapa bagian yang ingin Saya ceritakan. 

Septic tank yang dalamnya 1,5 meter harus digali dan menjadi masalah di mana harus dibuang tanah galian yang banyaknya sekitar 20-30 gerobak. ternyata di Kota yang sumpek ini, semua harus dikalkulasi dengan uang. kami harus membayar 100 ribu untuk menumpuk tanah galian di sebuah kebun kecil yang ditumbuhi pohon pisang. jika dirasionalisasikan maka seharusnya yang punya kebun sudah mendapatkan keuntungan dari tanah hasil galian karena mengandung pupuk dan berguna untuk tanaman pisangnya namun karena butuh, maka suka tidak suka harus dibayar.

tidak berhenti sampai di situ. sesaat setelah membeli pasir dan batako, kami kesulitan menurunkannya di depan rumah karena jalanan di depan rumah tidak bisa dilewati mobil. pasir dan batako tersebut harus diturunkan di depan rumah salah seorang tetangga yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah kami. tidak ada yang aneh karena kami sudah minta izin namun kejanggalan memenuhi benakku ketika mengetahui bahwa untuk sekedar numpang menurunkan pasir dan batako tersebut, kami harus membayar 30 ribu kepada pemilik rumah padahal hanya sekedar diturunkan kemudian diangkut dengan gerobak.

Mungkin tidak jadi soal jika tukang yang mengerjakan septic tank tidak kenal dengan sang pemilik rumah namun pada kenyataannya, mereka sangat akrab.

Setiap kali menumpang untuk sekedar menurunkan pasir dan Batako, kami harus membayar 30 ribu karena esok hari ketika membeli kekurangan pasir, kami harus membayar lagi.

Sebenarnya ini bukan tentang nilai uang atau kalkulasi untung rugi namun lebih pada sebuah interaksi sosial di dalam Masyarakat yang benar-benar harus diukur dengan uang.

Saya tidak sedang menghakimi relasi sosial seperti itu karena mungkin sudah menjadi tradisi di Kota ini namun perlu Saya tegaskan bahwa hal seperti di atas sering kutemui di kota ini dalam bentuk yang lain, semua diukur dengan uang. Amat sangat sulit menemukan relasi sosial yang berdasar atas rasa saling tolong menolong.

15 8 17

August 14, 2017

Menakar Diri

Hal yang paling menakutkan dalam perjalanan hidup adalah momen di mana diri terjerembab dalam masa futur. klise untuk mengatakan hal tersebut manusiawi namun beranjak dari kefuturan sangat berat apatahlagi berhubungan dengan hal duniawi.

apalagi yang lebih mengerikan dari diri yang sedang berjalan jauh di luar koridor. menabrak semua tabu yang merusak hati dan mengamini tingkah yang menghitamkan jejak. itu sedang terjadi dan membuat diriku tidak sanggup melakukan perbaikan. kata-kata sudah meluncur dari lidah dan mustahil dipungut kembali.

Saya selalu berandai-andai tentang semua momen yang silih berganti datang menghampiri. berandai akan keindahan dan semua urusan yang dipermudah namun pada kenyataannya, hal tersebut jauh dari harapan. selalu ada kerikil yang menjegal. Saya mengukur diri mengenai unsur-unsur makanan yang masuk ke dalam diri, mungkin dominan unsur haram yang menjelma menjadi butir-butir makanan dan melebur dalam aliran darah.

dua minggu terakhir, Saya diperhadapkan dengan masalah yang menurutku sangat duniawi namun Saya gagal melewatinya. reaksi terhadap masalah terlalu berlebihan. Saya terlalu menggunakan rasionalisasi pikiran yang seringkali tidak seperti yang dipikirkan. 


kalkulasi material tentang hidup terlalu mendominasi pikiran yang membuat perasaan merasa was-was atau bahkan insecure di masa datang padahal kenyataannya semua akan berjalan baik-baik saja. Saya sudah berada pada beberapa momen yang menguatkanku bahwa tidak semua mesti dikalkulasi dengan pikiran karena sejatinya, tangan Tuhan bekerja melebihi apa yang kita pikirkan.

Langkah berikutnya, Saya harus menguatkan diri untuk kembali ke jalur yang seharusnya. menjalani hidup dengan mengurangi cara berpikir yang licik dan mengikuti cara kerja Tuhan. tidak mudah memang untuk kembali menstabilkan hati namun hal tersebut adalah sebuah keharusan, tidak ada tawar menawar.

14 8 17

July 20, 2017

# OTS 7

Sudah beberapa kali memandangi kota ini saat kereta yang kutumpangi singgah di stasiunnya namun tak sekalipun Saya menghangati udaranya. Kota ini hanya persinggahan saat Saya lalu lalang dari Ibu kota ke bagian timur pulau ini.

Kantorlah yang akhirnya menakdirkanku benar-benar menginjakkan kaki di kota ini. Melipur penasaran yang sedari dulu membayang di kepalaku bahwa seperti apa sebenarnya wajah kota ini.

Perjalanan via kereta ke kota yang sedang kujejak hanya sekitar 3 jam. Wilayahnya tidak terlalu jauh dijangkau.
Senin siang kemarin, saya tiba di stasiun, menikmati nasi gentong yang menurutku hampir sama dengan coto. Melepas dahaga dan rasa penat kemudian melanjutkan perjalanan ke bilangan jln. Kartini. Saya memilih memesan hotel tepat di persimpangan jalan, Hotel Tryas namanya.

Tiga malam sudah lamanya Saya di kota yang menurutku hawanya panas. Tidak terlalu jauh kakiku menjejak oleh karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Ada fenomena di sini yang menurutku sangat kontras dengan julukan kota santri. Di setiap awal malam saat berjalan kaki menyusuri trotoar, dengan begitu mudahnya kita menjumpai tukang becak yang menawarkan kenikmatan malam. Mereka seakan merangkap kerja sebagai broker para wanita pemberi nikmat.

Untuk ukuran biaya hidup, kota ini masih bersahabat untuk masyarakat yang berpenghasilan di bawah rata-rata.

Jangan ditanya masalah harga batik. Menurutku, harga batik di toko Trusmi amat sangat tidak masuk akal bahkan untuk ukuranku terlalu mahal dengan kualitas bahan yang tidak terlalu mewah. Akhirnya saya tidak membeli baju batik khas kota ini.

Malam ini menjadi momen terakhir menikmati kehangatan kota karena besok dinihari, saya harus bergegas kembali ke Ibu kota. Namun setidaknya, rasa penasaran atas setiap sudut kota ini sedikit terobati meski hanya sebagian sudutnya yang kesinggahi.

Cirebon, 20 7 17


July 18, 2017

Tentang Ulang Tahun

"Lagi sibuk mas? Ini tg brp? Ingat gak ya? Hehe"
Masih tentang ulang tahun yang sedari dulu tidak pernah menjadi sebuah momen yang menurutku wajib diingat apatahlagi harus dirayakan.

Hari ini, isteri saya telah menggenapi keberadaannya di kehidupan ini selama 27 tahun dan sama sekali saya tidak menyadarinya. Kalimat pertama di tulisan ini adalah pesan via whatsapp yang dikirim oleh mertua saya untuk momen hari ini.

Sebulan yang lalu, sehari sebelum idul fitri 1438 H. Anak saya menjalani hidupnya di tahun pertama. Memang ada kue tart atau bahkan lebih cocok disebut kue bolu buatan saudara saya. Kue tersebut dipotong lalu kami saling menyuapi namun sama sekali hal tersebut bukan usaha untuk membiasakannya dan menjadikan potong kue sebagai tradisi pengingat ulang tahun.

Saya selalu menghindari hal-hal yang nampaknya tidak prinsipil. Memang sih bisa jadi momen ulang tahun dijadikan tolak ukur mentafakkuri setiap langkah yang sudah terlewati namun kenyataannya, hal yang kemudian terjadi selama ini adalah merayakannya dengan sesuatu yang sungguh tidak bermakna.

Kalau hari ini saya melupakan momen ulang tahun isteri saya atau lebih tepatnya tidak berusaha mengingatnya, itu karena saya menganggap tidak terlalu urgent. Doa-doa semacam yang terucap saat momen ulang tahun bisa saja dipanjatkan kapan saja. Toh pada dasarnya, kita tidak boleh melepaskan sekian waktu sekalipun untuk merapal doa terbaik untuk setiap orang terkasih.

Karena saya sudah diingatkan akan hari ini, saya tetap harus secara formal mengamini doa khas ulang tahun.

Ini ulang tahun yang kedua selama kami berstatus sebagai pasangan resmi. Tahun-tahun awal pernikahan yang menurut saya lumayan berat dilalui karena menjaga komitmen pernikahan ternyata tidak seindah saat masih pacaran. Semua sisi dalam diri terkuak dan terkadang menyebabkan benturan-benturan antara dua kepala yang sama sekali tidak sama.

Pada akhirnya, menurutku pernikahan bukan tentang apa-apa tetapi lebih pada sikap yang kuat menjaga komitmen dan janji.

Oh iya kan ini tulisan ulang tahun, kenapa menjurus ke pernikahan?

Ya sudah, selamat ulang tahun buat isteriku. Jangan terlalu longgar dalam beragama. Saya merindukan kesungguhanmu menjalankan banyak amalan sunnah saat dulu ketika belum bekerja. Semoga pekerjaan tidak melalaikan dirimu.
Amin

Cirebon, 18 7 17

July 14, 2017

Mulai Kembali

ada banyak hal yang harus saya evaluasi dari semua ucapan maupun tingkah laku. hal ini terkait dengan posisi sebagai auditor di Kantor. bukan untuk menjaga image namun lebih pada usaha untuk bekerja profesional. Saya seharusnya sudah bisa memisahkan antara interaksi dalam lingkup pertemanan dengan kerja-kerja kantor, meski sebenarnya untuk setiap bagian di Kantor pun seharusnya seperti itu.
belajar profesional tidak harus melulu menjadi orang yang sok serius maupun jaim terhadap teman sendiri ataupun orang lain. belajar bekerja profesional lebih pada aspek sadar ruang dan posisi. tidak semua hal harus diungkapkan. porsi dalam setiap hal sudah ditakar masing-masing sesuai ukurannnya.
hal lain yang seharusnya menjadi evaluasi untuk diriku lebih pada pemetaan terhadap setiap masalah yang harus dibicarakan dengan orang lain. setiap porsi kerja yang memang harus dirahasiakan jangan sampai menjadi candaan.

Saya beberapa kali gagal menuntaskan banyak hal karena ketidaktekunan maupun tidak serius dalam mengerjakan hal-hal kecil. pembentukan karakter mungkin menjadi salah satu penyebab dari kegagalan yang Saya alami.

penekanan seperti ini bukan untuk mengubah kepribadian bukan pula untuk gaya-gayaan tetapi lebih pada apa yang sudah menjadi komitmen dan mencoba untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus meng upgrade kemampuan.

entahlah, berikutnya hanya dibutuhkan komitmen dan kerja keras untuk mewujudkan setiap yang sudah direncanakan di pikiran bukan hanya membeku kemudian menguap entah kemana yang selanjutnya hanya menjadi cita-cita basi.

saya terlalu sering seperti itu. merangkai hal-hal idealis dalam pikiran namun kemudian menguap seperti air yang dimasak tanpa bersisa sedikit pun. namun setidaknya kali ini saya akan memulai lagi hal-hal baik yang menurutku sudah terlalu lama terlupakan.

draft tulisan yang terlalu lama mengendap dipublish kembali
14 7 17

Mudik

Merantau adalah satu satunya cara untuk merasakan euforia mudik. setiap kali momen tersebut tiba, aroma wewangian tanah leluhur sudah menyerbak bahkan seminggu sebelum pulang. pikiran berangkat sebelum raga menyusul. tidak ada lagi rasa yang tertinggal di kota ini.

mudik kali ini mungkin terasa lebih spesial karena saya sudah mempunyai putra. ada semacam rasa senang membawa putra saya menyusuri kampung halaman apatahlagi kali ini adalah mudik pertama baginya. Ramadhan 1437 H tahun lalu adalah momen kehadirannya di dunia dan itu terjadi di kampung halaman ibunya.

hari rabu dinihari 22 Juni 2017 sekira pukul 02:00 WIB. kami sudah siap ke Bandara. sedikit merasa bersalah juga sudah membangunkan anakku di jam yang seharusnya dia menikmati tidurnya dengan pulas namun mengingat pesawat yang akan membawa kami ke Sulawesi akan take off pukul 05:00 WIB maka kami harus siap sedari awal.

kami tidak mengalami hambatan yang berarti di perjalanan bahkan putraku tidak rewel di dalam pesawat sampai pada akhirnya kami tiba di bandara Hasanuddin pukul 08:30 WITA. kami harus bersabar karena jarak dari bandara ke kampung masih memakan waktu sekitar 6-8 jam. untungnya kali ini, kami tidak perlu bersusah payah ke terminal menunggu mobil sewaan karena kakakku berbaik hati menjemput kami di bandara.

perjalanan ke kampung benar-benar menguras tenaga ditambah lagi dengan cuaca yang lumayan panas. kami baru tiba di kampung pukul 19:00 WIB karena mampir di 2 titik dalam perjalanan. pertama mampir di daerah Bojo istirahat sekaligus shalat kemudian mampir di Pare-Pare membeli oleh-oleh.

menginjakkan kaki di rumah setelah sekian lama meninggalkannya selalu mengharu biru apatahlagi disambut oleh wajah sendu seorang wanita yang mulai menua yang selalu merapalkan doa-doa terbaiknya untukku selama di perantauan. saya selalu yakin bahwa kiriman doanya untukku selama di tanah rantau yang membuat jiwa dan ragaku masih terjaga dari cobaan yang dahsyat, tanpa doa tulusnya yang dipanjatkan ke Pemilik Semesta setiap selesai sujud, mungkin saya sudah sering salah langkah.

Saya selalu menikmati wajahnya yang mematung di pintu setiap kali beliau tahu saya mudik. tidak banyak kata yang terucap dari mulutnya pertama kali melihatku, hanya senyum tipis yang menghiasi wajahnya namun itu lebih dari semua apa yang kuinginkan. senyumnya sudah cukup meruntuhkan segala penat yang kubawa dari tanah rantau. saya menyayangi wanita yang rambutnya sudah didominasi warna putih. saya menyayanginya dengan sepenuh hatiku.

hari-hari di kampung berjalanan seperti biasanya. 10 hari di kampung hanya terasa seperti 3 hari. Saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi setiap sudut kampung halaman karena putra saya terlalu rewel bahkan dia tidak mau digendong oleh orang lain.

Dua hari menjelang arus balik, saya selalu merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan. kembali harus meninggalkan bau rumah, aroma masakan ibu dan setiap kemesraan bersama handai tauladan. saya harus kembali ke ibu kota yang benar-benar memekakkan telingaku. arus kehidupan ibu kota sepertinya sudah menggerus begitu banyak sisi manusiaku sampai rasanya saya berjalan seperti robot yang mengikuti alunan kehidupan yang terlalu cepat dan keras.

momen arus balik tiba dan saya kembali mencium setiap sudut wajah Ibu. aroma badannya kubiarkan menempel abadi di tubuhku dan kujadikan sebagai penyicil rindu saat saya di tanah rantau karena kusadari betul bahwa rindu untuknya kembali hadir bahkan sebelum mobil meninggalkan batas kampung.

arus balik lebih menguras tenaga daripada saat mudik. saya dan keluarga menderita flu bahkan putra saya beberapa kali menangis di dalam Pesawat saat perjalanan pulang. meski begitu, tidak mengurangi kesyukuran saya untuk mudik kali ini.

semoga Ibu dan Bapak serta handai tauladan sehat selalu di kampung halaman. saya akan mengunjungi mereka minimal sekali setahun.

Catatan Mudik
minggu ke-2 Syawal

June 11, 2017

Ramadhan

Belum ada sama sekali jejak tentang ramadhan yang kutinggalkan di lapak ini sedangkan ramadhan sudah memasuki pertengahan. Entah malas atau memang tidak ada yang harus diceritakan.

Masjid dekat rumahku hanya sekali seminggu mengadakan ceramah tarawih. Setiap kali selesai shalat isya, langsung dilanjutkan shalat tarawih. Itulah mengapa tidak ada bahan ceramah yang harus kuulangi. Seingat saya, baru 2 kali ceramah sampai pertengahan ramadhan.

Ketua masjid di dekat rumahku terlalu keras terhadap anak-anak yang datang ke masjid. Seringkali dia mengusir anak-anak yang ribut di lantai dua untuk pulang saja jika tidak mau tenang. 

Saya selalu tidak sepakat dengan para orang tua yang memarahi anak-anak yang ribut di masjid. Bukan juga membenarkan namun setidaknya, modal utama mereka karena sudah rajin ke masjid, tinggal cara memahamkan para orang tua kepada anak-anaknya untuk tidak ribut di masjid tanpa harus memarahi mereka di tengah jamaah apatalagi menggunakan pengeras suara.

Kita semua pernah melewati masa kanak-kanak dan seharusnya sudah bisa merasakan euforia ramadhan sebagai seorang bocah sehingga menurutku betapa naifnya para orang tua yang merasa paling benar memarahi bahkan mengusir para bocah yang ribut di masjid.
#catatan Ramadhan

10 6 17

OTS #6

Tidak ada yang terasa spesial menjejak kaki di kota ini. Toh 5 tahun yang lalu, Saya pernah mendiami kota ini selama sebulan. Itulah kenapa, beberapa sudut kota ini kuakrabi.

Jika ada hal yang terasa sentimental di kota ini, mungkin berada di daerah stasiun pemberhentian kereta ekonomi. Bagaimana tidak, daerah itu pertama kali kujejak ketika memutuskan mendatangi kota ini. Lagipula, saat itu, tidak ada tujuan yang jelas harus kemana. Benar-benar membiarkan takdir membawaku kemana saja.

Empat hari berkunjung ke kota ini dan tidak ada yang terlalu berbeda dari lima tahun lalu. Kotanya masih meneduhkan meski sedikit lebih crowded namun bangunannya tidak ada yang menjulang tinggi seperti di ibu kota. Rimbunan pepohonan masih menumbuhi pinggir jalanan.

Sayangnya, beberapa pengembang mulai merambah di daerah pinggiran kota ini dan berpotensi membuat semrawut tatanan kota.

Saya menyempatkan diri mengitari daerah pinggiran kota dan terlihat olehku deretan perumahan cluster yang menduduki bekas persawahan. Satu hal yang sangat dikhawatirkan adalah hilangnya persawahan dan diganti perumahan.

Namun setidaknya, empat hari di kota ini sedikitnya membangkitkan awal perjalananku merantau di pulau ini. Serasa mimpi melewati semua dan memasuki tahun kelima berpetualang.

Semoga tetap asri kota gudeg.
10 6 17