December 8, 2016

Kondogbia, harapan yang hampir sirna

http://www.desktopimages.org/wallpaper/122229/geoffrey-kondogbia-2015-fc-internazionale-milano-wallpaper

Satu hal yang terbersit dalam benakku ketika pertama kali membaca berita bahwa Geoffrey Kondogbia sudah deal pindah ke Inter Milan dari As Monaco di tahun 2015 adalah dia akan menjadi suksesor Patrick Viera. postur tubuh yang menjulang benar-benar mengingatkan akan sosok Viera sebagai jenderal lapangan dengan penguasaan bola yang sangat baik, bahkan mereka berasal dari negara yang sama.

Proses transfer Kondogbia ramai karena nilai jual yang mahal dan banyak klub yang menginginkannya. salah satu klub yang paling ngotot menggunakan jasa Kondogbia adalah klub tetangga, AC Milan. sesaat setelah memenangkan transfer Kondogbia, Inter Milan seakan menang dalam pertandingan derby Milano. harapan besar pun dibebankan di  pundak Kondogbia untuk mengangkat prestasi Inter Milan yang seret akan prestasi pasca memenangkan treble winner di tahun 2010.
Interisti menaruh harapan pada Kondogbia dengan membandingkan keberhasilan Pogba di Juventus mengingat keduanya adalah rekan sejawat di timnas Prancis. menurut saya, harapan yang dibebankan kepadanya terlalu berat bagi seorang Kondogbia mengingat umurnya yang masih muda dan sama sekali belum memiliki pengalaman bermain di Serie A.

Kisaran harga 35 juta Euro yang digelontorkan Inter Milan untuk mendaratkan Kondogbia ke Giuseppe Meazza seakan sia-sia setelah satu setengah musim berjalan, sang Pemain tidak menampakkan tanda-tanda sebagai pemain penting dalam tim bahkan sampai pekan 15 musin 2016/17, Kondogbia lebih sering mengakrabi bangku cadangan.

kekhawatiran berikutnya saat melihat penampilan Kondogbia adalah kemungkinan dia akan masuk dalam daftar transfer gagal Inter Milan. sejarah mencatat bahwa seringkali Inter Milan melakukan transfer gagal. seorang Pemain dibeli dengan harga tinggi namun ekspektasi jauh dari harapan. faktor ketidakcocokan dengan gaya bermain mungkin menjadi alasan utama. meski permasalah seputar transfer yang gagal sudah hal yang jamak terjadi di dunia sepakbola namun tetap saja menyayangkan jika hal tersebut terjadi pada seorang Kondogbia yang sudah dibeli dengan harga yang mahal namun tidak menghasilkan apa-apa.

satu hal lagi yang saya khawatirkan ketika Kondogbia sudah dilego ke klub lain namun ternyata dia berubah menjadi pemain hebat. hal seperti ini sudah sering dialami oleh Inter Milan. tengok saja penjualan Coutinho ke Liverpool yang sampai sekarang menjadi penyesalan yang sangat mendalam bagi semua elemen klub mengingat Countinho menjadi pilar penting di Liverpool. contoh lainnya mungkin andrea Pirlo yang dijual ke AC Milan. sederet pemain lain pun pernah mengalami hal yang sama di Inter Milan.

sangat rumit bagi Inter Milan menyikapi persoalan Kondogbia yang tak kunjung membaik penampilannya. di satu sisi, kekhawatiran seperti yang saya tuliskan di atas selalu menghantui namun di sisi yang lain, ketika Kondogbia tetap berada di dalam tim namun hanya menghuni bangku cadangan, maka kerugian besar bagi klub mengingat gaji sang pemain sangat tinggi. Inter harus membayar 4,5 juta euro per musimnya ke rekening Kondogbia. gaji tersebut tertinggi di antara pemain lain.

solusi paling realistis saat ini adalah meminjamkan Kondogbia ke klub lain untuk mengasah kemampuannya. menjual secara permanen pun bukan solusi yang terbaik mengingat umurnya yang baru akan memasuki 24 tahun pada februari 2017.

atau mungkin saja kita para interisti harus memasukkannya ke dalam daftar pemain yang gagal di Inter Milan.

8 12 16

No comments: