April 1, 2016

April

Tidak ada yang istimewa dari momen yang terlewat
hampir sama saja
datar tak bergelombang

sekali lagi memulai dari hal yang baru
pada tiap tanggalan yang berada di bilangan awal

hanya bisa berharap
semoga ada progress

Amin

01 04 16 07:59

March 30, 2016

Penulis yang Buruk

Salah satu alasanku memilih untuk mengendurkan semangat menulis karena aku tidak pernah percaya diri terhadap tulisanku. Menurutku, semua tulisan-tulisanku belum memenuhi kriteria sebagai tulisan bahkan masuk dalam kategori tulisan buruk pun belum.

Seringkali aku merasa iri terhadap siapa pun yang bisa menulis dengan mempesona dan pada akhirnya pembaca akan merasa tertarik dengan tulisannya. Aku..?? Ah jangan ditanya, diriku sendiri pun selalu tidak pernah tertarik membaca tulisan-tulisanku yang menurutku amat sangat tidak bernas. Aku akui jarang sekali membaca tulisan-tulisanku.

Entah sudah berapa kali aku mencoba berbagai gaya menulis. Mulai dari tulisan yang dikemas dengan joke dalam menyampaikan pesan penulis sampai pada gaya menulis serius yang dirangkai dari kisah sehari-hari, namun apa hasilnya..?? benar-benar nihil. Aku adalah orang yang berusaha bermimpi menghasilkan tulisan tetapi gagal jadi Penulis pemula.
 
Bayangkan saja, sudah beberapa ruang menulis yang kubuat. wordpress, blogspot ada 2, tumblr, akun kompasiana dan masih ada beberapa yang sudah lupa namun hasilnya tidak beranjak menjadi baik. Mungkin juga karena minat membacaku yang lambat laun sudah berada di titik nadir setelah smartphone merampas semua waktu luangku.

Sepertinya aku selalu berjuang melawan pesona smartphone namun apa daya, aku adalah manusia modern yang selalu mendahulukan aktualisasi diri dibandingkan kualitas maka terjebaklah aku di lingkaran dunia maya yang absurd.

Kalaupun aku membaca buku, hanya dua tiga lembar sudah mampu membuat mataku tertutup rapat namun dibandingkan dengan bermain-main dengan smartphone. Aku bisa saja menghabiskn dua sampai tiga jam tanpa ngantuk sama sekali. ironis sekaligus menyedihkan.

Bukan tanpa usaha untuk menghilangkan keakraban dengan smartphone. Bahkan aku sudah menempuh banyak cara misalnya yang paling ekstrim 'menurutku,' Aku menutup akun FB yang kubuat dari tahun 2008, bayangkan sudah banyak informasi yang terekam di akun FB tersebut namun demi melepaskan jeratan dunia maya, aku menutupnya rapat-rapat. Tetapi hasilnya apa? masih tetap saja aku terjerat oleh dunia bayang-bayang tersebut dalam setiap waktu rehat.

Bukan sekali dua kali aku merefleksikan apa saja yang membuatku selalu memelototi smartphone dan ternyata menurutku hanya hal remeh temeh. Mengecek pembaharuan bbm, membaca berita online, main game dan hal-hal tidak penting sama sekali namun tetap saja dilakukan.

Aku memang penulis yang buruk atau bahkan jadi penulis buruk pun belum. Aku pencerita yang sama sekali tidak memikat. Pemilihan diksi yang selalu tidak menggairahkan untuk dibaca dan tulisan yang kaku, tidak sistematis. Ingin kuhentikan saja kebiasaan menulis dan menjadi penikmat tulisan saja. Membaca lebih menyenangkan daripada berusaha seolah-olah menulis kata-kata buruk.

sialllll #emotmukamerahbertandukmulutmenganga.

Rawamangun, 30 03 2016

March 29, 2016

Madiun (Lagi)

Tidak terasa sudah 6 bulan tidak mengunjungi kota isteriku. akhirnya liburan long weekend kemarin, Aku berkesempatan mudik ke kota dibagian timur pulau Jawa.
Kamis sore setelah pulang kantor, Aku bergegas ke stasiun Pasar Senen. Aku mampir beli nasi padang di depan lampu merah Rawamangun kemudian lanjut ke Stasiun. di depan Stasiun, Aku beli gorengan 5 biji sebagai cemilan di kereta.

Kamis, 24 03 2016 18:00 WIB, 
Aku masuk ke kawasan stasiun memarkir motor kemudian menuju pintu masuk. Aku heran kok liburan 3 hari tetapi penumpang kereta tidak terlalu padat atau entah sehari sebelumnya, banyak karyawan yang ambil cuti supaya liburannya lebih lama padahal bukan rahasia lagi jikalau long weekend adalah momen berharga bagi para kaum urban di Ibu kota untuk berlibur ke luar kota

18:30 WIB
Kereta Mahapahit yang kutumpangi berangkat tepat waktu. Aku duduk di gerbong 3 kursi 15A. ada seorang Bapak disampingku bersama seorang anaknya yang kira-kira berumur 1,5 tahun. di depanku ada seorang Pria paruh baya yang akan mudik ke Pekalongan sedangkan disampingnya, seorang Perempuan 20an tahun hendak ke Ngawi.

22:00 WIB
Aku tidak bisa memejamkan mata karena posisi yang tidak terlalu enak. alhasil Aku baca buku yang kubawa dari rumah namun tidak lama, mata penat kemudian Aku browsing di HP. selang beberapa saat, Aku bosan kemudian melihat Para Penumpang yang sedang masyghul dengan diri mereka masing-masing. ada yang bercanda dengan keluarganya, ada yang sibuk memainkan Hp dan ada pula yang sudah terlelap dalam buaian mimpi indah.

01:00 WIB,
Kereta mencapai daerah Semarang dan Bapak yang berada disampingku turun di stasiun Semarang. sebelumnya pun Pria paruh bayu di depanku juga sudah turun di Pekalongan namun Aku tidak tahu persis pukul berapa kereta tiba di Pekalongan.

Selepas Semarang, Aku sudah mulai bisa memejamkan mata meski di saat Bapak tersebut turun, diganti oleh 2 orang pasangan suami isteri yang kira-kira seumuran Ibuku. si Suami duduk disampingku sedangkan si Isterinya duduk di depanku.

04:30 WIB
Aku baru benar-benar tersadar dari mimpi saat memasuki daerah Ngawi. sebelumnya Aku sempat terdengar pemberitahuan ketika kereta akan sampai di stasiun namun antara sadar dan tidak. sesampai di Walikukun, Aku terbangun dan menikmati udara kota ini yang pernah menjadi tempat tinggalku selama lebih setahun. 

Perempuan tadi yang duduk di depanku turun di stasiun Paron. Ah, sudut kota Ngawi memang sangat akrab denganku. stasiun Paron sering kulewati dulu ketika hendak kearah kendal, Jogoroga ataupun Sine.

di 4 kursi yang berhadap-hadapan, tinggal Aku dan pasangan suami isteri yang naik di Semarang. Aku iseng bertanya kepada Mereka ternyata mereka hendak ke Tulungagung.

Butuh waktu sekitar sejam untuk sampai di Stasiun Madiun sedangkan normalnya terkadang hanya setengah Jam. Kereta terlalu lama berhenti di stasiun Barat karena rel persimpangan.

Jum'at 25 03 2016 05:15 WIB
Akhirnya Aku kembali menginjakkan kaki di kota ini. suasana udaranya langsung menyerap kedalam pori-pori kulitku dan menimbulkan rasa tenang yang jarang kujumpai di Ibukota.

Seharian Aku hanya menghabiskan waktu di rumah. pagi harinya Aku dan Isteri ke Jatim Cell membeli silikon HP dan Touch Screen . Isteri membeli headseat. kami kemudian pulang ke rumah dan selang beberapa saat, Aku berangkat jumatan.

Aku dan Isteri rencananya ke alun-alun sore harinya namun hujan deras menghalangi niat kami, alhasil kami hanya di rumah tidur.

Sabtu 26 03 2016 06:00 WIB
Aku dan Isteri menikmati pagi di Lapangan Gulun. terasa benar kenangan masa lalu yang datang mencampakkanku dalam perasaan yang tidak menentu. inginku mengulang kembali masa lalu namun untuk saat ini, kondisi tidak mengijinkan. Kami hanya bisa sedikit merasakan ketenangan dalam kedamaian kampung halaman.

11:00 WIB
Aku bertandang ke teman lalu di Jln, Trengguli. Mereka adalah teman kantorku saat masih bekerja di kota itu 2 tahun lalu. kami hanya sebentar melepas rindu karena waktu yang membatasi.

15:30 WIB
Aku dan Isteri beranjak ke toko Taman Sari membeli buah tangan untuk handai tauladan di Jakarta. ada 1 kardus dan 1 kantong Plastik.

18:30 WIB
Aku, Isteri dan mertua makan malam di SS. Aku baru sadar bahwa ternyata dulu Aku pernah makan di warung ini. lumayan ramai dan harus menunggu sekitar setengah jam baru makanan tersedia. bahkan Mertua yang memesan sambel terong dan tahu terpaksa dibatalkan karena makanan yang lain sudah habis baru 2 pesanan tersebut disajikan.

Minggu, 09:00 WIB
Akhirnya waktu kepulangan ke Ibu kota tiba. seperti hanya sejam di kota halaman. benar-benar hanya sekilas. Aku dan Isteri diantar oleh Mertua dan Ipar ke Stasiun. kereta Krakatau akan membawa kami kembali pulang ke habitat. bergelut dengan tengilnya kehidupan Ibu kota.

10:00 WIB
Akhirnya kereta benar-benar beranjak dari Madiun ke Jakarta. Aku duduk disamping Isteri dan ada 2 Pria di depan kami. yang satu turun di Stasiun Bekasi sedangkan yang satunya lagi turun di Stasiun Jatinegara

22:30 WIB
Akhirnya kami tiba di Stasiun Pasar Senen. bergegas ke parkiran Motor. Aku sempat terperangah saat akan membayar karcis parkir. Rp. 155,500. Ah ga salah tuhhh. tetapi gimana lagi, sudah terlanjur dan menjadi pembelajaran suatu saat ketika ada kesempatan mudik lagi, tidak perlulah untuk bawa motor ke Stasiun.

23:00
Kami tiba di kontrakan Mampang Prapatan dengan selamat. Aku dan Isteri melepas penat.

terima kasih untuk liburan kali ini

Jakarta, 29 03 2016

Apa Kabar Ruangan Ini?

Lama tidak mengunjungi ruangan yang satu ini. Sudah berdebu dan agak sedikit kotor. Ada beberapa sudutnya yang sudah terasa asing untuk kududuki. Memang sebulan ini, langkahku begitu berat untuk menuju tempat ini sekedar untuk mampir atau menumpahkan keluh kesah yang sudah terlalu menumpuk di ubun-ubun.

Kali ini kupaksakan mampir sebentar untuk melepaskan penat. Duduk bersandar di bangku tua dan berlari kembali ke masa lalu.

Ah, aku tidak ingin terlalu lama terjebak di masa lalu, inginku melangkah ke masa esok hari. Biarkanlah yang berlalu menjadi teman kenangan dan Aku hanya ingin menemani diri kini.

Oke, Aku berjanji untuk tetap merawat ruangan ini sesibuk apapun diriku karena kuyakin, salah satu jalan untuk kembali ke masa lalu adalah lewat ruangan ini tetapi tentunya Aku harus banyak bercerita disini.

mungkin ini dulu sebagai penyegaran atas kevakumanku dalam menggores pena.

Rawamangun, 29 03 2016

March 3, 2016

Menjadi Berbeda

Tiba-tiba saja tergerak menulis tentang sesuatu yang berbeda di tiap diri manusia yang membuat mereka sukses karena mempunyai keahlian. Saya sebenarnya menulis ini karena mendengar motivator di radio yang membahas tentang nilai lebih seseorang. Saya seringkali tidak terlalu senang dengan motivasi-motivasi namun tema kali ini menggelitik untuk kutuliskan.

Dalam setiap bidang yang kita tekuni, seharusnya kita punya spesialis atau keahlian yang berbeda dari orang lain yang bisa mengantar kita menuju pintu kesuksesan. Dalam permainan sepakbola pun, pemain yang populer pasti punya spesialis, entah jago dribbel, spesialis tendangan bebas atau spesialis kiper yang menggagalkan tendangan penalti. Begitupun dalam profesi lainnya. Untuk menjadi orang yang diperhitungkan, kita harus mempunyai keahlian yang jarang dimiliki oleh orang lain.

Di Kantor pun begitu adanya. Seorang karyawan yang mempunyai spesialis / keahlian yang tidak dimiliki oleh karyawan lain membuatnya bisa merengkuh kesuksesan lebih cepat. Jika hanya menjadi karyawan yang biasa saja maka terkadang manajemen tidak terlalu melirik kepada kita. Misalnya seorang staf pemasaran, jika hanya bisa membuat proposal, menawarkan produk dan kerja-kerja lainnya yang berhubungan dengan pemasaran maka hal tersebut biasa saja karena pada dasarnya tugas staf pemasaran seperti itu. Beda halnya ketika seorang staf pemasaran menggali keahlian yang ada pada dirinya di luar wilayah kerja pemasaran misalnya mahir dalam bidang kerja IT, maka otomatis staf yang seperti itu akan menjadi lain dengan keahlian yang dimilikinya diluar wilayah kerjanya. Dia akan mudah dipertimbangkan oleh manajemen untuk menduduki posisi tertentu.

Saya pun sampai sekarang masih berpikir tentang diri saya sendiri. Keunggulan apa yang harus saya miliki untuk bisa sukses. Menjadi karyawan yang biasa-biasa saja sudah terlalu banyak.

Semoga ada jalan.

Jakarta, 2 Maret 2016

The Revenant

Setelah hingar bingar Piala Oscar akhir februari lalu yang dimenangi oleh Leonardo Dicaprio, gema tentang sosoknya pun ramai dibicarakan di media sosial tak ketinggalan pula film yang dibintangi Leo yang membawanya memenangi Oscar ikut bergema. Saya akhirnya ikut hanyut dalam euforia tersebut dan ingin menonton film The Revenant.

Saya salah satu penyuka Aktor ini. Entah karena dia membuatku larut dalam filmya "Titanic' di mana masa itu, saya masih suka meniru-niru aktor yang menurutku keren sehingga terbawa sampai saat ini, menyukai sosok Leo. Apatahlagi ketika beberapa waktu yang lalu, Leo menyumbangkan sejumlah isi dompetnya untuk penyelamatan hutan di Kalimantan meski hal tersebut sedikit berbau "pencitraan" karena menjelang ajang perhelatan piala Oscar yang dia salah satu menjadi nominasi. Namun lupakan tentang praduga tersebut karena toh tidak ada yang tahu niat seseorang, intinya Leo secara kasat mata peduli terhadap kelangsungan bumi dengan tindakan nyata dan memang Leo sudah dari dulu dikenal concern masalah lingkungan.

Semalam, saya menonton film The Revenant hasil donlotan dengan visual apa adanya. Saya tidak berniat untuk mereviu semua cerita tentang film tersebut karena saya yakin sudah begitu banyak orang yang mereviunya. Saya hanya ingin mengambil beberapa cerita yang menurutku menarik.

Si karismatik Leo yang berperan sebagai Hugh Glass benar-benar menyelami perannya sebagai pribadi yang menyimpan dendam terhadap pembunuh anaknya dan meninggalkannya dalam keadaan sekarat  di tengah hutan belantara.

Glass mengajarkan kita bagaimana survive dengan keadaan serba terbatas. Tubuh penuh luka, ransum tidak ada ditambah lagi ancaman dari masyarakat Indian. Ah serasa dalam kandang harimau tanpa pintu keluar. Hanya semangat membalas dendam terhadap John Fitzgerald, si pembunuh anaknya yang membuat Glass tetap bertahan. Beberapa kali Glass dihadap oleh badai yang mematikan namun semangat survive Glass yang berlipat membuatnya tidak bisa dikalahkan oleh alam.

Kisah menarik lainnya adalah sosok Jim Bridger, salah satu teman Glass yang meninggalkannya di tengah hutan karena dibohongi oleh Fitzgerald bahwa Glass sudah meninggal. Anak muda ini terkenal dengan jiwa sosialnya yang tinggi. Saat perjalanan pulang berdua dengan Fizgerald, Mereka melewati pemukiman orang Indian yang sudah hancur terbakar diserang oleh sejumlah kelompok. mayat bertebaran di mana-mana namun salah satu gadis Indian ternyata masih hidup dan kelaparan. Melihat hal tersebut, Jim memberinya makanan kemudian melanjutkan perjalanan. Jim pun menolak pemberian uang sejumlah 300 Dollar karena sadar bahwa Ftzgerald telah memperlakukan secara tidak manusiawi terhadap Glass sehingga meninggal dalam kedinginan.

Jakarta, 03 03 16




March 1, 2016

Membaca

It's very terrible to remember that I lack in reading. for a few years latest, just several books that I have been readed. ah selalu Saya berusaha untuk meng upgrade pengetahuan dan memperbaiki kualitas menulis namun tidak dibarengi dengan kuantitas membaca. payahh.

Saya terbebani dengan kenangan masa kecil yang gemar membaca bahkan seringkali lupa waktu ketika sudah membaca. entah kapan kebiasaan itu terhenti.

Masa kuliah kuhabiskan dengan organisasi. Saya terlalu terlena bahwa hidup seharusnya bukan cuma bersuara namun juga harus menambah asupan pengetahuan dari buku. setelah berlalu, semakin parah kemalasanku membaca meski gairahku selalu menggelora saat melihat tumpukan buku di Perpustakaan dan di Toko buku.

Dua tahun belakang ini, Saya kembali sering membeli buku hingga sampai sekarang, setumpuk buku di kamarku menunggu untuk dipeluk. Saya hanya sekilas melihat mereka saat pulang kantor lalu berakhir dengan memainkan HP kemudian tertidur.

Niatan untuk menyelesaikan buku-buku tersebut berakhir di hati karena terlalu dikalahkan oleh benda kecil yang memaksaku membaca berita ataupun artikel secara parsial. tidak seperti buku yang menawarkan pengetahuan secara utuh lengkap beserta kerangka konsepnya.

Ah, kali ini Saya harus kembali meniatkan untuk membaca buku lebih banyak lagi di tahun ini mumpung baru 2 bulan berjalan. yah tidak muluk-muluk, 50 buah buku cukuplah sebagai stimulan untuk kembali menemukan gairah membaca.

Jakarta, 01 03 2016

Lalu Jalan Seperti Apa yang Harus Kutempuh

Aku seperti sesosok zombie yang berlomba dengan waktu. Mengejar Pagi untuk mencapai kantor kemudian berlomba dengan senja bertemu Isteri. Aku tak tahu sampai kapan permainan ini kujalani, memuakkan memang dan seringkali membosankan namun ada janji yang terlanjur diikrarkan untuk tetap memberi sesuap nasi kepada keluarga.

Aku layaknya gerembolan kaum urban yang mencoba menancapkan eksistensinya di kota yang tak berperasaan ini. Mencoba mencari celah untuk tetap bertahan dan perut tetap terisi meski terseok namun kondisi seperti itulah yang terkadang membuat seseoang menjadi tegap berjalan.
"What doesn't kill You will makes You superhero." kata Nietzsche.

Aku seringkali ingkar terhadap prinsip yang kupeluk erat. Masih menggunakan setiap hak kantor untuk kepentingan pribadi, iya hanya browsing, blogging, sosmed dan kepuasan diri yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, whereas I realize that I hired for working, finishing my job and makes my office profitable.

Aku selalu berdalih bahwa toh pekerjaan sudah beres semua dan tidak ada lagi yang perlu dikerjaan sehingga kupergunakan waktu untuk meningkatkan pengetahuan melalui membaca..! once again, it's just like justify My self.

Datang tiap pagi ke kantor. membaca berita sepuasnya kemudian istirahat. Sesekali menutup jendela berita online ketika big boss lewat dan pura-pura sibuk kemudian menghabiskan sebagian waktu di kantor dengan blogging ataupun menonton tayangan bola.
 
Oh God. what about My Salary..? is still You blessing itu for My family or perhaps I have been given them a bad livelihood?

Memandangi komputer dengan nanar. mencoba untuk meraba hakekat semua ini. Hidup pasti ada tujuannya. tidak mesti berjalan hambar tanpa ada apa-apa.

sedang ngawur tidak ada kerjaan di kantor, 01 03 2016

February 29, 2016

Percakapan dengan Seorang Kawan

Entah ini tulisan yang keberapa yang kurangkum setelah berdiskusi via telepon dengan seorang kawan di Makassar. sebenarnya percakapan kami sudah 3 hari yang lalu tepatnya Kamis malam namun baru sempat hari ini untuk menuliskannya.

Selalu saat memulai percakapan, Kami saling menanyakan kabar dan kabar teman-teman yang sudah lama tidak bertemu namun setelah itu, percakapan Kami menjurus ke hal-hal yang lebih variatif dan yang paling sering kami perbincangkan adalah issue yang terjadi saat ini.

Kawan Saya mengkritik Para kelompok yang dengan begitu mudahnya menuduh Bapak Wakil Presiden bahwa Beliau anti Islam karena melarang mesjid memutar kaset radio nonstop. menurut kawan Saya yang juga Saya amini bahwa kemajuan teknologi dibarengi oleh para kelompok yang dengan begitu mudahnya membelokkan kata-kata Para tokoh yang tidak disukainya. JK kemungkinan besar tidak bermaksud untuk melarang kaset mengaji diputar melalui speaker namun menurutnya hal tersebut bisa mengganggu orang disekitar yang mungkin saja sedang istirahat, sakit atau hal lain.
Meme ini Saya copy dari DP BBM seorang kawan

dalam dunia teknologi, ada pola yang selalu terulang. issue selalu timbul tenggelam dan menjadi perdebatan dengan Netizen. menurut kawan tadi bahwa ada pihak-pihak yang diuntungkan dari kejadian seperti ini.

Setelah itu, Kawan menceritakan sedikit keresahannya dengan pihak-pihak di Makassar yang menganggap bahwa sekolah tempat Dia mengajar dianggap sebagai jaringan kelompok Syiah. sebenarnya kawan tadi tidak mempermasalahkan namun sedikit berdampak pula sama pandangan Masyarakat awam terhadap sekolah tempatnya mengajar.

Menurut kawan Saya bahwa tudingan sekolah tempatnya mengajar sebagai bagian dari jaringan kelompok Syiah di dunia pendidikan sama sekali tidak berdasar. selama mengajar disana, Dia tidak pernah menemui ajaran-ajaran mazhab Syiah yang diterapkan di sekolah tersebut bahkan menurutnya sekolah tersebut amat sangat bagus untuk pendidikan.

Kami selalu menyisipkan percakapan-percakapan mengenai inti dari apa sebenarnya yang dicari di Dunia ini. Kami bersepakat bahwa perbedaan Mazhab, perbedaaan, Agama, dan segala perbedaan yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini bukanlah sebuah legitimasi untuk saling menyalahkan dan ataupun saling merendahkan. bagi Kami bahwa hal tersebut sudah berada di perdebatan masa lalu dan sekarang fokus untuk menyerasakan dan menyelami tarian semesta dan ayat-ayatNya.

terakhir dalam sebuah tauziah, Gus Mus mengatakan bahwa " amat sangat mudah untuk mengenai seorang Wali Allah, jika kau menemui Manusia yang tidak sedih atas masa lalunya dan tidak cemas akan masa depannya (masalah duniawai) maka dia seorang Wali."

Jakarta, 29 2 2016

February 26, 2016

Begitulah Ajal Menjemput

Ajal,
Bagaimana kulukiskan kedatanganmu
jika sebenarnya kau tidak pernah pergi
karena kau selalu ada di sisi tiap Manusia
dan pada saatnya tiba, kau mengantar Manusia ke alam berikutnya

Pagi ini, sebuah kabar menyedihkan datang dari kakak Perempuan Ibuku. Beliau mangkat di RS Wahidin setelah 2 hari dirawat di UGD, tadi subuh tepatnya. selalu tergetar ketika mendengar kabar kematian apatahlagi dari keluarga terdekat. mungkin karena mengingatkan bahwa waktu terus memacu kecepatannya dan menghadirkan hal-hal yang tidak terduga bahkan menyadarkan pula bahwa diri ini semakin menua

Tante yang baru mangkat tadi pagi adalah kakak Ibuku yang mungkin umurnya tidak terlalu jauh karena Beliau anak kedua terakhir sedangkan Ibuku adalah anak bungsu. memang Saya tempat tinggalnya jauh dengan kami namun tidak mengurangi kedekatan keluarga yang tinggal di kampung dengan Beliau karena intensitasnya berkunjung ke kampung sangat sering. Beliau tinggal di Mamuju, Sulawesi Barat.

tidak banyak kenangan yang terlintas di benakku tentang Beliau. namun setidaknya, dalam beberapa edisi mudik tiap lebaran, Beliau selalu mampir di rumah kami. sekilas wajahnya mirip dengan Ibuku. pembawaannya yang supel terhadap setiap keponakannya membuatnya cepat akrab dan seperti tidak berjarak meski hanya sekali setahun bertatap muka.

oh iya, Beliau memiliki 4 orang anak. 3 putera dan 1 puteri. putera bungsunya sudah meninggal sekitar 6 tahun lalu karena kecelakaan. anaknya meninggal di tempat yang sama yaitu RS Wahidin. masih segar dalam ingatanku ketika itu, Saya sedang kuliah dan harus mencari teman yang mau mendonorkan darahnya untuk anaknya yang sedang kehabisan darah. kulihat tanteku tidak berani sama sekali memasuki ruang UGD dan hanya duduk terpaku di depan parkiran sambil menangis.

bergegas kumasuki UGD saat ada salah seorang teman yang bersedia mendonorkan darahnya namun Semesta selalu punya cerita untuk tiap Manusia. saat Saya sudah sampai di ruangan UGD, kerabat sudah berkerumun melihat anak tanteku yang sakaratul maut dan tak lama berselang, rohnya sudah terlepas dari ajalnya.

Entah mungkin keinginannya namun akhirnya Beliau meninggal di tempat yang sama dengan putera bungsunya. Beliau amat sangat menyayangi puteranya tersebut.

seperti itulah ajal yang selalu menjemput tanpa pernah memberi kabar sebelumnya. dari 5 saudara perempuan Ibuku, tersisa hanya 2 yang masih hidup.

Jumat pagi Beliau mangkat dan menurut mitos bahwa orang yang meninggal pada hari Jum'at akan selamat. semoga saja benar adanya dan selalu teriring doa kepada Beliau supaya tenang di alam sana.

Jakarta, Jumat  26 2 2016

February 23, 2016

Barisan Cerita para Karyawan

Selalu terkekeh saat membayangkan kejadian-kejadian lucu di Kantor. pengalaman ini mungkin sebagian besar dialami oleh Karyawan. Saya sendiri mengakui bahwa seringkali ketika kerjaan tidak terlalu banyak, maka waktu kupergunakan sekedar untuk browsing atau membaca artikel. teruss lucuuunya dimana ya..?? he. he sabar, semoga tidak garing...!

Anda seorang Karyawan..? jika iya maka mari kita sejenak jujur kepada diri kita masing-masing tentang kepalsuan yang sering kita perbuat di Kantor. Saya mulai dari diri Saya. deskripsi pekerjaan Saya adalah Staff pada Perusahaan finance yang mengurusi tetek bengek masalah administrasi Nasabah. ada kalanya Pekerjaan menumpuk sehingga hanya sekedar mengecek HP pun tidak ada waktu namun ada masa juga ketika pekerjaan sudah beres dan tidak ada Penjualan dari Marketing alhasil Saya sering bengong mau ngerjain apa. 

Nah, hari ini Saya berada dalam kondisi tidak terlalu sibuk bahkan bisa dikatakan hanya duduk saja memantau berita dari situs online. persis disampingku, ada meja kosong yang dikhususkan untuk komputer dan printer untuk ngeprint berkas-berkas. semua karyawan maupun staff Marketing bebas menggunakan komputer tersebut. nah celakanya, barusan Kepala Cabang menggunakan komputer itu untuk ngeprint bejibun berkasnya, alhasil Saya yang lagi tidak ada kerjaan jadi kikuk. coba bayangin Kepala Cabang sibuk persis disampingku sedangkan Saya hanya membaca berita online, uhhh betapa tengsinnya diriku. 

Saya mulai melancarkan aksi sok sibuk. Saya ngeprint berkas yang sebenarnya belum terlalu dibutuhkan kemudian tumpukan berkas di bawah meja kutaruh di meja dan sok sibuk mengecek kelengkapan-kelengkapannya meski sebenarnya sudah ada daftar kelengkapan berkas yang kutulis daftar kelengkapan berkas. ha.ha.ha. mau bagaimana lagi, kerjaan tidak ada namun kita terperangkap dalam kondisi yang mengharuskan sok sibuk. palsu.palsu. weka.weka.

Saya yakin bahwa banyak diantara Karyawan yang punya cerita mirip dengan Saya. berlagak sok sibuk saat diperhatikan atasan namun ketika tidak ada atasan maka deretan alamat situs yang terbuka di chrome adalah sosial media dan berita online. hi.hi untung saja sosial media di jaringan kantorku sudah diblokir. mungkin yang lebih parah adalah Karyawan yang ketahuan mendaftar online di Perusahaan lain.

Syurga bagi para Karyawan ketika Pimpinan sedang ada urusan diluar kantor, kita pun merayakan dengan sepuas-puasnya browsing, ngecek Sosmed ataupun blogging. apatahlagi ketika Pimpinan tugas luar kota, maka Kantor menjadi tempat yang layak dijadikan warnet gratis tanpa harus bersibuk-sibuk ria mengerjakan pekerjaan kantor.

Masih banyak lagi kepalsuan yang kita ciptakan demi merebut citra. pura-pura sibuk ketika Pimpinan mondar-mandir di sekitar kita, mengerahkan segala cara untuk dekat dengan Pimpinan, tidak mau mengakui kesalahan yang dilakukan, tidak suka melihat teman kantor yang promosi jabatan dan deretan kepalsuan lain yang kita ciptakan sendiri dalam diri.

Rawamangun, 23 Februari 2016

February 18, 2016

Senja Bisu

Di Senja yang mulai layu. hanya ada sedikit suara dari sisa semangat siang tadi. hati sudah beranjak sampai di teras gubuk meski raga terpenjara di meja berukuran kecil.
ada suara dari manusia-manusia yang mulai gelisah, ada musik mendayu pertanda semua menanggung rindu untuk keluarga yang sedari subuh terpisah

Aku bertasbih dalam diamku mengumpulkan sedikit nafas, sedangkan Mereka pun masygul dengan perasaan tak menentu. oh dunia ini hampir saja menguburku bahkan sudah menghujamkan beribu belati penat di setiap sudut tubuh. namun Aku punya alasan untuk tetap bertahan disini "Cinta."


Pulogadung, 18/2/2016

February 17, 2016

Sisa Percakapan Semalam dengan Ibu

Saya selalu terhibur ketika berdiskusi dengan Ibu masalah perbedaan Nu dan Muhammadiyah. Saya mafhum bahwa Ibu adalah Muhammadiyah tulen turunan dari orang tuanya sehingga jika ada perbedaan yang tidak sesuai dengan budaya Muhammadiyah maka otomatis Ibu akan sangat resisten terhadap perbedaan tersebut. Namun perlu diketahui bahwa Ibuku sama sekali tidak pernah mengkafirkan kelompok yang berbeda dengannya, hanya sebatas memproklamirkan ketidaksetujuannya.

Bermula ketika Ibu tahu bahwa mertuaku masih merawat kebudayaan berziarah kubur setiap malam Jum'at yang menurut Ibu tidak lazim bagi mayoritas pengikut kelompok Muhammadiyah. Ibu pun heran ketika tahu bahwa mertuaku yang memang notabene hidup di tengah orang-orang NU suka menaburkan aneka kembang di Kuburan.  

Kamu sudah tidak pernah bancaan kan..?? tidak makan daging yang dipotong untuk selamatan orang meninggal kan..? dan beberapa pertanyaan Ibu kepada Saya tentang budaya yang masih lazim dilakukan orang untuk bancaan orang meninggal. Saya hanya tergelak. 

Ibuku adalah potret masyarakat yang memegang teguh apa yang diajarkan dari leluhurnya namun satu hal yang Saya salut terhadap Ibu karena meskipun Beliau tidak terlalu menerima perbedaan namun sama sekali tidak pernah menyalahkan apatahlagi mengkafirkan. Ibu tidak pernah merasa benar atas prinsip yang selama dipegang teguh hanya saja Beliau berusaha menaati setiap detail yang diajarkan oleh para orang tuanya. itulah mengapa Saya tidak pernah terlalu serius berdiskusi dengan Ibu masalah perbedaan karena toh Beliau tidak pernah memaksakan kehendak bahkan Beliau mengijinkan Saya menikahi seorang Gadis Jawa yang besar di lingkungan NU dan masih terpengaruh oleh kebudayaan Kejawen.

Saya tahu bahwa dari setiap hal yang diyakini Ibu, beberapa diantara sebenarnya hanyalah budaya namun entah mungkin Ibu menganggap bahwa hal tersebut adalah perbedaan prinsip. 

"Kau itu suka menceramahi orang tapi dicampur-campur." perkataan satir Ibu terlontar saat Saya berkata bahwa hal yang tidak disepakatinya hanyalah sebuah perbedaan budaya dan tidak menyentuh pada aqidah selama kita meluruskan niat.

Saya akui bahwa sejak memutuskan merantau ke tanah Jawa  4 tahun silam, banyak pemikiran lama yang Saya rekonstruksi, entah tentang pemahaman budaya dan pemahaman Agama yang selama ini diajarkan oleh leluhur di kampung. ambil contoh selamatan orang meninggal. dulu Saya terikat dalam kepercayaan mayoritas orang di kampung kami yang menganggap bahwa mengadakan selamatan bagi orang meninggal adalah bid'ah, bahkan hampir pasti mereka meyakini daging hewan ternak yang disediakan saat selamatan haram dimakan. 

Meski Saya sudah sering ikut bancaan namun sampai sekarang, Saya tidak pernah makan daging yang disediakan entah karena masih terpengaruh oleh ingatan masa kecil yang menganggap bahwa ketika kita makan daging yang dikurbankan untuk orang meninggal maka sama saja kita memakan daging orang tersebut. Saya memang tumbuh dan besar di lingkungan orang-orang Muhammadiyah konvensional. '

ada hal yang paroks di tubuh Muhammadiyah dan NU, setidaknya hal ini sepintas Saya dengar dari Cak Nun yang disampaikannya pada acara Kenduri Cinta 12 Februari 2016. menurut Beliau bahwa sejarah Ziarah kubur dan bedug sebenarnya lahir dari ulama rujukan Muhammadiyah dan bahkan tidak dijumpai pada tradisi NU namun sekarang fenomena tersebut terjadi sebaliknya. Saat ini Muhammadiyah membid'ahkan Ziarah kubur dan Bedug sedangkan Nu menganjurkannya. untuk diskursus ini Saya  masih mencari referensinya karena hanya Saya dengar dari Caknun yang sampai sekarang Saya belum menemukan literaturnya.

Rawamangun, 17 Februari 2016