![]() |
| http://www.worldfootball.net/teams/inter/2017/2/ |
deretan Pemain berlabel bintang mendarat di Guiseppe Meazza. kualitas tim musim ini jelas lebih menterang dibanding musim lalu yang hanya diisi oleh beberapa pemain senior dikombinasikan dengan pemain muda. tengok saja, ada Joao Mario yang baru saja menjuarai Piala Eropa. ada Ever Banega yang datang dari Sevilla dengan free transfer dan baru saja menjuarai Liga Eropa. winger Italia yang sebelumnya bermain di Lazio dan deretan pemain bintang lainnya yang tidak perlu lagi diragukan kemampuan olah bolanya.
kekacauan mulai terjadi di tubuh internal klub dua minggu sebelum kick off Seria A dimulai. Roberto Mancini yang notabene sebagai otak dari kerangka tim yang sudah terbentuk, tiba-tiba saja diganti oleh Frank De Boer, juru taktik yang berasal dari belanda yang sama sekali belum memiliki pengalaman melatih di Serie A.
masih banyak yang percaya bahwa Inter Milan akan tetap mampu bersaing mengejar Scudetto meski mengalami pergantian pelatih menjelang liga dimulai. mereka beranggapan bahwa toh kualitas pemain Inter Milan bisa menyesuaikan dengan skema Frank.
pemikiran seperti itu terlalu naif menurutku. sepakbola profesional bukan semata kualitas pemain. tidak seperti pertandingan tarkam yang hanya mengandalkan kualitas individu, sepakbola profesional apatahlagi dalam tataran Eropa, maka kita berbicara tentang sebuah manajemen, perencanaan dan semua tetek bengek yang terkait dengan klub.
seorang pemain yang jago sekalipun bisa saja tidak bisa berbuat apa-apa ketika pelatih tidak mampu menempatkannya pada posisi baik dan dalam skema sesuai dengan skill sang pemain.
tengoklah bagaimana alex Ferguson memimpin Manchester United dalam periode 1986–2013. dia sama sekali tidak terpaku kepada seorang pemain bahkan jika seorang bintang pun dirasa berseberangan dengan rencananya maka konsekuensinya, sang pemain akan disingkirkin. contoh nyata David Bechkam yang harus hijrah ke Real Madrid di saat performanya sedang berada di puncak.
kenyataan tersebut di atas menggambarkan bahwa pergantian pelatih Inter Milan 2 minggu sebelum liga dimulai jelas berdampak buruk bagi prestasi tim. kerangka tim yang sudah terbentuk adalah hasil olah pikir Mancini yang kemudian harus diarsiteki oleh Frank. apatahlagi kita ketahui bahwa setiap pelatih memiliki cara pandang dan skema yang berbeda.
benar saja, Frank terbukti gagal mempertankan dirinya sebagai kepala tim di Inter Milan karena kekalahan demi kekalahan yang dialami di awal musim. kegagalan paling memilukan diderita Inter Milan di Liga Eropa. mereka harus tersingkir dari babak penyisihan padahal klub yang berada satu group jelas lebih bawah kualitasnya.
Inter Milan sekarang diarsiteki oleh Pioli. pelatih yang notabene tidak termasuk sebagai pelatih papan atas. di awal kepemimpinannya, dia sudah membawa Inter Milan menaklukkan Fiorentina namun digebuk Napoli dengan 3 gol tanpa balas. masih tersisa harapan bagi Pioli untuk membawa Inter kembali ke jalur yang benar.
Anomali yang terjadi di tubuh Inter sampai saat ini jelas menimbulkan banyak analisa. banyak yang beranggapan bahwa manajemen Inter Milan adalah penyebab seretnya prestasi klub. logikanya, bagaimana mungkin klub sebesar Inter Milan memilih Presiden yang berasal dari Indonesia, bahkan tidak meluangkan sepenuh waktunya untuk memimpin Inter dari dekat karena harus bolak balik ke Indonesia apatahlagi pemilik Inter sudah diakuisisi oleh Pengusaha China. posisi vital ditempati oleh orang yang tidak selalu dekat dengan klub.
Inter Milan dibawah kepemimpinan Erick Thohir sangat berbeda jauh saat Moratti masih mendaku dirinya sebagai presiden klub. Morattti selalu ada dan menyerahkan sepenuhnya hati dan pikirannya bagi klub namun tidak dengan Thohir. seringkali dia berada di Indonesia mengurus bisnisnya di saat klub sedang bertanding.
semoga manajemen Inter Milan segera berbenah. sedih melihat prestasi klub yang ngos-ngosan bersaing di Serie A bahkan melawan tim papan bawah pun, Inter kewalahan.
16 12 16
masih banyak yang percaya bahwa Inter Milan akan tetap mampu bersaing mengejar Scudetto meski mengalami pergantian pelatih menjelang liga dimulai. mereka beranggapan bahwa toh kualitas pemain Inter Milan bisa menyesuaikan dengan skema Frank.
pemikiran seperti itu terlalu naif menurutku. sepakbola profesional bukan semata kualitas pemain. tidak seperti pertandingan tarkam yang hanya mengandalkan kualitas individu, sepakbola profesional apatahlagi dalam tataran Eropa, maka kita berbicara tentang sebuah manajemen, perencanaan dan semua tetek bengek yang terkait dengan klub.
seorang pemain yang jago sekalipun bisa saja tidak bisa berbuat apa-apa ketika pelatih tidak mampu menempatkannya pada posisi baik dan dalam skema sesuai dengan skill sang pemain.
tengoklah bagaimana alex Ferguson memimpin Manchester United dalam periode 1986–2013. dia sama sekali tidak terpaku kepada seorang pemain bahkan jika seorang bintang pun dirasa berseberangan dengan rencananya maka konsekuensinya, sang pemain akan disingkirkin. contoh nyata David Bechkam yang harus hijrah ke Real Madrid di saat performanya sedang berada di puncak.
kenyataan tersebut di atas menggambarkan bahwa pergantian pelatih Inter Milan 2 minggu sebelum liga dimulai jelas berdampak buruk bagi prestasi tim. kerangka tim yang sudah terbentuk adalah hasil olah pikir Mancini yang kemudian harus diarsiteki oleh Frank. apatahlagi kita ketahui bahwa setiap pelatih memiliki cara pandang dan skema yang berbeda.
benar saja, Frank terbukti gagal mempertankan dirinya sebagai kepala tim di Inter Milan karena kekalahan demi kekalahan yang dialami di awal musim. kegagalan paling memilukan diderita Inter Milan di Liga Eropa. mereka harus tersingkir dari babak penyisihan padahal klub yang berada satu group jelas lebih bawah kualitasnya.
Inter Milan sekarang diarsiteki oleh Pioli. pelatih yang notabene tidak termasuk sebagai pelatih papan atas. di awal kepemimpinannya, dia sudah membawa Inter Milan menaklukkan Fiorentina namun digebuk Napoli dengan 3 gol tanpa balas. masih tersisa harapan bagi Pioli untuk membawa Inter kembali ke jalur yang benar.
Anomali yang terjadi di tubuh Inter sampai saat ini jelas menimbulkan banyak analisa. banyak yang beranggapan bahwa manajemen Inter Milan adalah penyebab seretnya prestasi klub. logikanya, bagaimana mungkin klub sebesar Inter Milan memilih Presiden yang berasal dari Indonesia, bahkan tidak meluangkan sepenuh waktunya untuk memimpin Inter dari dekat karena harus bolak balik ke Indonesia apatahlagi pemilik Inter sudah diakuisisi oleh Pengusaha China. posisi vital ditempati oleh orang yang tidak selalu dekat dengan klub.
Inter Milan dibawah kepemimpinan Erick Thohir sangat berbeda jauh saat Moratti masih mendaku dirinya sebagai presiden klub. Morattti selalu ada dan menyerahkan sepenuhnya hati dan pikirannya bagi klub namun tidak dengan Thohir. seringkali dia berada di Indonesia mengurus bisnisnya di saat klub sedang bertanding.
semoga manajemen Inter Milan segera berbenah. sedih melihat prestasi klub yang ngos-ngosan bersaing di Serie A bahkan melawan tim papan bawah pun, Inter kewalahan.
16 12 16






